
Part 74.
Di seberang jalan kantor malik, sepasang mata Adra mengamati gerak-gerik Alesa. Adra memutuskan parkir dan menunggu Alesa, hanya ingin memastikan apakah Fasya ada bersamanya.
Saat mobil Roy keluar dari pintu gerbang kantor. Adra mencoba mengingat mobil siapa yang menjemput Alesa. Dan Adra yakin kalau yang menjemput Alesa bukan Fasya, karena Adra tahu persis mobil Fasya.
"Atau Fasya beli mobil baru?" batin Adra sambil menekan pedal gas dan meluncur mengikuti mobil yang membawa Alesa dari jarak dua puluh meter.
Sambil menyetir Adra mengingat-ingat, siapa pemilik mobil yang membawa Alesa. Mobil Fasya bukan, mobil Roy juga bukan, karena biasanya mobil yang dibawa Roy mobil kantor. Dia jarang sekali membawa mobilnya, kecuali untuk kencan.
"Alesa mau ke mana," batin Adra kala melihat mobil yang membawa Alesa belok ke kiri, tidak lurus ke depan, karena jalur yang dilakui, bukan arah ke rumah Fasya.
Rasa penasaran, membuat Arda ikut membelokan mobilnya ke sebelah kiri. Tiga ratus meter dari belokan, mobil yang membawa Alesa memasuki sebuah rumah mewah dengan pekarangan yang cukup luas. Adra menghentikan mobilnya di seberang jalan.
"Rumah siapa ini?" Batin Adra seraya menatap lurus ke dalam rumah.
Adra memang tidak pernah tahu, kalau rumah ini milik Malik papanya Fasya, yang dia tahu rumah Malik yang ditinggali Fasya dan Saera.
Pandangan Adra tak lepas, dia mengamati dengan teliti, seorang laki-laki keluar dari pintu depan, kemudian mengeliling, membukakan pintu untuk Alesa.
"Siapa laki-laki itu? Pastinya bukan Fasya," ujar Adra lagi, dia tidak bisa melihat dengan jelas
Karena terhalang terali besi pagar.
Puas Adra menilik, tetap saja tak terbayang siapa laki-laki yang menjemput Alesa. Adra memperhatikan Alesa yang ke luar dari mobil. Setelah Alesa keluar dari mobil, mobil itu meluncur pergi.
"Apa Alesa tinggal di sini sekarang," batin Adra lagi seraya mengikuti mobil yang tadi membawa Alesa.
Rasa penasaran Adra ingin mengetahui siapa yang mengantar Alesa. Adra mengikuti mobil yang menjemput Alesa tadi, hingga mobil itu berbelok masuk ke rumah Roy. Lamat-lamat Adra menatap laki-laki yang keluar dari mobil.
"Roy! Dia benar Roy," batin Adra, lalu meluncur meninggalkan rumah Roy.
Adra menarik nafas lega. Saat mengetahui kalau yang menjemput Alesa dari kantor Malik adalah Roy.
****
Keesokan harinya Adra sengaja lewat depan rumah Fasya. Dia terkejut saat melihat tulisan di depan pintu pagar.
"Rumah ini mau dijual," Adra membaca lirih tulisan itu. Adra berhenti tepat di depan pintu gerbang. Dia memotret tulisan besar yang tergantung di pagar.
"Kenapa Fasya menjual rumah ini. Bukannya dia sayang bangat dengan rumah peninggalan ibunya," gumam Adra.
"Jadi rumah mewah dan besar semalam rumah baru Fasya, mungkin rumah ini terlalu kecil buat Fasya untuk menampung tiga istri," batin Adra, mengertilah dia sekarang. Terjawab semua tanya yang bersarang di otaknya.
Adra menarik pedal gas, melaju menuju jalan raya. Dia ingin menjemput Alesa dan mengajak Alesa jalan-jalan keliling Pekanbaru.
Sementara Alesa yang baru saja mau ke luar dari pintu utama rumahnya, dia mendapati motor Brayen sudah parkir di depan rumahnya.
__ADS_1
"Selamat pagi bidadari cantik," sapa Brayen.
"Ngapain Abang ke sini?" Tanya Alesa.
"Menjemput Non!" Jawab Brayen santai.
"Emang mau ke mana?" tanya Alesa lagi.
"Ke mana saja kamu mau. Abang siap antar," jawab Brayen lagi.
"Non! Mau ke mana? Kayaknya sudah rapi banget? Aku antar ya," ujar Brayen, turun dari motornya.
Dahi Alesa berkerut, karena berpikir bagaimana cara menolak ajakan Brayen. Mana Abdullah tadi disuruhnya pergi mengantar Sri ke pasar lagi.
Tit... Tit... Tit...
Adra yang melihat Alesa sedang berbincang dengan seorang laki-laki, membunyikan kelakson. Ups.. Alesa merasa pertolongan Tuhan datang menyelamatkannya dari Brayen.
"Maaf Bang. Jemputan aku sudah datang," ujar Alesa melangkah meninggalkan Brayen.
