
Part 100
Sejak kejadian itu Fasya belajar intropeksi diri, mulai menerima kenyataan hidup, membuang rasa ego dan terus berbenah memperbaiki tingkah polah. Fasya sudah bisa tenang jika menghadapi masalah. Seratus persen pikirannya sekarang hanya fokus pada pekerjaan, dia ingin mengembalikan kejayaan yang telah terenggut karena kesalahannya sendiri.
Perubahan sikap dan pola hidup Fasya, membuat Malik mengambil keputusan, untuk kembali memberikan modal usaha. Malik kemudian menyusuri dan mencari tahu siapa yang membeli rumah dan perusahaan yang dijual Saera.
Setelah menemukan siapa pembelinya, atas bantuan Burhan dan Roy, Malik mendapatkan nomor kontak si pembeli, Malik pun menelepon.
"Assalamualaikim. Apa saya bisa bicara dengan pak Adra?"
"Iya, saya sendiri. Maaf ini dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu," jawab Adra setelah membalas salam Malik.
Malik pun menceritakan keinginannya untuk mendapatkan kembali rumah dan perusahaan yang telah di lelang oleh Saera. Dan Malik menjanjikan akan membayar dua kali lipat.
"Maaf pak Malik, bukan saya pemilik sesungguhnya. Jadi saya tidak berhak memberikan kembali kepada bapak," jelas Adra. Adra sudah menduga kalau papanya Fasya akan menebus lagi rumah itu.
"Pasti ini buat Fasya. Om Malik sangat menyayangi Fasya. Anaknya saja yang tak tahu diri," batin Adra.
"Bisakah pak Adra menghubungkan saya kepada pemilik sesungguhnya?" Tanya Malik lagi. Malik sendiri tidak tahu kalau lawan bicaranya sekarang adalah Adra teman Fasya yang sudah sangat dikenalnya.
"Tunggu sebentar ya pak Malik. Saya hubungi dulu pemiliknya. Apakah dia mau bertemu dengan bapak," jawab Adra lalu mematikan panggilan telepon.
Sepuluh menit kemudian, ponsel Malik berdering kembali, dari layar ponsel tertera nama Adra. Malik menggeser gagang telepon berwarna hijau dan hubungan teleponpun terhubung.
Adra mengabarkan kepada Malik, bahwa pembeli rumah dan perusahaan yang dilelang Saera, mau bertemu dengan Malik, tepatnya di cafe janjimu, pukul sepuluh di meja nomor dua puluh satu. Setelah itu Adra pun menutup teleponnya.
"Masih ada satu jam," batin Malik seraya menatap jam tangan dipergelangannya.
Jika rumah itu kembali ke tangannya, dia dan Fasya akan meninggalkan rumah kontrakan yang sekarang dihuninya dan pindah kembali ke rumah kenangan itu. Dan Fasya akan bisa kembali merintis bisnisnya di perusahaan itu.
Bergegas Malik mengambil kunci mobil, saat melewati ruang kerja, dilihatnya Fasya sedang fokus di depan laptopnya. Dalam satu tahun ini, Fasya sudah menunjukkan niat baiknya untuk berubah dan serius menekuni pekarjaan kepada Malik.
Sebenarnya Malik bisa saja menyerahkan perusahaan lain kepada putra itu dan membelikan rumah mewah tak perlu ngontrak di rumah sempit ini. Tapi itu tidak dilakukan Malik, karena Malik ingin Fasya belajar dan mengambil ibrah dari kejadian yang menimpa dalam hidupnya.
Beriring waktu, Malik menjadi yakin kalau Fasya sudah benar-benar berubah dan menyadari kesalahannya. Bahkan bisnis online yang dilakuni Fasya sekarang bisa membiayai hidup Malik dan dirinya.
Malik keluar dari rumah, menuju ke mobil, setelah masuk mobil, dia menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan rumah, menuju jalan raya. Malik yang tidak tahu di mana lakasi cafe janjimu, membuka google maps dan mengikuti arahannya. Dua puluh menit kemudian google maps menunjukkan sudah sampai.
