Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Kebohongan Carla


__ADS_3

Part 78


Carla cemberut, wajahnya ditekuk sedemikian rupa, hingga terlihat garis kerut di dahi Dengan terpaksa dia menuruti semua ucapan Fasya. Pada hal dia ingin sekali menumpahkan kekesalannya pada Alesa, karena Alesa sudah mengambil alih semua harta kekayaan Malik.


Viral memimpin meting, membahas kerjasama dengan perusahaan besar. Alesa menyimak semua penjelasan Viral. Meeting pun berjalan lancar dan tanpa kendala, terus kontrak kerjasama ditandatangani. Begitu semua sudah selesai Alesa, Bambang dan Dea, cus langsung ke luar dari room meting. Mereka bukan takut dengan Carla, tapi menghindar sepertinya lebih baik.


"Pak Viral! Kenapa anda tidak me dengar saran saya," ujar Carla, dia masih berusaha meyakinlan Viral untuk menjatuhkan Alesa.


"Aku lebih percaya ucapan Bambang, ketimbang ocehanmu." Viral hanya tersenyum.


"Carla! Sudah jangan bahas Alesa lagi," Fasya menyela, dia mau Carla diam dan tidak membuat malu lagi.


"Fasya! Kamu kenapa bela mantan istrimu itu," ucap Carla.


"Mantan istri?" Viral menatap ke arah Fasya dan Carla secara bergantian.


"Bukan pak! Carla memang suka bicara asal," ujar Fasya seraya meminta maaf dia menarik tangan Carla mengajaknya keluar dari room meting dan turun ke lantai dasar.


"Jangan bahas Alesa lagi. Aku tak mau mendengar kamu sebut namanya di depanku," ujar Fasya kala sudah berada di dalam mobil.


Penuturan Fasya tentang Alesa, membuat Carla senang, karena Fasya sudah sangat membenci Alesa, hingga mendengar namanya saja Fasya sudah tidak mau.


"Iya. Aku janji tak akan bahas wanita itu lagi," ujar Carla.


Mobil yang dikendarai Fasya meluncur meninggalkan kantor Viral, melaju ke jalan raya, menuju ke linik mengantar Carla. Begitu sampai di klinik, Fasya memarkir mobil dan turun, kemudian membuka pintu untuk Carla.


"Maaf tuan. Nyonya Carla..." perawat jaga tidak meneruskan ucapannya kala melihat Carla dan Fasya sedang menuju ke arahnya.


"Ada apa ini?" Tanya Carla saat melihat seorang laki-laki sedang berdebat dengan seorang perawat.


"Dia memaksa masuk nyonya?"


Laki-laki yang disebut dia oleh perawat, membalikkan tubuhnya ke arah Carla. Saat melihat laki-laki itu seketika roman wajah Carla menegang karena terkejut.

__ADS_1


"John," gumam Carla.


"Untuk apa kau ke sini!" Tanya Carla lantang. Emosi yang tadi sudah menurun, kini kembali lagi beberapa oktaf.


"Carla! Aku datang untukmu dan anak kita," ujar John seraya melangkah mendekat.


"Pergi! Pergi dari sini. Aku sudah tak butuh kamu lagi," usir Carla memaki laki-laki itu.


"Tapi Carla..."


"Kemana kamu selama ini. Kamu pergi meninggalkan aku yang sedang mengandung anakmu," teriak Carla lantang, dia sampai lupa kalau ada Fasya di belakangnya.


"Jadi...Al... katakan padaku Carla. Jangan bilang kalau Al anak dia," ujar Fasya seraya memegang bahu Carla dan menggoncangnya.


Carla tersadar, rahasia yang disimpannya selama empat tahun terbongkar oleh mulutnya sendiri. Padahal dia sudah berusaha serapi mungkin untuk menutupnya.


"Fasya! Maafkan aku," ujar Carla, dia tak sanggup meneruskan ucapannya. Tiba-tiba ia luruh di kaki Fasya dan menangis.


"Maafkan aku Fasya! Maafkan aku!" Carla bersujud di kaki Fasya.


Carla dan John adalah sepasang kekasih, saat mendengar Carla hamil John kembali ke Batam mengutarakan pada ayahnya untuk menikahi Carla. Ayah John menolak dan dia mengancam akan mencoret nama John dari keluarga apabila menikahi Carla yang sudah hamil, karena menurut ayah John menikah dengan wanita hamil adalah aib.


