
Part 19
Di kamar Alesa.
Alesa yang baru selesai mengerjakan shalat magrib, mengambil al quran, membaca surah al waqiah. Baru beberapa ayat Alesa membaca, terdengar langkah kaki mendakat.
Sejenak Alesa menghentikan bacaannya, lalu menatap ke arah pintu, saat merasa ada yang memutar handle pintu. Dia cepat-cepat mamasang niqab dan menutup al quran.
Fasya menguakkan daun pintu setengah lebar, mengucapkan salam, dan menjulurkan kepalanya.
"Boleh Abang masuk?" Tanya Fasya seraya menghentikan langkah di depan pintu. Alesa menjawab dengan anggukan.
Fasya masuk sambil membawa nampan berisi sepiring nasi dan air putih. Malam ini dia ingin menebus kesalahannya pada Alesa malam kemaren, karena ketelodorannya membuat Alesa jatuh sakit.
"Apa kamu sudah baikan?" Tanya Fasya seraya meletakkan nampan di atas nakas di samping tempat tidur. Alesha mengangguk lagi.
"Serius. Sudah baikan," Fasya mencoba menyentuh dahi Alesa dengan punggung tangannya.
"Alesa! Abang minta maaf atas kejadian semalam," ujar menangkupkan kedua tangan di dada.
Sekilas Alesa menatapnya, lalu menarik napas panjang. Sedih rasanya jika mengingat kejadian malam itu. Tanpa di sadari dua bulir kristal meluncur di netra Alesa.
"Kenapa aku jadi baperan gini," batin Alesa secepat kilat disesapnya airmata dengan ujung mukenanya.
"Sa! Maafkan abang ya, seharusnya semalam abang tidak menghukummu atas kesalahan yang tidak kamu buat," ujar Fasya seraya meraih jemari Alesa.
Dug... tiba-tiba detak jantung Alesa berpacu kencang. Jujur Alesa senang Fasya meminta maaf padanya. Paling tidak Fasya menganggapnya ada, walaupun dia hanya dianggap istri pajangan. Seketika sentuhan tangan Fasya membuat aliran darah ditubuh Alesa menjadi terasa panas, hingga Alesa salah tingkah dan mulai berkeringat dingin.
Perlahan Alesa mengurai pegangan tangan Fasya. Dia tidak sanggup menahan gejolak rasa yang berkecamuk di hatinya, jika kelamaan Fasya memegang tangannya. Dan Saat Fasya menatapnya, Alesa tidak berani menentang tatapan itu yang seakan ingin menelannya.
Kelemahan Alesa sudah terbaca di benak Fasya. Fasya tahu kalau Alesa belum tersentuh, kepolosan istrinya itu terlihat dari kegugupan Alesa. Bahkan jemari tangan Alesa bergetar, kala di sentuh Fasya. Untuk mengalihkan gerogi Alesa, Fasya duduk di tepi tempat tidur Alesa dan memindahkan tatapannya ke arah lain.
"Sini duduk," ujar Fasya seraya menepuk tepi tempat tidur di sebelahnya.
Sejenak Alesa memandang ke arah Fasya. Lalu perlahan dia mendudukkan bokongnya di samping Fasya.
"Buka niqab dan mukenanya." Fasya ingin menggapai niqab Alesa. Alesa malah beranjak dan menghindar.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Bukannya Abang sudah berjanji tidak akan menyentuhku," ujar Alesa mengingatkan kalau Fasya sudah mengucapkan janji itu, kala dia menandatangani perjanjan dari Fasya.
"Abangkan tidak menyentuhmu, hanya ingin membuka niqab dan mukena mu," elak Fasya mencari alasan.
"Tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Wajah Alesa jelek. Nanti Abang kaget," ujar Alesa, dia berharap setelah bicara begitu Fasya tidak memaksanya.
Mendengar ucapan Alesa, Fasya malah tersenyum, Fasya mendekati Alesa. Alesa mundur beberapa langkah dan Fasya maju beberapa langkah, hingga Alesa mentok ke dinding.
"Abang mau apa?" Tanya Alesa tergagap dengan suara bergetar.
"Hanya ingin melihat wajah istriku" ujar Fasya lalu mengulurkan kedua tangan membuka ikatan niqab Alesa.
"A-abang..." Alesa tergagap lagi, dia tak menduga kalau Fasya akan senekad itu.
Fasya melemparkan niqab yang ada di tangannya ke atas tempat tidur. Dia tertegun beberapa menit, menatap wajah istri keduanya itu.
"Alesa sangat cantik," batinnya.
"Kamu cantik sekali," puji Fasya, seraya tangannya terangkat mengusap wajah Alesa dengan lembut. Alesa memejamkan mata, berusaha menahan gejolak perasaannya yang diaduk-aduk Fasya.
Tib-tiba Fasya mengangkat dagu Alesa, tanpa di sadari bibir Fasya mematuk bibir mungil milik Alesa, lama Fasya berlabuh di situ, hingga beberapa menit dan membuat Alesa susah bernafas.
Alesa mencoba menarik diri. Namun, lengan Fasya melingkar erat dipinggangnya. Fasya memburu hingga Alesa kehabisan nafas.
"Abang!" Teriak Alesa sadar dengan apa yang terjadi. Alesa mendorong tubuh Fasya, hingga penyatuan bibir itu terurai.
