Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Salah Paham


__ADS_3

Part 60


Di Notaris


Saera dan Fasya sudah berada di notaris untuk pemindahan nama kepemilikan rumah peninggalan ibunya Fasya, yang sudah di tempati Fasya sejak lahir hingga sekarang. Dan rumah itu sudah di serahkan ke Fasya sebelum ibunya meninggal.


Masih terngiang di telinga Fasya pesan mendiang ibunya, agar Fasya menjaga rumah peninggalan itu, jangan sampai dijual atau diserahkan ke orang lain.


"Saera bukan orang lain bu. Dia menantu ibu." batin Fasya seraya mengusap wajahnya.


Dua jam berada di notaris, semua berkas pemindahan lengkap dan surat pernyataan pun sudah di tanda tangani. Untuk menunggu terbit sertifikat baru, dibutuhkan waktu beberapa bulan.


Setelah mengucapkan terima kasih dan bersalaman Fasya dan Saera pun ke luar dari notaris, melangkah menuju mobil masing-masing.


"Saera! Tolong tanda tangani dulu surat pernyataan ini dulu," ujar Fasya mencegah Saera yang mau masuk ke mobil.


"Bukannya sertifikatnya belum terbit. Jadi ditunda saja. Nikahnya setelah sertifikat balik namanya udah siap," ujar Saera seraya menggapai gagang pintu mobil.


"Saera! Pernikahan ini tidak bisa ditunda lagi. Jika menunggu sampai sertifikatnya terbit, bisa-bisa perut Carla sudah membuncit." Jelas Fasya.


Terbayang bagaimana dia menghadapi rengekan Carla, jika surat pernyataan ini, tak di dapatnya.


"Ya sudah. Nikah siri saja dulu. Setelah sertifikatnya terbit, baru nikah resmi," ujar Saera lagi, membuka pintu mobilnya, kemudian masuk.


"Saera! Tunggu!" Fasya menahan pintu mobil Saera.


"Apa lagi?"


"Tidak bisa begitu. Aku sudah janji pada Carla, jika tidak...."


"Jika tidak! Kenapa?"


"Ibrahim akan mengadakan acara resepsi pernikahan secara besar-besaran. Aku tidak mau papa Malik dan rekan bisnisku yang lain tahu jika aku menikahi lagi."


"Kenapa? Bukannya kemaren waktu kamu menikah dengan Alesa atas permintaan papamu? Dia pastilah senang jika kau menikah lagi." ujar Saera mengungkap fakta lama.


"Bukan itu. Jika papa Malik tahu, rekan bisnisku tahu. Otomatis papa Carla, Ibrahim Carlos akan tahu, jika aku sudah beristri. Ini sangat membahayakan bisnisku," ujar Fasya lagi.


Perusahaan Ibrahim Carlos sangat berpengaruh di dunia bisnis di kota bertuah Pekanbaru. Jika ketahun Fasya menikahi putrinya menjadi istri ke tiga, bisa saja Ibrahim Carlos membaikot geliat dan gerak perusahaannya. Bisa-bisa rekan bisnis Fasya akan enggan untuk melanjutkan kerjasama yang sudah berjalan. Itu sangat merugikan pendapatan perusahaannya.


Mendengar penjelasan Fasya. Saera diam sejenak, kemudian dia pun tersenyum dalam hati, akal liciknya kembali berjalan.


"Tranfer seratus juta. Aku tanda tangani," ujar Saera memberi penawaran.


Tidak banyak berpikir, Fasya pun mengeluarkan ponselnya, dan mentranfer sesuai permintaan Saera. Dia melakukan ini sebenarnya bukan takut dengan Saera. Tapi hanya ingin menjaga imejnya di depan Anema ibu mertunya.


"Setelah menikah. Carla yang pindah ke rumah kita, bukan kamu yang pindah ke rumahnya," ujar Saera lagi.


Saera punya rencana untuk menjemput kedatangan madu keduanya itu. Dia akan membuat Carla membayar perbuatannya, karena telah berani masuk ke dalam kehidupan Fasya.