Malik menghenti mobilnya di tepi jalan, memandang kiri dan kanan. Mamun tak menemukan cafe yang dimaksud.
"Dik," Malik menurunkan kaca mobil dan memanggil seorang anak kecil. Anak kecil itu mendekat ke arah Malik.
"Iya. Pak."
__ADS_1
"Kamu tahu di mana alamat cafe janjimu?" Tanya Malik.
"Di sana pak. Masuk saja jalan kiri ini," ujar anak kecil itu, menunjuk jalan di samping kiri mobil Malik.
Setelah mengucapkan terima kasih, Malik membelokkan mobilnya memasuki jalan yang ditunjuk anak kecil tadi. Benar saja sepuluh meter di depan terpampang tulisan cafe janjimu.
Mobil yang dikendarai Malik masuk ke area parkir cafe, Malik turun dan masuk ke cafe. Seorang resepsionis menyapanya, Malik menanyakan meja dua puluh satu. Resepsionis mengatakan kalau meja itu sudah diboking seseorang.
"Saya tamu dari yang memboking meja itu," ujar Malik.
"Silakan pak, dari sini belok kiri," ujar resepsionis itu.
Setelah mengucapkan terima kasih, Malik beranjak dan melangkah menuju meja dua puluh satu. Masih kosong, Malik menarik salah satu kursi dan duduk.
Tepat pukul sepuluh, orang yang Malik tunggu belum juga muncul. Malik kembali menelepon Adra memastikan dan Adra mengatakan kalau orang yang ditunggu Malik sudah berada di cafe sedang menuju ke mejanya.
"Abdullah! Apa meja ini kamu yang memboking?" Malik kaget saat melihat Abdullah yang datang. Anak laki-laki yang dibesarkannya dan menjadi tukang kebun di rumahnya dulu.
"Iya. Pak! Ini saya." Abdullah menghambur dalam pelukan Malik, empat tahun tak bertemu dengan laki- laki yang telah membesarkannya. Membuat Abdullah sangat merindukan Malik, beberapa menit dua laki-laki itu saling berpelukan erat, lalu menguraikan pelukan.
"Maaf pak. Saya diutus ke sini untuk menyerahkan ini kepada bapak," Abdullah menyodorkan sebuah map, berisi sertifikat rumah dan perusahaan.
"Pemiliknya sebentar lagi akan ke sini. Tadi beliau masih ada meting," ujar Abdullah kemudian dia memanggil pelayan.
Sepuluh menit kemudian Alesa muncul dengan seorang pengacara. Dan langsung ke meja dimana Abdullah dan Malik sudah menunggu.
"Maaf! Membuat papa menunggu," ujar Alesa menarik kursi disamping Malik dan tetap menyebut mantan mertuanya itu dengan panggilan papa.
"Alesa! Jadi kamu pemiliknya," ujar Malik terkejut
Alesa menceritakan kronologis bagaimana rumah dan perusahaan itu bisa jatuh ketangannya, semua atas bantuan orang tua Adra. Alesa kemudian memerintahkan Abdullah untuk mengurus rumah peninggalan ibunya Fasya, sehingga rumah itu tetap terawat dengan baik.
Begitu juga dengan perusahaan, sudah Alesa serahkan ke Abdullah dan pak Burhan. Bahkan perusahaannya sekarang lebih maju dari empat tahun yang lalu.
Malik mengembalikan uang orang tua Adra yang telah membeli rumah dan perusahaan itu. Bahkan Malik memberikan keuntungan dua puluh persen kepada orang tua Adra. Tapi orang tua Adra tidak mau menerimanya, karena rumah dan perusahaan itu dibelinya hanya semata-mata menolong Alesa agar rumah dan perusahaan itu tidak jatuh ketangan orang lain.
"Terima kasih. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk papa dan Fasya," ujar Malik menyalami Alesa lalu mereka berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.