Namun Fasya tak menghentikan gerakannya. Dia kembali menarik tangan Alesa, hingga tubuh Alesa kini kembali berada dalam pelukannya. Alesa menengadah memandang tajam pada Fasya. Fasya tidak mengindahkan tatapan marah Alesa, dia malah tertegun kala mendapati mata indah Alesa yang membola. Dengan senyum nakal Fasya mengeratkan dekapannya, hingga kini dada mereka menyatu.
Dengan nafas yang memburu, kali ini Fasya mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Alesa, sangat dekat, saking dekatnya hembusan nafas Fasya terasa di kulit pipi Alesa.
"Ya Allah. Lindungi aku," batin Alesa, tubuhnya terasa gemetar semua.
"Kau menginginkannya?" Tanya Fasya berbisik di telinga Alesa.
Sentuhan bibir Fasya di telinga Alesa membuatnya merinding. Detak jantung yang tadi berpacu, kini semakin kencang. Alesa sampai takut, jika gemuruh di dadanya terdengar oleh Fasya.
__ADS_1
Alesa menggerakkan tubuhnya, melonggarkan pelukan Fasya. Namun Fasya tak membiarkannya lolos, Fasya malah terus memepetnya, hingga tubuh Alesa semakin dempet ke dinding, kini tambah sempit ruang gerak alesa.
Perlahan Fasya membuka mukena yang dipakai Alesa. Alesa semakin gugup, dengan cepat dia mendekapkan kedua tangan menutupi separoh dadanya yang terbuka. Karena tadi dia hanya memakai baju tank top.
Melihat Alesa semakin gugup dan keringatan, membuat Fasya memburunya, kini tangan Fasya menyanggah dagunya, agar wajah Alesa yang tertunduk malu menatap ke arahnya.
"Alesa! Tatap ke sini," ujar Fasya memaksa Alesa melihat ke arahnya.
Alesa yang merasa terancam, dia pastikan kalau wajahnya sudah pucat tak berdarah. Namun, Alesa tak kehilangan akal, dia menepis tangan Fasya, lalu merunduk dan mendorong tubuh Fasya. Saat tubuh Fasya oleng, dijadikan Alesa kesempatan untuk melepaskan diri dan secepat kilat mengambil mukena dan memasangnya kembali.
Seperdetik kemudian kedua tangan Fasya sudah melingkar kembali di pinggang Alesa. Semakin Alesa memberontak, Fasya semakin kuat mengunci tangannya, Alesa tersandar di dinding kembali, dengan wajah menatap lurus pada Fasya.
Tanpa disadari Fasya kembali mematuk bibir Alesa dengan ganasnya, hingga Alesa nafas tersengal.
"Abang!" Teriak Alesa dengan sekuat tenaga menepis tubuh Fasya, hingga terdorong. Fasya pun tersadar dengan apa yang telah dilakukannya. Saat melihat Alesa luruh ke lantai dan menangis sesenggukan sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
"Alesa! Ma-maafkan Abang. Abang tidak bermaksud...," ujar Fasya berjongkok di depan Alesa seraya meraup habis wajah dengan kedua tangannya.
"Abang jahat! Kenapa memaksaku," ucap Alesa di sela tangisnya.
"Alesa! Jangan menangis. Abang janji tak akan melakukan ini lagi," ujar Fasya seraya memeluk Alesa dengan sayang. Fasya ikut terisik, dia menyesali telah membuat Alesa ketakutan.
"Maafkan Abang ya," ujar Fasya mengurai pelukannya, mengusap sisa air mata di pipi Alesa, lalu mencium dahi dan puncak kepala Alesa.
"Sekarang kamu makan, setelah itu minum obat dan istirahat," ujar Fasya lagi. Setelah memastikan Alesa menghentikan tangisan. Fasya pun melangkah ke luar meninggalkan Alesa yang masih termagu.
Sementara Alesa bergeming menatap kepergian Fasya. Begitu Fasya menghilang di balik pintu, dengan cepat Alesa bangkit menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Alesa bersandar di daun pintu, dia menyentuh bibir dengan kedua tangannya. Fasya telah mengambil ciuman pertamanya.
Tiba-tiba air mata Alesa luruh lagi, saat dia menyadari kalau bibirnya sudah ternoda. Walaupun yang menodai itu suaminya sendiri. Namun, Alesa belum merelakannya karena Fasya bukan laki-laki yang pantas untuk mendapatkannya, karena Fasya tak mencintainya.
"Malam ini bibirku, malan besok bisa... menjijikkan," gerutuk Alesa seraya menyesap air mata dengan sudut mukenanya.
"Fasya sudah mengingkari janjinya," gerutuknya lagi, lalu pergi ke kamar mandi, mencuci wajah dan bibirnya berkali-kali.
Alesa menatap cermin, memperhatikan dengan cermat, apakah bibirnya masih utuh seperti biasa atau sudah berkurang gara-gara disentuh bibir Fasya.
"Untuk tidak berbekas," batin Alesa, lalu ke luar dari kamar mandi dan menghempaskan tubuhnya dengan kesal.
"Aku harus memperketat penjagaan, agar Fasya tidak bisa membobol pertahananku. Mulai malam ini aku harus pakai baju tiga lapis," batin Alesa.
__ADS_1