Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Kartu ATM


__ADS_3

Part 70


Berada di rumah sebesar ini, bagaikan mimpi bagi Alesa. Benarkah sekarang rumah ini miliknya? Alesa memindai kesegala sudut ruangan. Tak henti Alesa mengucap syukur kepada Allah. Walaupun perjalanan hidup yang telah dilalui tak semanis takdir yang diharapkannya.


"Di bawah ada empat kamar, di atas juga ada empat kamar. Non bisa pakai semua kamar mana saja, kecuali kamar utama," ujar Abdullah menjelaskan.


"Apa rumah ini pernah ditinggali keluarga papa Malik?" Tanya Alesa, karena melihat keadaan rumah yang begitu apek. Seperti penginapan saja.


"Tidak. Non! Rumah ini dibeli pak Malik setelah Fasya menikah. Sebelumnya pak Malik ditinggal di rumah mendiang istrinya yang ditempati Fasya sekarang," jelas Abdullah lagi.


"Jadi rumah itu peninggalan mendiang ibu mertua," batin Alesa.


"Aku harus mendapatkan kembali rumah itu," batin Alesa lagi.


"Tolong bapak masukkan saja tas saya ke kamar dekat ruang tengah," titah Alesa.


Setelah itu Alesa mengajak Sri mengitari rumah. Sri yang sudah beberapa kali datang ke rumah ini, tentu saja sudah tahu dan hapal seluk beluknya.


"Non! Terima kasih, karena non mengijinkan saya tinggal di sini bersama non, kalau tidak saya tak tahu harus tinggal di mana," ujar Sri.


"Bibik tidak usah sungkan begitu," ujar Alesa menyuruh Sri memilih kamar mana yang akan di tempatinya.


Sebagai asisten rumah tangga, Sri tahu diri. Walaupun Alesa mengijinkannya menempati kamar mana saja. Sri memilih kamar yang pernah di tempati asisten rumah tangga Malik yang bernama Lara.


Setelah mengetahui seluk beluk rumah. Alesa masuk ke kamar. Meletakkan tas tangan dan ponselnya di atas nakas. Perlahan dia naik ke atas tempat tidur, seakan dia takut membuat lecet spray yang terbentang rapi.


Baru saja Alesa ingin merebahkan tubuh, ponsel yang tadi di letaknya di nakas bergetar. Sejenak Alesa menatap layar ponsel yang bercahaya. Alesa meraih ponsel, lalu menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau.


"A-assalamualaikum," sapa Alesa gugup, saat mengetahui kalau yang meneleponnya adalah Malik.


"Alesa! Kamu lagi di mana?" Tanya Malik setelah membalas salam Alesa.


"Di-di rumah papa," jawab Alesa ragu.


"Jangan bilang rumah papa. Itu sudah jadi rumahmu," ujar Malik.


"I-iya. Pa! Terima kasih."


"Sekarang pergi ke ruang karja di samping perpustakaan mini," titah Malik.


Sambil tetap menaruh ponsel di telinga, Alesa beranjak mengikuti arahan Malik. Begitu Alesa sudah di ruang kerja, Malik meminta Alesa membuka laci meja dan mengambil kotak berwarma hitam.


"Di dalam kotak itu, ada kartu ATM. Pinnya tanggal, bulan dan tahun lahir Fasya. Semua uang yang ada di ATM itu sudah jadi milikmu, hadiah pernikahanmu dengan Fasya dari papa."


"Tapi. Pa..."


"Tak ada tapi-tapi. Papa tidak mau mendengar penolakan," ujar Malik.


Sebenarnya Alesa ingin mengatakan pada Malik, kalau pernikahannya dengan Fasya telah berakhir. Namun, saat Malik tidak memberinya kesempatan berbicara, akhirnya Alesa diam.


"I-iya. Pa! Terima kasih," ujar Alesa untuk yang kedua kalinya.


Setelah bicara begitu, Malik menutup panggilan teleponnya. Alesa pun kembali ke kamarnya. Baru saja dia ingin kembali merebahkan tubuh lelehnya, terdengar lagi getaran ponselnya.


"Umi," batin Alesa, kala melihat pemanggil dari layar telepon.

