
Part 81
Alesa menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Roy. Belum sempat dia merespon ucapan Roy, tiba-tiba ponsel di tangan bergetar, Alesa menatap ponsel layar ponsel.
"Umi," batin Alesa.
Alesa menggeser gagang telepon berwarna hijau, lalu menerima panggilan Asiah, terdengar suara isak Asiah yang mengabarkan kalau Abdurrahman pingsan dan sekarang sedang di perjalanan menuju ke rumah sakit.
"Umi yang sabar ya. Insya allah abi akan baik-baik saja, kalau sudah sampai di rumah sakit kabari aku lagi. Bu!" Alesa menutup teleponya, kemudian bergegas menuju ruang kerjanya.
"Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku, agar bisa segera pulang ke Tembilahan," batin Alesa seraya membuka dan menghidupkan laptopnya.
"Siapa yang sakit?" Tanya Roy yang sempat mencuri dengar percakapan Alesa di telepon. Dia masuk ke ruang Alesa tanpa ijin.
"Abi." jawab Alesa, matanya tak lepas dari layar laptop.
"Kenapa tidak dirujuk ke Pekanbaru saja, kalau di sini kamu bisa sambil kerja menjaga abimu," usul Roy.
Selama ini bukan Alesa tidak kepikiran untuk membawa abinya ke Pekanbaru. Tapi Abdurrahman yang selalu menolak dengan alasan tidak mau merepotkan Alesa dan tidak mau meninggalkan rumah dan adik-adik. Bahkan saat Alesa mengutarakan mau memboyong umi, abi dan adik-adiknya pindah ke Pekanbaru. Abdurrahman menolaknya mentah-mentah.
"Abi tidak akan meninggalkan tanah kelahiran abi," ucap Abdurrahman beberapa bulan yang lalu.
Kalau sudah Abdurrahman bicara begitu tak ada yang berani membantahnya. Asiah sekalipun tak akan berani, karena Abdurrahman tidak akan pernah merubah pendapatnya.
Dreet... Dreet... Dreet. Belum sempat Alesa menanggapi ucapan Roy, terdengar lagi getaran ponselnya, panggilan kedua dari Asiah. Ada rasa was-was dan khawatir menyelimuti perasaan Alesa.
"Assalamualaikum. Umi!" Sapa Alesa begitu panggilan terhubung.
"Bagaimana keadaan abi?" tanya Alesa cemas.
"Dokter ingin bicara padamu," ujar Asiah lalu menyerahkan ponsel pada dokter Anzar.
Dokter Anzar yang sudah tiga tahun menangani penyakit Abdurrahman mengabarkan kalau paru-paru Abdurrahman sudah memasuki stadium empat dan harus ada penangan secara intinsif. Menurut dokter Anzar sebaiknya Abdurrahman di rujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatan medisnya.
"Baik dokter, saya ngikut saja dengan saran dokter," ujar Alesa terisak sedih saat mendengar kondisi abinya.
Setelah bicara panjang lebar dengan dokter Anzar. Alesa memutuskan untuk meminta dokter Anzar merujuk abinya ke Pekanbaru, dan dokter Anzar pun bersedia mendampingi Abdurrahman selama di perjalanan, karena kebetulan dia juga ada perjalanan dinas.
__ADS_1
Semua surat rujukan diurus oleh dokter Anzar, selain dia dokter yang menangani Abdurrahman, Anzar juga bertetanggaan dengan keluarga Alesa di kampung. Sebelum Anzar, dokter Abdul Raup yang menangani Abdurrahman, sekarang dokter Abdul Raup sudah pensiun, diganti oleh Anzar putranya.
Setelah memastikan, kalau urusan rujuk abinya selesai. Alesa menelepon Bambang, dia meminta tolong Bambang menyiapkan travel untuk adik-adiknya, karena salah satu cabang perusahaan Bambang menangani travel tujuan Tembilahan - Pekanbaru.
"Umi! Umi tak perlu cemas ya, masalah abi sudah ditangani dokter Anzar dan keberangkatan adik-adik sudah diurus Bambang," ujar Alesa saat menelepon kembali Asiah.
"Apa non Alesa butuh bantuanku?" Tanya Roy, kala melihat Alesa menutup panggilan teleponnya.
"Iya! Aku mau kamu menyelesaikan dua laporan ini sebelum pulang." Alesa menyerahkan dua map berisik laporan bulan januari dan pebruari.
"Masih ada yang lain, selain ini?" tanya Roy lagi.
"Tidak! Untuk hari ini," ujar Alesa kembali fokus ke layar laptopnya. Begitu juga dengan Roy, dia beranjak ke ruang kerjanya.
Tepat pukul lima Alesa mematikan dan menyimpan laptop ke dalam tas kerjanya. Saat keluar dari ruangan. kantor sudah terlihat sepi, memang jadwal pulang karyawan sudah berlalu tiga puluh menit yang lalu.
