
Part 67
Dua bodyguard itu melepaskan tangan Fasya. Namun, tetap berdiri tegak di sisi Fasya, berjaga-jaga kalau Fasya mengamuk lagi.
"Kamu masih belum sadar. Apa yang sudah terjadi?" Saera menohokan telunjuknya ke dagu Fasya. Dia tersenyum penuh kemenangan.
Emosi Fasya rasanya sampai ke ubun-ubun. Dia menepis kasar telunjuk Saera. Lalu menelan salivanya yang terasa pahit. Senyum Saera mengambang mengejek Fasya, senyuman itu bagai mencabik-cabik isi dada Fasya. Dia sama sekali tak pernah menduga seorang Saera bisa bertindak sekejam ini.
Plak... tiba-tiba Fasya melayangkan tangannya, hinggap di pipi Saera. Tentu saja Saera kaget. Tamparan Fasya yang disertai amarah, membuat telinga Saera berdegung. Wajah Saera berubah merah padam, dia memegang pipinya yang masih meninggalkan jejak bekas tangan Fasya. Tidak sampai di situ, secepat kilat Fasya meraih dagu dan mencengkramnya erat, hingga Saera meringis. Namun, bodyguard Saera bergerak cepat hingga cekalan Fasya terlepas.
Dan tiba-tiba.
Buk... Buk... Hantaman bokem mentah dari salah satu bodyguard itu melayangkan ke wajah Fasya berkali-kali, hingga Fasya terjatuh dan tersungkur di lantai, tak pelak wajahnya terbentur sudut kaki meja, hingga sudut bibirnya cedera. Bukan wajah Fasya saja yang babak belur, dari sudut bibirnya menetes darah segar.
Secepat kilat Roy menarik tangan bodyguard itu, dan berjongkok membantu Fasya bangkit. Lalu Roy dan Fasya balik menyerangkan bodyguard itu. Maka terjadilah perkelahian satu lawan satu.
Perkelahian tidak berlangsung lama, karena dua orang scurity datang, Kala melihat Fasya dan Roy mengamuk, ke dua scurity itu membatu mengamankan, lalu kedua bodyguard itu langsung mendekap tangan Fasya dan Roy, menguncinya kebelakang, hingga Fasya dan Roy tak bisa berbuat apa-apa.
Saera beranjak mendekati Fasya, mata melotot seakan mau menelan Fasya hidup-hidup.
"Kenapa melihatku seperti itu," ujar Saera, lalu mengangkat tangan kanannya.
Plak... Plak, dua tamparan Saera mendarat di pipi Fasya, tidak sampai di situ. Saera kemudian mengambil sebuah galas berisi teh di atas meja, lalu menyiramkan ke wajah Fasya. Roy geram melihat kelakuan Saera, sedikitpun Saera tak simpati melihat wajah Fasya yang sudah lebam membiru, Saera malah menambah dua tamparan.
"Ini bayaran untuk tamparanmu tadi," ucap Saera ketus.
"Saera! Dasar istri durhaka," Roy melayangkan makiannya pada Saera. Dia berusaha menarik kedua tangan agar terlepas. Namun, karena dua orang yang memegannya, Roy tak berdaya.
"Tidak usah ikut campir urusanku!" bentak Saera.
"Seret dia berdua keluar dari ruangan ini," titah Saera pada bodyguardnya.
__ADS_1
Kedua bodyguard itu langsung menyekap Fasya dan Roy.
"Tidak usah! Aku dan Fasya bisa pergi dari sini," ujar Roy menarik kuat tangannya dari ke dua scurity itu.
"Lepaskan," teriak Fasya, dia melotot pada scurity yang dulu sangat hormat padanya.
"Dasar anjing- anjing penjelat," ujar Fasya. Kedua scurity itu pun melepaskan pegangannya.
"Ayok bos! Kita pergi dari sini," ujar Roy seraya menarik tangan Fasya.
Dengan halus Fasya menepis tangan Roy, lalu menoleh ke arah Saera, dan mendekat dua langkah. Dua bodyguard Saera menghadang di depan Fasya.
"Bisakah kalian berdua menyingkir, aku hanya ingin bicara untuk yang terakhir kalinya buat istriku," ujar Fasya sengaja menguatkan intonasi istriku.
