Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Tawaran Kerja


__ADS_3

Part 61


"Kamu bohongkan?" Adra mencengkran dagu Alesa.


Tanpa dipinta air mata Alesa mengalir deras , dia tak bisa bicara, suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Sementara cengkraman Adra semakin kuat.


"Lepaskan. Aku akan mengambil buktinya supaya bapak percaya." suara Alesa lirih hampir tak terdengar.


Dengan kasar Adra melepaskan cengkraman tangannya. Alesa berdiri melangkah keluar ruang pribadi Adra, diiringi dengan tatapan Adra yang tajam. Alesa meraih tasnya yang tergeletak di atas sofa, mengambil ponsel dan menggeser layarnya. Kemudian menyodorkan ke arah Adra.


Tangan Adra bergetar saat menerika ponsel Alesa, dia mengeser layar ponsel itu melihat satu persatu foto ijab qabul dan resespsi pernikahan Alesa. Berulang Adra menatapi foto itu seakan tak percaya.


"Kenapa Fasya mengatakan pada orang-orang kalau kamu itu adik sepupunya?"


"Mungkin dia malu, karena aku hanya anak seorang buruh tani yang miskin," jawab Alesa.


Alesa pun menceritakan semuanya, bagaimana proses pernikahannya bisa terjadi. Melihat kenyataan yang sesunggugnya, membuat Adra syok. Dia meraup habis wajah dengan ke dua tangannya. Lalu menarik nafas panjang.


"Maafkan aku," ujar Adra setelah mengetahui kronologi ceritanya.


Untung Adra belum terlanjur menodai Alesa. Jika tidak pasti dia akan menjadi orang yang menyesal seumur hidup, karena melampiaskan demdam bukan pada tempatnya.


Adra mengambil niqab dan jilbab Alesa yang tadi dibuka paksa. Lalu menyerahkan pada Alesa, kemudian menyesap sisa air mata di pipi Alesa. Alesa pun kemudian membersihkan wajahnya, lalu memakai kembali jilbab dan niqabnya.


"Lupakan kejadian tadi," ungkap Adra penuh penyesalan.


"Kamu boleh mememaki dan memukulku sekarang," ujar Adra lagi menyodorkan pipinya ke arah Alesa.


Alesa menggeleng, dia sudah memaafkan kesalahan Adra, karena dia tahu Adra pasti sakit hati karena Fasya telah mengkhianatinya. Fasya telah mencoreng persahabatan mereka.


"Sebagai penebus dosaku. Maukah kamu berkerja denganku. Agar kamu punya penghasilan dan tak tergantung pada Fasya."


Masih diliputi keraguan Alesa tidak menjawab tawaran Adra. Dia masih berpikir, apakah kata-kata Adra bisa dijadikannya pedoman, karena jujur dia masih trauma dengan kejadian tadi.


"Mau ya, kamu menggantikan Vira jadi asistenku," ujar Adra lagi.


Alesa sangat ingin bekerja dan punya penghasilan sendiri. Tapi bagaimana nanti reaksi Fasya, jika dia tahu Alesa menerima tawaran Adra, sedangkan menerima pemberian Adra saja tidak boleh.


"Aku akan merahasiakannya dari Fasya," ujar Adra seakan tahu jalan pikiran Alesa.


"Dan akan membebaskan mu dari semua tugas mata kuliah denganku," ujar Adra lagi meyakinkan.

__ADS_1


Sebelum merespon keinginan Adra, Alesa menarik nafas panjang, lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dia masih memikirkan menerima atau menolak tawaran Adra. Kalau boleh jujur Alesa sangat senang menerima tawaran ini, hanya saja dia terhambat restu dari Fasya.


"Apa ku terima saja, tampa meminta ijin, seperti yang Adra katakan," batin Alesa.


"Bapak yakin bisa merahasiakannya pada siapapun, kalau aku berkerja dengan bapak?"


"Iya. Aku janji."


"Satu lagi, tolong bapak simpan rapat-rapat tentang statusku," ujar Alesa.


"Aku akan memenuhi permintaanmu, jika kamu memanggilku dengan sebutan abang bukan pak."


"Baiklah. Abang!" Ujar Alesa kesepakatan inilah yang selalu dia abaikan, walaupun berkali-kali diingatkan Adra.


"Sekarang siap-siaplah. Ku antar pulang."


"Tidak usah. Bang! Aku bisa pulang sendiri."


"Aku tidak mau mendengar penolakan," ujar Adra.


Kalau sudah mendengar kata-kata begitu, Alesa hanya bisa diam, tidak Adra, tidak Fasya sama saja, selalu egois. Keduanya punya sifat kemiripan.


Hampir tiga puluh menit Alesa menunggu, saat Adra memutuskan panggilannya. Roy datang menjemput Alesa.


