Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Klinik


__ADS_3

Part 34


"Astagfirullah! KDRT? Ini tidak bisa dibiarkan, harus dilaporkan kepada pihak berwajib," ujar perawat itu lagi sangat serius.


Perawat cantik itu geleng kepala, iba melihat Alesa. Sekarang kalau salah memilih pasangan hidup, menikah bukan dapat bahagia tapi malah sengsara. Maka perawat cantik itu masih jomblo hingga sekarang, karena takut menikah, sejak idolanya Lesti Kejora mengalami kekerasan rumah tangga.


"Kasian sekali kamu. Matamu terlihat membiru, semoga baik-baik saja," Gumam perawat itu, berdecak sedih.


"Apa kamu ke sini untuk Visum? Aku setuju kalau kamu membalas perbuatan suami, biar dia mendekam dalam penjara," tutur perawat itu berapu-api dengan sangat serius.


Alesa tidak menjawab pertanyaan perawat itu, Dia menarik nafas panjang, lalu menelan salivanya dengan kasar.


"Apa iya. Sus! Biasanya bakalan di penjara berapa tahun?" tanya Alesa, dia tidak serius ingin tahu jawabannya. Dia hanya ingin membuat perawat itu semakin emosi.


"Bisa seberat-beratnya," ujar perawat itu, seraya menoleh ke arah Fasya yang berdiri di samping Alesa.


"Apa bapak suaminya?" Tanya perawat menatap sinis kearah Fasya. Alesa pun mengalihkan pandangannya pada Fasya. Wajah Fasya seketika menegang, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dia? Hehehe.. Mana mau dia punya istri kayak aku. Sudah kampungan jelek lagi," ujar Alesa tertawa sinis, tepatnya meringis dia menyindir Fasya yang hanya menganggapnya patung.


"Nona cantik kok! Pasti juga baik. Iyakan. Pak!" puji perawat itu seraya meminta pendapat Fasya.


"I-Iya. Dia cantik kok." Karena kaget mendapat pertanyaan lagi, spontan Fasya menjawab. Tapi kali ini jawaban Fasya memang dari hati.


"Tu kan, bapak ini saja bilang Non cantik, kalau ditilik non juga cocok kayaknya dengan bapak. Ganteng dan cantik," cerocos perawat.


"Dia. Sus! Cocok sama aku?" Tanya Alesa seraya menunjuk Fasya, lalu menunjuk dirinya.


"Hooh," jawab perawat seraya mengangguk.


"Dia itu. Abang ku. Sus! Galak," ujar Alesa sekenanya.


"Hah! Jadi dia abang. Non! Apa dia sudah menikah?" Tanya perawat itu lagi, mendelek ke arah Fasya memasang senyuman genit.


"Ih, jijik aku," batin Fasya.


"Belum. Sus! Dia jomblo karatan," ujar Alesa lagi.


Mata Fasya membola ke arah Alesa, mendengar Alesa mengatakan dia jomblo karatan. Alesa pura-pura tak melihat dan dia membiarkan perawat itu bicara nyerocos semaunya.


"Kebetulan. Sus! Abang aku ini lagi cari pasangan!" Ujar Alesa lagi, menghentikan ocehan perawat itu.


"Alesa! Kamu apa-apa sich," Fasya menatap intens pada Alesa yang dari tadi bicara terus, pada hal matanya dalam keadaan sakit.


"Sus! Bisa tidak wawancara dipercepat, agar Alesa segera mendapat tindakan dokter," ujar Fasya mengingatkan, agar perawat itu tidak bertanya lagi pada Alesa.

__ADS_1


Sejenak perawat itu menatap Fasya, lalu dia pun beranjak masuk ke ruang dokter mengantar identitas dan kartu berobat Alesa.


"Tunggu sebentar ya. Dokter masih memeriksa pasien," ujar perawat itu kala kembali menemui Alesa.


"Alesa Syarifah," terdengar nama Alesa dipanggil beriringan dengan keluarnya seorang pasien.


Saat Alesa berdiri, dia sedikit oleng. Seketika kepalanya berdenyut pusing, dengan sigap Fasya menggamit tangan Alesa.


"Kepalaku terasa pusing," Alesa mengeluh sambil menekan-nekan dahinya.


"Pelan-pelan," ujar Fasya membantu Alesa berjalan masuk ke ruang dokter.


"Fasya!"


"Carla," gumam Fasya.


Fasya dan Calra sama-sama terkejut. Tak mengira kalau bertemu di sini.


"Apa ini jodoh namanya," batin Carla.


Spontan Carla menarik tangan Alesa, hingga gamitan Fasya terlepas. Dan Carla tidak menbuang kesempatan ini untuk memeluk laki-laki yang masih dicintainya itu. Rasa senangnya tergambar. Dia bahagia sekali bisa ketemu lagi dengan Fasya, setelah peristiwa di resto itu.


"Apa Carla punya klinik ini," batin Fasya.


Klinik Bunda permai ini memang baru diresmikan beberapa hari yang lalu, dan promonya lalu lalang di sosial media, memberikan diskon berobat lima puluh persen.


"Aku yang meminta papa, untuk membuat klink ini di sini, agar dekat dengan kantormu, supaya kita bisa saling bertemu, kayak dulu, waktu kita masih berseragam abu-abu," ujar Carla lagi.


"Berseragam abu-abu. Apa Fasya dan Carla dulu adalah sepasang kekasih," batin Alesa.


