
Part 26
"Alesa!" terdengar panggilan Saera di depan pintu kamar dengan suara lantang.
"I-Iya nyah," sahut Alesa tergopoh, seraya membuka pintu.
"Aku lapar! mau makan sekaran!" bentak Saera ketus.
"Tapi rendang be..." Alesa tidak meneruskan ucapannya.
"Sekarang Alesa!" sela Saera membentak.
"Ba-baik," ujar Alesa sambil melepas mukena dan melemparkan di atas tempat tidur, lalu beranjak ke dapur.
Di dapur Sri sedang membuka box rendang dan memasukkannya ke dalam penggorengan, lalu menghidupkan kompor dengan api sedang.
"Sudah datang pesanannya. Bik!" Bisik Alesa. Sri hanya mengangguk.
"SYukurlah," ujar Alesa mengurut dada lega.
"Bibik ke kamar dulu ya. Non," ujar Sri bergegas pergi sebelum Saera sampai ke dapur.
Bunyi serokan beradu dengan penggorengan, aroma bau rendang menggaur di ruang dapur. Saera mendekat dan menatap isi kuali yang sedang diaduk Alesa.
"Hebat juga nih anak kecil, dalam waktu tiga puluh menit, rendangnya sudah jadi, kita lihat saja apa rendangnya enak," batin Saera.
"Cepatan." Titah Saera.
Alesa mengambil piring menumpah isi kuali, kemudian meletakkan di atas meja makan.
"Ini Nyah," aroma rendang yang masih mengepul, menggugah selera.
"Piring dan nasinya mana? Lamban sekali kamu kerja," maki Saera mengerutu.
"Sayang! Kamu tidak boleh ngomong kasar gitu," tegur Fasya yang tiba-tiba sudah berada di belakang Saera, meletakkan lengannya di bahu Saera, lalu mencium puncak kepalanya.
Saera menoleh kebelakang, menarik tangan Fasya agar duduk di sampingnya. Fasya mendudukkan bokongnya di kursi. Sementara Alesa, menyendok nasi ke dalam piring Saera dan Fasya.
"Kurangi nasinya. Apa kamu mau membuatku gendut," ucap Saera saat melihat Alesa memasukkan tiga sendok nasi. Alesa mengurangi nasi Saera sesuai perintah.
"Bibik mana?" Tanya Fasya, karena biasanya Sri yang melayani Saera.
"Sudah. Kamu duduk, biar bibik yang melayani Saera," ujar Fasya meminta Alesa duduk di sampingnya.
Mendengar Fasya memintanya duduk, Alesa menghentikan aktifitasnya, lalu menatap Saera dan Fasya secara bergantian.
"Tidak! Kamu tidak boleh semeja dengan aku dan suamiku. Pergi sana. Malam ini tak ada jatah makan untukmu." Saera mengusir Alesa.
"Saera!"
"Abang jangan ikut campur. Ini urusanku dengan dia. Aku akan mengajarinya menghormati suami dan istri tua," ujar Saera lagi menudingkan telunjuknya ke Alesa.
Dengan kerlingan mata, Fasya menyuruh Alesa meninggalkan ruang makan. Dia tidak ingin berdebat dengan Saera, Fasya tahu betul bangaimana watak Saera yang tidak pernah mau mengalah.
Sambil mengangkat bahunya, Alesa beranjak membelakangi Fasya dan Saera. Dengan senang hati dia menjauh dari meja makan, lalu masuk ke kamar. Sambil merebahkan tubuhnya dia meraih ponsel jadulnya, memeriksa chat whatsapp.
Ting
Notifika masuk.
(Assalamualaikum. Alesa) chat masuk dari Bambang.
Sejenak Alesa menatap layar ponselnya yang retak seribu, butuh keahlian untuk bisa membaca whatsaap yang masuk, karena tulisannya rada buram dan bergaris-garis. Walaupun begitu Alesa sangat bersyukur masih bisa komunikasi dengan adik-adiknya.
