Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Baru Permulaan


__ADS_3

Part 63


"Nih! Kamu antar, kalau salah juga tumpahkan kekepalanya," titah Saera menyerahkan gelas kopi ke Alesa.


Ucapan Saera keluar dari mulutnya, karena bentuk ke kesalannya. Selama ini dia tidak pernah tahu kalau Fasya secerewet itu hanya dalam urusan kopi. Karena memang dia tak pernah mengurus hal yang berhubungan dengan perut suaminya. Semua masalah dapur sepenuhnya diserahkan ke Sri asisten rumah tangganya.


Rasa penasaran membuat Saera menunggu Alesa keluar ruang kerja Fasya, ingin tahu apa reaksi Fasya, setelah meminum kopi yang dicampur Saera dengan obat tidur dosis tinggi. Apakah Fasya tahu kalau kopi itu telah bertambah resepnya.


Beberapa detik kemudian Alesa ke luar dari ruang kerja Fasya, dengan tangan kosong, itu artinya pesanan kopi sudah sesuai selera Fasya.


"Bagaimana?"


Alesa tidak menjawab pertanyaan Saera, dia cukup mengangkat jempol tangannya tanda sudah sukses. Saera beranjak masuk ke kamarnya. Begitu juga Alesa dan Sri masuk ke kamar masing-masing.


"Ternyata Fasya tak sepintar yang aku duga, dia tahu rasa kopi adukkan dari arah mana, tapi dia tak tahu, kalau kopinya sudah bercampur dengan benda lain," batin Saera seraya tersenyum tipis.


Satu jam dari perhitungan Saera, kalau obat di kopi tadi pasti sudah bereaksi. Saera keluar menuju ke ruang kerja Fasya. Benar dugaan Saera. Obat itu sudah melakukan tugasnya dengan baik, Fasya sudah ngantuk berat gara-gara obat tidur itu.


Berkali Fasya menguap, dia berusaha menahan kantuk, dengan membuka mata lebar-lebar. Namun, pengaruh obat yang di minum membuat Fasya tak bisa bertahan.


"Saatnya beraksi," batin Saera seraya mendekati Fasya.


"Kalau sudah ngantuk. Jangan dipaksakan," ujar Saera, memijat kedua bahu Fasya dengan tangannya.


Sejenak Fasya menumpukan kepalanya di sandaran kursi, merasakan enaknya gerakan Saera dia bahunya. Jarang-jarang Saera mau melakukan ini.


Tiba-tiba kepala Fasya terasa pusing, matanya mulai mengabur, dia berusaha berdiri dan tubuhnya oleng. Secepatnya Saera menyangga dengan tubuhnya, lalu membantu Fasya berjalan dan memapah masuk ke kamar.


"Aman," gumam Saera, begitu Fasya tersentuh kasur, dia pun langsung tertidur.


Perdetik kemudian dengkuran Fasya pun terdengar. Fasya sudah masuk ke alam mimpi, dia melupakan malam pengantennya bersama Carla.


"Sekarang tinggal tunggu reaksi Carla," batin Saera tersenyum, seraya melirik jam di dinding.


"Masih dua jam lagi," gumam Saera rasa tak sabaran melihat Carla bolak balik ke toilet.


*****


Sementara Carla di kamar, setelah meminum jus mangga yang dibuat Saera. Sambil menunggu hujan reda, dia pun rebahan. Namun tanpa sadar tertidur, hingga dia melupakan nasi uduk yang dijanjikan Fasya jika hujan reda.


Tiga jam kemudian Carla terbangun ada perasaan yang melilit-lilit di perutnya. Carla meraih ponsel dan menatap jam di layarnya, sudah menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit.


"Apa Fasya masih di ruang kerja?" Batin Carla bertanya-tanya.

__ADS_1


Carla turun dari tempat tidur, melangkah menuju ke pintu. Namun, belum sempat dia meraih gagang pintu, sakit perutnya melilit.


"Aduh. Sakit sekali." Carla berlari ke kamar mandi.


Sepuluh menit berada di kamar mandi, lumayan capek karena klosetnya masih jongkok. Baru saja keluar dan menarik nafas lega, perutnya kembali melilit, dia masuk toilet lagi. Begitu terus berulang hampir sepuluh kali.


Carla berinsut naik ketempat tidur, lemas karena banyak cairan yang terbuang, mana tadi perutnya baru di isi jus mangga. Sementara Fasya yang janji membelikan nasi uduk sampai jam dua belas tak kelihatan batang hidungnya.


Tangan Carla berusaha menggapai ponsel yang tadi di charger di atas nakas. Begitu ponsel sudah di tangan, dia mencari nomor kontak Fasya.


Dret.. dret.. dret...


Terdengar getaran di atas meja rias, ternyata ponsel Fasya ada di dalam kamar.


"Aku lemas kali," gumam Carla.


"Fasya pasti ketiduran di ruang kerja. Aku harus membangunkannya," batin Carla.


Sambil berpegangan di tepi tempat tidur. Carla berdiri, berinsut pelan ke depan pintu, dengan lutut dan kaki gemetaran Carla berjalan menuju ruang kerja.


"Fasya!" Carla membuka pintu ruang kerja Fasya. Gelap! Carla menutup kembali pintu itu dan bersandar. Sejenak mengambil nafas, lalu menuju ke kamar Saera.


