
Part 49
Sejak pulang dari Bali, hubungan Saera dan Fasya tidak seromantis dulu, mereka sudah jarang terlihat sarapan dan makan malam satu meja, sudah jarang pergi ke kantor bareng, sudah jarang bertegus sapa.
Saera lebih suka memilih menghabiskan waktu ngumpul-ngumpul dengan teman-teman sosialitanya. Daripada berada di rumah.
"Saera! Aku ingin bicara padamu. Kita tidak bisa seperti ini terus," ujar Fasya.
"Jadi mau mu seperti apa?" Tanya Saera sambil menatap Fasya.
"Bisakah kita bicara baik-baik," ujar Fasya lagi.
"Tak ada lagi yang perlu dibicarakan," Saera menepis tangan Fasya yang berusaha merengkuhnya.
"Tapi Saera...."
"Aku sudah tidak butuh penjelasan apapun lagi. Jika kamu sudah tidak mau mempertahankan rumah tangga kita. Kamu bisa menyerahkan ku kembali pada ibuku," ucap Saera dengan suara lantang. Hati terlalu sakit atas perbuatan yang telah Fasya lakukan.
Perdebatan itu berakhir dengan hempasan pintu kamar dari Fasya. Fasya yang berniat ingin memperbaiki hubungannya dengan Saera, malah tersulut emosi dengan ucapan Saera.
Sejak saat itu. Fasya selalu uring-uringan, marah-marah tak jelas dan emosian. Belakangan ini dia banyak menghabiskan waktu di luar rumah, yah kalau tak di kantor, nongkrong dengan rekan bisnisnya sekedar ngopi, Hampir dua bulan sudah Fasya tidak pernah pulang ke rumah sebelum jam sepuluh malam.
Seperti malam ini, pukul sebelas malam, Fasya masih berada di kantor. Dengan wajah ditekuk, dia memaksa menyelesai laporan perusahaan.
"Bos! Udah jam sebelas nih. Pulang yuk," ajak Roy yang senantiasa selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka
"Malas pulang ke rumah. Happy dulu yuk," ujar Fasya, dia ingin mengendorkan urat-urat sarafnya yang tegang.
"Masih belum baikan sama Saera?" Tanya Roy.
Fasya menggeleng lemah. Niat baiknya tidak bersambut, Saera terus saja menabuh gendrang perang padanya. Jika Saera mengadu pada Anema, Fasya tidak tahu sumpah serapah apa yang akan di ke luarkan ibu mertuanya itu.
"Santai saja. Bos! Cewek di dunia ini banyak, kenapa...ups..." ujar Roy hampir keceplosan tentang Alesa.
Maksud Roy, kenapa Fasya tidak menerima Alesa saja. Selama Saera menabuh perang, Alesa bisa jadi tempat berlabuh Fasya. Itu yang ada dipikiran Roy. Namun, Roy tak jadi mengutarakannya, karena dia sudah berjanji pada Burhan dan Alesa. Untuk terus berpura-pura tidak tahu tentang pernikahan Fasya dan Alesa.
"Bos mau ke mana malam ini?" Tanya Roy merengkuh bahu Fasya mengajak turun. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan, agar Fasya menghilangkan kegalauannya.
Begitu sampai ke parkir, Roy membuka pintu untuk Fasya. Setelah berada di dalam mobil. Roy menarik pedal gas dan melaju ke jalan raya, meninggalkan kantor yang sudah terlihat sepi. Sepanjang perjalanan tak ada percakapan yang berarti. Fasya sibuk dengan pikirannya. Sementara Roy hanya bersenandung kecil, mengikuti irama musik yang diputarnya.
Sepuluh menit kemudian, mobil yang dibawa Roy, memasuki sebuah cafe, Roy menepi dan memarkir mobil. Lalu ke luar. Pengunjung Cafe semakin malam semakin ramai, di dalam cafe ini dilengkapi tempat karoeke. Pastinya bar yang berkedok cafe.
"Yuk!" Ajak Roya, kala melihat Fasya ragu untuk turun dari mobil, sudah lama dia tidak memijakkan kaki ke tempat ini.
"Katanya tadi mau happy. Si cantik Maya makin bohay lo," ujar Roy lagi.
"Benar?"
"Coba aja dulu, sangat beda dengan yang dulu," ujar Roy lagi. Dia menarik tangan Fasya, memaksanya keluar dari mobil.
Roy dan Fasya masuk, di dalam cafe sudah sangat berbeda. Ruangan yang penuh dengan lampu kelap kelip dan suara bising musik membuat penikmatnya menggoyangkan kepala. Roy mengajak Fasya duduk di sofa.
"May!" Roy memanggil wanita penghibur dengan tarif termahal di cafe ini. Maya cantik serta seksi dengan stelan rok dan baju yang sangat minin menghampiri mereka.
"Iya. Bos," sahut Maya seraya menghembuskan asap rokoknya, hingga membumbung tinggi. Maya mendudukkan bokongnya di samping Fasya lalu melingkarkan tangannya di leher Fasya.
