
Part 58
Sejenak Alesa menatap Fasya yang menyodorkan pipinya. Alesa gugup. Namun, dia bergerak maju satu langkah.
"Kalau berada di dalam rumah tidak usah pakai ini," ujar Fasya membuka niqab Alesa.
"Mana?"
"Apanya?"
"Ini," ujar Fasya lagi menunjuk pipinya, seketika wajah Alesa merah padam.
Sambil menggengga netobook dengan kedua tangannya. Alesa menunduk. Jantungnya berdetak kencang dua kali lipat dari biasanya. Alesa memejamkan matanya, lalu menempelkan bibirnya ke pipi kiri dan kanan Fasya.
"Ini," ujar Fasya seraya memonyongkan bibirnya hingga berbentuk kerucut.
Saat melihat Alesa ragu dan malu-malu. Seketika Fasya menarik tengguk Alesa dan secepat kilat memagut bibir tipis itu, untuk beberapa saat, sampai Alesa kehabisan nafas.
"Kembalilah ke kamar mu," bisik Fasya dengan nafas memburu.
Bergegas Alesa menyeka bibir dengan ujung lengan baju tidurnya, lalu meraih niqabnya yang diletakkan Fasya di atas meja kerja. Alesa memutar balik tubuhnya. Namun, tangan kekar Fasya meraih lengan Alesa dan menahan langkahnya.
"Ada apa lagi?" tanya Alesa menoleh ke arah Fasya.
"Jangan kunci pintunya." bisik Fasya matanya berbinar, membuat Alesa takut, hingga mundur selangkah.
"Jangan berpikiran buruk. Abang janji tidak ngapa-ngapa," ujar Fasys lagi, seakan tahu jalan pikiran Alesa.
Dengan pelan Alesa menepis tangan Fasya, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar menuju kamarnya, dengan debaran jantung yang belum normal.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan Fasya bergrilya ke sini," gumam Alesa, menutup pintu kamar dan menguncinya rapat.
Begitu berada di dalam kamar, Alesa meraih ponselnya, lalu membuka galeri, mencari beberapa referensi yang sudah di fotonya semalam. Alesa mulai mengetik satu hurup perhurup
Sebagai pemula, Alesa belum lancar, hurup-hurup di papan keyboard pun belum hafal letaknya, untuk menyelesaikan satu lembar Alesa butuh waktu tiga puluh menit.
"Ya Allah. Sepuluh lembar, berarti aku butuh lima jam untuk mengetiknya," batin Alesa mengurut dadanya.
"Harus bisa dan semangat Alesa," batinnya lagi.
"Semua ini gara-gara Adra. Kenapa dia seperti punya dendam pribadi padaku," gumam Alesa lagi.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Alesa sudah menguap berkali-kali. Pegal sudah terasa di seluruh tubuhnya. Tugas baru selesai empat lembar.
"Aku harus menyelesaikan satu tugas malam ini," batin Alesa sambil merebah tubuhnya di atas kasur, dia meraih ponsel, mengecek beberapa pesan whatsapp. Tanpa di sadari Alesa tertidur.
Pukul dua belas, Fasya keluar dari ruang kerja dilihatnya lampu di kamar Alesa masih terang, itu artinya Alesa belum tidur. Perlahan Fasya melangkah ke kamar Alesa, saat memutur handle pintu ternyata dikunci. Fasya mengetuk pintunya pelan. Namum, tak ada tanda-tanda pergerakan.
"Pasti dia sudah ketiduran," batin Fasya kecewa, kemudian memutar haluan ke masuk kamarnya dan tidur.
Pukul empat tiga puluh, Suara tahrim menggema, membangunkan Alesa.
"Astagfirullah, aku ketiduran sampai subuh," batin Alesa menatap jam di dinding.
Cepat-cepat Alesa bangun, Saat Alesa melihat notebook yang masih tergeletak indah di tempat tidur, tidak menyala lagi. Alesa meraih mouse dan mengklik. Namun, notebook mati, Alesa berdiri mencolokkan cargher ke terminal listrik.