"Iya. Iya," ujar Fasya menyodorkan map yang berisi surat pernyataan itu.


"Jika kamu tidak bisa membawa Carla ke rumah kita. Aku akan membongkar pada rekan bisnismu tentang pernikahan kedua dan tigamu," ancam Alesa.


"Iya," jawab Fasya, dia sudah tidak ingin berdebat lagi dengan Saera.


Setelah mendapat tanda tangan surat pernyataan itu, Fasya meluncur ke klinik Bunda Permata menemui Carla.


Sementara Saera membawa hatinya yang galau. Nongkrong dengan teman-teman sosialitanya, dia malas kembali ke kantor. Hari ini dia ingin bersenang-senang dengan uang yang baru di dapatnya dari Fasya untuk menghilangkan pikirannya yang kusut.


****

__ADS_1


Di Kampus


Pukul sepuluh kurang lima belas menit, mobil yang dikendarai Bambang memasuki area kampus. Begitu mobil berhenti. Setelah mengucapkan terima kasih. Alesa bergegas membuka pintu mobil dan turun, kemudian berlari kecil menuju kelasnya. Alesa tidak menunggu Bambang lagi.


"Hay! Kamu kenapa? Kayak dikejar setan saja," tanya Makita saat melihat Alesa datang dengan nafas tersengal.


"Takut telat," ujar Alesa mendudukkan bokongnya di samping Makita.


"Bu Mahrita berhalangan, jadi jadwal kuliahnya di tunda besok pukul delapan."


"Hah! Yang benar," ujar Alesa membolakan matanya menatap Makita.


"Hooh," jawab Makita lagi seraya mengangguk.


"Hadehh." Alesa menarik nafas panjang. Dia sudah bela-belain datang ternyata jadwal di kensel.


Kalau tahu begini. Ngapa juga dia buru-buru ke kampus. Dosen kadang tak tahu bagaimana perjuangan mahasiswanya untuk datang ke kampus. Mereka seenak jidat merubah jadwal kuliah, tanpa perberitahuan terlebih dahulu.


"Yuk ke pustaka." ajak Makita.


"Ayok."


Sambil beriringan Makita dan Alesa keluar dari ruang kelas, mereka menapaki trotoar kampus, menuju perpustakaan. Begitu sampai di perpustakaan, Alesa menuju ke meja tempat biasa dia duduk. Namun, saat dia meletakkan ranselnya di meja itu. Ada seseorang yang sudah mengisinnya. Adra duduk manis menatap ke arahnya dengan sebuah buku di tangan.


"Maaf," Alesa yang sudah terlanjur meletakkan ranselnya meminta maaf, begitu menyadari dia sudah mengganggu kosentrasi Adra.


Perlahan Alesa mengambil kembali ransel yang sudah di letaknya di atas meja. Seketika Adra menahan tas Alesa dengan tangannya. Dan bahasa tubuhnya meminta Alesa duduk di depannya.


"Kenapa? Duduklah!" ujar Adra saat melihat Alesa ragu.


Sejak Alesa mengembalikan pemberian Adra kemaren, sejak itu pula, mereka tak pernah bertegur sapa, hampir dua bulan Adra tak pernah menegurnya, walaupun kadang mereka berpapasan. Begitu juga dengan Alesa dia takut menyapa Adra duluan.


"Kamu kenapa cuek begitu. Marah sama aku?" Adra mengajukan pertanyaan yang tak di sangka ketika Alesa sudah duduk di depannya.


"Aku?" Alesa menunjuk dirinya. Adra mengangguk.


"Bukannya bapak yang marah padaku waktu itu." Alesa protes menjawab pertanyaan Adra. Alesa masih ingat waktu itu dia mengemis meminta maaf dari Adra. Tapi Adra malah meninggalkannya begitu saja.


"Emang aku punya tampang pemarah. Nggakkan," ujar Adra lagi.


"Alesa! Kamu di mana?" Terdengar suara Makita mencarinya.


