Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Berdua Roy


__ADS_3

Part 45


Di rumah Fasya.


Perasaan Alesa menjadi galau. Belum genap satu minggu berada di rumah Fasya. Kini dia berada dalam situasi yang cukup menegangkan, berada di rumah sebenar ini sendirian. Pada hal dia masih mau beradaptasi.


Di dalam kamarnya, Alesa tidak mau jauh-jauh dari ponselnya. Dan terus melantunkan doa-doa, agar malam cepat menjelang pagi. Sebenarnya Alesa bukan tipe gadis penakut, hanya karena baru berada di rumah ini, membuatnya sedikit cemas.


Dreet... Dreet... Dreet.


Ponsel dalam genggamannya bergetar, dari layar yang bercahaya tertulis my hero Fasya yang memanggil. Segera Alesa menggeser gambar gagang telepon yang berwarna hijau.


"Assalamualaikum," sapa Alesa begitu panggilan terhubung. Alesa menunggu beberapa detik tak ada jawaban, dengan rasa kecewa Alesa pun memutuskan sambungan teleponnya.


"Aneh," gumam Alesa mematikan panggilan telepon dari Fasya.


"Mungkin hanya tertekan," gumam Alesa lagi.


Praduga Alesa. Fasya menghubunginya, karena tak sengaja tertekan nomor kontanya, tak ada tanda-tanda kalau Fasya mendengar ucapan salam darinya. Fasya yang sedang berada di Bali, waktu itu sengaja menghubunginya, karena rindu mendengar suara Alesa. Bagi Fasya ucapan salam dari Alesa sudah bisa membuatnya tertidur pulas.


Baru saja Alesa meletakkan ponselnya di atas nakas. Getarnya kembali berbunyi. Sekilas Alesa melirik layar ponsel yang bercahaya.


"Abi," batin Alesa.


Secepat kilat Alesa menyambar ponsel yang baru sejenak dilepasnya, menerima panggilan Abdurrahman.


"Assalamualaikum. Abi!"


Abdurrahman membalas salam Alesa dan mengabar pada Alesa kalau dia sudah kembali ke rumah setelah menjalani operasi dan untuk menghemat biaya, sekarang Abdurrahman memilih rawat jalan.


"Semoga abi bisa sembuh seperti semula," doa Alesa.


"Aamiin. Kabar kamu bagaimana. Nak?"


"Alhamdulillah baik. Aku sudah mulai kuliah. Bi!"


"Syukurlah, semoga berjalan lancar dan tercapai impianmu ya. Nak!" ujar Abdurrahman lagi.


Setelah bicara begitu, Abdurrahman memberikan ponselnya pada adik-adik Alesa. Karena dari tadi terdengar kalau adik-adik Alesa sudah berisik ingin bicara pada kakaknya.


"Kak Al! Kami rindu kakak," ujar adik Alesa yang paling tua.


"Adik-adik kakak yang pintar. Kakak juga rindu kalian. Sangat rindu," ujar Alesa, tanpa disadari air mata Alesa menetes, kala mengingat adik-adiknya.


"Pulanglah kak. Sebentar saja," ucap adik pertamanya lagi.


"Kakak pasti pulang. Jika kuliah kakak sudah selesai. Dan pesan kakak, kalian belajar yang rajin ya. Kakak janji akan cari uang yang banyak untuk biaya kuliah kalian semua," ucap Alesa di sela derai air mata, hingga suaranya serak.


"Kakak. Apa kakak menangis?"


"Tidak! Kakak hanya terharu. kakak bersyukur punya adik sebaik kalian, kalian jaga abi dan umi ya," ujar Alesa, lalu mengakhiri panggilan telepon dengan alasan, kalau dia mau mengerjakan tugas kuliah. Pada hal dia tak mampu membendung tangisnya, karena rindu yang memuncak, hingga Alesa sesenggukan.


"Aku harus bisa merubah kehidupan adik-adikku," batin Alesa menyesap air matanya. Lalu meletakkan ponsel di atas nakas.

