
Part 89
Begitu keluar dari pemakaman umum. Alesa melangkah menjauh dari Bambang dan menuju mobil Dea yang sudah menunggunya, karena tadi di saat umi dan adik-adiknya pulang. Alesa meminta Dea menjemputnya, saat tahu kalau Fasya bertahan.
"Aku duluan," ujar Alesa pada Bambang seraya masuk ke mobil Dea, lalu menutup pintu mobil Dan mobil Dea pun meluncur.
Bambang hanya menatap kepergian Alesa, tanpa mampu mencegahnya. Hingga mobil yang membawa Alesa melaju meninggalkan pemakaman umum.
"Hay kamu!tunggu!" teriak Fasya seraya berlari mengejar Bambang.
Langkah Bambang terhenti saat mendengar teriakan Fasya, Bambang membalikkan tubuhnya, menatap tajam ke arah Fasya.
"Ku peringatkan padamu. Jangan dekat Alesa, jika tidak ingin berurusan denganku," ancam Fasya.
"Kita lihat saja nanti. Apa Alesa masih mau menerimamu," Bambang mencibir ke arah Fasya. Lalu masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Fasya yang masih kesal dengan kehadiran Bambang.
"Awas saja jika berani mendekati Alesa," gerutu Fasya, lalu masuk ke mobilnya dan meninggalkan tempat pemakaman.
*****
Mobil Dea meluncur ke jalan raya, dua puluh menit kemudian mobil yang dikendarai Dea sampai di depan rumah Alesa. Setelah memarkir mobil, Dea turun dan membuka pintu untuk Alesa, kemudian dia pamit pulang.
Perlahan Alesa masuki pintu utama, Asiah yang dari tadi menunggu kedatangannya dengan cemas, berdiri dan mendekat.
"Alesa! Kamu sudah pulang. Nak!"
Alesa menghambur dalam pelukan Asiah. Dia menangis tersedu, tangisannya kali ini, bukan saja karena dia kehilangan sosok Abdurrahman laki-laki yang sangat dicintainya, tapi juga karena kebohongannya pada Asiah tentang rumah tangganya dengan Fasya.
Melihat Alesa dan Asiah menangis sambil berpelukan, spontan adik-adik Alesa pun ikut berbaur dalam pelukan dua wanita itu, kemudian menangis berjamaah. Sri yang melihat adegan itu dari jauh, juga hanyut terbawa perasaan.
"Sudah! Kita tak boleh larut dalam kesedihan. Abi kalian sudah tenang di atas sana. Jika kita sedih, ketenangan Abi akan terusik," ujar Asiah, lalu meminta anak-anaknya untuk segera mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat magrib berjamaah.
Alesa beranjak masuk ke kamar, menyambar handuk segera mandi. Lima menit kemudian ritual mandinya pun selesai. Setelah memakai baju dia terus mengerjakan shalat.
Tok... Tok... Tok
"Masuk," ujar Alesa.
"Non di tunggu umi di meja makan," terdengar suara Sri dari luar.
"Iya. Bik!" Sahut Alesa lalu keluar kamar menuju dapur.
__ADS_1
Alesa menarik kursi di samping Asiah. Lalu mendudukkan bokongnya.
"Fasya mana?" Tanya Asiah yang baru menyadari kalau tak melihat sosok menantunya itu.
"Di pulang ke rumahnya. Mi!" Alesa menjawab, tanpa sadar membuat pertanyaan pada Asiah.
"Rumahnya? Maksudmu ini bukan rumahnya?" Bermunculan pertanyaan Asiah.
"Upss.. Ya Allah, aku salah bicara," batin Alesa.
"Kita makan saja dulu. Mi! Nanti kita lanjut bicaranya," ujar Alesa mengalihkan pembicaraan. Dia berharap uminya melupakan masalahnya dengan Fasya.
Selesai makan, Alesa masuk ke kamarnya, membuka laptop dan memeriksa email yang masuk. Satu jam berada di depan laptop, dia mengecek dan membalas beberapa email dari rekan kerjanya.
Tok...Tok...Tok..
"Boleh umi masuk?"
"I-iya. Mi! Masuklah." Mata Alesa beralih ke depan pintu.
"Nak! Diluar ada beberapa tetangga datang. Katanya mereka dari persatuan komplek, mau mengadakan pengajian untuk abi," ujar Asiah.
"Umi temui saja mereka dulu. Aku mau shalat isya sebentar, nanti aku menyusul ya. Mi," ucap Alesa seraya beranjak ke kamar mandi mengambil air wudhu.
"Fasya! Ngapain lagi dia datang," batin Alesa, saat melihat Fasya, menyambut kedatangan para tamu.
Alesa mempersilakan para tetangga duduk, kemudian mengambil al qur'an dan meminta adik-adiknya duduk ikut mengaji bersama untuk abi mereka. Pengajian berlangsung selama tiga malam.
*****
Hari ketiga setelah meninggalnya Abdurrahman.
"Ayok! Siap-siap semuanya kita ke makam. Abi!" Titah Alesa pada adik-adiknya.
Saat melihat Alesa dan Asiah keluar pintu utama, Yanto membuka pintu mobil depan dan menyilakan Asiah masuk, sementara adik-adik Alesa duduk di kursi belakang.
"Sa! Kamu di mobilku saja," bisik Fasya saat melihat Alesa ingin ikut di mobil yang dikendarai Yanto.
