
Part 94
Mendengar ucapan Alesa, Fasya beranjak, perlahan menyeret langkah kakinya menjauh dari tempat tidur Alesa. Entah kenapa perasaan Fasya sangat sedih, dua bulir kristal bening tanpa diminta meluncur dari sudut netranya. Namun, segera diusapnya sebelum dia keluar dari ruang ICU.
"Asela tidur. Mi," ujar Fasya berbohong, begitu sudah berada di luar. Asiah masih menyantap makan siangnya.
"Oh," hanya itu yang keluar dari mulut Asiah.
Fasya tidak mendapati sosok malik di samping Asiah, dia mencoba memindai ke segala penjuru. Namun tak ditemukan laki-laki yang di carinya.
"Apa papa sudah pulang," batin Fasya.
"Papamu lagi keluar. Katanya ada perlu," ujar Asiah seakan tahu kalau Fasya sedang mencari-cari Malik.
Asiah menyelesaikan makannya, memasukkan bekas bungkus nasi ke dalam kantong plastik, beranjak memasukkan ke dalam tong sampah dan mencuci tangan dengan sisa air mineral di dalam botol, lalu kembali duduk di posisi awal.
Setelah mendengar ucapan Asiah, Fasya menghentikan aktifitasnya. Dia mendudukkan bokongnya di samping Asiah.
"Apa aku terus terang saja pada umi, tentang hubunganku dengan Alesa," batin Fasya, seraya meremas jemarinya.
Pikiran Fasya berkecamuk, antara hati dan perasaan berperang. Fasya menarik nafas panjang, lalu menghembuskan pelan. Detak jantungnya seketika berpacu dua kali lipat dari biasanya. Kembali Fasya menarik nafas, mengatur detak jantungnya supaya kembali normal. Dia sudah menyiapkan mental bicara kenyataan yang sebenarnya pada Asiah.
"Bismillahhirrahmanirrahin," gumam Fasya.
Wajah Fasya terlihat sangat tegang, lidahnya terasa berat dan kelu, seketika keringat mulai membasahi punggung dan dahinya. Cuaca yang tadi adem kini terasa gerah. Bermacam kemungkinan berloncatan di benaknya.
"Aku harus jujur, jika tidak ingin dibenci umi Asiah selamanya," batin Fasya seraya mengusap habis wajahnya dengan kedua tangan.
"Umi! Aku mau bicara sesua..."
Dreet... Dreet... Dreet. Belum selesai Fasya bicara, ponselnya berdering, Fasya merogoh saku celana, sejenak menatap layar ponsel yang bercahaya, tertera nama Roy sebagai pemanggil.
"Maaf umi. Aku angkat telepon dulu," ujar Fasya beranjak, menjauh dari Asiah, lalu menggeser gagang telepon berwarna hijau.
"Assalamualaikum," Sapa Fasya begitu panggilan terhubung.
"Kamu lagi di mana? Aku sudah sampap di depan rumah? Tanya Roy.
"Ya ampun. Kunci rumah terbawa," ujar Fasya seraya menepuk jidatnya.
__ADS_1
Biasa kunci rumah Roy disembunyikan di atas meteran listrik, karena kunci rumahnya cuman satu, tadi waktu Fasya turun dia memasukkan kunci rumah dalam saku celana. Hingga terbawa ke rumah sakit.
Fasya mematikan panggilan telepon. Kala dia memutarkan tubuh, dia kehilangan Asiah. Asiah sudah tidak ada di kursi tunggu. Fasya beranjak mendekati dan melongokkan kepala ke kamar Alesa. Ternyata Asiah duduk sambil bicara dengan Alesa.
Melihat Asiah bersama Alesa, Fasya pun mengurungkan niat untuk melanjutkan rencananya, dia kembali duduk di kursi menunggu Asiah ke luar. Fasya menyandarkan kepala ke dinding sambil mengingat kembali saat pertama kali dia membawa Alesa ke rumahnya.
"Fasya! Bantu angkat Alesa," tiba-tiba Asiah ke luar mengusik lamunan Fasya.
"Alesa mau dipindahkan ke ruang rawat," ujar Asiah lagi.
Masa kristis Alesa sudah berlalu, maka Alesa keluar dari ICU keruang perawatan biasa. Tanpa berpikir panjang, Fasya masuk mengikuti langkah Asiah.
"Maaf!" Bisik Fasya pada Alesa, saat dia menggendong Alesa dan memindahkan ke brankar.
"Gila! Kenapa jantungku berdebar kencang saat Alesa berada dalam gendongan," batin Fasya, sekuat tenaga dia menetralkan detak jantung kembali.
Dua orang perawat mendorong brankar keluar dari ruang ICU, menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang Anggrek, Alesa di tempatkan di ruang VIP atas rekomendasi Malik. Ruangannya lumayan besar dan nyaman.
*****
Sementara Roy langsung meluncur ke rumah sakit, saat Fasya mengabarkan kalau dia sedang di rumah sakit. Roy singgah ke toko buah membeli anggur dan jeruk, kemudian dia juga singgah ke toko kue, membeli bolu kemojo kesukaan Alesa.
Bersamaan dengan itu Bambang dan Viral baru mengetahui kalau Alesa berada di rumah sakit, setelah dapat kabar dari Roy di group whatsapp kantor.