"Apa non saya antar?" tanya Burhan saat berpapasan dengan Alesa.
"TIdak pak! Saya sudah janji dengan teman."
"Baiklah kalau begiti. Saya duluan. Non!"
"Ah! Mungkin dia lupa dengan janjinya untuk memjemputku," batin Alesa, seraya masuk lift.
Seperdetik kemudian lift sudah membawa Alesa turun ke lantai dasar. Bagitu lift terbuka dia langsung keluar menuju pintu utama, sambil menggeser aplikasi gojek mau mengorder gocar. Namun, belum sempat dia menekan aplikasi itu, matanya menatap bayangan Bambang.
"Maaf aku telat. Kukira kamu sudah pulang duluan," ujar Bambang.
"Aku kira kamu yang lupa janji," ucap Alesa.
"Mana mungkin aku lupa janji sama kamu. Apa kamu sudah lama menunggu?"
"Nggak! Baru juga mau pulang," jawab Alesa seraya mensejajari langkah Bambang menuju ke mobil.
Bambang membuka pintu untuk Alesa, lalu dia memutar masuk dan duduk di belakang stir. Mobil pun melaju meninggalkan kantor merambah jalan raya. Selama diperjalanan Bambang menanya tentang penyakit yang diidap Abdurrahman. Dan Alesa menceritakan apa adanya.
"Ntar ku jemput jam delapan ya," cicit Bambang begitu dia sudah memarkir mobil di depan rumah Alesa.
__ADS_1
Alesa mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum turun. Saat Bambang membunyikan kelakson, Alesa melambaikan tangan.
"Hati-hati nyetirnya. Jangan ngebut," pesan Alesa, Alesa menatap kepergian Bambang, hingga mobilnya menghilang di balik pagar.
Saat Alesa melangkah masuk, ponsel di dalam tasnya bergetar, Alesa berhenti sejenak, membuka tas tangan dan mengambil ponselnya, dari layar telepon tertulis nama Roy sebagai pemanggil.
"Assalamualaikum," sapa Alesa begitu hubungan telepon tersambung.
"Non! Aku minta ijin untuk beberapa hari kedepan tidak masuk kantor. Aku pulang ke Bangkinang, karena mamak paman saudara laki laki sebelah ibuku meninggal tadi malam," ujar Roy menjelaskan setelah menjawab salam Alesa. Dan dia juga meminta maaf, karena tadi tidak sempat ijin di kantor.
"Baiklah," ujar Alesa, kemudian menutup teleponnya.
Karena mengurus abinya yang akan dirujuk ke Pekanbaru dan keberangkatan adik-adiknya. Alesa melupakan masalah Fasya, pada hal tadi dia ingin bertanya pada Roy tentang ketidak hadiran Fasya dan istri di meeting bersama Viral pengusaha dari Singapore itu.
Jam sudah menunjukkan pukul enam kurang lima menit saat Alesa baru selesai mandi. Dalam waktu lima menit, Alesa sudah memakai bajunya dan keluar kamar menuju dapur mencari Sri.
"Non! Mau dimasakin apa untuk makan malam?" Tanya Sri saat melihat Alesa mencurah air putih ke dalam gelas.
"Stok apa yang ada di dalam kulkas?"
"Ada daging, udang dan cumi. Non!"
"Daging kamu semur, udang digoreng tepung sajiku, kemudian cumi masak rica-rica pedas," titah Alesa.
"Apa Non mengundang seseorang untuk dinner?" Tanya Sri heran, tak biasanya Alesa minta masakkan mrmu sebanyak ini.
"Orang tua dan adik-adik malam ini mau datang," sahut Alesa.
"Benar. Non?"
Alesa hanya mengangguk, kemudian menenggak isi gelasnya hingga tuntas.
"Shalat dulu. Tuh dah azan magrib," ujar Alesa seraya meletakkan gelas di atas meja makan, dia pun beranjak ke kamar.
Selesai shalat magrib. Alesa kembali ke dapur, membantu Sri memasak, hingga pukul tujuh tiga puluh. Saat terdengar azan isya, Alesa kembali ke kamar, berwudhu dan mengerjakan shalat. Setelah itu mengganti pakaian, karena dia akan pergi dinner dengan Bambang.
Sayap terdengar bunyi mobil berhenti, Alesa mengintip dari balik gorden. Tamaran terlihat Bambang keluar dari mobil. Alesa meraih ponsel dan tas tangan lalu beranjak ke luar menemui Bambang.
__ADS_1
"Hemmm. Alesa cantik sekali," batin Bambang dalam hati. Pada hal tatapan Bambang terhalang niqab.
"Aku harus segera menghalalkannya," batin Bambang lagi seraya menelan salivanya.