
Part 99
"Ini benar. Sa! Saera sudah pergi untuk selamanya." Diana memegang kedua pipi Fasya.
"Tidak! Tidak mungkin tante. Waktu itu Saera baik dan sehat saja," ujar Fasya lagi, dia tak mempercayai omongan Diana.
"Tante pasti bogong. Karena tante tidak ingin aku bertemu Saera, jadi tante mengarang cerita ini," ujar Fasya lagi seraya menepis tangan Diana dengan kasar.
Plak... satu tamparan menyadarkan Fasya.
"Lihat tulisan di batu nisan itu. Fasya," ujar Diana menudingkan telunjuknya ke baru nisan.
Bergetar bibir Fasya, kala mengeja nama yang tertera di batu nisan itu " Saera Andriyani binti Mahyudin." Fasya terduduk berlutut di tepi makam Saera.
"Tante! Apa yang terjadi dengan Saera? Kenapa dia bisa meninggal," Tanya Fasya di sela isaknya, dia mengusap batu nisan dengan tangan kananya.
Semua kenangan manis Fasya bersama Saera seketika bermunculan. Tangisan Fasya berjatuhan membasahi pemakaman Saera.
"Maafkan aku Saera. Aku telah menyia-nyiakan kamu," batin Fasya.
Diana tidak menjawab pertanyaan Fasya, dia membiarkan Fasya menumpahkan kesedihannya. Diana ikut berjongkok di samping Fasya.
Hening seketika, hanya sesekali terdengar isak dan tarikan nafas Fasya. Fasya meraih ponsel, lalu menggulir layarnya mencari aplikasi surah yasin. Di sela derai air matanya, dia mulai membaca surah yasin.
Lama Fasya terpakur berdiam diri, memandangi pusara Saera. Andai saja dia bisa memutar waktu, dia tidak akan pernah membuat Saera sakit hati dengan menikahi Carla.
Yah... Andai saja. Tapi semua sudah terlambat. Saera sudah terkubur dalam perut bumi dan tak akan pernah kembali.
"Yuk kita pulang," ujar Diana menyentuh bahu Fasya. Laku berdiri.
__ADS_1
Sejenak Fasya menoleh ke arah Diana. Ada rasa sesak di dadanya. Kenapa tidak ada yang memberitahunya kalau Saera telah pergi selamanya.
Melihat Fasya bergeming. Diana jongkok kembali di sampingnya.
"Ayok kita pulang. Akan kuceritakan semuanya di rumah," Diana berbisik ditelinga Fasya, seraya berdiri dan melangkah pergi.
Sekali lagi Fasya mengusap batu nisa Saera, lalu berdiri dan melangkah. Sejenak Fasya berhenti, dia menoleh sambil mengucapkan selamat beristirahat untuk Saera dan berjanji akan kembali lagi suatu hari nanti.
Bergegas Fasya melangkah meninggalkan pusara Saera, dia menyusul Diana yang sudah menaiki motor bebeknya dan meluncur. Fasya masuk ke mobil dan mengikuti Diana kembali ke rumah.
Begitu sampai ke rumah, Diana meminta Fasya masuk dan duduk, kemudian Diana masuk ke dalam kamar dan kembali lagi ke ruang tamu dengan mententeng sebuah buku diary dan album foto.
Tanpa bertanya dan berkata sepatah pun. Fasya menerima buku diary dan album foto. Fasya mulai membuka halaman pertama buku diary. Di sana tertulis awal kisah hidup Saera.
(Pernikahan ini mama yang menginginkan. Aku tidak ingin jadi anak durhaka)
Kata demi kata Fasya baca dengan teliti, tak ada satu pun terlewatkan. Saera sangat patuh pada Anema, apapun yang diinginkan Anema diturutinya, walaupun bertentangan dengan hati nuraninya.
Saera mulai belajar mencintai Fasya, kala Fasya membawa Alesa masuk ke rumahnya. Saera merasakan ada cemburu saat melihat Fasya perduli dengan Alesa. Saat Saera tahu pernikahan Fasya dan Alesa keinginan Malik. Saera memberi syarat pada Fasya, Alesa boleh tinggal bersamanya tapi Fasya tidak boleh tidur dan berhubungan badan dengan Alesa.
(Awalnya biasa saja. Saat tahu Fasya menikah lagi. Bahkan aku bahagia karena Fasya membelikan mobil kesayanganku) tulis Saera diakhiri emoji ngakak.
