Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Serangan Anema


__ADS_3

Part 90.


Seorang wanita setangah baya yang tanpa sengaja tersenggol Asiah, terduduk dan bunga rampai yang dibawanya berserakan. Wanita itu menunduk memunguti bunga rampai yang berhamburan di tanah.


"Maaf! Saya tidak sengaja," ujar Asiah, lalu berjongkok ingin membantu wanita itu memungut bunga rampai yang berserakan.


"Asiah," ujar wanita itu terkejut kala mendongakkan wajahnya. Dia menatap tajam pada Asiah yang ada di depannya, seketika emosinya membuncah.


"A-Anema!" Asiah tidak kalah terkejutnya, melihat tatapan tajam menukik dari Anema.


Asiah berdiri dan mundur dua langkah. Ditatapnya lurus wajah Anema yang sudah berdiri juga di depannya. Anema menatapnya tak berkedip, lalu melangkah mendekat, kini hanya berjarak satu meter dengan Asiah. Geraham Anema mengeras dan dua tangan terkepal kuat, ada dendam yang terpendam dari sorot mata itu.


"Sudah lama aku mencarimu, dan akhirnya ketemu," geram Anema seraya menudingkan tujukkan ke arah Asiah.


Asiah mengatur detak jantungnya yang tak beraturan, dia sangat gugup, keringat mulai membasahi tubuhnya. Apa lagi saat dia melihat wajah Anema yang mengeras, hingga berkerut.


"Ya Allah. Semoga tidak terjadi apa-apa," batin Asiah.


"A-Anema! A-aku meminta maaf atas kejadian tiga puluh tahun yang lalu," ujar Asiah tergagap, dia tak pernah menduga bisa bertemu lagi dengan Anema. Setelah sekian lama dia mencari.


Detak jantung Asiah berpacu dua kali lipat dari biasanya. Asiah sudah disiksa dengan penyesalan yang berkepanjangan, karena tidak bisa menemukan Anema dan meminta maaf. Asiah sadar sesadar-sadarnya, apa yang telah dilakukannya dulu membuat luka pedih yang sangat dalam dan membekas dikehidupan Anema.


"Maaf. Hah! Apa kamu tahu, perbuatanmu itu, membuat hidupku menderita, membuatku kehilangan ibu," ujar Anema seraya mencengkram dagu Asiah.


"Kata maafmu tak mampu membayar semua penderitaan yang aku alami," ujar Anema lagi.


"Gara-gara kamu ibu meninggal, karena aku tak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit. Kau pembunuh Asiah!" maki Anema dengab lantang. Tiba-tiba mata Anema berkaca-kaca.


"A-aku minta maaf," ujar Asiah lagi seraya menunduk, dia tak berani menatap wajah Anema.


"Enak saja minta maaf! Kamu harus membayar semua penderitaan yang menimpaku."


Anema mendorong Asiah sekuat tenaganya, hingga terjerembab ke tanah, lalu menumpahkan bunga rampai yang tadi sempat dipungutnya ke kepala Asiah. Tidak itu saja, Anema mengguyur Asiah dengan air yang dibawanya. Hingga membasahi kerudung yang dipakai Asiah.


Anema kemudian berjongkok, mengulurkan tangan menarik baju Asiah dan memaksanya berdiri. Asiah yang merasa bersalah sedikitpun tak melawan. Dia membiarkan Anema memuntahkan semua amarahnya. Diam dan menunduk.


Plak...


"Ini tamparan untuk ibuku." Sekuat tenaga Anema melayangkan tangannya.


Jejak tangan Anema memerah di pipi Asiah. Saking kuatnya, berdengung ditelinga Asiah, terasa panas dan sakit. Asiah mendekap pipinya.

__ADS_1


"Kenapa? Sakit? Itu belum seberapa. Hah!" Anema tertawa sumbang.


Plak... plak... dua tamparan lagi kembali mendarat di wajah Asiah. Asiah terhuyung dan jatuh ke tanah. Kepalanya terasa pusing, dengan kedua tangan Asiah mendekap kepalanya yang terasa berat.


"Bangun! Lawan aku," teriak Anema marah. Dia kembali menarik dan memaksa Asiah bangun. Kemarahan Anema sudah memuncak, dia ingin mencakar-cakar wajah cantik Asiah.


"Hentikan!" Teriak Alesa, seraya berlari ke arah Asiah dan Anema.


"Tante! Apa yang tante lakukan pada umi," teriak Alesa lagi, spontan mendorong tubuh Anema, hingga Anema terjerembab ke tanah.


Alesa memeluk Asiah erat, lalu mengusap wajah ibunya, dan menyesap air mata yang mengalir di sudut netra Asiah. Alesa tidak tahu ada masalah apa uminya dengan wanita yang baru saja menganiaya Asiah.


"Umi! Umi tidak apa-apa?" Alesa membantu Asiah berdiri.


"Hay. Jika tante berani menyentuh umi. Maka berhadapan denganku," tantang Alesa melengking, tatapan matanya menukik pada wanita yang sedang berusaha bangun.


Sedikitpun Anema tidak takut dengan ancaman Alesa. Anema betul-betul sudah dikuasai amarah dan emosi, dia berjalan maju dengan tangan mengepal, emosinya meletup-letup diubun-ubun.


"Berhenti tante!" teriak Alesa lagi.


"Serahkan wanita itu padaku! Dia harus membayar penderitaan yang kualami selama ini," teriak Anema lantang, sedikitpun tak menghentikan langkahnya.


