Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Temu Kangen


__ADS_3

Part 23


"Fasya! Kangen banget sama kamu," Carla memeluk Fasya, dia tak perduli ada Alesa dan Adra, yang jelas perasaannya sekarang bahagia bisa melihat Fasya lagi.


"Aku juga kangen! Kamu makin cantik," puji Fasya, seraya menguraikan pelukan Carla. Fasya merasa tidak nyaman diperlakukan Carla begitu di depan Adra. Walaupun sebenarnya Fasya ingin berlama-lama berada di dalam pelukan Carla.


Carla sangat berbeda sekali, dengan tujuh tahun yang lalu, dulu kurus dan sedikit coklat, kini berisi, padat dan putih bersih. Perubahannya hampir delapan puluh persen. Wajar saja dulu Carla hobynya main voly dan basket, hampir setiap hari latihan di tengah terik matahari, sedangkan sekarang Carla seorang dokter.


"Kamu kok jahat sama aku. Tadi malam ku tunggu sampai larut, tak muncul," rajuk Carla seraya cemberut.


"Maaf tadi malam ada kerjaan mendadak. Jadi tak bisa menemuimu," ujar Fasya berbohong.


Padahal tadi malam Fasya sudah mendatangi cafe tempatnya berjanji untuk bertemu Carla. Namun, sebelum dia masuk ke cafe itu, dia melihat sosok Adra sedang masuk ke cafe itu juga. Makanya Fasya putar haluan pulang dan tak jadi menemui Carla.


"Hay! Apa kalian berdiri saja di situ. Ayok gabung di sini," ajak Adra yang dari tadi sudah duduk.


"I-iya. Maaf Adra. Kamu jangan cemburu ya, aku temu kangen saja dengan Carla," ujar Fasya lalu duduk di samping Adra dan menepuk bahunya.


Carla menyusul duduk di samping Fasya, dia tidak memberi kesempatan pada Alesa untuk berdekatan duduk dengan Fasya.


"Nggak apa-apa. Aku tahu kok dari dulu kalian berdua sahabatan. Jadi tak ada alasan aku cemburu," ujar Adra merespon ucapan Fasya.


"Kamu duduk di sini. Alesa," Adra menarik kursi yang ada di sampingnya.


"Terima kasih," ujar Alesa.


"Fasya! Dia siapa kamu?" Tanya Carla menatap ke arah Alesa. Alesa yang mendengar Carla menanyakan dirinya hanya tersenyum, lalu berujar.


"I-Iya kak. Aku adik sepupu jauhnya Bang Fasya," jawab Alesa menyelamat ketegangan Fasya di wajah Fasya.


"Iya. Dia adik sepupuku," ujar Fasya menguatkan ucapan Alesa.


"Oh," hanya itu yang keluar dari mulut Carla, dia belum seratus persen mempercayai pengakuan Fasya.


Seorang waiters mendekat menyodorkan daftar menu kepada setiap orang. Sekilas Alesa membaca satu persatu menu yang tertera. Sementara Carla menawarkan menu Spaghetti Bolognaise, karena dari dulu Spaghetti Bolognaise merupakan makanan kesukaan Fasya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja," ujar Fasya pasrah, karena dia tahu betul kalau Carla tidak suka di bantah. Dan Fasya juga tidak ingin melihat Carla kecewa karena penolakannya.


"Alesa! Kamu pilih menu apa?" Tiba-tiba Adra bertanya pada Alesa, karena dari tadi Alesa hanya memperhatikan lembaran menu yang ada di depannya.


"Yang ini enak nggak. Bang?" Tanya Alesa seraya menunjuk Nasi Fu Yung Hai pedas spesial.


"Coba saja. Biar tidak penasaran," saran Adra. Alesa pun mengangguk.


Setelah menulis pesanan. Adra beranjak mengantar dan membayar pesanan. Sambil menunggu pesanan, Alesa dan Arda hanya fokus pada layar ponsel masing-masing. Sedangkan Carla asik ngobrol dengan Fasya.


Adra melihat Carla lebih peduli pada Fasya, membuang rasa cemburunya, dari dulu dia tahu kalau Carla sangat dekat dengan Fasya. Bahkan dulu Adra pernah putus asa mau mendapatkan Carla dan dia menduga kalau Fasya dan Carla adalah sepasang ke kasih.


Melihat kebahagian terpancar dari sinar mata Carla saat temu kangen dengan Fasya, membuat Adra semakin ragu untuk meneruskan perhubungannya. Karena satu minggu bertunangan dengan Carla. Adra tak pernah melihat Carla sebahagia hari ini.


"Apa Carla sebenarnya mencintai Fasya," batin Adra.


Sesekali Adra melirik Fasya dan Carla, seakan dia dan Alesa tak dianggap, karena Carla dan Fasya asik bercerita tentang masa lalu mereka.


Adra menarik nafas panjang, kemudian perlahan menghembuskan. Adra memindahkan pandangannya kearah gadis bercadar yang asik dengan gawainya.