"Adooh, sakit," lirih Alesa, sengaja mengeraskan suaranya. Agar Fasya menyadari niat awal dia ke klink ini membawa Alesa berobat,bukan pacaran dengan Carla.


Dengan lembut Fasya mengurai pelukan Carla, dia kembali menggamit lengan kiri Alesa yang sedang menumpukan punggungnya ke dinding.


"Carla! Aku ke sini membawa Alesa berobat," ujar Fasya.


Lirikan mata Carla pada Alesa terlihat tajam. Setelah peristiwa di resto itu, Carla sudah mengambil kesimpulan, kalau Alesa bukan adik sepupu Fasya. Karena Fasya terlihat beda memperlakukan Alesa.


"Kenapa dengan adikmu?" Tanya Carla seraya berpindah posisi, berdiri di samping Alesa.


"Tadi aku terjatuh. Kejedot aspal, hingga mataku sakit, kepalaku terasa pusing" ujar Alesa ngasal.


Perlahan Fasya mendudukkan Alesa di tepi ranjang pasien. Carla mendekat dan meminta Alesa berbaring kemudian memeriksanya. Carla membersihkan bekas tetesan darah di sudut mata Alesa dengan kapas.


"Sakit?" Tanya Carla seraya menekan-nekan pelupuk mata Alesa.

__ADS_1


"Sakit sekali jika dibuka," ujar Alesa, meraba matanya.


Carla mengambil senter, kemudian membuka pulupuk mata Alesa, ada garis merah di sana. Efek benturan keras, hingga ada pembekuan darah, untungnya tidak mengenai bola mata.


"Dok! Jangan disuntik ya. Aku takut," ujar Alesa memelas, saat melihat Carla mengambil sesuatu di dalam lemari.


"Zaman gini, masih ada yang takut jarum suntik," ujar Carla terkekeh.


"Serius dok! Aku trauma dengan jarum suntik," ujar Alesa lagi, dia memegangi lengan Fasya.


Fasya mengambil posisi duduk di samping Alesa, tangannya menjulur mengelus bahu Alesa, memberikan kekuatan agar Alesa tidak takut lagi. Tentu saja gerak gerik Fasya tak luput dari perhatian Carla.


"Ini hanya obat tetes," ujar Carla membuka tutup botol kecil itu.


"Tahan ya. Ini sedikit perih." Carla memberikan obat tetes di mata Alesa.


Alesa menahan nafasnya, merasakan resapan obat tetes itu, terasa sedikit perih beberapa detik. Setelah itu Carla memberi salep pada luka memar di pelipis Alesa. Kemudian Carla memeriksa tekanan darah Alesa berada di angka normal.


"Efek benturan ini, yang membuat sakit kepala. Nanti setelah di bawa tidur dan istirahat akan sembuh sendiri." Jelas Carla, seraya mengambil perban untuk menutup mata Alesa yang terluka.


"Apa mata kanan ku akan buta?" Tanya Alesa, meraba matanya yang sudah dikasih perban. Dia cemas sekali jika itu terjadi.


"Tidak! Matamu baik-baik saja, asal kamu minum obatnya teratur, jaga matanya dengan baik dan tidak boleh menangis, karena menangis bisa membuat matamu lambab dan memperlambat sehatnya," jelas Carla.


Alesa menarik napas panjang, kala mendengar ucapan Carla, lalu dengan mata kirinya memandang ke arah Fasya.


"Aku akan menjagamu, hingga kamu sembuh, tidak usah khawatir," bisik Fasya, lalu menggenggam jemari Alesa, tanda kalau dia serius dengan ucapannya.


"Fasya sangat perhatian pada gadis ini," gumam Carla cemburu, ada duri-duri menusuk relung hatinya yang paling dalam.


Sementara Ales mendengar janji Fasya, bernafas lega, dia menyandarkan kepalanya di lengan Fasya, paling tidak Fasya bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dibuatnya.


"Kalau begitu, aku dan Alesa pulang dulu, kirim total biaya dan nomor rekeningmu, nanti aku tranfer," ujar Fasya seraya membantu Alesa berjalan.


"Tidak usah! Untukmu aku kasih diskon full," ujar Carla menatap tangan Fasya yang menggamit tangan Alesa.


"Terima kasih. Dokter Carla, kamu baik banget," ujar Alesa seraya bergayut manja di bahu Fasya. Dia sengaja melakukan itu, kala tahu kalau Fasya dan Carla teman waktu berseregam abu-abu.


"Ayok sayang kita pulang." Alesa sengaja memanggil Fasya dengan sebutan sayang, dia ingin melihat perubahan di wajah Carla. Benar saja, wajah Carla terlihat pias, saat mendengar Alesa memanggil Fasya sayang.


Fasya pun tidak kalah kagetnya, kala mendengar ucapan Alesa. Fasya hanya mengangguk menjawab ajakan Alesa.


Tiba-tiba rasa cemburu mendidih di hati Carla, detak jantungnya berpacu, dan ada sembilu yang menusuk-nusuk hatinya. Perih banget, lebih perih dari biasanya.


"Fasya! Kau pasti membohongiku tentang Alesa," batin Carla.

__ADS_1


"Di luar ada tunanganmu. Apa kamu tidak ingin menemui Adra?" Ujar Fasya menyampaikan berita. Sebelum keluar dari ruang Carla


"Arda! Ngapain dia ke sini," batin Carla.


__ADS_2