__ADS_1


Jam dinding di kamar Alesa menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit. Alesa keluar kamar memastikan, kalau pintu dan jendela sudah terkunci rapat. Sebenarnya Alesa tak perlu khawatir, karena semua jendela berterali.


Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci dan aman. Alesa meninggalkan ruang tamu, beranjak menuju kamarnya.


Tok


Tok


Tok


Baru Alesa memegang handle pintu kamar. Sayup dari luar terdengar ketukan di daun pintu.


"Siapa yang datang malam-malam begini," batin Alesa merinding. Seingatnya tadi sore dia sudah mengunci gembok pagar, kenapa ada yang bisa masuk.


Seketika Alesa memutar handle pintu kamar dan masuk, langsung naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut. Alesa menutup telinga dengan kedua telapak tangan, agar tak mendengar ketukan pintu yang semakin kuat.


Dreet... dreet... dreet, ponselnya kembali bergetar mengejutkan Alesa. Panggilan masuk dari nomor tak di kenal. Perlahan Alesa meraih ponselnya.


"Anggkat. Tidak!" Batin Alesa bimbang.


Panggilan mati, detik berikutnya menyala lagi, hingga panggilan ke empat.


"Mungkin penting," batin Alesa lagi, dengan ibu jarinya dia menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau, menerima panggilan.


"Non! Kok lama banget baru di angkat," terdengar suara laki-laki dari panggilan telepon, suaranya tak asing tapi Alesa lupa suara siapa.


"Tolong buka pintu. Ada pesan dari bos Fasya." Suara itu semakin jelas tak asing di telinga Alesa.


"Roy," batinnya. Dugaannya benar.


Tanpa ragu alesa memutar anak kunci dan menguakkan daun pintu.


"Ada apa?" Tanya Alesa dari balik terali pintu.


"Buka dulu teralinya. Non! Nggak enak bicara di sini, lagian cuaca juga dingin," ujar Roy, kebetulan lagi turun hujan, memang tidak lebat, tapi mampu membuat suhu mendingin.


Alesa memutar kunci terali, lalu menguakkan dan menyilahkan Roy masuk. Roy menutup terali dan menguncinya, kemudian menutup pintu dan menguncinya juga.


"Kenapa dikunci?" Tanya Alesa heran.


"Sudah malam. Non! Apa non mau maling masuk dengan membiarkan pintu terbuka," ujar Roy seraya ngeloyor masuk ke ruang tengah dan duduk di sofa.


"Tapi... kamu..."


"Aku nginap di sini," ujar Roy lagi, dia seperti bisa menebak ke mana arah pembicaraan Alesa.


"Nginap?"


"I-iya. Kenapa? Kamu takut aku khilaf?" Tanya Roy terkekeh, kala melihat dahi Alesa berkerut. Yah.. Hanya dahi dan mata Alesa yang tampak, sisanya tertutup niqab.


"Tapi..."


"Nggak ada tapi-tapi. Ini perintah bos Fasya," ujar Roy, lalu meluruskan kakinya di atas sofa dan meletakkan kepalanya di sandaran tangan sofa.

__ADS_1


"Hemmm," Alesa menarik nafas panjang.


Fasya mengirim Roy buat menemani Alesa. Ternyata Fasya peduli sangat pada Alesa. Mungkin karena mendengar bibik pulang, atau dia takut isi rumahnya Alesa bawa kabur. Itu yang ada dalam pikiran Alesa.


"Yah... sudahlah! Toh Roy juga tidurnya di ruang tengah," batin Alesa lalu membalikkan tubuhnya ingin kembali ke kamar.


Dep... tiba-tiba listrik mati.


Bruk....


Secepat kilat Alesa berlari ke arak Roy dan Alesa menubruk tubuh Roy yang sedang berbaring di sofa. Tentu saja Roy kaget luar biasa.


"Apa-apaan nih," ujar Roy terkejut, spontan mendorong tubuh Alesa, hingga Alesa terjerembab di lantai. Namun, secepat kilat Alesa kembali bangun, dia menggapai kaki dan memegang erat kaki Roy. Dari kegelapan Roy bisa melihat bagaimana Alesa merengkuk ketakutan.