Tanpa basa basi. Entah Adra menjemputnya atau hanya sekerdar singgah, Alesa tak mau tahu, dia menarik handle pintu depan mobil dan duduk di samping Adra, lalu menutup pintu.
"Siapa tuh?" Tanya Adra seraya menarik pedal gas dan meluncur.
"Oh itu, dia mencari alamat seseorang," jawab Alesa sekenanya.
Sementara Brayen yang menatap kepergian Alesa. Wajahnya cemberut ditekuk sedemikian rupa. Sambil manarik nafas panjang, dia kembali menunggangi kuda besinya dan meluncur meninggalkan rumah Alesa.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Adra begitu mobil sudah meluncur beberapa meter dari rumah Alesa.
"Ke kantor papa Malik," jawab Alesa.
"Bukannya kantor libur."
"Iya! Aku janji mau ketemu Dea."
"Dea! Sekretarisnya Fasya maksudmu?" Tanya Adra seraya melirik Alesa dari kaca spion depan.
Alesa hanya mengangguk.
"Abang sendiri mau ke mana?" Alesa balik bertanya. Dia merasa bersalah karena tadi masuk mobil Adra tanpa permisi.
"Mau ajak kamu keliling-keliling saja."
"Oh. Maaf ya Bang! Aku jadi ngerepotkan Abang."
"Ya. Nggak apa-apa. Kan jalan-jalan juga namanya," ujar Adra tertawa kecil.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Adra memasuki area kantor Malik. Adra memarkir mobilnya dan ikut turun.
"Boleh Abang ikut masuk?"
"Boleh! Tak ada yang larang," jawab Alesa.
Sambil beranjak masuk, Alesa menelepon Dea, ternyata Dea sudah menunggu di atas. Alesa menuju lift di iringi Adra, begitu lift terbuka, mereka berdua masuk, terus naik ke lantai tiga. Berapa detik kemudian lift terbuka, Alesa dan Adra keluar secara berbaringan, hingga tanpa sengaja Adra tersenggol tubuh Alesa.
"Maaf," ujar Adra. Untung Adra sigap menangkap tangan Alesa, kalau tidak pastilah Alesa terjerembab.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Adra khawatir. Alesa hanya menggeleng.
Koridor perkantoran terlihat sepi, hanya ada dua orang clearning servis. Alesa dan Adra menuju ke ruang manejer.
"Silakan Non Alesa dan pak Adra," sapa Dea saat melihat Alesa dan Adra datang.
"Dea! Kamu pindah kerja ke kantor ini?" Tanya Adra.
Dea tidak menjawab pertanyaan Adra, dia menoleh ke arah Alesa. Alesa menarik napas panjang, kemudian mengajak Adra duduk dan dia pun mulai menceritakan semua yang terjadi dua hari yang lalu. Kecuali tentang Fasya yang telah menalaknya.
"Oh. Jadi Saera sudah mengambil alih semuanya. Dan sekarang Fasya sudah menikah dengan Carla," gumam Adra.
"Kamu yang sabar ya. Al," ujar Adra berusaha memberi kekuatan pada wanita yang mulai dikaguminya.
Menurut Adra, Malik mengambil keputusan yang tepat menyerahkan perusahaan ini ke Alesa. Alesa selain pintar juga sangat bertanggung jawab.
"Selain perusahaan Fasya. Apa rumah di jalan Dalia juga diambil Alih Saera?" tanya Adra.
"Iya. Bang!"
"Oh, berarti Saera yang mau menjual rumah itu." ujar Adra
"Saera menjual rumah itu?" tanya Alesa serius.
Adra mencerita pada Alesa, kalau tadi dia lwwat depan rumah itu, sudah ada plang pengumuman. Adra menyodorkan ponselnya, melihatkan foto yang tadi di ambilnya kepada Alesa. Alesa sangat menyayangkan tindakan Saera. Dia ingin menyelamatkan rumah itu. Tapi tak tahu caranya. Karena kasian pada Alesa, Adra menelepon orang tuanya untuk membeli rumah itu atas nama papanya.
"Terima kasih. Bang!" ujar Alesa, dia berjanji akan mengganti uang orang tua Adra, setelah dia sukses manti.
"Tidak usah dipikirkan, yang penting rumah itu tidak jatuh ketangan orang lain," ujar Adra lagi.
"Abang maukan bantu aku di perusahaan ini?" Tanya Alesa. Adra mengangguk setuju.
Sejak saat itu, Adra, Roy, Burhan dan Dea, bahu membahu membantu Alesa untuk mengembangkan perusahaan, sehingga berkembang pesat.
****
Sementara Fasya pun sudah menjadi sukses kembali, setelah Carla menyerahkan perusahaan warisan dari nenek dan papanya.
__ADS_1
Fasya selain pekerja keras dia juga terkenal sangat disiplin. Walaupun Fasya dan Roy sudah berada di tempat kerja yang berberbeda. Nemun, mereka tetap teman dan bersahabat, Roy tak pernah sedikit pun usil terhadap kehidupan pribadi Fasya.
"Menikahlah! Apa lagi yang kamu tunggu. Lihat aku sudah bahagia dengan Carla," ungkap Fasya berbinar menceritakan kehidupannya kepada Roy.