Belahan dada Maya terlihat jelas mengalur, karena leher V bajunya terlalu turun ke bawa. Tentu saja model itu sengaja dibuat pegitu, untuk menarik laki-laki hidung belang. Fasya menelan salivanya kasar.
Sudah tidak terkejut lagi. Setiap kali ke sini, Maya selalu begitu, memancing dan menggoda Fasya. Namun, setakat ini Fasya belum pernah tergoda untuk melakukan esek-esek. Begitu juga dengan Maya, dia tidak mau jika ada tamu yang mengajak lanjut ke tempat tidur. Fasya tahu betul bagaimana kelakuan gadis bar itu.
__ADS_1
"Bos! Mau minum apa?" Tanya Maya bergayut manja. Aroma rokok mengguar dari mulutnya.
"Beri aku minuman terbaik di cafe ini." Pinta Fasya, seraya menepis dan menguraikan pagutan Maya. Bibir Maya memang lembut, tapi Fasya tak suka dengan aroma rokok dari mulut May.
"Menjauhlah," ujar Fasya menolak tubuh Maya, hingga Maya terduduk di lantai.
"Bos. Kenapa kasar padaku?"
"Maaf!" Fasya menarik tangan Maya membantunya bangun.
"Ambilkan minum untukku," ujar Fasya begitu Maya berdiri.
"Baik," ujar Maya lalu menjauh. Maya membisikkan sesuatu pada seorang pelayan, kemudian memberikan 2 lembaran uang berwarna merah.
"Beres," ujar sang pelayan, menuju kearah di mana Roy dan Fasya duduk.
"Silakan. Tuan," pelayan itu meletakkan dua gelas kecil, lalu mencurahkan air dari dalam botol yang dibawanya
Roy dan Fasya bersulang, setelah menghabis satu gelas, Roy bergerak menuju lantai dansa ikut bergoyang. Sementara Fasya masih duduk di sofa. Pelayan tadi menuang kembali air dalam botol kedalam gelas Fasya yang sudah kosong.
Fasya mengambil dan menengganggak bir itu untuk kedua kalinya. Tiba-tiba aliran darah di tubuhnya terasa hangat, ada yang beda dari biasanya.
"Mana. Tambah lagi," ujar Fasya mengangkat gelasnya yang sudah kosong, kearah pelayan yang masih berdiri di sampingnya.
Tenggakkan ke tiga, lima dan seterusnya. Biasanya Fasya hanya mau minum dua atau tiga gelas, setelah itu berhenti. Dia tidak mau mabuk dan tak terkendali, beda sekali dengan malam ini, Fasya mrnagih minumannya sampai habis tiga botol bir dan dia pun mabuk, bicara sudah tak jelas, kadang sekali-kali dia berteriak dan tertawa.
"Bos! kamu kenapa? kamu mabuk?" tanya Roy merampas gelas dan botol minuman dari tangan Fasya dan menyerahkannya pada sang pelayan. Roy tak pernah melihat Fasya begini.
"Apa masah Fasya begitu berat, hingga seperti ini," batin Roy.
Melihat Fasya mabuk, Roy memapahnya menuju mobil, jika dibiarkan di cafe, Roy khawatir Fasya membuat keributan.
"Pulang," jawab Roy.
"Pulang, hehehe " setengah sadar meracau sepanjang jalan, bahkan berkali-kali dia ingin membuka pintu mobil dengan paksa.
"Tenang. Bos! Sebentar lagi kita sampai," ujar Roy, kala Fasya ingin keluar dari mobil.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang membawa Fasya sudah memasuki pintu gerbang rumah Fasya. Setelah parkir, Roy menelepon Alesa, untuk Alesa terbangun saat panggilan Roy masuk.
"Assalamualaikum. Alesa tolong buka pintu. Aku mengantar Fasya yang sedang mabuk berat."
Setelah menjawab salam Roy, Alesa mematikan ponselnya, lalu bergegas ke luar kamar menuju pintu utama. Mengambil kunci gembok terali yang tergantung di samping antara pintu utama dan jendela.
Perlahan Alesa membuka pintu utama, lalu membuka genbok terali pintu, di depan pintu Roy sudah berdiri memapah tubuh Fasya yang terlihat lemah.
"Bang Fasya kenapa?" Tanya Alesa. Karena selama ini, Alesa belum pernah melihat orang mabuk minuman.
Fasya yang setengah sadar, masih meracau tak jelas, entah apa yang diucapkannya, sesekali terdengar seperti orang yang cegukan.
"Mabuk," jawab Roy melangkah masuk membawa Fasya menuju kamarnya.
Tok
Tok
Tok
Alesa mengetuk pintu kamar Saera beberapa kali, terdengar suara kaki di seret kedepan pintu kamar.
__ADS_1
"Ada apa berisik banget?" Tanya Saera sambil mengucak mata dengan punggung tangannya. Saera membuka pintu.
"Fasya mabuk," ujar Roy.