__ADS_1


Bergegas Alesa menggeser gagang telepon berwarna hijau, begitu panggilan terhubung. Alesa mengucapkan salam.


"Al! Abi masuk rumah sakit lagi," terdengar suara Asyiah lirih, setelah membalas salam Alesa.


"Umi tak punya uang untuk membayar pengobatan abi," ujar Asyiah lagi dengan suara terisak, terdengar sangat sedih.


Sejatinya Asyiah tidak ingin merepotkan Alesa. Tapi dia tak tahu harus mengadu ke siapa lagi, lagian kemaren Fasya juga berjanji akan membiayai semua pengobatan Abdurrahman.


"Umi! Umi tenang ya. Aku akan usahakan untuk mengirim uang ke umi," ujar Alesa.


Alesa bangkit dan turun dari tempat tidur, meraih kartu ATM yang tadi baru diserahkan Malik padanya. Sejenak keraguan menghantui Alesa, dia menimang-nimang kartu itu, lalu menarik nafas dalam.


"Papa Malikkan sudah bilang kalau semua uang yang ada di kartu ini, milikku," batin Alesa, lalu dia pun bergegas meraih tas tangan dan mencantolkan di bahu, kemudian keluar kamar seraya mengakhiri panggilan telepon Asyiah dengan mengucap salam.


Alesa menuju jalan samping, menyampiri Abdullah yang tinggal di paviliun. Alesa mengetuk pintu paviliun yang tidak ditutup rapat. Dari dalam terdengar suara kaki diseret.


"Non Alesa."


Abdullah menguakkan pintu paviliun selebarnya dan menyilakan Alesa masuk. Alesa menolak masuk karena dia menemui Abdullah hanya ingin menanyakan Anjungan Tunai Mandiri terdekat.


"Dua ratus meter dari sini ada simpang tiga, belok kiri sekitar dua puluh meter," jelas Abdullah.


"Apa non ingin saya antar?" Tanya Abdullah kala Alesa ingin beranjak pergi.


"Tidak usah," jawab Alesa.


"Apa mau bawa motor, saya keluarkan dari garasi?" Tanya Abdullah lagi.


"Tidak. Jalan kaki saja, biar lebih sehat," sahut Alesa, kemudian berlalu.


Alesa keluar pagar, mengikuti arahan Abdullah, setelah berjalan lebih kurang lima belas menit, Alesa menemukan simpang tiga belok kiri, benar di depan sana berdiri Anjungan Tunai Mandiri. Saat sudah berada di depan Anjungan Tunai Mandiri, Alesa ragu untuk masuk, karena dia belum pernah menggunakan kartu ATM.


"Apa ku tanya Makita," batin Alesa, seraya menggulir layar ponselnya mencari nomor ponsel Makita.


Setelah terhubung, Makita pun menjelaskan bagaimana cara menggunakan kartu ATM. Dari penjelasan Makita tidak terlalu ribet.


"Tadi papa Malik bilang pinnya tanggal, bulan dan tahun lahir Fasya."


Alesa menarik nafas panjang, pasalnya dia tak tahu tanggal, bulan dan tahun Fasya lahir. Alesa kembali menggulir layar ponselnya, menghubungi nomor kontak Sri. Tapi Sri mengatakan tidak tahu.


"Duh, apa harus ku tanya papa Malik," batin Alesa.


"Ah. Roy saja," gumam Alesa.


Kembali menggulir layar ponselnya, Alesa mencari nomor kontak Roy dan meneleponnya.


"Tanggal sembilan belas bulan maret tahun sembilan belas sembilan empat," ujar Roy.


"Tanggal sembilan belas, berarti Fasya ulang tahun besok," gumam Alesa dalam hati.


Setelah mengucapkan terima kasih, Alesa memutuskan panggilan teleponnya, kemudian masuk ke Anjungan Tunai Mandiri. Di dalam Anjungan Tunai Mandiri ada tiga mesin ATM, dan ada dua orang yang sedang menarik uang.


Alesa berdiri sejak, melirik dengan sudut mata pada mesin ATM yang sedang digunakan seseorang. Dilihatnya seorang laki-laki menarik uang yang terlihat separoh dan mengambil kembali kartu ATM yang otomatis keluar.