__ADS_1
(Waalaikumsalam) balas Alesa.
(Besok kamu kuliah. Aku jemput ya) balas Bambang.
(Nggak usah) jawab Alesa.
(Kenapa? Apa abangmu melarang kamu berteman sama laki-laki?) Tanya Bambang.
(Iya, begitulah) jawab Alesa.
(Yang tadi pagi itu. Benaran dia abangmu. Masa galak gitu) lanjut Bambang.
(Oh dia emang gitu, agak-agak gimana gitu...) Alesa menambahkan emoji ngakak di akhir chatnya.
Bambang ikutan mengirim emoji ngakak.
(Selamat malam. Selamat rehat) pesan Bambang di akhir emoji kiss.
Deg... debar jantung Alesa berdetak kencang, saat menatap emoji terakhir dari Bambang.
Jari Alesa mengetik sesuatu, Tapi tidak jadi mengirim pesannya. Alesa memutuskan untuk tidak membalas chat Bambang lagi.
(Kok tak jadi kirim balasannya. Sa! Kenapa?) Pesan Bambang kembali masuk, setelah beberapa menit dia menunggu balasan Alesa. Bambang berharap Alesa membalas emoji kissnya.
Lagi-lagi Alesa hanya membaca pesan dari Bambang, kalau diturutkan dia ingin menceritakan semua masalahnya pada Bambang, pada laki-laki yang telah mengisi hatinya. Pada laki-laki yang menjadi mimpi-mimpinya.
"Alesa! Lupakan Bambang. Kamu sudah menjadi istri Fasya," batin Alesa.
"Istri! Aku hanya pajang. Aku bukan istri," batin Alesa lagi, seraya meraih bantal guling dan membenamkan wajahnya.
****
"Alesa! Alesa!"
"Abang! Kenapa di kamar Alesa?" Tanya Alesa dia bangkit dari tidurnya seraya mengucel matanya, lalu mengerjapkan berkali-kali.
"Kamu belum makan," jawab Fasya.
Alesa melirik jam yang tergantung di dinding kamar, menunjukkan pukul sepuluh. Berarti Alesa sudah tidur tiga jam setengah. Waktu dia tertidur tadi, azan isya pun belum berkumandang.
"Bukannya malam ini, aku tak dapat jatah makan."
"Saera sudah tidur. Sekarang pergilah makan, nanti kamu sakit, gara-gara perut kosong," ujar Fasya seraya ke luar kamar menuju ruang kerja.
Alesa beranjak masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu, lalu melaksanakan shalat isya. Setelah shalat dia keluar kamar, dia melirik Fasya saat melewati ruang kerja. Lalu ke dapur mengambil jatah makan.
"Sa! Selesai makan buatkan Abang kopi ya. Gula dua sendok kacaunya mutar dari kiri ke kanan delapan kali," titah Fasya saat melihat Alesa lewat membawa piring. Alesa hanya mengangguk.
Sepuluh menit kemudian Alesa keluar membawa piring kosongnya ke tempat pencucian piring.
"Non! Nggak usah nyuci piring. Biar bibik saja," ujar Sri yang kebetulan berada di dapur.
"Nggak apa-apa. Bik," sahut Alesa.
Setelah mencuci piring, Alesa mengambil cangkir mengisinya dengan air panas mengepul, membuat kopi sesuai permintaan Fasya.
"Ini kopinya," ujar Alesa meletakkan kopi di atas meja.
"Tunggu!" Cegah Fasya kala Alesa membalikkan tubuhnya.
Seraya menghentikan langkah kaki, Alesa membalikkan tubuhnya kembali ke posisi semula.
"Iya! Ada apa?" Tanya Alesa.
__ADS_1
Fasya mengambil sendok di kecil di dalam gelas kopi, lalu mencicipi kopi buatan Alesa.