"Fasya mabuk. Bagaimana bisa?" Tanga Saera kemudian meminta Roy membawa Fasya ke tempat tidur.
"Uak," Fasya ingin muntah. Roy akhirnya membawa Fasya ke kamar mandi. Fasya memuntahkan isi perutnya.
"Alesa! Tolong ambil air putih," perintah Saera.
Alesa bergegas ke luar kamar, menuju dapur dan kembali lagi dengan satu gelas air putih dan menyodorkan ke Roy. Begitu memasti kalau Fasya sudah tidak muntah lagi lagi. Roy memapah Fasya ketempat tidur setelah memberinya minum.
"Alesa! Buka sepatu dan longgarkam pakaiannya," titah Saera lagi.
Saera mengikuti langkah Roy dan menanyakan bagaimana kronologinya hingga Fasya bisa mabuk. Karena sejak menikah dengan Saera, Fasya sudah tidak pernah menyentuh minuman haram itu.
Roy menceritakan apa adanya, kalau Fasya sangat stres dengan masalah yang sedang dihadapinya sekarang. Mendengar penuturan Roy, membuat Saera berpikir. Apakah dia salah satu penyebab Fasya kembali menyentuh minuman haram itu.
Sementara Alesa yang masih berada di kamar bersama Fasya. Sesuai perintah Saera. Alesa membuka sepatu, kaos kaki dan ikat pinggang Fasya, Kemudian naik ke tempat, melonggarkan celana Fasya dengan membuka pengaitnya, lalu membuka kancing kemeja Fasya dua dibagian dada. Terakhir Alesa menarik selimut hingga menutupi dada Fasya.
Dari mulut Fasya masih terdengar samar bicaranya, entah apa yang diucapkanya. Saat Alesa ingin turun dari tempat tidur, tiba-tiba tangan Fasya menarik paksa tubuh Alesa, sehingga Alesa masuk dalam pelukan Fasya.
Secepat kilat Fasya bangun dan menidih Alesa. Tubuh Alesa terkungkung dan terkurung dua tangan kekar Fasya. Dengan mudah Fasya menarik niqab dan jilbab Alesa dan membuangnya ke lantai. Fasya menggerayangi wajah Alesa, hingga lehernya. Alesa berusaha memberontak dengan mendorong dan memukul dada Fasya dengan tangannya. Namun, apa daya Alesa tak bisa menghentikan keganasan Fasya yang terangsang gara-gara obat yang dimasukkan pelayan suruhan Maya di cafe tadi.
Alesa hampir ke habisan tenaga, kala bibir Fasya mematuk kasar bibirnya, aroma minuman keras masih mengguar dari mulut Fasya, membuat Alesa mau muntah.
"Fasya! Jangan!" ujar Alesa mencegah Fasya yang hampir menjamah bukit kembarnya.
"Tolong!" teriak Alesa kencang.
Refleks Alesa menendang salangkangan Fasya. Fasya terjerit kecil, hingga lengah, kesempatan itu tak di sia-siakan Alesa, secapat kilat Alesa turun dari tempat tidur.
"Jangan pergi!" Lirih Fasya kembali menarik tangan Alesa. Alesa kalah cepat.
"Lepaskan!" Teriak Alesa yang sudah berada kembali dalam pelukan Fasya. Alesa mulai terisak ketakutan.
Plak.... sebuah tamparan mendarat di pipi Fasya, hingga pelukannya terurai. Ternyata teriakan Alesa, membuat Saera penasaran dan bergegas kembali ke kamar.
"Pergilah," ujar Saera menyuruh Alesa keluar dari kamarnya. Secepat kilat Alesa melarikan diri.
"Fasya! Sadar Fasya! Kenapa kamu begini," ujar Saera menggoncang bahu Fasya.
Fasya tak memperdulikan ucapan Saera, dengan gairah yang meletup-letup Fasya memaksa Saera melayaninya. Setelah hasratnya tersalurkan, barulah dia sadar.
"Saera! Maafkan aku," ujar Fasya menangis, seraya memeluk Saera yang terbaring lemah di sampingnya.
"Maaf aku juga. Tak seharus aku membuatmu begini," ujar Saera, dia membalas pelukan suaminya.
"Kita mulai dari awal lagi ya," kata Fasya mencium puncak kepala istrinya. Saera hanya mengangguk.
Sementara Roy yang masih duduk di ruang tamu, kaget saat melihat Alesa berlari tergopoh-gopoh.
"Sa! Ada apa?" Tanya Roy heran, melihat keadaan Alesa yang acak-acakan. Rambutnya berantakan tak karukaruan.
"Aku..."
Tanpa di sadari Roy menarik tubuh Alesa dalam pelukannya, kala air mata Alesa berurai. Alesa menangis terisak di bahu Roy. Roy dengan lembut mengusap punggung Alesa, merapikan rambut Alesa dengan jari jemarinya, lalu menyelipkan anak-anak rambut di telinga Alesa.
"Cup," tiba-tiba Roy mengecup puncak kepala Alesa .
__ADS_1