Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Rumah Makan Padang


__ADS_3

Part 24.


Fasya tidak memperdulikan teriakan Carla, dia terus melangkah membawa Alesa menuju lift. Entah kenapa dia tidak suka mendengar Carla bicara seperti itu. Sungguh Carla yang dikenalnya dulu dengan sekarang sangat berbeda.


Sementara Alesa diam beribu bahasa. Bagi Alesa ucapan Carla ada benarnya, karena lidahnya memang tidak menyukai menu yang berbau kekotaan begitu. Jadi tak ada masalah Carla bicara seperti itu. Heran saja kenapa Fasya pergi tak memperdulikan Carla.


"Apa ini bentuk kepedulian Fasya padaku," batin Alesa kepedean.


Begitu pintu lift terbuka, Fasya yang masih menggandeng tanga Alesa, memintanya masuk duluan. Begitu sudah berada di dalam dan pintu lift tertutup, Fasya menekan tombol lantai dasar.


Selama di dalam lift, Fasya tidak melepaskan genggaman tangannya. Begitu juga saat lift terbuka, dia meminta Alesa ke luar duluan. Fasya langsung membawa Alesa menuju tempat parkir.


"Kamu masih laparkan, kita ke rumah makan padang saja ya?" tanya Fasya seraya membuka pintu mobil dan menyilakan Alesa masuk.


Hanya anggukan kepala Alesa menjawab pertanyaan Fasya. Sebenarnya Fasya tak perlu lagi menanyakan itu, karena dia kampung tengahnya juga masih protes minta di isi. Tentu perut Alesa tidak beda dengan keadaan perutnya. Niat hati memperkenalkan makan kota, eeh jadi tak kesampaian.


Fasya memacu mobil melaju di jalan raya, dia mengambil beberapa jalan alternatif agar tidak terjebak macet.


Seperduapuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Fasya berbelok ke kiri masuk ke halaman sebuah resto yang bertuliskan rumah makan sederhana. Setelah memarkir mobil, Fasya turun diiringi Alesa.


"Rumah makan sederhana. Tapi kenapa di dalamnya sangat besar dan mewah," batin Alesa dalam hati.


"Aneh. Nama dan kenyatan tidak singkron," batin Alesa lagi. Dia terus mengikuti ke mana langkah Fasya.


Suasa rumah makan sangat ramai, pelayannya saja puluhan. Fasya membawa Alesa ke sebuah ruangan yang terlihat lebih adem suasananya dengan alunan musik yang lembut.


Di ruang itu hanya ada dua kursi dan satu meja, kemudian dindingnya disekat-sekat dengan pembatas yang memisahkan dengan pengunjung lain. Namun, tinggi penyekat hanya berkisar setengah metee, Sehingga pengunjung lain masih bisa saling lihat.


Baru saja Fasya dan Alesa duduk datang seorang pelayan.


"Minum apa?" Tanya sang pelayan seraya memegang selembar kertas dan sebuah pena.


Tanya begitu Alesa tidak langsung menjawab, dia menatap Fasya. Fasya pun menanyakan padanya.


"Aku mau makan, bukan minum," jelas Alesa berbisik di telinga Fasya.


Mendengar kepolosan jawaban Alesa, Fasya hanya tersenyum, lalu dia memesan dua gelas teh es. Dalam hitungan menit dua gelas teh dan sepuluh macam menu makan siang terhidang.


Mata Alesa membola, pandangannya menatap heran ke arah Fasya. Dia butuh penjelasan kenapa Fasya memesan menu sebanyak ini. Kalau cuman dia dan Fasya yang makan pasti tak akan habis.


"Kenapa?" Tanya Fasya kala melihat Alesa menatapi satu persatu menu yang terhidang.


"Apa ini dimakan semua," tanya Alesa.


"Iya. Boleh, jika kamu mau, kamu boleh makan semuanya," ujar Fasya.

__ADS_1


"Semua? Berapa duit?"


"Paling dua ratus ribu," jawab Fasya.


Dua ratus ribu, sama dengan jatah yang diberikan Fasya untuk Alesa setiap hari.


"Jika sekali makan dua ratus ribu, tiga kali makan, satu hari menghabiskan enam ratus ribu. Kalau masak sendiri cukup untuk satu minggu," gumam Alesa.


"Ayok makan saja," ujar Fasya saat melihat Alesa belum juga mengambil nasinya.


Tentu saja Alesa tergagap, karena dari tadi dia lagi fokus menghitung dan mengalikan uang yang akan dikeluarkan Fasya dalam satu bulan. Di kampung dengan uang seratus ribu, bisa makan dia dan empat adiknya satu minggu. Pikiran Alesa tiba-tiba melayang sampai ke kampung.


"Katanya lapar. Kok nasinya cumam dipandang," celetuk Fasya seraya menyenggol lengan Alesa. Lagi-lagi Alesa tergagap.


Alesa bingung, dia mau makan lauk yang mana terlebih dahulu, semuanya terlihat sangat mengugah selera. Ada rendang daging, ayam goreng sambal ijau, gurami masak saos, gulai kalang, cincang daging, ikan nila goreng dan beberapa sayur tumisan.


"Ini menu andalan resto ini. Kamu pasti suka," ujar Fasya mengambil sepotong rendang daging dan meletakkan di piring Alesa.


Sekilas Alesa menatap Fasya yang makan menggunakan sendok dan garpu. Alesa yang biasa menggunakan tangan, mulai ragu. Jika dia makan pakai tangan, nanti Fasya malu dilihat orang lain, tapi jika menggunakan sendok dan garpu. Alesa yang risih.