Faktanya yang sangat mengejutkan, saat Saera sudah bisa mencintai Fasya, dia menginginkan kehidupan yang normal, mengandung dan punya anak. Baru saja dia memikirkan akan melepas alat kontrasepsinya. Dia mendapati Fasya tidur dengan Carla, di malam moment ulang tahun pernikahannya.
(Ya Allah, kenapa sesakit ini) tulis Saera.
Pada saat sakit hati mengusai emosi dan jiwanya. Saera yang ingin kehidupan normal dengan Fasya, berbalik arah sembilan puluh delapan persen. Dia memutuskan untuk meneruskan rencana Anema merebut semua harta Fasya. Dan berhasil dilakukannya.
(Ya Allah. Aku kehilang jiwa dan ragaku dengan kepergian Fasya dari hidupku. Aku mencintainya ya Allah) tulis Saera diakhiri emoji menangis.
__ADS_1
Halaman-halamam terakhir, berisi tentang kesedihan Saera. Dia ingin melupakan semua tentang Fasya, dia menjual rumah dan perusahaan yang dirampasnya dari Fasya dan mengasingkan diri selama satu tahun pulang ke Damasraya Sumatra Barat.
Dengan bermodalkan hasil penjualan rumah dan perusahaan, Saera membangun rumah makan, memulai bisnisnya di bidang kuliner. Namun, karena dia tidak kompeten di bidang itu, bulan ke bulan omset bisnisnya semakin menurun.
Tahun kedua, Saera sudah hilang dari peredaran dunia bisnis, dia menyibukkan diri, ikut organisasi amal yang mengurusi anak jalanan dan yatim piatu. Bahkan dia sudah tak memperdulikan tentang bisnisnya. Dia menyerahkan bisnis kulinernya pada adik sepupunya.
(Ya Allah. Aku sudah ikhlas dengan takdir yang kau berikan padaku) tulis Saera diakhir emoji aamiin.
Tahun ketiga. Kesehatan Saera mulai menurun, dia gampang masuk angin, demam dan alergi dengan beberapa makanan. Semakin hari badan Saera semakin kurus, mata cekung, bibir pecah-pecah dan sering batuk-batuk.
Anema berkali memintanya berobat ke rumah sakit. Namun, Saera selalu menolak dengan alasan dia tidak apa-apa, hanya alergi dengan udara dingin.
Pada tahun keempat. Saera ditemukan pingsan di kamar mandi. Langsung di bawa kerumah sakit, ternyata Saera menderita kanker hati stadium empat. Saera menyembunyikan penyakitnya selama tiga tahun terakhir.
Dua bulan Saera dirawat, tidak ada perubahan, tubuh semakin kurus tinggal tulang. Seorang kerabat menyarankan Anema membawa Alesa berobat ke Malaka.
Anema yang kehabisan dana untuk pengobatan Saera menjual rumah makan milik Saera, dari situ berakhirlah bisnis kuliner Saera. Anema pun membawa Saera berobat ke Malaka. Dua bulan berada di sana, tapi tidak ada perubahan, Anema dan Saera kembali ke Indonesia.
Sejenak Fasya menarik nafas panjang, rasa sesak berkumpul di dadanya. Kini air mata Fasya sudah menganak sungai membasahi diary yang dibacanya. Sebelum Fasya melanjutkan, matanya berpindah pada Diana yang duduk diam di depannya.
"Tante! Kenapa mama Anema tidak pernah mengabariku?"
"Saera melarangnya. Dia tidak ingin mengusik kebahagiaanmu dengan Carla."
"Sudah separah itu. Saera masih memikirkan kebahagiaanku," gumam Fasya.
Fasya kembali menarik nafas, lalu melanjutkan membaca tulisan tangan Saera di halaman terakhir.
(Tak pernah ada laki-laki lain yang mengisi hatiku, selain dia yang bernama Fasya bin Malik. Ya Allah. Aku mencintainya dan kumohon pertemukan aku disurga-Mu) tulis Saera diakhiri emoji love. Fasya menutup diary Saera.
__ADS_1
"Dua bulan setelah kembali ke Indonesia, sakit Saera semakin parah. Bahkan dia sempat koma selama dua hari dua malam. Dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan ibunya," ujar Diana seraya menyesap air matanya yang ikut merembes.
"Saera! Maafkan aku," batin Fasya seraya mengusap habis wajahnya.