Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Ucapan Untuk Fasya


__ADS_3

Part 71


"Non! Kok tamu tak di ajak masuk," ujar Abdullah kala mendapati Alesa dan Brayen hanya berbincang di teras sambil berdiri.


"Eh...iya. Silakan," ujar Alesa.


Tanpa membuang waktu. Brayen yang dari tadi, memang kepingin mwlihat isi rumah Alesa, melangkah masuk seraya memindai ruang tamu yang luas. Mata Brayen membulat takjub melihat interiornya bernuansa bahari dan unik, pastilah pemiliknya memiliki daya seni yang sangat tinggi. Ukiran-ukiran dinding apek dan menyejukkan mata. Sofanya pun terbuat dari kayu jati.


Alesa menyilakan Brayen duduk. Kemudian dia masuk ke dalam pergi ke dapur dan kembali lagi membawa segelas air putih dan menyerahkan pada Brayen.


"Kamu tinggal dengan siapa?" tanya Brayen seraya menenggak tandas isi gelas, setelah itu.


"Dengan keluargaku, papa, mama, abang dan dua asisten rumah tangga," jawab Alesa. Dia sengaja melakukan kebohongan agar Brayen tidak berlama-lama di rumahnya.


"Oh, kirain kamu hanya dengan asisten rumah tangga," ujar Brayen meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja. Brayen pun permisi, setelah mengucapkan terima kasih.


Sepeninggalan Brayen, Alesa masuk ke kamar, kemudian naik ke tempat tidur dan mengistirahat tubuh lelahnya.


*****


Keesokan harinya.


Alesa bangun, setelah selesai mengerjakan shalat subuh, dia turun ke halaman samping menghirup udara segar, sambil melihat Abdullah menyirami bunga-bunga yang bermekaran.


"Non! Suka bunga juga?" tanya Abdullah kala Alesa ikut merapikan ranting dan daun yang berguguran.


"Iya," jawab Alesa seraya mengangguk.


Dengan piawai Abdullah menangani bunga-bunga itu, dari memotong ranting yang dianggap tak penting, kemudian menyemprot dan memberi pupuk, Abdullah juga bercerita, kalau bunga-bunga ini kesukaan Malik.


Setelah berbincang beberapa menit dengan Abdullah. Alesa masuk ke rumah utama, melangkah masuk ke kamar, meraih ponsel dan mengirim pesan whatsapp ke Fasya.


(Selamat ulang tahun Fasya, semoga berkah sisa umurnya) Alesa mengirim ucapan. Alesa berharap Fasya segera membacanya.


Di penginapan Carla yang melihat layar ponsel Fasya bercahaya, segera meraih ponsel yang tergelak di tempat tidur, kala melihat notifikasi dari Alesa. Carla membuka pesan itu, lalu menghapusnya dengan kasar.


"Dasar kampungan tak tahu malu, sudah dicerai masih caper," gerutu Carla kesal.


Dengan wajah ditekuk. Carla mengulir layar ponsel Fasya, menelepon Alesa.


"Hay! Wanita tak tahu malu. Kamu itu sudah ditalak Fasya, itu artinya kamu bukan istrinya lagi. Hallo! Nyadar ya," ujar Carla begitu panggilan terhubung.


"Aku peringatkan sama kamu. Jangan pernah hubungi suami aku lagi. Jika hidupmu mau tenang," ancam Carlan Setelah bicara begitu, Carla memutuskan panggilan, kemudian menghapus kontak Alesa dari ponsel Fasya.


"Siapa yang telepon sayang?" Tanya Fasya yang baru keluar dari kamar mandi, sambil mengusap rambutnya yang masih basah.


"Bukan siapa-siapa sayang. Salah sambung," jawab Carla berbohong. Lalu meletakkan ponsel Fasya ke posisi semula. Dia tidak mau merusak moment bulan madunya dengan menyebut nama wanita itu.


"Mandi ge, cepatan ya. Mau sarapan lapar nih," ujar Fasya seraya mengacak rambut Carla. Carla berpikir telah berjaya membuat Fasya melupakan Saera dan Alesa sekaligus.

__ADS_1


"Carla dilawan," batin Carla seraya mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi, sambil bersenandung riang, Carla menyiram tubuhnya.


*****


Sementara Alesa mengerutkan kening, kala mendapat semprotan kata-kata dari Carla. Awalnya Alesa menyangka kalau yang meneleponnya Fasya, karena ingin mengucap terima kasih. Ternyata Carla.


"Ih. Jangan sesewot itu juga kali," batin Alesa mencibir ke arah ponselnya. Seakan Carla bisa melihatnya.


Masih sedikit kesal dengan makian Carla. Alesa beranjak meraih handuk, lalu ke kamar mandi. Lima menit ritual mandinya selesai, dan lima menit kemudian dia sudah berpakaian rapi. Alesa mengambil ransel, lalu mendukungnya. Pagi ini dia akan datang lebih awal ke kampus. karena hari ini, hari pertama Alesa bekerja menjadi asisten Adra.


"Pagi. Non!" Sapa Abdullah, kala melihat Alesa ke luar dari pintu utama. Alesa hanya mengangguk ke arah Abdullah.


Sri tergopoh-gopoh berlari dari dapur sambil membawa tentengan box bekal untuk Alesa. Alesa menoleh ke arah Sri.


"Apa itu?"


"Nasi goreng kesukaan. Non!"


Alesa menerima box nasi, memasukkan ke dalam ransel, seraya mengucapkan terima kasih Alesa berjalan keluar.


