
Part 47
Setelah mengganti pakaian dan melakukan shalat zuhur. Alesa keluar kamar, saat melewati ruang tengah dilihatnya Fasya sedang tertidur di sofa.
"Apa Saera tidak ikut pulang," batin Alesa seraya membuka kulkas mengambil beberapa bahan mentah untuk memasak.
Di dalam kulkan hanya tinggal satu ekor ikan gurami, Alesa memang belum belanja. Dia mengira Fasya akan kembali enam hari lagi. Karena kemaren Fasya bilang liburan selama sepekan, tak tahu kalau tiba-tiba berubah satu hari.
Ikan gurami sudah Alesa bersihkan, diberi bumbu kunyit, bawang putih, garam dan jeruk nipis. Dibiarkan beberapa menit, hingga bumbunya meresap, baru digoreng.
Saat ikan gurami sudah berada di penggorengan. Tiba-tiba Fasya sudah berdiri di samping Alesa mengejutkannya. Tanpa meminta ijin tangan Fasya sudah melingkar di pinggang Alesa. Fasya memaksa Alesa melepaskan sendok penggorengan, dan memutar tubuh Alesa agar menghadap ke arahnya.
Kedua tangan Fasya membuka tali pengikat niqab Alesa, seperdetik kemudian, belum sempat Alesa protes. Bibir Fasya sudah hinggap di bibir Alesa. Dengan lidahnya dia mengetuk agar Alesa membuka mulut.
Ini ketiga kalinya Fasya mencuri paksa pagutan di bibir Alesa. Alesa memejamkan mata, dia ikut terbawa perasaan dan menikmati lembutnya sentuhan Fasya.
"Ikannya hangus," bisik Fasya di telinga Alesa.
Alesa membuka mata, dan salah tingkah saat menyadari kalau Fasya sudah mengakhiri pagutannya dan sedang menatapnya.
Seraya meraup wajahnya yang memerah karena malu. Alesa membalikkan tubuh kembali menghadapi penggorengan. Fasya tak beranjak dari sisinya, tangannya masih melingkar di pinggang istri dengan dagu menumpu di bahu Alesa.
"Lepaskan. Bang! Nanti dilihat Saera. Aku lagi yang salah, katanya aku yang menggoda abang," ujar Alesa meminta Fasya melepaskan lingkaran tangannya.
"Saera pulang ke rumah tantenya, adik Anema. Dia merajok," ujar Fasya.
Sejak kejadian malam itu, liburan mereka berantakan, malam itu juga Saera memutus kembali ke Pekanbaru. Walaupun Fasya berulang kali meminta maaf padanya. Namun, Saera tetap membatal liburan yang direncanakannya satu minggu.
Tadi saat sampai di bandara. Saera memilih dijemput oleh supir pribadinya dan meminta diantar ke adik mamanya, dari pada ikut mobil Roy yang menjemput Fasya. Alasan Saera tidak pulang ke rumah untuk menenangkan diri beberapa hari. Fasya tidak bisa memaksa Saera ikut bersamanya dan membiarkan dia pergi bersama supirnya.
"Kenapa Saera bisa merajok. Abang sebagai suami harus bujuk dan jemput dia," usul Alesa.
Walaupun Alesa tak suka dengan karakter Saera, tapi Alesa tahu bagaimana perasaan Saera kala suami tak peduli padanya.
Mendengar ucapan Alesa, Fasya memegang kedua bahu Alesa. Dia heran melihat Alesa yang masih begitu perduli pada Saera. Pada hal Saera selalu memperbudak dia.
"Bukannya Saera sangat membencimu. Tapi kenapa kamu malah membelanya?" Tanya Fasya seakan tak percaya dengan ucapan Alesa.
"Tidak! Aku tidak membelanya. Aku hanya menyampai isi hati seorang istri," ucap Alesa dengan penuh penekanan saat mengatak seorang istri.