"Maaf. Anda siapa?" Tanya Adra pada Roy, saat melihat Roy membuka pintu mobil Alesa. Alesa pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia berharap Adra tak mengantarnya pulang.


"Perkenalkan. Saya supir pribadi. Nona Alesa," ujar Roy menyodorkan tangan ke arah Adra dan memperkenalkan diri.


Melihat tampang dan gaya Roy yang meyakinkan. Adra mempercayai bualan Roy. Dia pun menyambut tangan Roy dan memperkenalkan diri sebagai dosen Alesa.


"Baik pak dosen. Sampai ketemu besok," ujar Roy, lalu masuk ke dalam mobil.


Tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya menatap Alesa bersama Roy. Sebenarnya tadi Adra ingin mengajak Alesa makan siang. Tapi keburu Roy datang.


Begitu sudah berada di dalam mobil, Roy menurunkan kaca mobil, membunyikan kelakson dan mengangkat tangan ke arah Adra, terus meluncur meninggalkan kampus, menuju jalan raya.


"Kamu pasti belum makan siangkan." Tebak Roy.


"Nih ada martabak dari Fasya buatmu." Roy menyerahkan kotak martabak rasa durian yang masih terasa hangat ke Alesa.


Tadi sebelum dia menuju kampus Alesa, sehingga ke penjual martabak langganannya. Roy memang niat membelikan buat Alesa. Sengaja menyebut nama Fasya agar tidak ditolak Alesa.

__ADS_1


Alesa menerima kotak martabak itu, penuh dengan suka cita. Ada rasa yang tak bisa dia lukiskan. Kala mendengar nama Fasya, setidaknya Alesa merasa kalau Fasya punya sedikit perhatian padanya.


"Makanlah. Lumayan buat mengganjal perut sebelum makan siang," ujar Roy, pandangan tetap fokus ke depan.


Lirikan mata Roy, mengekor ke wajah Alesa. Ada rasa bahagia saat melihat Alesa memakai jilbab yang dibeli sendiri dan diberikan pada Alesa. Walaupun berkedok mengatas namakan Fasya juga.


"Kamu mau?" Tanya Alesa menyodorkan kotak martabak ke arah Roy.


"Nggak! Aku tak suka rasa durian," ujar Roy bohong. Pada hal martabak durian adalah favoritnya. Tapi demi Alesa dia menolaknya, karena Alesa sangat manikmatinya.


"Apa Alesa menikmatinya karena lapar, atau karena menduga kalau martabak itu dari Fasya, seperti bualanku," batin Roy.


"Ah... Biarlah yang penting Alesa merasa bahagia," batin Roy lagi.


"Non! Kita makan siang. Yuk," ajak Roy begitu mobil sudah jauh membawa mereka.


"Nggak. Aku udah kenyang," ujar Alesa mengelus perutnya, karena sudah setengah lingkaran martabak durian masuk ke lambungnya.


Alesa benaran sudah kenyang, dia menutupi kotak martabak yang masih bersisa setangah lingkaran dan menyimpannya kembali kedalam plastik asoy.


Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Roy, memasuki area rumah Fasya. Roy menepi dan mematikan mobil, kemudian keluar dan membuka pintu untuk Alesa.


Sebelum turun Alesa mengucapkan terima kasih, kemudian meraih sisa martabak yang tadi diletaknya di atas dashboar. Setelah Alesa turun, Roy kembali ke mobil, sebum meluncur dia menurunkan kaca mobil, dan mengatakan besok pagi akan menjemput Alesa. Kemudian membunyikan kelakson, dibalas lambaian tangan dari Alesa. Roy menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan rumah Fasya.


Baru saja Alesa memasuki pintu utama. Ponsel di dalam ranselnya bergetar, Alesa menurunkan tas dan mengambil benda pipih itu. Dari layar yang menyala tertera nama Bambang meneleponnya.


"Assalamualaikun," sapa Alesa kala sambungan telepon terhubung.


"Sa! Kamu di mana?" Tanya Bambang setelah menjawab salam Alesa.


"Aku sudah di rumah," jawab Alesa.


"Di rumah. Kok bisa sudah di rumah?"


"Nggak jadi masuk. Jadwal kuliahnya diganti besok pagi," ujar Alesa lagi.


"Kok nggak ngabari aku. Katanya tadi mau belajar cara mengirim tugas. Pada hal aku lagi menuggumu di perpustakaan," ujar Bambang terdengar kecewa, karena Alesa sudah pulang ke rumah.


"Maaf! Tadi aku di jemput sama abangku. Untuk masalah kirim tugas, aku," ujar Alesa berbohong.


"Aku harus bicara jujur pada Bambang tentang Fasya. Aku tidak boleh begini terus," batin Alesa.

__ADS_1


__ADS_2