
Part 59
Tit... Tit... Tit
"Siapa? Berisik kali," batin Alesa.
Alesa menyingkap gorden jendela, dilihatnya mobil Roy berhenti di depan rumah. Alesa ke luar dari kamar menuju pintu utama.
"Fasya sudah ke kantor," ujar Alesa saat Roy keluar dari mobil, membawa sebuah paperbag berwarna biru.
"Non! Tidak ke kampus?" Tanya Roy saat melihat Alesa masih memakai baju tidur. Sejenak Roy menatap penampilan Alesa, tidak biasa jam segini belum mandi.
"Tidak!" Jawab Alesa.
Paperbag yang di tangan Roy, Roy sodorkan ke Alesa. Alesa tidak langsung menerima, dia takut mengecewakan Roy, seperti Adra dan Bambang, karena Fasya melarangnya menerima pemberian dari siapapun.
"Apa ini?" Tanya Alesa. Kala Roy memaksanya mengambil.
"Aku juga tidak tahu. Aku cuman di suruh Fasya menyerahkan ke non," ujar Roy.
"Kata Fasya. Non disuruh memakainya," ujar Roy lagi.
Setelah menyerahkan paperbag ke Alesa, Roy masuk kembali ke mobil, membunyikan kelakson kearah Alesa lalu meluncur. Pas Roy keluar pintu gerbang rumah Fasya. Mobil Bambang sampai dan berhenti di samping pintu pagar sebelah kiri.
"Inikan mobil semalam yang mengantar Alesa." batin Roy menyelidik.
Roy memelankan mobil, menepi di pinggir jalan dan menghentikan mobilnya sepuluh meter dari rumah Fasya, dia ingin melihat siapa pemilik avanza itu. Roy mengintip dari kaca spion samping, tidak terlalu jelas, Roy hanya bisa melihat dari samping.
Bambang ke luar dari mobil membawa dua buah styrofoam berisi kwetiau sosis kesukaan Alesa. Bambang tidak menyadari kalau ada sepasang mata Roy yang memperhatikannya dengan pandangan tak suka.
Rasa penasaran membuat Roy memutar balik kembali mobilnya, menuju ke rumah Fasya, dia ingin tahu siapa laki-laki yang sekarang bersama Alesa.
Tit, Tit, Tit... Roy membunyikan kembali kelakson mobilnya.
"Siapa lagi," batin Alesa, beranjak menuju pintu utama.
"Mau apa lagi dia?" Batin Alesa bertanya. Kala dilihatnya mobil Roy kembali. Alesa berdiri di depan pintu, menunggu Roy ke luar.
"Ada apa lagi?" tanya Alesa.
"Fasya meminta saya mengambil berkas yang ketinggalan di ruang kerjanya," ujar Roy mengarang kata. Matanya melirik Bambang yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Oh, masuk dulu, biar ku ambilkan," ujar Alesa melangkah masuk ke ruang Fasya.
Alesa bingung, banyak map tersusun rapi di rak dan meja kerja Fasya. Yang mana satu.
"Berkasnya di map warna apa?" Teriak Alesa dari dalam ruang kerja bertanya.
"Merah," jawab Roy asal.
Saat Alesa beranjak masuk ke ruang kerja Fasya. Roy mendekati Bambang.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Roy menyelidik sambil duduk di depan Bambang.
__ADS_1
"Mengerjakan tugas kuliah. Bang!" Sahut Bambang tersenyum ke arah Roy. Bambang menyodorkan tangan menyalami Roy.
"Apa tidak bisa di rumahmu kerja. Kenapa mesti ke rumah Alesa?" Tanya Roy lagi, seraya menyambut tangan Bsmbang.
"Pemuda yang tampan dan sopan," batin Roy.
"Ini tugas kelompok. Bang! Bentar lagi teman yang lain juga datang. Bang, semalam sudah sepakat mengerjakannya di sini," ujar Bambang bohong. Dia berharap setelah ini tak akan ada pembicaraan lagi.
