Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Layak Pulang


__ADS_3

Part 97


"Fasya!" Gumam Asiah.


"Tumben pakai salam, biasanya juga langsung nyelonong," batin Alesa.


"Umi," Fasya menyalami Asiah dan mencium punggung tangannya.


"Nak Fasya! Umi minta maaf ya, karena semalam memintamu menjaga Alesa. Pada hal Alesa bukan istrimu lagi." ucap Asiah.


"Umi! Dari mana umi tahu?" Tanya Alesa heran, karena dia belum bercerita pada Asiah.


"Malik sudah menceritakan semuanya pada umi waktu mengantar umi pulang semalam."


"Maafkan aku ya. Mi," ujar Alesa seraya memeluk Asiah.


"Kenapa kamu tidak mencaritakan yang sebenarnya ke abi dan umi, kalau udah empat tahun kamu pisah dengan Fasya," ucap Asiah seraya menguraikan pelukannya.


"Aku tidak mau abi tahu dan mengganggu pikirannya. Mi," ujar Alesa lagi.


Mendengar penuturan Alesa. Fasya merasa sangat berdosa, Alesa begitu menyayangi abinya, hingga beban hidupnya ditanggung sendiri.


"Aku minta maaf. Mi! Karena tak bisa menjaga amanah yang abi dan umi titipkan," ujar Fasya menyela, dia menatap ke arah Alesa.


"Alesa! Abang minta maaf ya, karena abang sudah menyia-nyiakan kamu," ujar Fasya lagi, dia menyodorkan tangan menyalami Alesa.


Sejenak Alesa menatap Asiah, dia meminta persetujuan uminya. Asiah mengangguk, baginya sekarang yang terpenting adalah melihat Alesa bahagia.


"Kalian berdua tidak boleh ada yang dendam dan sakit hati ya. Karena kalian berdua itu kakak adik."


"Kakak adik! Maksud umi apa?"


Sambil meminta Alesa duduk di sofa, Asiah mulai bercerita siapa sesungguhnya Malik dan Fasya.


Tentu saja Alesa kaget, karena dia tak menyangka sama sekali, kalau Fasya yang sudah jadi mantan suaminya itu adalah abang sepupu angkatnya.


"Alesa! Umi minta maaf. Karena egoisan umi dan abi, kamu yang jadi korban."


"Kita lupakan semua yang terjadi. Mi! Kita mulai lagi dengan kehidupan baru ya. Mi," ujar Alesa, dia kembali memeluk erat Asiah.


"Yuk kita sarapan dulu."


Asiah membuka rantang berisi nasi goreng spesial kesukaan Alesa yang tadi sengaja dibuatnya berlebih. Asiah meminta Fasya ikut bergabung dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum." terdengar lagi suara salam. Bambang datang membawa buket bunga mawar. Dan menyerahkan pada Alesa, Alesa mencium buket bunga itu dan meletakkannya di atas tempat tidur.


"Kenapa Fasya ada di sini. Apa Fasya dan Alesa rujuk kembali," batin Bambang, matanya melirik Fasya yang sedang menyuap sarapannya.


"Umi," sapa Bambang menyalami Asiah.


Sejenak Asih menatap Bambang, wajah laki-laki tinggi dan tegap itu sangat familiar di mata Asiah. Tapi dia lupa pernah bertemu di mana.


"Bambang anaknya tokeh Herman. Mi," ujar Alesa mengurai keraguan Asiah.


"Oh. Tambah ganteng kamu sekarang," puji umi menatap ke arah Bambang.


"Ah. Umi bisa saja," ucap Bambang, dia jadi salah tingkah.


Asiah dan Alesa mengajak Bambang bergabung dan mencicipi nasi goreng yang dibawa Asiah. Namun, Bambang menolaknya dengan dalih sudah sarapan dan masih kenyang


"Ciciplah, masakan umi enak, rugi kalau tak merasa," ujar Alesa seraya menyodorkan sendok dan memasukkan ke mulut Bambang.


Perlahan Bambang mengunyah dan merasakan sensasinya. Dulu Asiah sering membantu ibunya memasak untuk para pekerja yang sedang menyiang di sawah. Masakan Asiah terkenal enak dikalangan para buruh tani.


"Hemm...Masakan umi tak berubah, tetap enak seperti dulu," puji Bambang.


Lima menit kemudian sarapan pun selesai. Asiah mengemas kembali rantang yang sudah kosong dan memasukkan ke dalam plastik, menyingkirkannya dari meja sofa.


Sedang asik ngobrol, masuk dokter dan dua orang suster yang mendorong troli.


"Aku sudah boleh pulang kan. Dok?" tanya Alesa, harap cemas terlihat di wajah Alesa di balik niqab. Jujur satu hari saja berada di rumah sakit, sudah sangat menyiksanya.