"Emang Alesa sakit apa. Roy?" Tanya Bambang, kala mereka bertemu di parkiran.
"Kurang tahu. Tadi belum sempat nanya sama Fasya," jawab Roy.
"Fasya mantan suaminya Alesa. Maksudmu?" Tanya Bambang lagi.
"Apa? Jadi Alesa janda?" Viral.terkejut mendengar ucapan Bambang. Dia menatap Roy dan Bambang secara bergantian, dua laki-laki itu spontan mengangguk.
Melihat Bambang dan Roy mengangguk, Viral jadi teringat saat pertama kali dia bertemu Alesa. Bagaimana Carla istrinya Fasya berusaha menjatuhkan Alesa, ternyata ini faktanya, sekarang Viral sudah mengerti.
"Kok ada ya laki-laki yang menyia-nyiakan wanita sebaik Alesa," celetuk Viral. Mendengar ucapan Viral. Bambang dan Roy saling berpandangan.
"Kita tak usah bahas masa lalu Alesa. Mending kita bersaing sehat saja untuk mendapatkan wanita itu," cerocos Roy.
"Apa! Kamu juga menyukainya Roy?" Tanya Bambang getir, semakin banyak saja saingannya sekarang.
__ADS_1
"Mana berani aku menyukai Alesa, hehehe," ujar Roy seraya tertawa. Padahal kalau boleh jujur dia mulai menyukai Alesa, kala dia di suruh Fasya menemani Alesa di malam itu.
Mendengar ucapan Roy, Bambang dan Viral ikut tertawa, lalu secara berbarengan meninggalkan tempat parkir, melangkah masuk menyusuri koridor rumah sakit. Roy menelepon Fasya menanyakan tempat Alesa di rawat. Seperlima menit kemudian ketiga laki-laki itu sampai di ruang Anggrek.
"Sa! Apa yang terjadi hingga kepalamu terluka?" Tanya Bambang khawatir, matanya melirik ke arah Fasya, dia berharap Alesa terluka bukan karena laki-laki brengsek itu.
"Hanya kecelakaan kecil, Alesa terjatuh." Asiah yang menjawab pertanyaan Bambang dengan menutupi kenyataan yang sebenarnya, karena dia tidak mau terlibat lagi dengan urusan Anema.
"Ya Allah Sa! Kamu harus hati-hati," ujar Bambang lagi, seraya memberikan jeruk yang sudah dikupasnya.
Keakraban Bambang dengan Alesa, membuat Viral dan Roy merasa kalah saing. Sementara Fasya semakin tersudut.
Viral, Roy dan Bambang kemudian berpamitan, kala senja mulai menyapa mayapada.
Sepersepuluh menit, setelah kepergian, Bambang, Viral dan Roy, azan magrib pun berkumandan. Itu tanda malam mulai menyapa.
"Sa! Umi pulang dulu ya. Kamu dijaga Fasya tidak apa-apakan," ujar Asiah setelah selesai mengerjakan shalat magrib.
"Iya. Mi! Biar malam ini aku saja yang jaga Alesa, umi istirahat saja di rumah," sela Fasya sebelum Alesa bicara. Alesa hanya diam.
*****
Sementara Malik yang menghilang beberapa jam menemui Anema. Dia pun sudah menceritakan semua kesalah paham yang terjadi antara Anema dan Asiah. Mengatakan kalau setelah kejadian pemecatan Anema tiga puluh lima tahun yang lalu, membuat Asiah menyesali dan rasa bersalah yang berkepanjangan. Asiah sudah berusaha mencari Anema untuk meminta maaf, hanya saja takdir tidak mempertemukan Asiah dengan Anena, hingga Anema memendam dendam berpuluh tahun.
Setelah mendengar penuturan Malik, Anema merasa menyesal karena dia sudah berburuk sangka pada Asiah, bahkan dendamnya sudah berkarat-karat, makanya saat bertemu Asish di pemakaman itu rasanya dia ingin menghabisi Asiah.
"Malik! Bawa aku menemui Asiah," ujar Anema.
"Aku pasti akan membawamu menemui Asiah. Tapi tidak hari ini, setelah kamu sehat," ujar Malik.
"Terima kasih untuk kebaikanmu hari ini."
"Tidak usah berterima kasih padaku, yang kulakukan ini belum seberapa dibanding dengan kejahatan ku dulu," ucap Malik lagi.
"Lupa masa lalu. Belum terlambat untuk kita memperbaikinya," ujar Anema menatap mantan besannya itu. Malik hanya mengangguk. Setelah itu Malik pun berpamitan setelah Diana adiknya Anema datang.
Malik menyusuri koridor rumah sakit menuju musallah, setelah melaksanakan shalat magrib dia menuju ke ruang Anggrek. Tadi Fasya mengabarinya kalau Alesa sudah dpindahkan dari ruang ICU.
Saat Malik sampai di depan pintu ruang Anggrek, kala dia ingin mengetuk pintu dari luar. Hendle pintu ada yang memutar dari dalam, saat daun pintu terkuak, muncul wajah Asiah.
__ADS_1
"Eh. Bang Malik."
"Mau ke mana?" Tanya Malik.