Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Rasa Nyaman


__ADS_3

Part 50


Beberapa saat Roy membiarkan Alesa menghabiskan tangisnya.


"Menangislah! Jika itu membuatmu lega," ujar Roy berbisik di telinga Alesa.


Sambil mengeratkan pelukannya, Roy menikmati wangi sampo rambut Alesa. Ada suatu perasaan yang mengalir di aliran darah Roy, kala Alesa berada di pelukannya. Rasa ingin melindungi Alesa seperti adiknya


"Apa benar perasaan ini?" batin Roy ambigu, hatinya berperang, antara perasaan kasihan dengan perasaan sayang.


Pikiran Roy jadi berkecamuk. Ada rasa ingin memilik Aleaa seutahnya. Ada rasa hanya ingin melindungi.


"Roy! Sadarlah! Alesa itu istri bosmu. Walaupun sampai saat ini Fasya belum mau mengakuinya," batin Roy mengingatkan dirinya.


Sesaat tangis Alesa reda. Dengan berat hati Roy menguraikan pelukannya, lalu menatap wajah Alesa yang sembab, dengan ke dua ibu jarinya, Roy menyesap sisa air mata di pipi Alesa.


"Siapa yang membuatmu menangis? Fasya atau Saera?" Tanya Roy menatap intens pada mata Alesa yang berkabut.


Tarikan nafas Alesa, menandakan kalau dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Alesa lalu menelan salivanya pelan, dia tidak menjawab pertanyaan Roy. Matanya kembali berkaca-kaca kala mengingat Fasya, sydah dua kali, hampir merenggut kesuciannya dengan paksa.


"Fasya tidak menyakitimu kan?" Tanya Roy lagi, karena tak mendapat jawaban. Sekilas Alesa mendongak, menatap Roy, lalu dia menggelengkan kepala. Tapi kembali Air matanya mengurai deras, dari situ Roy mengambil kesempulan kalau Fasyalah yang membuat Alesa menangis.


"Sudah! Jangan menangis lagi. Aku akan selalu ada untukmu," ujar Roy kembali mendekap Alesa dan mengusap punggunggungnya. Roy berusaha menenangkan Alesa. Agar Alesa tidak menangis lagi.


Alesa yang berada dalam pelukan Roy, merasa ada tempat mengadu, merasa kalau dia tidak sendirian. Tanpa disadarinya, dia merasa nyaman dalam dekapan laki-laki yang menjadi asisten pribadi suaminya itu.


"Aku akan jadi abangmu yang siap melindungimu dari siapapun, termasuk Fasya," ujar Roy lagi, lalu mengurai pelukannya, menatap bening mata Alesa yang kini mulai berbinar indah.


"Terima kasih sudah peduli padaku," ujar Alesa.


Perlahan Alesa menepis tangan Roy yang masih menyentuh bahunya. Alesa menyadari kalau yang barusan dilakukannya adalah kesalahan.

__ADS_1


"Apa yang sudah ku lakakun," batin Alesa dalam hati.


"Tidak seharusnya, aku meminta perlindungan dan perhatian Roy," batinnya lagi.


Tapi itulah kodratnya manusia, tanpa di sadari menciptakan kesalahan yang seharusnya tak terjadi. Termasuk Alesa, dia butuh tempat untuk berkeluh kesah, dia butuh di dengar dan butuh perhatian dan kasih sayang yang tak di dapatnya dari Fasya. Tapi di dapatkannya dari Roy.


"Maaf! Tak seharusnya aku seperti ini," ucap Alesa memalingkan wajahnya.


"Aku yang minta maaf," ujar Roy.


"Aku yang salah, seharusnya aku lebih menghormati. Non! Sebagai istri Fasya. Maafkan atas kelancanganku," ucap Roy lagi.


"Aku tidak bermaksud apa-apa pada non! Murni hanya ingin membantu non keluar dari masalah yang non hadapi," jelas Roy.


Memang itu niat pertama yang terbersit di hati Roy. Tapi tak dipungkirinya, kalau dia memang tertarik pada Alesa. Namun, dia tak pernah bermaksud mengambil Alesa dari Fasya.


"Percaya padaku. Aku hanya tidak ingin melihat non bersedih dan menangis."


Alesa pun tidak menyalahkan Roy sepenuhnya, karena jika dia mampu menahan kesedihannya sendiri, pasti ini tak akan terjadi. Alesa saja yang tak mampu menahan rasa sedihnya. Jiwanya yang labil membuatnya belum mampu berpikir matang.