Sejenak Alesa menatap Fasya, dua malam ini. laki-laki itu sudah memenuhi permintaan Alesa untuk menginap di rumahnya. Semua itu Alesa lakukan untuk menghindari pertanyaan dan kecurigaan Asiah. Di saat Asiah belum tidur, meraka akan masuk di kamar yang sama, begitu Asiah dan adik-adiknya tidur. Fasya akan keluar dan tidur di ruang kerja.
"Ayok masuk. Kamu tidak maukan, umi tahu tentang kita," ujar Fasya seraya membuka pintu mobil. Alesa pun masuk.
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Asiah dan adik-adik Alesa sudah meluncur meninggalkan rumah. Fasya pun menekan pedal gas dan ikut meluncur menjauh dari rumah, mengikuti mobil yang dibawa Yanto.
"Kamu tidak usah ikut ke pemakaman," ujar Alesa saat mobil Fasya berhenti di parkir TPU.
"Tapi. Sa!"
"Tinggalkan aku sekarang. Aku tidak ingin berdebat," sela Alesa tidak memberi kesempatan Fasya untuk membantah, lalu Alesa menyusul umi dan adik-adiknya yang sudah sampai di pemakaman Abdurrahman.
Setelah membaca yasin bersama, mereka menabur bunga dan mencurahkan air yang mereka bawa kegundukan tanah pemakaman Abdurrahman.
"Ajak adik-adikmu ke mobil duluan," titah Asiah kepada putri tuanya.
Sepeninggalan Alesa dan adik-adiknya. Asih duduk terpakur di samping pusara Abdurrahman dan berdoa untuk suaminya. Dia mengenang kembali masa-masa indah dengan laki-laki yang sudah terbaring di bawah tanah sana.
"Selamat beristirahat abi. Doakan aku mampu melalui hari-hari berikutnya tanpa kamu," lirih Asiah.
Asiah mengusap batu nisan yang membisu, banyak kenangan suka dukanya selama bersama Abdurrahman. Abdurrahman laki-laki tampan, hanya seorang loper koran yang dijajakannya setelah pulang kuliah, membuat Asiah sang anak konglomerat jatuh hati. Karena hasil keuntungan menjajakan koran, setiap harinya diberikan Abdurrahman pada seorang ibu pengasuh panti asuhan.
Sosok Abdurrahman yang terkenal dengan sebutan penolong tanpa pamrih, menarik perhatian Asiah, karena ingin mengetahui dan penasaran dengan laki-laki itu. Asiah mengikuti acara sosial penggalangan dana untuk para musibah kebakaran.
"Kamu yakin, ingin berpanas-panas di lampu merah. untuk ikut menggalang dana," ujar Ratna teman Asiah. Karena Ratna tahu kalau Asiah salah seorang putri sepuluh pengusaha terkaya di Riau.
"Yakinlah! Demi Abdurrahman apa pun akan aku lakukan," ujar Asiah dengan semangat berapi-api.
Asiah tersenyum kala mengingat perjuangannya mendapatkan cinta Abdurrahman. Waktu itu Asiah memang sedang dimabuk cinta. Dia tak perduli pada saat itu, kalau hubungannya dengan Abdurrahman tak pernah direstui oleh papanya. Dan puncanya Asiah diusir dari rumah.
Abdurrahman sudah membujuk Asiah untuk meninggalkannya dan kembali ke rumah orang tuanya. Namun, Asiah menolak dan bahkan mengancam akan bunuh diri jika Abdurrahman tak menikahinya. Tentu saja Abdurrahman panik pada waktu itu, jujur dia juga sangat mencintai Asiah.
Akhirnya Abdurrahman memberanikan diri menemui papanya Asiah. Papa Asiah mau menikahkan dia dan putrinya dengan persyarat. Asiah dicoret sebagai ahli waris dan harus keluar dari kota pekanbaru.
Setelah menikah Abdurrahman dan Asiah meninggalkan kota pekanbaru sesuai dengan persyaratan yang diberikan papa Asiah. Otomatis kuliah Abdurrahman dan Asiah yang belum klar terbengkalai. Abdurrahman memboyong Asiah pulang ke kampung orang tuanya di Tembilahan. Orang tua Abdurrahman yang hidupnya pas-pasan, menerima Asiah dengan suka cita.
Dengan berbekalkan ijazah SMA Abdurrahman melamar menjadi guru honor di salah satu sekolah swasta. Karena kuliah Abdurrahman waktu itu baru semester tujuh dan Asiah semester lima.
Dreet... Dreet... Dreet, bunyi getaran ponsel disaku gamis Asiah mengejutkan dan membuyarkan lamunannya. Dirogohnya saku gamis mengambil benda pipih miliknya, lalu menatap layarnya. Asiah menggeser gambar gangang telepon dan menerima panggilan putrinya.
"Iya... nih umi sudah selesa, segera menyusul," ujar Asiah setelah menjawab salam dari Alesa. Kemudian menutup panggilan telepon.
Asiah menyesap buliran kristal bening yang masih bersisa di pipinya. Dia mengakhiri kenangannya bersama Abdurrahman dengan menyiramkan sisa air ke pusara suaminya. Karena besok dia akan kembali ke Tembilahan.
Asiah berdiri dan beranjak dari jongkoknya. Sebelum dia melangkah pergi, sekali lagi di tatapnya onggokan tanah yang sudah menghimpit tubuh suaminya. Asiah memutar tubuhnya dan bergegas menjauh dari pusara Abdurrahman.
__ADS_1
Brak...
"Maaf," ujar Asiah karena berjalan sambil mengusap wajahnya yang sembab air mata. Hingga dia tak menyadari menabrak seseorang.