Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Bertemu Malik


__ADS_3

Part 65


Mobil yang dikendarai Fasya memasuki area perkantoran Malik. Selama Malik di Medan, Burhanlah yang jadi kepercayaan Malik untuk mengurus perusahaanya.


Fasya memarkir mobil, kemudian turun di iringi Alesa. Tanpa sengaja, mata Fasya melihat sebuah Xenia silver sama persis dengan milik Anema ibu mertuanya terparkir indah di samping mobilnya. Fasya menilik beberapa detik, dia yakin kalau Xenia itu, memang milik Anema ibunya Saera.


"Tumben ibu Anema ke kantor papa," batin Fasya.


Saat mengetahui kalau Saera putrinya Anema. Sejak itu Malik tak pernah merestui hubungan Fasya dan Saera. Apa alasan Malik tidak menyukai Saera, masih jadi tanda tanya di benak Fasya.


Seraca beriringan Fasya dan Alesa melangkah masuk ke pintu utama perusahaan. Mereka berdua di sambut ramah oleh resepsionis.


"Pak Fasya ingin bertemu dengan pak Malik?" Tanya resepsionis.


"Iya. Papa adakan?"


"Ada! Tapi lagi ada tamu," ujar resepsionis menjelaskan.


Setelah mengucapkan terima kasih, Fasya mengajak Alesa menuju lift. Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah berada di dalam lift. Tidak ada pembicaraan sepanjang perjalanan. Fasya dan Alesa saling membisu.


Saat lift terbuka di lantai tiga. Hati Alesa serasa dag dig dug. Ada rasa gugup yang tak bisa dikendalikan. Debar jantung Alesa berdetak kencang dua kali lipat dari bisanya. Apa lagi saat dia melangkah menuju ke ruangan Malik.


"Ya Allah! Kenapa aku sangat gugup," batin Alesa, tubuhnya tiba-tiba panas dingin, dia meriang.


Fasya menghentikan langkah dan menahan Alesa. Sayup dia mendengar suara ribut, seperti orang bertengkar di ruangan Malik, yang pintu ruangannya tidak tertutup rapat.


"Anema! Tolong jangan pernah libatkan putraku, dengan permasalahan kita. Apakah belum puas telah membuat istri menderita," terdengar suara Malik sedikit merendah.


"Tidak Malik! Aku akan membuat Fasya membayar tunai apa yang telah dilakukan oleh ayah angkatmu itu," ucap Anema dengam suara melengking.


"Tapi Fasya tidak bersalah dalam hal ini." Malik membela putranya.


"Aku tidak mau tahu! aku sudah terlanjur menjerumuskan Saera putriku kekehidupan putramu. Dan aku percaya putriku akan bisa memainkan peran yang telah kuatur," ujar Anema tertawa sumbang.


"Anema! Aku bersumpah. Tidak akan pernah memaafkan kamu dan putrimu. Jika kalian berdua menyakiti putraku," ancam Malik seraya menatap Anema tajam.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu. Tuan Malik yang terhormat," kembali terdengar suara tawa Anema.


"Anema! Sadar Anema."


"Aku sangat sadar Malik! Dari dulu aku sudah sadar! Sesadar sadarnya! Bahkan sampai saat ini, masih mengingat bagaimana ayah angkatmu itu menghinaku habis-habisan, dan saat itu kamu. Malik! Tak sedikit pun membalaku," maki Anema suranya meninggi beberapa oktab.


Mendengar makian Anema, Malik terdiam, peristiwa dua puluh lima tahun yang lalu membayang kembali di memorinya. Anema yang bekerja di kantor yang sama dengan Malik, dicaci maki di depan para karyawan, hanya karena kesalahan kecil yang difitnahkan padanya. Bahkan bukan itu saja Anema juga dipecat dan diusir dengan tidak hormat oleh pemilik perusahaan itu. Pada hal Malik tahu persis kalau itu bukan kesalahan Anema.

__ADS_1


"Anema! Maafkan aku. Waktu itu aku tak bisa berbuat apa-apa." Malik membela diri.


"Memaafkanmu? Tidak Malik! Gara-gara pemecatan itu, aku kehilangan pekerjaan dan pengobatan ibuku terabaikan, hingga beliau meninggal karena aku tak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit. Semua itu gara-gara ayah angkatmu, kamu dan calon istrimu waktu itu," Anema kembali mengungkit peristiwa yang menyakitkan itu, yang membuatnya kehilangan orang yang dicintai.


"Andai saja waktu itu kamu mau bicara sedikit saja kebenaran itu. Pasti ibuku tidak pergi secepat itu," gumam Anema berkaca-kaca.


"Anema! Maafkan aku," ujar Malik seraya meraih tangan Anama. Malik sama sekali tak menduga kalau peristiwa itu merenggut nyawa ibunya Anema.


"Jangan sentuh aku!Aku membencimu Malik!" Anema menepis tangan Malik.


"Dan kamu. Malik! Bukannya menyadari kesalahanmu, malah kamu pun memusuhi putriku dengan tidak merestui pernikahannya dengan putramu dan bahkan kini, kamu sudah mencarikan istri baru buat putramu." Kecam Anema.


Mendengar ocehan Anema. Malik terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa. Anema sudah tahu tentang Alesa.


"Kenapa diam Malik? Kamu sengaja lakukan itu, untuk menyingkirkan putriku kan." ujar Anema dengan senyuman sinis di wajahnya.


"Bukannya kamu sendiri bilang, kalau putrimu tak akan pernah mencintai putraku. Dan kamu mengirim Saera hanya untuk dendammu. Bukannya begitu? makanya ku kirim wanita lain, supaya Fasya tidak patah hati, di saat Saera meninggalkannya." Jelas Malik panjang lebar.


