Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Berkat Papaku


__ADS_3

Part 85


"Kamu mengusirku." Fasya membalas bisikan Alesa.


"Iya! Lebih baik kamu pergi, aku bisa mengurus abi ku sendiri," ujar Alesa lagi.


Ucapan Alesa membuat Fasya menatapnya intens. Wanita yang dulu dikenalnya sangat penurut itu, ternyata sudah berubah tiga ratus enam puluh derajat.


"Apa karena kamu sudah kaya, hingga merasa hebat. Jangan lupa. Sa! Kamu bisa seperti ini berkat papaku. Jadi tidak usah sombong," ucap Fasya seraya mengibaskan tanganya ke wajah Alesa.


"Jangan mendikteku, jika kamu mau rahasia status hubungan kita tetap aman di mata umi dan abi," cicit Fasya lagi tersirat mengancam.


"Dasar egois," bisik Alesa lagi.


"Biarin," jawab Fasya, membuat Alesa kesal.


Fasya hanya tersenyum melihat kekesalan Alesa, sedikit pun dia tak merasa bersalah telah mempermainkan hidup Alesa, karena menurut Fasya, papanya telah membayar tunai atas kesalahan yang telah dilakukannya. Kalau dia mau dia bisa saja memaksa Alesa rujuk padanya.


Alesa menjauh dari Fasya, karena percuma jika diteruskan berdebat dengan Fasya. Fasya tak akan pernah kalah.


"Alesa!" Panggikan dokter Anzar yang meminta Alesa masuk. Seorang dokter spesial paru temanya Anzar dan seorang perawat ingin berbicara pada Alesa, tentang riwayat penyakit Abdurrahman, kemudian dokter itu memeriksa kondisi Abdurrahman, setelah memastikan semua peralatan medis terpasang dengan sempurna, dokter dan perawat jaga pun keluar.


"Sa! Aku dan umi pulang dulu," ujar Anzar berpamitan.


"Kalau ada apa-apa dengan abi. Cepat kabari umi ya," ucap Asiah berpamitan pada Fasya dan Alesa, lalu beranjak mengikuti langkah Anzar dan Yanto.


Sepeninggalan Asiah dan dokter Anzar, Alesa duduk dikursi di samping tempat tidur Abdurrahman. Alesa menatapi wajah pucat laki-laki yang begitu dibanggakannya. Dulu abinya lah yang selalu memberinya kekuatan. Apabila dia sedang bermasalah. Alesa meraih tangan Abdurrahman lalu menciumnya berulang kali.


Melihat Abdurrahman terbaring tak berdaya, membuat Alesa tak kuasa menahan tangis. Hanya naik turun dada Abdurrahman yang menandakan dia masih bernyawa, sementara anggota tubuh lainnya sudah mati rasa dan tak bisa digerakkan sama sekali.


"Abi! Ini aku Alesa. Abi harus kuat ya," bisik Alesa, disertai dengan bulir-bulir kristal yang berjatuhan.


Jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Hening suasana di ruang rawat, di samping kiri Abdurrahman terpasang sebuah monitor alat yang difungsikan

__ADS_1


untuk memonitor kondisi fisiologis pasien. Dimana proses monitoring tersebut dilakukan secara real-time, sehingga dapat diketahui kondisi fisiologis pasien pada saat itu juga.


"Sa! Sudah jam satu. Kamu istirahat, biar abang yang jaga Abi," Fasya menyentuh bahu Alesa, sudah hampir dua jam Alesa duduk di samping pembaringan Abdurrahman abinya.


"Kamu saja yang istirahat. Aku masih kuat nungguin abi," tolak Alesa, perlahan ditepisnya tangan Fasya.


"Sa! Kamu yang harus istitahat, kalau kamu yang sakit siapa yang akan urus abi, umi dan adik-adikmu," ujar Fasya lagi.


Pandangan Alesa beraleh ke Fasya yang berdiri di sampingnya. Tanpa berbicara sepatah pun, Alesa sudah malas untuk berdebat, dia pun beranjak dari duduknya, menuju sofa yang berseberangan dengan tempat tidur Abdurrahman. Alesa merebahkan tubuh lelahnya dan menumpukan kepala di tangan kursi, dalam beberapa detik dia pun tertidur.


Ruang rawat yang ful ac membuat Alesa kedinginan, dia melipat kedua tangan di dada, agar rasa dingin tak mengganggu tidurnya. Sejatinya Alesa memang tidak tahan kalau malam pakai ac.