Kedua tangan Alesa merentang, dia menghadangi aksi Anema. Alesa akan mempertaruhkan jiwa dan raganya demi wanita yang telah melahirkannta itu, dia tidak akan membiarkan wanita setengah baya itu menyentuh Asiah. Apapun alasannya.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan tante menyakiti umi," Alesa menantang tatapan Anema.


"Minggir!" sekali lagi Anemaberteriak.


"Kamu tidak usah ikut campur urusanku dengan dia," ujar Anema seraya berusaha menggapai Asiah yang berdiri di bekakang Alesa.


"Dia umiku, apapun yang berhubungan dengannya. Aku akan ikut campur, apa lagi jika ada yang ingin menyakitinya."


Minggir." Sekali lagi Anema menarik kadar tangan Alesa, Alesa menghindar, hingga tangan Anema menarik niqab Alesa hingga terbuka.


"Kamu!"


Anema kembali terkejut saat melihat wajah Alesa yang tanpa niqab. Sementara Alesa sama sekali tidak mengenali wanita yang menyerang Asiah.


"Kamu dan ibumu sama-sama penjahat," maki Anema tiba-tiba menudingkan tunjuknya ke wajah Alesa.


"Aku! Aku tak pernah berurusan dengan tante, kenapa tante bicara begitu padaku," ujar Alesa protes, dia ingin kejelasan dari tuduhan Anema.

__ADS_1


"Kamu Alesakan? Kamu pelakor yang telah merampas Fasya dari putriku. Iyakan?" Tanya Anema penuh penekanan.


Mendengar penuturan Anema, Alesa terkejut, apa lagi Asiah dia lebih terkejut lagi, bagaimana tidak, dia dan putri sama-sama terlibat dalam kesengsaraan Anema dan anaknya. Ternyata dunia ini terlalu sempit.


"Ya Allah, kenapa takdir sebegitu rumit," batin Asiah. Kesalahannya belum tertebus, kini menimpa putrinya.


Anema dan Alesa memang tidak pernah bertemu sebelumnya. Namun, Anema pernah melihat foto Alesa di galeri ponsel Saera dan Anema mengingatnya. Saat Saera menceritakan pada Anema, kalau wanita difoto itu adalah istri kedua Fasya. Anema semakin marah ketika tahu kalau Maliklah yang telah meminta Fasya menikahi Alesa.


"Tante ibunya Saera?" Tanya Alesa meyakinkan.


"Siapa Saera. Sa!" Asiah bertanya pada Alesa.


Sebenarnya Asiah tahu kearah mana pembicaraan Alesa, karena dulu Alesa pernah protes pada Abdurrahman, kala mengetahui kalau Fasya laki-laki beristri. Namun, Abdurrahman dan dia tetap menginginkan Alesa menjadi istri Fasya, karena janji Fasya yang akan membiayai pengobatan Abdurrahman.


"Ya Allah. Andai saja waktu itu aku dan Abdurrahman tidak egois. Pasti Alesa tidak terlibat masalah ini," batin Asiah.


"Saera! Istri Fasya yang pertama. Mi," jawab Alesa.


"Sekarang kalian berdua harus bertanggung jawab atas penderitaanku dan Saera," kecam Anema marah, seraya menarik hijab Alesa dengan kuat.


Tarikan tangan Anema, membuat Alesa terseret, dan lehernya terasa tercekik. Alesa berusaha menahan hijabnya dengan kedua tangan agar tak terlepas.


"Anema! Lepaskan Alesa. Kamu bisa menghukumku, jangan Alesa, dia tidak tahu apa-apa," Asiah menarik lengan Anema, berusaha menghentikan keberutalan Anema.


Brak... Anema mendorong tubuh Alesa, hingga Alesa terjatuh dan kepala terhantuk keras ke sebuah batu nisan salah satu kuburan di situ. Darah segar mengalir di dahi Alesa, Alesa terkulai dan pingsan.


"Alesa! Alesa! Bangun. Nak!" Asiah berteriak histeris.


"Semoga saja anakmu mampus," kecam Anema seraya tersenyum penuh kemenangan.


Yanto dan adik Alesa berlarian ke tempat kejadian. Melihat Alesa terkapar tak berdaya dan wajah penuh dengan darah. Memicu kemarahan adik laki-laki Alesa, tanpa ampun beberapa bokem mentah menyerang mengenai wajah Anema dengan brutal.


"Sudah! Hentikan!" Teriak Asiah menarik tangan anak laki-lakinya yang sudah mahasiswa.


Spontan Yanto menggendong Alesa berlari ke mobil, diikuti oleh adik-adik Alesa. Sekilas Asiah menatap ke arah Anema, dari sudut bibirnya menetes darah segar akibat pukulan putra keduanya, lalu Asiah berjalan meninggalkan Anema tanpa berniat membantunya.


"Awas saja kalian aku akan membalasmu," batin Anema seraya memegang kepala dengan kedua tangannya, dia berusaha bangkit. Namun, pandangannya seketika buram dan hitam, Anema tersungkur tak sadarkan diri.


Sementara Asiah sudah berada di dalam mobil, seraya menggenggam erat tangan putrinya, Asiah membersihkan darah di wajah Alesa dengan tissu. Terdengar rintihan halus dari bibir Alesa.


"Alesa! Kamu yang kuat ya. Nak! Sebentar lagi kita sampai di klinik," Asiah menatap luka menganga sepanjang lima centi di dahi Alesa.

__ADS_1


Nafas Alesa tersengal-sengal, kepalanya terasa berdenyut kuat, tiba-tiba Alesa droup, tubuhnya melemah dan nafasnya berhenti.


"Alesa! Nak bangun!"


__ADS_2