"Bang! Bisa bantu saya," sapa Alesa sopan pada laki-laki yang berdiri di sampingnya. Saat melihat laki-laki itu telah menyelesaikan transaksinya.

__ADS_1


"Alesa!" laki-laki itu menyebut nama Alesa saat menoleh.


"Bang Brayen!" balas Alesa senang.


Ternyata laki-laki itu teman Bambang. Alesa sudah beberapa kali bertemu Brayen dan dia pun sudah di kenalkan Bambang.


"Kamu mau narik uang?" Tanya Brayen, seraya menatap tangan Alesa yang sedang memegang kartu ATM.


"Tidak! Aku mau tranfer ke kampung untuk biaya obat abiku," jawab Alesa.


"Abang bisa bantu aku? aku tak pernah menggunakan kartu ATM sama sekali, jangankan mentranfer uang, menarik saja aku tak pernah, biasa semuanya dilakukan oleh abangku."


"Oh. Emang abangmu ke mana?" Tanya Brayen lagi.


"Pergi bulan madu ke Bukit tinggi sama istrinya," jawab Alesa. Alesa tahu kalau Fasya dan Carla ke Bukit Tinggi, karena tadi Roy yang mengabarinya.


"Mau tranfer berapa?" Tanya Brayen.


"Tunggu sebentar ya. Aku telepon umi dulu, dia butuh berapa," ujar Alesa.


Alesa memanggil nomor kontak Asyiah, panggilan pertama tak diangkat, begitu juga panggilan ke dua. Alesa mengulang kembali panggilan berikutnya.


"Assalamualaikum umi. Untuk pengobatan abi berapa biaya yang umi butuhkan?"


"Tiga puluh juta. Nak! Kata dokter Abimu harus cuci darah gitu. Umi juga tidak ngerti," jawan Asyiah setelah membalas salam Alesa.


"Apa Fasya sudah memberikan uangnya padamu?" tanya Asyiah harap cemas.


"I-iya mi. Alesa kirim ke rekening pak RT, seperti biasa mi," ujar Alesa, lalu mematikan panggilan teleponnya, setelah mengucap salam.


"Tiga puluh juta," gumam Alesa dalam hati, ada kecemasan tergambar di wajahnya. Takut jika uangnya tidak cukup.


"Brayen! Ajari aku cek saldo dulu," kata Alesa.


Brayen mengajari Alesa cara memasukkan kartu ATM, kemudian memasukkan personal identification number, lalu cek saldo. Mata Brayen melotot saat melihat angka yang tertera di layar mesin ATM.


"Tiga ratus juta," batin Brayen. Bukan Brayen saja yang terkejut Alesa juga. Untungnya Brayen tidak melihat keterkejutan di wajah Alesa, karena terhalang cadar.


"Ternyata dia anak orang kaya. Aku harus bisa mendekati dan menjadi pacarnya." Batin Brayen.


"Banyak sekali isi tabunganmu," tanya Brayen lagi.


"Ini ATM abang aku," jawab Alesa asal.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Brayen.


Brayen kembali fokus ke layar mesin ATM, mengajari Alesa memasukkan rekening bank tujuan, lalu menulis jumlah yang akan ditranfer.


"Ah. Ternyata gampang," ujar Alesa seraya mengambil kembali kartu ATMnya dan memasukkan ke dalam tas.


Brayen dan Alesa pun ke luar dari ATM secara bersamaan. Brayen menawarkan diri mengantar Alesa pulang, setelah mengetahui Alesa tidak membawa kendaraan. Walaupun Alesa sudah menolak. Namun, Brayen terus mendesak, dan akhirnya Alesa berhasil dibuat Brayen naik ke boncengan motornya.


"Hay! Apa kamu tak mengajakku masuk. Aku haus nih, kasih aku air putihnya," ujar Brayen ketika Alesa mengucapkan terima kasih dan turun dari boncengan.


Tertegun sejenak, perasaan Alesa Ambigu. Haruskah dia mengajak Brayen masuk atau membiarkannya di teras saja.

__ADS_1


"Kalau kamu keberatan. Nggak apa-apa, aku pulang saja," rajuk Brayen.


__ADS_2