Saera memberi isyarat dengan tangannya, agar ke dua bodyguard minggir. Dengan angkuh Saera menantang tatapan Fasya.
"Detik ini. Aku talak kamu," ujar Fasya.
"Kamu menalakku, ku pastikan kamu menyesal," kata Saera sambil tertawa.
"Ingat Saera. Tiga puluh persen saham perusahaan masih milikku. Aku masih berhak diperusahaan ini," ujar Fasya lagi, sambil menohokkan telunjuknya ke bahu Saera.
Sebenarnya Saera kaget, saat mendengar Fasya menalaknya. Saera tak pernah menyangka kalau Fasya senekad itu. Sementara Fasya, setelah bicara seperti itu langsung membalikkan tubuhnya dan mengajak Roy menuju lift, lalu turun langsung ke lantai dasar, menuju tempat parkir.
Alesa yang melihat Fasya dan Roy, menuju parkir, menarik handle pintu, lalu keluar, dia ingin berpindah tempat duduk ke belakang. Melihat wajah Fasya babak belur, membuat Alesa beberapa saat menatapnya. Namun, begitu Alesa mendekat, Fasya malah mendengus kesal.
"Masuk! Siapa suruh kamu keluar! Apa kamu ingin mentertawakan aku juga." Titah Fasya dengan ketus.
Kala mendengar suara ketus Fasya, Alesa pun mengurungkan niatnya untuk melontarkan pertanyaan. Sesaat melirik ke arah Roy, Roy memberi isyarat pada Alesa akan segara masuk ke dalam mobil. Kemudian disusul Fasya dan Roy.
"Saera! Tunggu saja. Aku akan membuat perhitungan denganmu," sungut Fasya sambil memukul dashboard.
__ADS_1
Kekesalan Fasya belum tuntas, apalagi saat dia menanyakan pada Roy tentang mobil kantor yang biasa Roy pakai ikut juga di sita Saera. Bahkan bukan itu saja, semua fasilitas kantor ditarik oleh Saera.
Hari ini merupakan hari paling sial dan naas bagi Fasya. Selain dia kehilangan kedudukan di kantornya, dia juga kehilangan kepercayaan papanya. Malik lebih memilih Alesa ke timbang dia.
"Kita ke mana. Bos?"
"Pulang ke rumah," titah Fasya.
Roy menarik pedal gas. Ada perasaan sedih yang menghunjam palung hatinya, saat meninggalkan halaman kantor yang telah banyak memberinya penghidupan. Roy tak tahu ke mana dia akan mengadu nasib setelah ini. Begitu juga dengan Fasya, dia tak bisa membahasakan, bagaimana perasaannya sekarang, lebih kurang sepuluh tahun dia berkutat di kantor ini.
Mobil yang dikendarai Roy melaju ke jalan raya, tak ada pembicaran yang riuh seperti biasa. Sesekali hanya terdengar helaan nafas kesal dari Fasya, nyeri bekas pukulan bodyguard Saera terasa berdenyut-denyut. Sementara Alesa yang masih dihantui rasa penasaran hany diam seribu bahasa. Dia tidak berani mengajukan pertanyaan apa pun, karena dia tahu kalau Fasya masih dalam ke adaan emosi.
Dua puluh menit kemudian, mobil sudah sampai di area rumah Fasya. Saat Roy ingin memasuki pintu gerbang, dua orang laki-laki bertubuh kekar dan bertato menghadang.
Tit.. Tit.. Tit..
Roy membunyikan kelakson berkali-kali. Dua bodyguard itu terpaksa menyingkir, karena takut ditabrak Roy. Roy memarkir mobil, Fasya dan Roy secara bersamaan keluar dari mobil.
"Ada apa ini?" Tanya Fasya marah, saat melihat beberapa orang menghalangi jalannya.
"Siapa kalian, berani-beraninya tidak mengijinkan aku masuk," Fasya meradang. Emosinya kini sudah memuncak ke ubun-ubun.
"Kami hanya menjalankan tugas," jawab salah satu dari mereka.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Nyonya Saera."
"Saera! Saera lagi," teriak Fasya kesal.
Ternyata Saera bukan saja mengusir Faaya dari kantor, tapi juga mengusirnya dari rumah.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu Saera," hujat Fasya.
"Nyonya Saera memberi anda waktu lima jam, untuk mengosongkan rumah ini," ujar salah satu orang asing itu.