*****
Dua tahun kemudian, perusahaan yang kembali dikelola Malik tumbuh dengan pesat. Untuk kedua kalinya Malik memberikan kepercayaan lagi kepada Fasya. Kini Fasya menjadi CEO lagi di perusahaan itu, hanya saja perusahaannya berubah menjadi first resources. Perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit
Dalam satu tahun, ditangan Fasya omset perusahaan melambung, Fasya kembali meraih kejayaan dan perekonomian Fasya seratus persen membaik, dia hanya fokus kerja, sambil memperbaiki diri dan dia berjanji pada Malik, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang diberikan papanya.
__ADS_1
"Papa mau ke mana?" Tanya Fasya, saat melihat Malik berpakaian rapi.
"Ke rumah Alesa. Bukannya kita diundang syukuran. Kamu tak ikut?" Tanya Malik.
"Astagfirullah. Kenapa aku bisa lupa," ujar Fasya menepuk jidatnya.
"Siap-siap sana. Rugi kalau tak pergi. Alesa sekarang makin cantik," ujar Malik lagi sambil tersenyum.
Sudah lama Fasya tidak bertemu Alesa, selama Alesa melanjutkan pendidikan S2 nya di Bandung. Alesa pasti lebih cantik dan sukses. Itu yang ada dipikiran Fasya.
Sementara Alesa walaupun sedang kuliah, Alesa tetap fokus dengan pekerjaanya.
Nama Alesa di dunia bisnis sudah melambung, Alesa sudah menjadi orang yang sangat diperhitungkan. Bahkan Alesa selalu menjadi perbincangan di kalangan atas. Banyak para laki-laki yang ingin menjadikannya pendamping hidup atau sekedar menarik perhatiannya agar bisa menjalin kerjasama.
"Masih adakah perasaan di hati Alesa tentang aku," batin Fasya minder.
"Di mata Alesa mungkin aku sudah tidak ada apa-apa lagi," batin Fasya lagi.
Masih bisakah Fasya meraih cinta Alesa sekarang?
"Hay. Kenapa masih bengong di situ," tegur Malik membuyarkan lamunan Fasya.
"Iya. Pa! Aku siap-siap," ujar Fasya.
"Papa duluan ya," ucap Malik seraya meraih kunci mobil. Fasya mengangguk.
Tatapan Fasya tertuju pada Malik. Papanya terlihat sangat necis dengan kemeja panjang polos warna abu muda. Walaupun umur Malik sudah di atas lima puluh tahun. Tapi kegantengannya masih terlihat.
"Papa masih terlihat sangat tampan," gumam Fasya seraya masuk ke kamarnya.
Sejenak dia menatap foto pernikahannya dengan Alesa yang tergantung di dinding kamar. Foto itu sengaja Fasya meletak di situ.
"Alesa! Jika kamu mau menerimaku lagi. Aku janji akan menjagamu seumur hidup," ujar Fasya seraya menatap intens kewajah Alesa di dalam bingkai foto.
Deret...bunyi pintu lemari terbuka, Fasya mencari baju kemeja dengan warna kesukaan Alesa. Coklat milo menjadi favorit Alesa. Fasya mengambil baju coklat milo dan memakainya dengan paduan celana jeans warna hitam. Setelah memastikan penampilannya sudah sempurna. Fasya pun keluar dari kamar.
"Mau ke mana pak Fasya. Keren banget malam ini," puji Sri saat melihat penampilan Fasya.
Sejak Fasya dan Malik kembali ke rumah pusaka, Sri pun ikut kembali juga ke rumah itu atas permintaan Alesa, karena Alesa tahu kalau masakan Sri sudah familiar di lidah Malik dan Fasya.
"Mau pergi ke undangan syukuran Alesa."
Fasya sangat bersemangat ingin pergi bukan karena syukuran itu. Tapi karena di sana nanti dia akan bertemu dengan Alesa.
__ADS_1