Bergegas Alesa menekan tombol power, setelah menghidupkan kembali notebook dan layarnya terbuka, halaman tempatnya mengetik tidak terlihat lagi, Alesa menggerakkan kursor mencari filenya, begitu ketemu langsung di kliknya. Mata Alesa membola kala menatap halaman kerjanya kosong, tak ada satu huruppun yang tersimpan.
"Mana tugas yang ku ketik tadi malam," gumam Alesa.
"Ya Allah. Aku lupa ngsavanya," batin Alesa seraya menepuk jidatnya. Duh rasanya Alesa mau nangis, sudah ngetik capek-capek malah tidak tersimpan.
__ADS_1
Alesa meraup habis wajah dengan kedua tangannya. Ada rasa kesal memenuhi dadanya, mau bagaimana lagi, dia harus mengetik ulang. Bergegas Alesa kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu, terus mengerjakan shalat subuh.
Setelah selesai shalat subuh, Alesa ke luar kamar menuju dapur menemui Sri.
"Bik! Aku tak bisa bantu bibiknya. Tugas yang ku kerjakan tadi malam hilang. Jadi aku terpaksa mengetik ulang." Jelas Alesa.
"Nggak apa-apa. Non! Non kerjakan saja tugasnya," ujar Sri. Alesa pun kembali ke kamar, mengerjakan tugasnya.
****
Sementara di kamar sebelah, Fasya sedang membujuk Saera agar mau menandatangani surat ijin yang di buat Fasya tadi malam.
"Akukan sudah bilang. Abang boleh menikahi Saera, tapi hanya nikah siri," ujar Saera sambil merapikan bajunya.
"Tapi Carla tidak mau nikah siri, dia mau aku nikahi secara resmi," ujar Fasya, seraya bermohon pada Saera.
"Itu bukan urusan aku. Jika dia tidak mau, yah sudah, nggak usah dinikahi," ucap Saera santai seraya merapikan make up nya.
Fasya menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya ke segala arah. Fasya berpikir keras bagaimana cara bisa membujuk Saera agar mau menandatangani surat bermatrai ini. Dia juga tidak mungkin membatalkan pernikahannya dengan Carla. Bagaimana status anaknya nanti.
"Abang akan memenuhi apa pun permintaanmu. Jika kamu mau menandatangani surat ini." Fasya memberikan tawaran.
Saera menghentikan gerakan tangan menulis alisnya. Dia menoleh ke arah Fasya, menarik nafas panjang dan berpikir, hingga dahinya berkerut.
"Serius?" Tanya Saera menatap intens pada Fasya.
"Hooh," jawab Fasya, seketika wajahnya berubah cerah. Saat Saera merespon tawarannya.
"Nggak!" Jawab Saera tegas, kembali menggerakkan tangannya mengukir alis.
"Please Saera," ujar Fasya menangkupkan kedua tangan di dadanya.
"Baiklah Fasya, aku akan memenuhi permintaanmu," batin Alesa.
"Yakin kamu akan memenuhi keinginanku?" Tanya Saera meminta kepastian.
"Iya! Apapun yang kau inginkan akan aku penuhi."
"Aku akan menandatangani surat pernyataan itu. Asal kamu bersedia memberikan rumah ini padaku," ujar Saera seraya meraih tas dan mencantolkan di bahu.
"Rumah ini?"
"Iya. Kenapa? Kamu keberatan? Yah sudah," ujar Saera melangkah ke luar kamar menuju dapur.
"Saera! Bisakah yang lain saja. Rumah ini peninggalan mama," rengek Fasya seraya mensejajari langkah Saera.
"Nggak! Aku mau rumah ini!" Ujar Saera mendudukkan bokongnya di kursi. Lalu menyendok nasi goreng dan menikmatinya.
Fasya pun mendudukkan bobot tubuhnya di samping Saera. Dia kehilangan Akal untuk bisa membujuk Saera.
"Pak Fasya tidak sarapan?" Tanya Sri saat melihat Fasya hanya duduk dan diam.
"Apa mereka bertengkar lagi," batin Sri saat melihat wajah nyonyanya sangat tak bersahabat.
