Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Ada Udang Di Balik Batu


__ADS_3

Part 57


"Bos! Itu Alesa kan?" Tanya Roy, saat melihat Alesa melambaikan tangan ke arah mobil yang baru mengantarnya pulang.


"Iya. Siapa yang mengantarnya pulang?" Jawab Fasya denga pertanyaan sambil melongokkan pandangan ke arah Alesa.


"Terima kasih," ujar Alesa.


Mobil Bambang meluncur pergi, berpapasan dengan mobil Fasya yang memasuki pintu gerbang. Roy menoleh ke arah mobil avanza itu. Namun pemiliknya tak terlihat, karena kaca jendala mobilnya tertutup. Roy memarkir mobil, kemudian turun membuka pintu mobil untuk Fasya.


Fasya turun dari mobil dan berpapasan dengan Alesa. Fasya hanya menatap Alesa tanpa menyapanya. Dan Alesa memberi jalan agar Fasya masuk duluan.


"Di antar siapa?" Tiba-tiba Roy bertanya. Saat Fasya sudah menghilang dari pandangan.


"Sama teman," jawab Alesa.


"Cowok apa cewek?" Tanya Roy lagi kepengen tahu.


"Cowok," jawab Alesa lagi, lalu masuk dan langsung ke kamarnya.


"Hah! Cowok! Kok bisa ya. Fasya diam saja melihat Alesa pulang kuliah diantar sama cowok," batin Roy.


Mendengar jawaban Alesa. Ada rasa nyeri di ulu hati Roy. Kenapa dia merasa tak suka jika Alesa diantar oleh laki-laki lain. Sementara Fasya saja tak perduli Alesa mau pulang dengan siapa. Pada hal dia suami Alesa.


"Roy! Roy! Kamu tak punya hak, untuk tahu urusan Alesa," batin Roy, sambil geleng kepala dia masuk mobil, kemudian meluncur meninggalkan rumah Fasya, menuju jalan raya pulang ke rumahnya.


Setelah meletakkan tas di ruang kerja, Fasya langsung ke kamarnya, masuk ke kamar mandi, membasuh wajah. Dilihatnya Saera sedang berbareng di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Acuh tak acuh saja saat Fasya datang, tak ada tegur sapa dari Saera.


"Sudah lama pulang?" Tanya Fasya menyapa Saera duluan.


"Baru sepuluh menit," jawab Saera tanpa memindahkan pandangannya dari layar hape.


"Tumben cepat pulang?" Tanya Saera acuh.


Fasya mendekat, lalu duduk di tepi ranjang, sejurus menatap wajah istrinya itu. Tidak ada kemarahan di rona wajah Saera. Hanya saja dia tak mau memandang ke arah Fasya.


"Apakah Saera marah padaku. Karena peristiwa di rumah makan tadi," batin Fasya.


"Kerjaan sudah kelar semua. Jadi nggak lembur," jawab Fasya sekenanya, kemaren-kemaren dia lambat pulang karena nongkrong di ccafe.


"Kirain pulang ke rumah Carla," celetuk Saera.


Sejurus Fasya menatap Saera kembali, dia tidak berniat menyahut omongan Saera. Karena hanya akan memicu perdebatan, Fasya memilih diam, dia beranjak membuka baju dan memasukkan ke dalam keranjang kain kotor, lalu menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.


*****


Sementara Alesa, setelah mandi dan shalat aaar, langsung ke dapur membantu Sri menyiapkan menu makan malam.


"Bik! Ini dimasak apa?" Tanya Alesa sambil membersihkan udang.


"Kasih bumbu, kemudian digoreng," ujar Sri memberikan potongan jeruk nipis ke Alesa.

__ADS_1


Udang yang sudah bersih ditiriskan Alesa di keranjang kecil, lalu diberi perasan jeruk nipis, sedikit garam, kemudian di diamkan beberapa saat.


"Nanti gorengnya. Pas mau dihidang saja. Biar hangat," ujar Sri.


"Sekarang kita shalat magrib dulu," ujar Sri lagi.


Suara azan magrib menggema, Sri kembali ke kamarnya setelah menutup udang dengan rapat. Alesa pun kembali ke kamarnya juga. Setelah mengambil air wudhu, dia langsung shalat magrib, begitu selesai shalat kembali lagi ke dapur. Memanaskan kuali dan minyak, lalu menggoreng udang.


Saat Alesa asik mengacau udang dengan sudip, Fasya datang dan berdiri di sampingnya. Menyadari ada Fasya, Alesa menjadi gugup, takut Fasya menggodanya dan dilihat Saera. Alesa sudah malas berdebat dengan Saera, makanya dia menjaga jarak dengan Fasya. Semua itu Alesa lakukan agar dia tak punya masalah dengan Saera.


"Jangan dekat-dekat. Nanti kena minyak panas," ujar Alesa meminta Fasya menjauh.