Fasya yang menggantikan posisi Alesa duduk di kursi samping tempat tidur Abdurrahman, beranjak mendekat kearah Alesa, membuka baju jaketnya, menutup tubuh Alesa.


"Kamu terlihat sangat lelah," batin Fasya seraya menatapi wajah Alesa yang niqabnya terlepas tanpa sadar.


"Kamu semakin cantik saja. Sa!" Tangan Fasya terulur ingin merabah wajah itu.


"Apa yang kamu lakukan. Bukannya kamu sudah menalak dan meninggalkannya selama empat tahun," suara hati Fasya berkata-kata. Dia menarik kembali tangannya dan mengurungkan niat menyentuh pipi Fasya.


Seketika Fasya memutar tubuhnya membelakangi Alesa, dan beranjak mendekati tempat tidur Abdurrahman. Fasya kembali duduk di kursi samping tempat tidur Abdurrahman.


Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, seorang perawat jaga masuk memeriksa keadaan Abdurrahman. Kemudian mencatat di dalam buku memo yang dibawanya.


"Apa ada perkembangan. Sus?" Tanya Fasya.


"Belum. Semoga besok pagi ada perkembangan dan kabar baik," jawab suster.


"Bapak tidur saja. Pasiennya tidak usah ditunggui, dia akan baik-bail saja," ujar suster saat melihat Fasya menguap berkali-kali.


Memang dari tadi kantuk sudah menyerang Fasya, hanya saja ditahan karena dia sudah berjanji pada Alesa, untuk menggantikan tugasnya menjaga Abdurrahman. Namun, rasa kantuk kali ini tak bisa ditolerir lagi. Fasya menumpukan kedua tangan di tepi tempat tidur Abdurrahman, lalu membaringkan kepala di atas tangan dan dia pun tertidur.


******

__ADS_1


"Sa! Bangun!" Sebuah tangan yang bertengger di bahu Alesa mengusik tidurnya. Perlahan Alesa membuka matanya. Dia terkejut di depannya Anzar berjongkok menatap wajahnya lekat.


"Kamu cantik sekali. Sa!" Tiba-tiba hati Anzar bergetar.


"Mana niqabku," ujar Alesa seraya menutup wajah dengan tangan kirinya.


Pertanyaan Alesa menyadarkan Anzar yang dari tadi terpaku melihat wajah Alesa yang tanpa niqab. Wajah Alesa berubah sembilan puluh persen dari tujuh tahun lalu.


"Ini." Anzar memungut niqab yang terjatuh di samping sofa dan menyerahkan ke Alesa.


"Terima kasih," ucap Alesa seraya memasang niqabnya.


"Sana! Cuci muka dan gosok gigi." Anzar menyerahkan pebsodent dan bros yang tadi dibelinya ke Alesa.


Alesa meraih pebsodent dan bros dari tangan Anzar, lalu masuk ke kamar mandi. Lima menit kemudian dia kembali ke sofa, mengambil ponsel dan menelepon Sri agar membawakan baju ganti dan juga pembalut untuknya. Sementara Anzar sedang bicara dengan suster jaga, menanyakan tentang perkembangan Abdurrahman.


"Ke mana Fasya? Apa dia sudah pulsng?" batin Alesa.


Alesa memindai ruang rawat, dia tak melihat sosok Fasya. Alesa berjalan ke arah pintu, menjulurkan kepalaya menoleh ke kiri dan ke kanan. Sosok Fasya tak ditemuanya.


"Syukurlah kalau dia dah pulang," batin Alesa lagi, dia kembali duduk di sofa.


"Kamu tak sekalian mandi?" Tanya Anzar, lalu duduk di sofa di samping Alesa.


"Emang aku bau ya," ujar Alesa seraya menggidu lengan bajunya. Anzar tertawa kecil melihat aksi Alesa.


"Masih wangi kok. Cuman kalau mandikan, lebih segar," ujar Anzar.


"Tak ada bawa baju ganti," ujar Alesa lagi.


"Sarapan dulu. Tadi abang beli lontong," ujar Anzar menyerahkan satu styrofoam.


"Ntar aja sarapannya, setelah mandi, Tunggu umi datang bawa baju gantiku."

__ADS_1


"Kamu masih cantik kok, walaupun belum mandi," puji Anzar, membuat wajah Alesa memerah, untuk tertutup cadar, jika tidak habislah dia diejek Anzar.


__ADS_2