"Eh.. Ada pak Adra. Apa aku boleh duduk di sini?" Tanya Makita seraya menarik kursi di sebelah Adra, tak perduli diijinkan atau tidak.


Sebenarnya Adra merasa terusik dengan kedatangan Makita. Tapi tak mungkin juga dia mengusirnya. Akhirnya membiarkan saja Makita duduk di sampingnya.


Makita membawa beberapa referensi, lalu dia menanyakan tentang tugas yang Adra berikan padanya semalam. Dengan gamblang Adra menjelaskan dan Makita manggut-manggut.


"Udah paham?"


"Udah dikit," jawab Makita sambil garuk-garuk kepala.


"Jika ada kendala. Saya boleh bertanya lewat chat ya. Pak!" ujar Makita. Dia memang pandai memanfaatkan situasi, hanya alasannya saja ingin menanyakan soal tugas. Pada Makita ingin ngobrol saja lewat whatsapp.


"Tugasmu sudah siap?" Adra mengalihkan pambicaraannya dengan Makita, mengalihkan pandangan dan pertanyaan pada Alesa


"Su-sudah," jawab Alesa tergagap.


"Mana?" Tanya Adra.


"Di rumah. Besok saya emailkam ke bapak!" Jawab Alesa lagi memberi alasan, dia tidak mau Adra melihatnya sekarang. Alesa takut kalau Adra tahu, jika yang mengerjakan tugasnya orang lain.

__ADS_1


"Baiklah. Makita kamu selesaikan tugasmu. Dan kamu, karena tugasmu sudah selesai. Ikut aku! Aku butuh bantuanmu," ujar Adra beranjak dari duduknya.


"Ayok!"Ajak Adra, begitu melihat Alesa bergeming.


Sejurus Alesa menatap ke arah Makita. Dia berharap Makita menahannya, atau meminta bantuannya, sehingga Alesa tak perlu ikut Adra. Tapi ternyata Makita malah menyuruhnya mengikuti Adra.


"Pergilah pak Adra butuh bantuanmu," ujar Makita.


Perlahan Alesa beranjak dari duduknya, lalu mengikuti langkah Adra menuju lift. Saat di depan lift Adra menunggunya masuk bersamaan. Seperdetik kemudian lift membawa kedua naik ke atas dan lift terbuka di lantai tiga. Alesa mengikuti langkah Adra menuju ruang kerjanya.


"Duduklah," ujar Adra seraya meletakkan tas kerja di atas meja, lalu dia membuka jas dan menyangkutkan di sandaran kursi.


"Kamu bisa memijat?" Tanya Adra berpindah duduk di sofa di samping Alesa.


"A-akuu..." tentu saja pertanyaan Adra di luar dugaan Alesa. Dan Alesa bingung mau menjawabnya. jika dia bilang tidak, nanti di bilang bohong. kalau cuman sekedar mijat, Alesa sering melakukannya, jika Abinya kecapean saat pulang dari kebun.


"Aku cuman minta tolong, kamu pijat bahuku, rasanya pegal semua," ujar Adra lalu membelakangi Alesa, Adra menyodorkan punggungnya. Alesa ragu untuk melakukannya.


"Kenapa? Kamu tidak mau membantuku? Tanya Adra menoleh ke arah Alesa. Alesa bergeming di tempat duduknya. Dia hanya menatap ke arah Adra.


"Jika kamu tak mau ya sudah. Aku saja memijatmu," ujar Adra memutar posisi tubuhnya.


Mata Alesa membola, saat Adra menyodorkan tangan ingin menggapainya. Alesa berinsut dan mundur beberapa jengkal.


"Tidak usah pak! Aku tidak butuh dipijat," ujar Alesa mengangkat kedua telapak tangannya, dia memberi isyarat pada Adra.


"Tidak usah takut," ujar Adra menggeser duduknya mendekat.


Debar jantung Alesa, seketika berdetak kencang dua kali lipat dari biasanya. Spontan Alesa bangkit dari duduknya. Namun, terlambat! Adra sudah menggapai dan menarik paksa tangan Alesa, hingga Alesa terjatuh dalam pangkuan Adra.