"Apa dia fabio gelap," batin Roy


Tubuh Alesa bergetar, dia menggigil ketakutan. Trauma dalam kegelepan masih menghantui. Dulu waktu dia duduk di Taman kanak-kanak, pernah terkurung di dalam sebuah kamar gelap selama dua jam. Peristiwa itu terjadi dua balas tahun yang lalu. Namun, traumanya sampai sekarang belum hilang.


"Aku mohon. Jangan tinggalkan aku," terdengar lirih suara Alesa bergetar ketakutan, seraya mendekap erat kaki Roy.


Roy merasakan getaran ketakutan Alesa. Roy menyalakan ponsel untuk dijadikan penerangan, lalu perlahan Roy menurunkan kaki dan menggapai tangan Alesa yang bersedekap di dada. Roy berinsut mendekati Alesa dan merengkuh tubuhnya, mengajak Alesa duduk di sampingnya.


"Tidak usah takut. Di sini ada aku," ujar Roy memeluk erat tubuh Alesa.


Dalam dekapannya, Roy dapat merasakan keringat Alesa mengucur, baju Alesa lembab dan di dahinya terlihat bercak keringat mengalir.


Roy kemudian menggamit tangan Alesa dan memintanya berdiri. Namun, dalam gigilnya, kaki Alesa terasa lemah dia tak mampu bertumpu di kakinya sendiri. Roy menggondong Alesa dan membawa ke kamar, membaringkan Alesa di atas kasur.


"Jangan pergi." Pinta Alesa seraya memegang jemari kiri Roy dengan kuat.


"I-iya. Aku akan menunggumu sampai lampu menyala," ujar Roy.


"Sekarang kamu tidurlah. Aku di sini."


Alesa dalam posisi baring dengan tubuh miring menghadap ke arah Roy, dia memegang erat jemari kiri Roy. Alesa takut kalau Roy tiba-tiba meninggalkannya. Roy menarik selimut dengan tangan kanannya, menutupi tubuh Alesa hingga dada.


"Lepas sebentar," bisik Roy. Dia meminta Alesa melepas tangannya.


Genggaman di jemari Roy di lepas Alesa. kini pegangannya berpindah ke lengan baju. Roy mencari nomor kontak orang PLN dan menelepon menanyakan berapa lama durasi lampu mati. Roy dapat jawaban tidak pasti, karena ada pohon tumbang dan menimpa tiang listrik, hingga memutus kabel utama. Dikarenakan hujan turun masih lebat, tim evakuasi belum bisa bergerak.


"Berdoa saja. Semoga hujan segera reda," ujar petugas PLN yang dihubungi Roy.


Roy menumpukan kepalanya di sandaran tempat tidur. Dia kembali menyerahkan jemarinya untuk pegangan Alesa. Matanya mulai mengantuk, berkali-kali dia menguap. Namun, kantuknya ditahan, dia berharao Alesa segera terlelap. Dia bisa keluar dari kamar ini dan tidur di sofa.


"Jangan pergi," suara lirih Alesa masih terdengar, saat Roy berusaha menguraikan pegangan Alesa. Pada hal mata terpejam.


Ketakutan Alesa terbawa hingga ke tidur. Roy mengurungkan niatnya melepaskan genggaman tangan Alesa. Takut jika Alesa terbangun, dia histeris lagi.


Roy menenangkan Alesa dengan mengusap lembur punggung Alesa. Dia berharap Alesa bisa tidur nyenyak dan melupakan traumanya. Roy tak bisa membayangkan, jika Alesa sendiri dalam kegelapan.


Berkali Roy menguap lagi, kantuknya semakin berat. Roy menatap jam di layar ponsel, sudah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Pantas saja matanya sudah susah diajak kompromi.


"Sudah dua jam PLN mati," gumam Roy, seraya meluruskan pinggangnya. Roy memutus berbaring di samping Alesa, menjaga Alesa sampai besok pagi. Tanpa dia sadari tangan kanannya memeluk Alesa yang sudah tertidur.

__ADS_1


__ADS_2