Alesa butuh seseorang tempat mengadu, supaya semua sesak di dadanya menjadi hilang dan lapang. Dan itu dia temukan pada Roy, kerens memang dia sudah tak punya siapa-siapa lagi selain Roy. Sementara Adra dan Bambang sejak Alesa mengembalikan pemberiannya, hingga kini sudah los kontak. Jika bertemupun tak ada saling tegur.


"Non! Tidak apa-apakan?" tanya Roy membuyarkan lamunan Alesa. Alesa mengangguk menjawab pertanyaan Roy.


Sejurus Roy menatap jam tangan dipergelangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu tiga puluh empat menit, itu tandanya waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, suara berisik di kamar Fasya pun sudah tak terdengar lagi, karena setelah berlayar Fasya dan Saera tertidur pulas.


"Sa! Aku permisi pulang. Jika ada apa-apa dan butuh sesuatu jangan sungkan hubungi aku." ugar Roy. Lagi-lagi Alesa hanya mengangguk.


"Jangan pernah ke luarkan air matamu lagi untuk laki-laki seperti Fasya. Kamu itu terlalu berharga."


Mendengar ucapan Roy, Alesa bahagia. Andai saja Fasya bisa berpikiran seperti Roy, pasti hidup Alesa tidak sedramatis sekarang.

__ADS_1


"Hanya laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan wanita secantik kamu. Aku sayang padamu. Alesa! Melebihi diriku sendiri." ujar Roy mengakhiri uacapannya. Bukan tidak sadar Roy mengucap itu, dia merasa bahagia saja bisa mengungkapkannya, bagaimana pun respon Alesa dia tak perduli. Baginya sekarang yang penting Alesa tahu kalau dia menyayanginya.


Ucapan Roy, membuat mata Alesa membola, dia sama sekali tak menduga kalau Roy bicara seperti itu. Alesa tidak merespon ucapan Roy, dia hanya sibuk dengan pikirannya.


"Roy pasti hanya ingin menghiburku," batin Alesa, dia tidak boleh terbawa perasaan dengan ucapan Roy barusan.


Setelah memastikan Alesa tidak menangis lagi. Roy pun pamit, Alese mengantar Roy sampai ke depan pintu utama. Setelah mengunci terali, dia menutup pintu utama dan menguncinya. Alesa kembali ke kamarnya dengar perasaan yang tak bisa diterjemahkan.


Begitu sampai di kamar, Alesa naik ketempat tidur, membaringkan tubuh lelahnya, menarik selimut menutupi dirinya hingga dada. Alesa mencoba memejamkan mata, meneruskan tidurnya yang tertunda. Dia berharap begitu bangun semua masalahnya hilang tak bersisa.


*****


Suara tahrim mengusik tidur Alesa, dia terbangun menggeliat sempurna, dengan mata yang masih mengantuk, Alesa memaksa duduk dan beranjak ke kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu.


Setelah menyelesaikan shalat subuh. Alesa membaca surah Al Waqiah, memang sudah menjadi kebiadaannya membaca waqiah sebelum memulai aktufitas. Lima manit kemudian Alesa membuka mukena dan menggantungnya, lalu mengambil niqab dan jilbab di atas nakas dan memasangnya.


Perlahan Alesa keluar kamar, dia berpapasan dengan Saera saat menuju dapur. Saera sedang mengering rambutnya yang basah dengan handuk, seraya kembali ke kamar membawa segelas air putih.


"Apa mereka sudah berbaikan dan..." batin Alesa, dia tak meneruskan praduganya. Cepat-cepat dia menepis pikirannya tentang Fasya dan Saera.


Saat berpapasan tadi. Tak ada saling sapa. Saera sibuk dengan aktifitasnya, begitu juga dengan Alesa. Alesa menuju dapur mengambil sapu dan skop sampah, kemudian ke halaman depan. Sepuluh menit kemudian Alesa kembali ke dapur, meletakkan sapu dan skop sampah di balik pintu. Setelah mencuci tangannya sampai bersih Alesa membantu Sri menyiapkan sarapan.


Alesa tetap konsisten dengan perjanjiannya. Bangun pagi, mengerjakan pekerjaan rumah, membuat sarapan, setelah itu berangkat kuliah, pulang dari kuliah membersihkan rumah, memasak untuk makan malam.


Dor


Dor


Dor


"Fasya! Fasya!"

__ADS_1


Tiba-tiba rumah yang terlihat damai kedatangan seseorang, yang membuat seisi rumah terusik.


__ADS_2