Setelah mendapat pertanyaan Sri, Fasya baru sadar, kalau dia dari tadi hanya diam memandangi Saera.
"Alesa mana. Bik?" Tanya Fasya mengalihkan pembicaraan, begitu tidak mendapati Alesa.
"Di kamarnya. Pak!" Jawab Sri.
Saera mengakhiri sarapannya, setelah meletakkan sendok dan garfu, Saera beranjak dari duduk, meraih tas yang tadi diletakkan di kursi sebelah tempatnya duduk. Lalu melangkah menuju ruang tengah.
__ADS_1
"Saera!" Panggil Fasya, seraya menarik tangan Saera menahan langkahnya.
"Apa lagi?" Tanya Saera menepis tangan Fasya.
"Jika kamu mau memenuhi permintaanku. Aku tanda tangani surat itu," ujar Saera melanjutkan langkahnya.
"Saera! Okay! Kita bertemu nanti di kantor notaris," ujar Fasya akhirnya.
"Okay. Kabari saja jika sudah di sana," kata Saera seraya meraih kunci mobil di atas nakas. Lalu keluar menuju pintu utama.
Sementara Fasya masuk ke ruang kerja, mengambil tas, lalu ke luar menuju kamar Alesa.
"Sa! Alesa!"
Fasya mengetuk daun pintu kamar Alesa. Setengah malas Alesa bangkit dari duduknya, meraih niqab dan jilbab, lalu memasangnya. Dia menyeret kaki menuju pintu, menarik handle dan membuka pintu, mengulurkan separoh kepalanya.
"Kamu tidak ngampus?" Tanya Fasya, saat melihat Alesa masih memakai baju tidur.
"Tidak! Hari ini aku minta ijin tidak masuk," ujar Alesa.
"Ijin kenapa?"
"Tugas yang tadi malam kubuat hilang, lupa nyimpan," jawab Alesa murung.
"Kok bisa?"
"Mana aku tahu," jawab Alesa sambil mengangkat kedua bahunya.
"Itu sudah selesa?"
"Baru mulai lagi."
Fasya masuk ke kamar Alesa, diiringi dengan tatapan Alesa, Fasya berjongkok mengecek di recyele mana tahu Alesa terdelete tanpa sengaja, tapi tak ditemukan, berarti memang filenya tidak tersimpan.
"Lain kali. Jangan ceroboh setiap selesai mengetik beberapa pragram tekan kontrol S," ujar Fasya mengingatkan. Alesa hanya mengangguk.
Setelah bicara begitu, Fasya berdiri, dia tak bisa membantu Alesa, karena ada pekerjaan kantor, lagi pula dia juga sudah janji dengan Saera untuk ke kantor notaris.
"Abang tak bisa membantumu. Abang harus ke kantor," ujar Fasya seraya menyentuh kepala Alesa dengan tangannya.
"Sarapan dula sana, baru sambung kerjanya," ujar Fasya lagi, sebelum beranjak pergi.
Begitu Fasya menghilang, Alesa kembali duduk di depan laptop. Baru saja dia menggapai mouse, ponselnya berdering, sekilas Alesa menatap layar ponsel yang menyala.
"Assalamualaikum," sapa Alesa setelah menggeser gambar gagang telepon warna hijau.
"Waalaikumsalam. Sa! Kamu di mana?" Tanya Bambang.
"Di rumah," jawab Alesa.
"Aku jemput ya," ujar Bambang lagi.
Sebelum menjawab pertanyaan Bambang Alesa menarik nafas, lalu dia pun bercerita, jadwal ngampusnya hari ini pukul sepuluh, tapi dia mau ijin, karena belum selesai mengerjakan tugas dari pak Adra.
"Aku ke rumah mu sekarang. Nanti ku bantu buat tugasnya," ujar Bambang.
"Nggak u... hallo, hallo."
Belum selesai Alesa bicara sambungan telepon terputus. Alesa hubungi balik, tapi tak diangkat Bambang.
"Duh... Bambang mau ke sini lagi. Mana belum mandi," batin Alesa.
__ADS_1