"Saya cek dulu. Apakah non Alesa sudah layak dipulangkan," ujar dokter Ridwan tersenyum, memamerkan lesung pipinya.


"Dokter ada-ada saja. Pakai survey layak, tidak layak," ujar Alesa ikut tersenyum, dia mengerjapkan mata indahnya.


Dua orang perawat mengeluarkam alat dan senjatanya, mulai membuka perban di dahi Alesa. Alesa sedikit meringis, karena ada kain kasa yang menempel di lukanya.


"Maaf. Non! Terasa sakit ya," ujar perawat yang tadi membuka perban.


"Sedikit," jawab Alesa.


Salah satu perawat mengoleskan obat, dan menutup kembali lukanya dengan perban baru, setelah diperiksa dokter Ridwa. Setelah memberikan resep obat, dokter Ridwan mengatakan dia sudah layak pulang dengan syarat minum obat yang teratur, dan tidak boleh beraktifitas terlalu berat.


"Aktifitas berat. Contohnya apa dok?"


"Main bola, angkat beras sekarung," ujar dokter Ridwan berkelakar menjawab pertanyaan Alesa. Alesa hanya tertawa menanggapinya.

__ADS_1


"Selamat kembali pulang ke rumah. Kami pamit ke kamar pasien lain."


"Terima kasih. Dok!" Alesa menangkupkan kedua tangan di dadanya.


Sepeninggalan dokter dan dua orang suster. Asiah dibantu Bambang mengemasi barang-barang Alesa. Sementara Fasya menyelesaikan administrasi, membayar bil tagihan rumah sakit, atas permintaan Malik.


"Sini. Mi! Biar saya bawa tas pakaian non Alesa," ujar Yanto sang supir mengambil alih dari tangan Asiah.


Asiah, Yanto dan adik laki-laki Alesa beranjak menuju parkir sambil menenteng plastik asoy berisi selimut, bantal dan baju kotor Alesa.


"Aku jalan saja," tolak Alesa kala Bambang menawari kursi roda.


"Sudah! Jangan membantah. Parkir cukup jauh." Tiba-tiba Fasya datang dan menyeletuk. Dia merampas gagang kursi roda dari tangan Bambang dan memaksa Alesa duduk.


Sejenak Alesa menatap ke arah Bambang. Bambang hanya mengangguk membenarkan ucapan Fasya. Alesa pun duduk di kursi roda, begitu duduk Fasya mendorong kursi roda menyusuri koridor rumah sakit.


Di parkir Asiah dan dokter Anzar sedang berbincang saat Alesa sampai. Melihat Alesa datang dengan kursi roda yang didorong Fasya dan diiringi Bambang. Anzar menghentikan obrolannya. Dia memberikan paperbag berwarna pink pada Alesa.


"Apa ini?" Tanya Alesa menatap Anzar.


"Hanya hadiah kecil, sebagai tanda syukur atas kesehatanmu," ujar Anzar.


"Oh. Terima kasih," ujar Alesa seraya berdiri dari kursi roda.


Setelah berbincang sebentar, sebuat travel berwarna oren tujuan ke Tembilahan datang. Anzar berpamitan pada Asiah dan Alesa, begitu juga adik laki-laki Alesa, dia pulang ke Tembilahan bersama dokter Anzar.


Anzar menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan ke arah Alesa.


"Hati-hati di jalan, selamat sampai tujuan." Alesa membalas lambaian Anzar.


Sepeninggalan Anzar dan adik laki-laki Alesa. Yanto membuka pintu depan dan menyilakan Asiah masuk. Kemudian membuka pintu bekalang, menyilakan Fasya dan Alesa masuk.


"Aku duluan ya," ujar Alesa.


"Istirahat yang banyak. Jangan lupa minum obatnya," ujar Bambang berpesan. Alesa hanya mengangguk lalu menutup pintu mobil.


Alesa membuka kaca jendela, sebelum mobil meluncur, lalu melambaikan tangan ke arah Bambang. Setelah berpamitan mobil pun meluncur.


Alesa membuka paperbag dari Anzar, lalu mengeluarkan isinya, sebuah kotak persegi empat berwarna maron. Alesa membuka kotak itu, terdengar alunan musik. Kotak musik yang sertai jam itu terlihat sangat unik.


"Hanya kotak musik. Sudah tak zaman lagi kasih hadiah kayak begituan," cicit Fasya.


"Yah. Dari pada kamu, yang tak pernah kasih hadiah. Mendingan ini, kotak musik, aku suka kok," balas Alesa, seraya menutup kotak musik itu dan memasukkannya kembali ke dalam paperbag. Alesa mendekap paperbag itu.

__ADS_1


"Anzar masih mengingat kotak musik itu," gumam Alesa.


__ADS_2