"Apakah isi hatimu juga begitu. Jika aku tak memperdulikanmu," ujar Fasya seraya mengangkat dagu Alesa dengan telunjuknya. Memaksa Alesa menatapnya.
Pertanyaan Fasya menghunjam Alesa, seakab memojokkannya. Alesa bingung mau menjawab apa, akhirnya dia memutuskan mengabaikan pertanyaan Fasya.
"Ya Allah. Ikannya gosong," teriak Alesa, mengalihkan pembicaraan.
"Ini gara-gara abang, ganggu Alesa masak," ujar Alesa mematikkan kompor, lalu mengangkat ikan di penggorengan yang sudah berubah warna.
__ADS_1
"Ya udah, ganti baru saja," usul Fasya, seraya tertawa, kala melihat warna gurami sudah seperti kopi.
"Ikannya sudah habis, tak ada stok lagi di kulkas," ujar Alesa menghela nafas.
"Kamu ke habisan uang belanja?"
"Tidak!"
"Kenapa nggak belanja?"
"Ku kira abang pulang pekan depan. Karena di rumah sendiri, jadi malas masak, makanya tidak belanja," jelas Alesa.
"Kalau gitu. Ganti baju, kita makan di luar," ujar Fasya memberi usul.
Ikan gurami yang hangus di buang Fasya ke dalam tong sampah, Alesa terlambat mencegahnya, masih bisa dimakan menurut Alesa karena ada bagian lain yang belum hangus. Alesa hanya menatap sedih pada ikan yang sudah tergeletak di tong sampah.
"Apa semua orang kaya seperti itu, selalu membuang-buang makanan," batin Alesa.
Penggorengan gosong, Alesa letakkan di tempat pencucian piring. Lalu dia menyusul Fasya. Fasya masuk ke kamarnya mengganti baju, Alesa pun masuk ke kamarnya. Sepuluh menit kemudian Fasya dan Alesa sudah berada di dalam mobil menuju resto favorit Fasya.
****
Di rumah tante Diana.
Begitu sampai di rumah Diana, Saera meminta supir menurunkan travelbag dari bagasi. Setelah mengantar travelbag sampai di teras, Saera pun menyuruh supirnya pulang.
"Beberapa hari lagi kembali ke sini."
Rumah bercat Abu rokok ini terlihat sepi, pintu dan jendela tertutup rapat.
"Apa tante tidak di rumah?" batin Saera bertanya-tanya. Saera ingin kejutan pada Diana, sengaja tak memberi tahu kedatangannya. Sudah hampir satu tahun Saera tak berkunjung ke rumah Diana.
Tok
Tok
Tok
Perlahan Saere mengangkat tangannya, lalu mengetuk pintu rumah Diana. Sejak berpisah dengan suaminya. Diana hanya tinggal berdua dengan asisten rumah tangga yang usianya sepantaran Saera.
Diana janda beranak satu itu bekerja sebagai karyawan bank swasta, anak hasil pernikahan dibawa suaminya, karena pada saat sidang hak asuh anak, mantan suami Diana memenangkan kasusnya, hingga hak asuh anak jatuh ketangan mantan suaminya.
Berulang Saera mengetuk pintu dan mengucap salam, seraya menatap jam di pergelangannya, menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh lima menit.
Seperlimat menit sudah Saera berdiri di depan pintu rumah Diana. Sayup Saera mendengar langkah kaki mendekati pintu, seperdetik kemudian handle diputar dan pintu terkuak.
"Saera!" Seru Diana senang, kala membuka pintu melihat Saera yang datang mengunjunginya.
__ADS_1
"Tante Diana!" Saera memeluk wanita itu dengan erat, Saera tiba-tiba terbawa perasaan, dia tak bisa menahan sakit hati, hingga tak kuasa membendung air matanya yang telah menggantung.
"Ada apa?" Tanya Diana menguraikan pelukan Saera. Menyentuh kedua pipi ponakannya yang berlinang. Diana menyesap air mata itu dengan ujung jari ibunya, lalu pandangannga berpindah pada travelbag di samping Alesa.