"Fasya! Fasya!" Carla memanggil-manggil Fasya seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar.


Keyakinan Carla membuatnya nekad membangunkan Fasya. Semenit, dua menit, bahkan sepuluh menit, tak ada tanda-tanda Fasya atau pun Saera keluar.


Carla kembali mengetuk pintu, kali ini lebih kencang. Dia tidak menyerah sebelum salah satu penghuni kamarnya membuka. Dari dalam terdengar suara kaki diseret.


"Ada apa? Kenapa brisik sekali?" tanya Saera kala melihat Carla berdiri di depan pintu kamarnya.


Carla tidak menjawab pertanyaan Saera, dia menerobos masuk, kala melihat sosok Fasya terbaring ditempat tidur. Namun, Saera menghadang langkah Carla dengan kedua tangannya.


"Fasya! Fasya bangun!" Carla memanggil-manggil Fasya.


"Keluar," Saera menyeret tangan Carla.


"Lepaskan," ujar Carla menarik tangannya.


Kekuatan Carla melemah gara-gara diare yang melandanya, hingga saat Saera mencekal lengan dan menariknya keluar, Carla tak mampu bertahan, dia terseret.


Braak, Saera menutup pintu dengan kasar.


Mendapat perlakuan Saera seperti itu, Carla kembali ke kamarnya. Perutnya semakin terasa perih dan menggigit-gigit. Carla mengambil tas tangannya, lalu menumpahkan isinya, mencari-cari sesuatu yang bisa meringankan sakitnya. Bodahnya dia tak membawa satu obat pun.

__ADS_1


"Pasti Saera sudah memberi pencahar di jus mangga itu," batin Carla mengingat dan mencari penyebab dia diserang diare secara tiba-tiba.


"Tunggu saja pembalasanku. Saera! Aku akan membuat kamu diusir Fasya dari rumah ini," gumam Carla sambil mendekap erat perutnya.


Jam menunjukkan pukul dua dini hari, Carla masih berguling-guling menahan perih diperut. Dia surah berkali-kali menghubungi satpan klinik bunda permata. Namun, si satpam tak mengangkat panggilannya, karena si satpam sedang tidur nyenyak.


"Apa ku hubungi papa saja," batin Carla.


"Jangan! Jika papa tahu yang sebenarnya papa pasti akan memaksaku pulang dan memisahkan ku dari Fasya." Carla memutuskan untuk menahan rasa sakitnya sampai pagi. Dia pun berusaha memejamkan mata dan tidur.


*****


Fasya terbangun saat matahari menerpanya dari celah Ventilasi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit.


"Aku kesiangan." Fasya loncat dari tempat tidur, terus menyambar handuk langsung masuk ke kamar mandi.


Lima menit kemudian Fasya selesai mandi, dia mengambil baju dan celana panjang, dengan tergesa dia memakainya. Sambil menyisir rambut Fasya menuju ruang kerja, setelah mengambil tas, dia melangkah masuk ke kamar Carla.


Sejurus diliriknya Carla yang masih bergelung dengan selimut. Fasya meraih ponselnya di atas meja rias, dan segera keluar menuju ke garasi mobil.


Hari ini dia ada pertemuan dengan klien jam delapan tiga puluh, dia sudah terlambat hampir satu jam. Fasya membuka pintu mobil dan masuk, baru saja dia mau memasang sabuk pengaman. Ponsel di dalam sakunga bergetar.


"Assalamualaikum. Bos." Terdengar suara Roy dari sambungan telepon.


"Saya segera meluncur ke kantor, tolong kamu kasih ke klien kita," ujar Fasya setelah menjawab salam Roy.


"Pertemuan sudah berakhir. Bos! Meting dipimpin oleh nyonya Saera."


"Saera! Istri ku maksudmu?"


"Iya. Bos! Bos juga udah telat satu jam. Untung saja nyonya Saera datang tepat waktu. Jika tidak para klien kita mungkin sudah pada kabur," ujar menjelaskan panjang lebar.


"Terima kasih Saera. Kamu sudah menyelamatkan perusahaan kita," batin Fasya. Dia tak perlu khawatir lagi, karena tugasnya sudah digantikan Saera. Memang kemampuan Saera tidak diragukan. Maka Saera sangat disayang dan dibanggakan oleh bos di tempat dia bekerja.


Fasya membuka sabuk pengaman dia memutuskan tidak jadi ke kantor. turun dari mobil, kembali masuk ke rumah, meletakkan tas di ruang kerja, lalu melangkah menuju kamar Carla, dia ingin menunaikan tugasnya yang tadi malam tertunda.


"Carla! Sayang!" ucap Fasya seraya membuka kemeja dan menggantungnya di hanger. Laku berbaring di samping Carla.


Melihat Carla bergeming, Fasya menjatuhkan tangannya di atas tubuh Carla dengan posisi membelakanginya. Diamnya Carla membuat Fasya berpikir kalau Carla marah padanya, karena tadi malam meninggalkannya sendiri. Fasya menarik tubuh Carla, memakanya merubah posisi. Namun apa yang terjadi di luar dugaan Fasya.


"Carla! Carla." Fasya panik saat melihat tubuh Carla terkulai lemah.


"Carla! Apa kamu demam." Fasya meletakkan punggung tangan di dahi Carla. Tidak hangat, tapi wajah Carla sangat pucat.

__ADS_1


__ADS_2