"Kenapa?" Sekali lagi Fasya bertanya, sudah lewat beberapa detik. Tapi Alesa belum juga memulaikan makannya.


"Bolehkan aku makan dengan tangan?"


"Alesa! Alesa! Kepolosanmu itu, kadang membuatku kesal, kadang membuatku gemas," batin Fasya seraya menatap intens pada Alesa.


Tanpa memperdulikan tatapan Fasya. Alesa menyantap makan siangnya dengan lahap. Jujur dia sangat lapar. Alesa tidak berani menyentuh lauk lain, dia hanya memakan rendang daging yang tadi dimasukkan Fasya ke piringnya.


"Ini ikannya enak," ujar Fasya menyodorkan cubitan gurami di garpu, kemudian memasukkan ke dalam piring Alesa.


"Bagaimana rasanya? Enak?" Tanya Fasya, kala melihat Alesa mengunyah pelan.


Alesa hanya mengangguk, lalu melanjutkan makannya. Fasya menawarkan nasi dan menu lain ke Alesa, kala Alesa ingin mengakhiri makannya.


"Tidak! Sudah kenyang," sahut Alesa mengelus perutnya.


Seraya menyesap minumannya hingga tuntas, Alesa menarik sebuah tisu, kemudian menyodorkan tangannya, mengelap sisa nasi yang masih menempel di bibir Fasya. Fasya memegang tangan Alesa yang menyentuhnya.


Debar jantung Alesa, tiba-tiba berdetak dua kali lipat lebih kencang dari biasanya. Apa lagi kala mata Fasya menatapnya intens, dengan cepat Alesa menarik tangan dan mengalihkan pandanganya ke tempat lain.


Begitu juga dengan Fasya, debar jantungnya tak kalah dahsyat dari yang dirasakan Alesa. Apalagi saat dia beradu pandang, seperti ada getaran magnet yang menyerap ke seluruh organ tubuhnya.


"Apa aku mulai menyukai Alesa," batin Fasya mengurai pegangannya, matanya tak lepas dari Alesa.


"Pulang yuk," ajak Alesa risih, dia pun beranjak, seraya berusaha menetralkan debaran di dada. Lama-lama berada di dekat Fasya, bisa-bisa dia terkena serangan jantung.

__ADS_1


"Dek!" Fasya memanggil seorang pelayan dan menunjuk ke meja, memberi isyarat supaya dihitung.


Seorang pelayan mendekat, seraya membawa sebuah kalkulator, pelayan itu mulai menghitung.


"Totalnya seratus dua puluh enam ribu," ujar pelayan menyodorkan layar kalkulator ke arah Fasya. Kemudian pelayan itu berlalu.


"Yuk," ujar Fasya mengajak Alesa, Lalu beranjak menuju kasir, sementara Alesa ke arah pintu keluar.


Setelah membayar tagihan, Fasya melangkah meninggalkan kasir, di samping pintu keluar Alesa berdiri menunggu. Fasya meraih tangan Alesa dan menggenggam jemarinya, seraya berjalan menuju ke mobil.


Tentu saja perasaan Alesa semakin getar getir, bercampur aduk, saat Fasya menggandengnya. Kali ini perasaan Alesa bahagia sekali mendapat perlakuan dari Fasya. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat romantis.


Begitu sampai ke parkir, Fasya membuka pintu mobil untuk Alesa, lalu dia memutar dan membuka pintu, duduk di belakang stir. Fasya menstater mobil, menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan rumah makan Padang.


Sepanjang perjalanan, tak ada yang memulai pembicaraan. Alesa sibuk menetralkan detak jabtungnya. Sementara Fasya terus mereka-reka perasaannya yang mulai berubah terhadap Alesa. Sesekali mereka saling lirik dan beradu pandang dari kaca spion depan.


"Apa kamu ingin membeli sesuatu sebelum kita sampai ke rumah?" Tanya Fasya pada Alesa yang asik memainkan jari-jemarinya.


Mendengar pertanyaan Fasya. Alesa mendongakkan kepala menoleh ke arah Fasya.


"Ehhhh, apa aku boleh meminta sesuatu?" Alesa balik bertanya.


"Tentu saja," jawab Fasya menoleh kearahnya.


"Hemmm, aku mau.."


Alesa menghentikan ucapannya, dia ragu meneruskan permintaannya. Alesa mengalihkan pandangan ke depan, Fasya pun sedang menatapnya, malu dia ingin mengatakan keinginannya pada Fasya. Takut Fasya akan mentertawakannya.


"Katakan. Kamu mau apa?" Tanya Fasya lagi, saat melihat Alesa hanya diam.


"Tapi..."


"Ngomong tidak ya," batin Alesa, dia merasa konyol dengan permintaannya kali ini.


"Bilang saja," ujar Fasya, menepi dan mematikan mobil di pinggir jalan.


Lagi-lagi Alesa ragu.


"Nggak jadi. Kita langsung pulang saja," ucap Alesa memutuskan.


"Bilang atau aku turunkan di sini," ancam Fasya seraya menatap intens pada Alesa. Tentu saja Alesa gelagapan mendengar ancaman Fasya.


Alesa menatap keluar dari jendela kaca, dia sedang berada di padatnya kota Pekanbaru. Tapi dia tak tau apa nama lokasi dia berada sekarang.


"Seperti pasar," batinnya menilik.

__ADS_1


__ADS_2