Sejatinya John sangat mencintai Carla. Namun, dia tak bisa membantah kata-kata ayahnya, John tidak dibenarkan lagi kembali ke Singapore menemui Carla, semua tabungan, atm, kartu kredit dan ponsel di sita oleh ayah John, hingga John tak bisa lagi berhubungan dengan Carla.


Sementara Carla yang kehilangan jejak John sangat panik, dia sudah berusaha mencari John, menanyai teman-teman John. Namun, satu orang pun tak ada yang tahu, ditengah dia sedang stres dan hampir putus asa. Carla bertemu Adra yang sedang melakukan study banding di Singapore. Tiba-tiba saja ide cemerlang Carla muncul.


Satu minggu Adra di Singapore dimanfaatkan Carla untuk mendekati Adra setelah tahu kalau Adra masih sendiri. Carla yang tahu Adra menyukainya dari masa putih abu-abu dengan gampang bisa menarik simpati Adra. Ibarat gayung bersambut Adra dan Carla sepakat menjalin hubungan yang serius, bertepatan dengan itu nenek Carla yang tinggal di Riau meninggal dunia.


Carla dan Adra akhirnya kembali ke Riau secara bersamaan. Dan Adra juga yang menemani dan mengantar Carla hingga kepemakaman neneknya. Adra menahan Carla saat ingin kembali ke Singapore dan Carla mau menetap di Pekanbaru, asal Adra mau bertunangan dengannya. Tentu saja Adra setuju.


Saat mendapat kabar tentang Fasya. Carla ragu meneruskan hubungannya dengan Adra, apa lagi kala dia dan Fasya bertatap muka, Fasya yang dulu memang mencintai Carla saat bertemu tak bisa menghindari perasaan hatinya, dia masih memberi perhatian pada Carla. Carla akhirnya memanfaatkan kelemahan Fasya dan menjebaknya waktu Fasya dan Saera sedang liburan di Bali.


"Jangan sentuh aku!" Bentak Fasya seraya menarik kakinya, hingga Carla terjerembab.

__ADS_1


"Fasya! Jangan tinggalkan aku," teriak Carla saat melihat Fasya keluar dari klinik.


"Fasya! Tunggu!" Carla mengejar Fasya dan meraih tangannya.


"Lepaskan! Aku sudah tak sudi lagi melihat muka," maki Fasya seraya mendorong tubuh Carla dengan kasar. Untung saja John dengan sigap menyanggah tubuh Carla, jika tidak tertu Carla terjerembab ke lantai.


"Hay! Bisakah kau tidak sekasar itu pada Carla," teriak John marah.


"Kau dan Carla sama-sama bajingan," maki Fasya penuh emosi, lalu membalikkan tubuhnya.


"Fasya! Tunggu Fasya! Jangan tinggalkan aku," Carla menepis tangan John hingga pegangannya terlepas dan dia berlari mengejar Fasya yang berjalan ke arah mobil.


"Fasya! Maafkan aku. Aku tidak..."


"Aku tak akan pernah memaafkanmu. Dasar perempuan murahan." Fasya membalikkan tubuhnya kearah Carla dan menuding tunjuknya ke wajah Carla.


Terlihat sekali kalau Fasya menahan marah, gerahamnya mengeras, kedua tangannya terkepal. Rasanya ingin dia menampar dan mencabik-cabik wajah Carla saking kesalnya, karena Carla telah membohonginya.


"Aaghhh," teriak Fasya kencang seraya melepaskan tinjunya kearah kaca mobil, hingga retak dan tangannya berdarah.


"Fasya! Tanganmu berdarah," ujar Carla seraya meraih tangan Fasya.


"Menjauh dariku. Aku najis melihatmu," bentak Fasya.


Kesabaran Carla tiba-tiba terusik, Fasya mengatainya wanita murahan dan sekarang Fasya menganggapnya najis yang menjijikkan. Carla sudah berusaha meminta maaf. Namun, Fasya tetap bersekokoh dengan pendiriannya.


"Okay Fasya! Okay!" Teriak Carla lantang.


"Pergilah jauh! Kembalikan semua fasilitas yang telah ku berikan padamu," ujar Carla seraya menadah tangannya ke arah Fasya.


Fasya mengambil dompet dari saku celananya, mengeluarkan atm dan kartu kredit, lalu melempar ke wajah Carla.


"Kunci mobil," ujar Carla lagi.

__ADS_1


__ADS_2