"Sudah biasa kena minyak," ujar Fasya seraya menggamit tangan Alesa, lalu meletakkan dagunya di bahu Alesa.


Entah kenapa Fasya selalu merasa damai jika berada di samping Alesa. Alesa yang tak banyak tuntutan dan permintaan membuat Fasya, kalau dirinya seperti dihargai oleh Alesa.


"Pergilah menjauh. Bang! Nanti dilihat Saera heboh lagi. Aku lelah kalau harus ribut terus dengan dia," pinta Alesa mengusir Fasya dengan cara mendorong tubuh laki-laki itu.


Mendengar suara langkah dari ruang tengah, seketika Fasya menjauh dan mendudukkan bokongnya di kursi. Saera muncul mengambil air putih.


"Kamu tidak ikut makan malam?" Tanya Fasya kala melihat Saera melewatinya menuju ruang tengah.


"Tidak!" Jawab Saera berlalu.


Udang yang digoreng Alesa, sudah matang dan Alesa masukkan ke dalam piring, kemudian meletakkannya di atas meja.


Fasya beranjak dari duduknya kembali ke kamar, membujuk Saera agar mau makan bersama. Beberapa menit kemudian Fasya kembali ke dapur didampingi oleh Saera.


"Duduk! Dan makanlah bersama kami," ujar Saera, meminta Alesa duduk di samping Fasya.


"Mulai besok tempatmu di situ. Tak ada yang berhak menggantikannya. Tidak juga Carla," ucap Saera.


"Ingat! Jangan biarkan Carla mengambilnya," ujar Saera lagi.


Alesa mengangguk seraya melirik ke arah Fasya.


"Bibik! Sini! Makanlah bersama kami," Saera meminta Sri ikut makan bersama.


"I-iya. Nyah." Sri menarik kursi di depan Fasya dan duduk.


Kemudian mereka pun makan tanpa ada yang memulai pembicaraan. Meja makan terasa sepi, sesekali hanya ada bunyi sendok yang beradu. Selesai makan Saera kembali ke kamar, Fasya masuk ke ruang kerjanya dan Alesa masih membersihkan dapur bersama Sri.


"Tumben. Nyonya Saera baik sama kita," ujar Sri sambil mengeringkan piring-piring.


"Semoga saja tidak ada udang di balik batu," ujar Sri lagi.


"Iya. Bik! Aamiin," ujar Alesa tak ingin berspekulasi.


Setelah selesai membersihkan dapur. Sri kembali ke kamar dan Alesa menuju ke ruang kerja Fasya.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Mendengar ketukan di pintu, membuat Fasya menoleh, dilihatnya Alesa sedang berdiri di samping pintu.


"Masuk. Sa! Ada apa?"


"Aku mau..."


Alesa tidak meneruskan ucapannya, dia ragu menyampaikan keinginannya, mau meminjam laptop untuk mengerjakan tugas dari pak Adra.


"Ada apa?" Tanya Fasya lagi, saat Alesa tidak meneruskan ucapannya.


"Tidak ada apa-apa," jawab Alesa, lalu memutar tubuhnya. Tidak mungkin dia meminjam laptop Fasya, sedangkan sekarang saja Fasya lagi memakai lapropnya untuk bekerja.


"Kamu butuh uang. Sa?" Tanya Fasya menghentikan langkah Alesa.


"Ti- tidak," ucap Alesa.


"Jadi butuh apa?" Tanya Fasya mendesak.


"Aku mau mengerjakan tugas dari pak Adra. Bolehkah aku pergi ke rental komputer," ujar Alesa mengalihkan niatnya.


"Oh, kamu butuh laptop?" Tanya Fasya.


"Iya. Tapi..."


Belum sempat Alesa menjawab pertanyaan Fasya. Fasya membuka laci bawah mejanya, lalu mengeluarkan sebuah Notebook, berwarna hitam.


"Pakai ini saja dulu. Bisakan," ujar Fasya seraya menyodorkan notebook ke Alesa.


"Tapi aku..."


Alesa diam, dia menatap notebook yang sudah ada di tangannya.


"Kenapa lagi? Tidak tahu cara menggunakannya?"


Alesa mengangguk, karena waktu SMA pas ujian dia didampingi oleh guru saat pertama kali menggunakan laptop.


"Duduk sini. Abang ajari," ujar Fasya meminta Alesa duduk di sampingnya.


Fasya mengajari cara menghidupkan, membuat halaman baru di word, cara menyimpan dan membuka kembali.


"Sudah paham?" Tanya Fasya. Alesa mengangguk.


"Coba ulangi lagi," ujar Fasya.


Alesa mengulangi dengan cara mematikan, kemudian menghidupkan, mencari file yang disimpannya, lalu membuka halaman lembaran yang masih kosong.


"Mulai mengetik di sini," ujar Fasya.

__ADS_1


"Aku kerja di kamar saja," ujar Alesa beranjak.


"Eh... Tunggu dulu," ujar Fasya menunjuk pipinya.


__ADS_2