"Kamu kabur dari rumah?" Tanya Diana, kala melihat travelbag yang Saera bawa.
"Tidak! Aku dari Bali, langsung ke sini." jawab Alesa.
"Kamu pasti habis bertengkar dengan Fasya?" Tanya Diana lagi memegang kedua bahu Saera. Dari mata Saera yang sembab dapat Diana pastikan kalau Saera habis menangis beberapa jam.
"Tidak tante! Aku hanya kangen sama tante," ujar Saera menutupi kebohongannya.
"Tante tahu kalau kamu bohong." Diana menatap intens pada Saera di mata itu terlihat kabut kesedihan Saera.
Sejenak Saera hanya diam, tante Diana selalu tahu jika dia berbohong. Selama ini kalau ada masalah, hanya Diana tempat Saera mengadu, karena Diana lebih bijak dari Anema. Makanya setiap ada masalah Saera lebih memilih curhat pada tantenya ketimbang Anema ibunya.
"Apa Fasya menyakitimu?" Diana bertanya lagi saat melihat Saera tidak menjawab tanyanya.
Saera kembali menghambur dalam pelukan Diana. Dia tak mampu mengucapkan sakit hatinya, hingga air matalah yang menjawab semua pertanyaan Diana. Diana merengkuh bahu Saera dan mengajaknya duduk di sofa.
"Duduklah! Tenangkan dirimu." Diana mengusap punggung Saera, seakan memberikan kekuatan pada ponakan satu-satunya itu.
"Bibik." Diana memanggil Asisten rumah tangganya.
"Iya. Nyah!" Ujar Siti tergopoh mendekati majikannya.
"Bawa masuk ke kamar travelbag Saera, habis itu buatkan teh."
"Baik. Nyah." Siti berlalu, mengambil travelbag mengantar ke dalam kamar, lalu ke dapur dan kembali lagi dengan segelas teh hangat.
Setelah meminum teh buatan Siti, Saera pun sudah terlihat tenang, tangisnya mulai mereda.
"Apa kamu sudah siap untuk bercerita pada tante?"
Saera diam seribu bahasa, dia belum siap menceritakan kejadian tadi malam yang membuat hatinya tercabik-cabik. Bahkan pernikahan Fasya dan Alesa pun masih dirahasiakan Saera dari Diana dan ibunya.
"Jika belum, lebih baik kamu istirahat dulu. Kalau kamu sudah yakin ingin menceritakannya pada tante. Tante siap untuk menjadi pendengar yang baik," lanjut Diana.
Tarikan nafas Saera menandakan kalau masalahnya sudah terlalu berat. Saera tidak tahu harus memulai dari mana. Dari pengkhianatan Fasya yang diam-diam menikahi Alesa atas permintaan Malik atau dari kejadian tadi malam.
"Ya... sudah. Kamu istirahat atau kita cari makan dulu," ujar Diana memberi pilihan.
"Tante! Aku mohon tante jangan bilang ke ibu, kalau aku ada di sini," Saera memohon pada Diana, sebelum menjawab pilihan yang dilontarkan Diana.
Jika masalah ini sampai ke telinga Anema. Pasti dia akan memaksa Saera pulang dan kembali ke rumah Fasya. Sementara Saera ingin menenangkan pikirannya dulu, sebelum kembali ke Fasya.
"I-iya. Tante akan merahasiakannya. Kamu pikir baik buruknya sebelum mengambil keputusan. Karena jika salah mengambil keputusan, kamu akan menyesal." Nasihat Diana mengena di hati Saera.
__ADS_1
Saera kembali menarik nafas panjang, mengumpulkan oksigen sebanyak-banyak, agar sesak di dadanya berkurang. Baru saja tadi malam dia mengambil keputusan untuk program punya anak. Namun, keputusan itu harus di tariknya lagi.
"Apa aku harus mengakhiri pernikahanku dengan Fasya," batin Saera.