"Itu apa?" Tanya Roy menunjuk styrofoam yang diletakkan Bambang di pangkuannya.
"Oh, ini pesanan teman-teman. Untuk snack," ujar Bambang lagi berbohong, menutupi kebohongan pertama.
Sebenarnya Roy masih ragu dengan penjelasan Bambang, dia masih ingin bertanya. Tapi Alesa sudah keburu ke luar dari ruang kerja Fasya.
"Apa ini berkasnya?" Tanya Alesa, sambil menyodorkan satu-satu map warna merah. Roy mengambil map merah itu, tanpa membuka isinya.
Setelah menerima map itu, Roy beranjak ke luar. Dia sudah berhasil mencuri foto laki-laki itu dan menyimpannya di dalam galeri. Roy melipat map merah itu dan memasukkan dalam laci dasboard. Lalu dia menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan rumah Fasya.
Sepeninggalan Roy.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Bambang memindahkan styrofoam berisi kwetiau dari pangkuannya ke atas meja.
"Belum," jawab Alesa.
"Yuk.. Kita sarapan dulu. Tadi aku beli kwetiau kesukaanmu," ujar Bambang menyerahkan satu styrofoam pada Alesa.
"Nanti saja sarapannya. Aku selesaikan dulu tugasku," ujar Alesa, meminta Bambang meletakkan kembali styrofoam di atas meja.
Alesa beranjak masuk ke kamar dan kembali lagi dengan membawa notebook, lalu menyerahkan notebook yang sudah menyala ke Bambang. Bambang memperhatikan lembaran kerja yang dibuat Alesa.
"Oh, ini mah gampang! Sepuluh menit selesai. Nggak perlu ijin, kamu bisa ngampus hari ini," ujar Bambang, dia mengeluarkan laptop dari tasnya.
"Ah... yang benar," ujar Alesa wajahnya berubah ceria.
"Iya! Serius," ujar Bambang seraya menghidupkan laptopnya.
Begitu laptopnya hidup. Bambang mencari makalahnya waktu semester satu kemaran. Untung semuanya masih tersimpan rapi. Begitu menemukan mata kuliah sastra budaya. Bambang mengklik dan membuka filenya.
Mata Alesa membulat, semua tugas yang diberikan Adra pada mahasiswa. Tertera di sana. Dua tugas yang diberikan pada Alesa pun ada.
"Apa tak dibilang plagiat, kalau copy paste punyamu," ujar Alesa.
"Gampang! Tinggal edit, tambah referensi pendapat para ahli dan ganti yang sudah ada," ujar Fasya. Lalu mengkonekkan internet ke laptopnya.
Alesa memperhatikan cara kerja Bambang, membuka google kemudian membrowsing beberapa pendapat para ahli. Mengcoppy paste ke makalah yang mau diedit.
"Ternyata kalau paham dan tahu ilmunya sangat gampang. Tak butuh waktu banyak untuk mengetik ulang," batin Alesa.
Dalam waktu sepuluh menit, Bambang sudah selesai mengedit. Kemudian merobah namanya menjadi nama Alesa di bagian cover depan.
"Bagaimana kalau pak Adra tahu, kalau malakahnya plagiat?"
"Pak Adra tak akan tahu. Kan para pendapat ahli sudah dirubah dan ditukar dengan yang lain. Kata-kata awal juga sudah di edit, beberapa pragram sudah ditambah dan dikurangi," jelas Bambang meyakinkan Alesa.
__ADS_1
"Terima kasih. Aku tak tahu, kalau tak bantu, mungkin satu harian ini, aku berkutat di depan notebook."
"Sudah kewajiban aku membantumu. Sebagai seorang sahabat, kamu jangan sungkan minta bantuanku ya."
Alesa hanya mengangguk, dia beruntung sekali punya Bambang yang baik dan juga sopan.
"Sarapan dulu yuk. Aku lapar," ujar Bambang seraya membuka styrofoam, diikuti oleh Alesa.