Fasya dan Alesa berpandangan. Dia dan Alesa mendengar jelas apa yang dikatakan Malik. Sekarang Alesa mengerti alasan papa Malik memilihnya menjadi istri kedua Fasya, ternyata menjadi istri pengganti, jika Saera pergi meninggalkannya.


"Jadi itu maksud papa menyuruhku menikah dengan Alesa," batin Fasya, dia menatap intens ke arah Alesa.


Fasya meraih tangan Alesa dan menggenggamnya erat. Sekarang Fasya tahu kenapa Malik tidak pernah merestui pernikahannya, karena Malik sudah tahu kalau Saera masuk ke dalam kehidupannya, hanya ingin memenuhi dendam Anema ibunya.


"Baguslah kalau kamu peka. Ingat! Putriku tidak akan meninggalkan putramu. Kecuali dia sudah bangkrut," cicit Anema lagi tertawa.


Mendengar tawa Anema, menyadarkan Fasya. Kalau dia sekarang sudah bangkrut. Saera sudah mengambil semuanya, rumah baru dan rumah lama sudah jadi milik Saera. Bahkan saham perusahaan tujuh puluh persen sudah jadi milik Saera.


"Jangan-jangan... Ya Tuhan! Kenapa aku sebodoh ini," gumam Fasya seraya melepaskan tangan Alesa dan *******-***** rambut dengan kedua tangannya.


"Kamu dan Putri sama-sama berotak jahat," kecam Malik.


"Aku tidak perduli. Kamu yang mengajariku menjadi jahat, jadi nikmati saja kegagalan putramu," ujar Anema lantang, lalu terdengar suara laki di seret keluar.


"Anema! Tunggu! Pembicaraan kita belum selesai," kejar Malik.


"Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Tuan Malik yang terhormat," ujar Anema terus melangkah tanpa memperdulikan Malik.


Mendengar suara langkah kaki, Fasya menarik tangan Alesa membawanya ke balkon, menjauh dari ruangan Malik. Sepersepuluh detik kemudian Anema keluar dari ruangan Malik.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara papa dan ibu Anema di masa lalu, hingga mereka bertengkar hebat," batin Fasya.


Fasya menarik nafas panjang, sekali lagi ditatapnya wanita yang sedang berdiri membelakanginya. Fasya merasa iba pada Alesa, karena selama ini dia tidak memperlakukan Alesa selayaknya istri.

__ADS_1


"Alesa! Maafkan aku dan papa," ujar Fasya berbisik seraya memeluknya dari belakang. Spontan Alesa membalikkan tubuhnya.


Sejurus Alesa menatap wajah Fasya. Semua sudah terjadi, dan Alesa menerima pernikahan ini karena ingin berbakti pada kedua orang tuanya, karena dengan pernikahannya ini tarap hidup keluarganya berubah, pengobatan abi terbayar dan di bisa kuliah. Dia tidak mempermasahkan, kalau dia hanya dijadikan istri cadangan.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan," balas Alesa seraya menguraikan pelukan Fasya.


"Kamu tidak marah sama papa, setelah mengetahui segalanya?"


"Tidak! Ku rasa tindakan papa sudah benar. Dia melakukan ini karena tidak ingin melihat putranya bersedih," jawab Alesa.


"Tapi kamu jadi korbannya. Alesa!"


"Aku sudah menerima pernikahan ini. Itu artinya aku sudah siap menerima resikonya," ujar Alesa lagi.


"Apa yang kamu dengar tadi. Jangan beritahu pada siapapun. Anggap saja kalau kamu tidak tahu apa-apa." Pinta Fasya pada Alesa seraya kembali memeluk Alesa.


Kali ini Fasya merasa pelukan yang sangat berbeda dari yang biasa dia lakukan. Dia membiarkan beberapa saat Alesa berada dalam dekapannya.


"Jangan lama-lama. Malu dilihatin orang," bisik Alesa di telinga Fasya. Fasya mengurai pelukannya seraya tersenyum. lalu meraih tangan Alesa dan mengajaknya beranjak menuju ke ruang Malik.


Tok


Tok


Tok


"Masuk."


Fasya memutar handle dan menguakkan daun pintu, seraya tangan kirinya masih menggenggam erat tangan Alesa.


"Fasya!" Malik mengembangkan kedua tangannya membawa Fasya dalam dekapannya. Alesa menarik tangannya hingga genggeman Fasya terlepas.


"Apa dia menantuku?" Tanya Malik menatap intens pada Alesa. Fasya mengangguk.


Tangan kiri Malik merengkuh bahu Fasya dan tangan kanannya merengkuh bahu Alesa. Malik meminta Fasya dan Alesa duduk di depannya. Lalu Malik menelepon Burhan.


Lima menit kemudian, Burhan masuk membawa sebuah map bermotif batik. Burhan menyerahkan map itu ke Malik di sertai dua buah pena.


Malik membuka map dan meminta Alesa menggoreskan tanda tangan di atas namanya. Alesa menatap kertas yang terbentang di depannya, lalu menoleh ke arah Fasya. Di dalam kertas itu tertera kalau rumah dan perusahaan milik Malik diserahkan ke Alesa.


"Pa! Kenapa papa menyerahkan ke Alesa. Bukannya aku..."


"Papa tidak menyerahkan ke kamu, karena kamu menjaga yang sudah jadi milikmu saja tidak bisa," ujar Malik, tak memberi kesempatan Fasya meneruskan ucapannya.

__ADS_1


"Tapi. Pa! Alesa itu hanya istri siri."


__ADS_2