Ternyata Alesa juga enak dijadikan teman ngobrol, walaupun baru dua kali Adra bertemu Alesa. Namun, percakapan Adra nyambung dengan Alesa. Sesekali terdengar tawa mereka berdua.


Sebenarnya Fasya tidak terlalu fokus pada Carla, dia melirik Alesa dengan sudut matanya. Saat melihat Alesa dan Adra begitu akrab, membuat perasaan Fasya jadi terusik. Entah kenapa dia tidak suka melihat Alesa dekat dan beramah-ramah dengan laki-laki lain. Walaupun itu Adra temannya sendiri. Apa karena status suami yang disandangnya. Ah entahlah!


Fasya merasa, kalau sekarang dia sedang bermasalah dengan hati. Kemaren mendengar Carla bertunangan dengan Adra, hatinya juga terluka, jelas-jelas dia sudah punya Saera.


"Fasya ada apa denganmu," batin Fasya mempertanyakan hatinya.


Tiga wanita kini seakan memenuhi otak dan hatinya, Saera, Alesa dan Carla. Saera wanita pelarian, kala dia berusaha menyingkirkan Carla dari hatinya, Alesa istri titipan yang dinikahi karena permintaan ayahnya dan Carla wanita masalalunya.


Melihat gelagat Carla sekarang, pikiran Fasya menjadi berubah sembilan puluh persen. Apalagi sekarang dia sudah punya segalanya, rumah, mobil, pekerjaan bahkan karir. Dulu di saat putih abu-abu, dia tak berani menyatakan cintanya, karena dia dan Carla seperti langit dan bumi.


Entah apa yang ada dalam pikiran Fasya sekarang, kenapa dia jadi berharap Carla mau menjadi istrinya. Duh.. Fasya! Saera dan Alesa mau di kemanakan. Fasya Ambigu, pikirannya menerawang ke angkasa.


Pesanan datang dan sudah tersusun rapi di atas meja, sesuai dengan pesanan masing-masing.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya?" Tanya Adra saat Alesa menyuap nasi Fu Yung Hai pedas spesial.


"Pedas gila," sahut Alesa seraya menyeruput teh lemonnya dari balik cadar. Namun, rasa pedas itu masih terasa. Untungnya mulutnya tertutup niqab, kalau tidak pasti terlihat jontor karena kepedasan.


Sebenarnya menunya tidak terlalu pedas, Alesa saja yang tak biasa makan pedas. Karena uminya juga jarang masak pakai cabe, sebab penyakit abinya yang dipantang untuk tidak makan pedas.


"Ini tidak pedas. Kamu makan yang ini saja," ujar Adra seraya menyodorkan mangkok bakso jamur miliknya.


"Nggak usah. Biar Alesa makan punya aku saja," ujar Fasya, dia berdiri membawa piring Spaghetti Bolognaise miliknya, lalu duduk di samping Alesa.


"Hemmm. Apa itu enak?" Tanya Alesa pada Fasya.


"Tentu saja enak. Tapi tidak cocok buat lidah orang kampung," celetok Carla.


"Carla! Kamu bicara apa," ujar Adra menatap Carla dengan pandangan tak suka.


"Bicara fakta. Kalau Spaghetti Bolognaise bukan makanan kampung. Jadi tidak cocok untuk lidah kampung," ucap Carla lagi memperjelas.


Fasya dan Adra saling berpandangan, kedua laki-laki itu sama sekali tak menyangka kalau Carla akan bicara seperti itu. Kenapa sikap Carla sekarang sangat berbeda dengan Carla yang mereka kenal dulu. Apa karena sekarang dia sudah jadi dokter.


"Kenapa? Apa ucapanku ada yang salah," ujar Carla lagi sedikit pun dia merasa tidak bersalah.


Carla kesal, karena Fasya berpindah duduk kedekat Alesa. Pada hal ini pertemuannya yang pertama dengan Fasya setelah tujuh tahun berpisah. Keinginan Carla, Fasya hanya peduli padanya, dia bicara begitu agar Alesa sadar diri dan pergi dari situ.


"Carla! Kamu kenapa. Kok bicara seperti itu. Cemburu dengan Alesa?" tanya Adra.


Sinar mata Carla berkilat kesal, kala Fasya memberikan makanannya dan berpindah duduk mendekati Alesa. Adra merasakan itu.


"Hehehe. Cemburu? Ya.. Nggak lah sayang. Aku kan milik kamu," ujar Carla berbohong.


"Menurutmu apa ucapanku salah. Fasya?" tanya Carla seraya menarik kursinya, mendekat dan duduk di samping Fasya.


"Tidak! Tidak ada yang salah," sahut Fasya, lalu dia meraih tangan Alesa dan mengajaknya pergi dari situ.


"Fasya! Kamu mau ke mana," teriak Carla sambil menggenggam kepalan tinjunya.

__ADS_1


__ADS_2