"Ganti! Tadikan sudah aku bilang, aduk dari kiri ke kanan delapan kali." Fasya meminta Alesa mengambil gelas kopi di atas meja dan membawa lagi ke dapur.
"Hah! Haruskah mengaduk sesuai aturan. Emang rasanya bisa berubah," ujar Alesa terheran, mendengar ucapan Fasya.
"Lakukan sesuai dengan yang aku minta," ujar Fasya lagi saat Alesa melangkah keluar.
"Stop. Jangan di buang," cegah Sri. Alesa refleks menghentikan tangan yang ingin mencurah air kopi tadi di tempat pembuangan pencuci piring.
"Kenapa?" Tanya Sri
"Salah. Cara membuatnya." Sungut Alesa.
"Emang majikanmu secerewet itu. Nggak istri, nggak suami sama saja." Gerutuk Alesa cemberut.
"Sssttt, jangan sampai kedengaran singa yang tidur," ujar Sri seraya meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Hemmm, jangan sampai. Bik!" Ujae Alesa seraya membekap mulutnya yang sudah tertutup niqab.
Alesa mengambil gelas lagi, menuang air panas, memamasukkan kopi dan gula satu sendok, mulai mengaduk dari sebelah kiri ke kanan dengan hitungan delapan kali putaran.
"Beres," batin Alesa, seraya menuju ruang kerja Fasya.
Alesa meletakkan gelas kopi di depan Fasya. Dan berdiri, munggu Fasya bereaksi, Fasya meraih gelas dan mereguk kopinya.
"Masih kurang, sukatan gula belum pas," ujar Fasya lagi menyerahkan gelas kopi.
"Astagfirullah," batin Alesa sambil menepuk jidatnya. Tadi dia memasukkan gula cuman satu sendok.
"Satu sendok cukuplah. Ntar deabetis kalau kebanyakan," ujar Alesa.
"Tidak ada bantahan," ujar Fasya.
Biasa Alesa membuat kopi gula satu sendok untuk abinya. Dia lupa kalau kopi yang dibuatnya sekarang untuk Fasya. Pada hal awalnya sudah benar.
"Alesa! Fokus," batinya lagi seraya mengambil gelas yang disodor Fasya dan membawanya ke dapur.
"Dua sendok gula, delapan putaran dari kiri ke kanan. Kalau ku putar dari kanan ke kiri. Apa Fasya tahu," batin Alesa dia tersenyum.
"Kenapa?" Tanya Sri heran kala melihat Alesa membawa gelas kopi.
"Salah lagi!" Ujar Alesa meraih gelas.
"Biasanya siapa yang membuat kopi pak Fasya?" Tanya Alesa seraya menuangkan air hangat.
"Pak Fasya buat sendiri. Non!"
"Hah! Buat sendiri! Kenapa malam ini dia memintaku yang membuatkan?"
"Itu artinya. Non orang yang istimewa bagi pak Fasya," sahut Sri menyelesaikan tugasnya dan siap-siap istirahat.
Sejenak Alesa mencerna ucapan Sri. Istimewa? Ah... cepat-cepat Alesa menepis pikirannya. Dia tidak ingin terlalu berharap dijadikan orang istimewa bagi Fasya. Fasya peduli saja padanya, Alesa sudah bersyukur.
Alesa memasukkan satu sendok kopi dan satu sendok gula, lalu mengacaunya dengan cara memutar dari arah kanan ke kiri delapan kali. Dia sengaja melakukannya, hanya ingin mengetahui apakah kopi yang dibuatnya benar berbeda rasanya.
"Aneh! Kenapa harus delapan kali, dari mana Fasya tahu kalau putarannya kurang atau lebih?" Beberapa pertanyaan muncul di balik pikiran Alesa.
Perlahan Alesa melangkahkan kaki kembali menuju ruang kerja Fasya, sambil membawa gelas kopi dengan pikiran yang masih mereka-reka.
Brak, tranggg.
"Ma-maaf," ucap Alesa tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
__ADS_1