"Non! Saya antar pakai mobil apa motor?" Tanya Abdullah.


Semula Alesa mau mengorder gojek, mendengar tawaran Abdullah, sejenak dia menghentikan aktifis jarinya untuk masuk ke aplikasi gojek.


"Saya order gojek saja. Pak," jawab Alesa.


Wajah Abdullah seketika berubah, selain tukang kebun, biasanya di juga mengantar dan menjemput Malik. Walaupun Malik sudah punya supir pribadi. Namun Malik lebih sering berpergian dengan Abdullah, karena Burhan selain supir, juga asisten Malik di kantor.


"Maaf pak! Kalau boleh tahu gaji bapak satu bulan berapa?"


"Dua juta. Non!"


"Nah! Itu dia pak, saya tak bisa menggaji bapak," ujar Alesa.


Bagaimana mungkin Alesa memperkerjakan Abdullah, sementara dia belum punya penghasilan untuk menggaji. Jangankan mau menggaji Abdullah, dia sendiri saja belum bisa menghasilkan uang segitu.


"Non! Tak usah pikirkan gaji saya. Saya sudah dapat makan dan punya tempat tinggal saja sudah cukup," ujar Abdullah.


"Tapi keluarga bapak butuh biaya hidup."


"Saya sebatang kara. Non! Saya tak punya keluarga," ujar Abdullah lagi dengan wajah sedih. Abdullah ikut dengan Malik sejak kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan dua puluh tahun yang lalu, saat itu Abdullah berusia dua belas tahun.


"Baiklah kalau begitu pak. Tapi untuk hari ini saya pakai gojek saja."


Mendengar keputusan Alesa. Abdullah hanya mengangguk, dia kembali melanjutkan pekerjaan membersihkan taman. Baru saja Alesa kembali fokus ke layar ponselnya. Ponselnya bergetar ada panggilan masuk.


"Bambang," batin Alesa.


"Assalamualaikum," sapa Alesa saat panggilan sudah terhubung.

__ADS_1


"Sa! Aku di depan rumahmu. Tapi pagar digembok. Apa kamu sudah di kampus?"


"Iya nih, lagi on the way," jawab Alesa sekenanya.


Tentu saja Bambang mendapati rumah yang ditempati Alesa bersama Fasya digembok, karena rumah itu sudah dikuasai Saera.


"Ke mana Saera. Kenapa dia tidak tinggal di rumah itu," batin Alesa bertanya-tanya.


Setelah mengakhiri panggilan telepon, Alesa beranjak menuju pintu pagar, dia kembali membuka aplika gojek. Namun, belum sempat dia mengorder, sebuah Suzuki GSX-S 150 warna biru berhenti tepat di sampingnya.


"Mau ngampus. Yuk naik."


Seorang Brayen telah menghampirinya. Dan menyilakan Alesa naik. Sejenak Alesa menoleh kearah Brayen.


"Ayoklah! Jangan ngecewakan aku. Udah jauh-jauh ni jemput kamu," ujar Brayem membujuk, kala melihat ada keraguan Alesa.


"Tapi..."


"Kenapa? Apa kamu tak biasa naik motor, karena setiap hari kamu diantar jemput pakai mobil?"


"Bu-bukan... Anu..."


Alesa tidak meneruskan ucapannya, dia hanya ingin mengatakan kalau dia merasa risih jika duduk di boncengan motor, karena otomatis akan berdempitan.


"Ayok Non!" Tiba-tiba Abdullah muncul dengan mengendari mobil dan berhenti di depan pintu pagar. Abdullah membuka separoh kaca mobil dan meminta Alesa masuk.


"Maaf Bang! Saya tadi sudah meminta pak Abdullah yang antar," ujar Alesa seraya menarik handle pintu mobil dan masuk.


Alesa meminta Abdullah segera meluncur meninggalkan Brayen yang masih termagu menatap mobil yang membawa Alesa. Ada bias kecewa diwajah Brayen.


"Aku tidak boleh putus asa. Harus usaha lagi, kalau mau mendapatkan gadia setajir Alesa," batin Brayen, lalu melaju menyusul Alesa.


"Terima kasih pak. Bapak sudah menyelamatkan saya dari situasi yang tidak saya inginkan."


"Itu sudah tugas saya. Non!" Ujar Abdullah terus fokus menyetir.


Tadi waktu melihat Brayen menyampiri Alesa. Abdullah yang sedang membersihkan taman, sempat menguping pembicaraan Alesa dan Brayen, karena dari pembicaan Alesa tersirat ingin menghindar, maka Abdullah berinisiaf sendiri, mengeluarkan mobil dan meminta Alesa masuk.


Dari kaca spion samping, Alesa melihat kalau Brayen mengikutinya dari belakang. Begitu mobil yang dikendarai Abdullah memasuki area kampus, jarak Brayen hanya dua meter di bekalang mobil.


Begitu mobil diparkir, Abdullah turun keluar, lalu memutar membuka pintu untuk Alesa.


"Non! Nanti saya jemput seperti biasa," ujar Abdullah, kala melihat Brayen sudah berdiri manis di samping mobilnya.


"I-iya. Pak," jawab Alesa, itu pun dilakukannya, karena dia melihat Brayen yang sudah memasang senyum termanisnya.


"Al!"


Panggilan itu, Alesa mengenalinya, spontan dia menoleh ke belakang. Mencari sumber suara.

__ADS_1


__ADS_2