"Kwetiau sosis, kamu tahu saja kalau aku lagi pingin makan ini," ujar Alesa menghidu wangi gurihnya.
Sebelum menyatap sarapannya. Alesa beranjak ke dapur dan kembali lagi dengan dua gelas air putih. Meletakkan gelas itu di atas meja, lalu menikmati kwetiau yang di bawa Bambang.
Sepuluh menit kemudian isi styrofoam pun ludes tak bersisa. Bambang kembali fokus ke depan laptop untuk mengerjakan tugas Alesa yang kedua.
"Aneh! Biasa satu mahasiswa hanya diberi tugas satu materi. Masa kamu bisa dua," gumam Bambang.
Mendengar ucapan Bambang. Alesa pun menceritakan kronologi, nagi gorengnya tumpah di kelas. Bambang mendengarkan serius dan diujung cerita dia mentertawakan nasib Alesa.
"Siap-siaplah. Udah pukul sembilan tuh," ujar Fasya memonyongkan bibirnya menunjuk jam dinding. Mengingatkan Alesa.
Sejenak Alesa mengalihkan pandangannya ke arah jam, lalu menatap ke layat laptop Bambang, kemudian beranjak masuk ke kamar, setelah pamit dengan Bambang.
Sementara Bambang menyelesaikan tugas kuliahnya. Sambil membawa paperbag pemberian Roy yang tadi belum sempat disimpannya. Alesa masuk ke kamar, meletakkan paperbag itu di atas tempat tidur.
Alesa lalu menyambar handuk dan beranjak masuk ke kamar. Lima menit kemudian ritual mandi pun selesai. Alesa mengambil paperbag dari Roy yang diletakkannya di atas kasur. Dan Alesa mengeluarkan isinya, tiga lembar jilbab lengkap dengan niqabnya.
"Ah.. Fasya tahu saja, kalau aku butuh jilbab warni ini," batin Alesa, seraya mendekap jilbab itu ke dadanya.
Alesa membayangkan wajah Fasya yang frekuensi sikapnya pada Alesa susah ditebak. Kadang perhatian, kadang cuek. Kadang mesra kadang ketus. Entahlah Alesa pun tak tahu sampai kapab hubungannya dengan Fasya hanya tercatat diselembar kertas surat keterangan nikah siri.
Alesa mengambil jilbab berwana abu-abu, kemudian menyesuaikan dengan baju yang dimilikinya. Alesa berdiri di depan cermin, lalu memutar tubuhnya. Setelah memakai jilbab barunya. Begitu merasa tak ada lagi yang kurang. Alesa meraih ranselnya dan keluar menemui Bambang.
Di meja tamu. Bambang sudah mematikan laptop dan menyimpan di dalam tasnya. Begitu juga notebook Alesa, sudah mati dan tertutup rapi.
"Link tugasnya sudah aku kirim lewat whatsapp," ujar Bambang seraya menyandang ranselnya.
"Terima kasih," ujar Alesa seraya memasukkan notebook ke dalam ranselnya.
"Kamu tinggal kirim linknya ke pak Adra," ujar Fasya lagi.
"Gimana caranya?"
"Nanti kuajari kalau kita sudah sampai ke kampus," ujar Bambang seraya beranjak dari duduknya keluar pintu utama, menuju mobil.
"Silakan," Bambang membuka pintu mobil untuk Alesa.
Alesa merasa bagai ratu diperlakukan Bambang, lagi-lagi dia berkhayal. Andaikan Fasya bisa memperlakukannya seperti Bambang.
"Sa! Sadar. Bambang hanya milik Saera dan sebentar lagi akan jadi milik Carla. Ah bersaing dengan Saera saja aku kalah. Apalagi dengan Carla yang memiliki segalanya," batin Alesa menyadarkan dirinya agar tak terlalu berharap.
"Kamu lagi mikir apa. Sa!"
"Nggak! Nggak lagi mikirin apa pun," sahut Alesa, seraya menepis bayangan Fasya dan istri-istrinya.
__ADS_1