Adra tak membiarkan mangsanya terlepas, dia membawa Alesa dalam pelukannya, dan memutar tubuh Alesa menghadap ke arahnya, dengan kasar niqab Alesa ditariknya, hingga terlepas.


Adra ternganga menatap Alesa yang ketakutan. Adra sama sekali tak menduga, kalau wajah di balik cadar itu sangat cantik dan mempersona. kecantikan Alesa yang masih original membuat Adra mengaguminya.


Adra menekuk leher Alesa, hingga wajah Alesa menghadap ke arahnya, tanpa ampun Adra mematuk bibir tipis itu dan memagutnya dalam, hingga Alesa kehabisan nafas.


Plak.. satu tamparan Alesa mendarat di pipi Adra, saat dia bisa mendorong tubuh Adra, hingga pagutan dan dekapan Adra mengurai. Tamparan Alesa, bukannya menyadarkan Adra atas kesalahannya, tapi dia semakin bringas, kali ini dengan kasar ditariknya jilbab Alesa, hingga terlepas.


"Ini pembalasan buat abang sepupumu itu, karena telah menodai tunangan Carla dengan biadab," ujar Adra geram, dia kembali menerkam tubuh Alesa. Antara emosi dan gejolak hatinya menyatu.


Tiga hari yang lalu, Carla menemui Adra dan dia memfitnah Fasya, sambil menangis-nangis tersedu untuk mencari simpati Adra. Carla bercerita dan mengatakan kalau Fasya telah memaksanya melakukan hubungan terlarang itu, hingga dia mengandung anak Fasya.


Mendengar penuturan Carla, Adra shock dia sama sekali tak menduga kalau kelakuan Fasya sebejat itu. Walaupun kenyataannya Carla mencintai Fasya. Paling tidak Fasya menghargai persahabatan mereka dengan tidak menodai tunangan sahabatnya sendiri.


Awalnya Adra marah dan ingin mendatangi Fasya untuk menghajar dan menjobloskannya ke penjara. Namun, dengan berbagai cara dan menghiba Carla bisa melunakkan hati Adra. Dengan alasan janin yang ada dirahimnya. Carla meminta Adra merelakannya meminta pertanggung jawaban Fasya agar menikahinya. Akhirnya Adra mengalah.


"Jangan pak! Aku mohon." Alesa menutup wajah dengan kedua telapak tanggan. Dia merengkuk duduk di lantai merapat ke sofa.


Adra tidak memperdulikan permohonan Alesa, dia mengendong Alesa dengan paksa. Membawa masuk ke ruang pribadinya, lalu meletakkan Alesa di atas kasur. Adra beranjak menutup pintu dan memutar anak kunci. Kemudian membuka baju kemejanya, kini bagian atas tubuhnya terlihat jelas.


"Kamu akan merasakan. Apa yang dirasakan Carla," hujat Adra menyeringai. Dia sudah siap membuat Alesa tercabik-cabik. Di kepalanya membayangkan bagaimana bejatnya Fasya menggagahi Carla.


Alesa perlahan beringsut kesudut tempat tidur, dia merapat ke dinding, lalu memeluk erat kedua lututnya. Adra naik ke tempat tidur, dia menatap tajam ke arah Alesa. Adra berdecak kagum melihat kecantikan Alesa.


Dengan tangan kanannya Adra mencengkram dagu Alesa dan mengangkatnya agar menantang. Adra kembali mematuk bibir yang bergetar dan pucat itu karena ketakutan.


"Jangan takut, kita hanya akan bermain-main. Seperti abangmu yang mempermainkan Carla," bisik Adra menggoreskan tunjuknya di bibir Alesa.


"Aku bukan adik Fasya. Tapi aku istrinya, hiks, hiks, hiks." Alesa menangis terisak.


"Apa! Kamu istri Fasya, hahaha. Aku tak percaya."

__ADS_1


__ADS_2