
Part 25.
"Ayok turun," titah Fasya menoleh ke arah Alesa. Alesa bergeming.
"Ya Allah. Kenapa bisa jadi begini," batin Alesa.
Alesa menatap ke arah Fasya, laki-laki itu fokus menatap ke depan, melihat Fasya cuek. Alesa memindahkan kembali pandangannya keluar dari kaca mobil samping. Terlihat keramaian lalu lalang kota bertuah, jalanan dan orang-orang yang sama asing bagi Aleha, ini hari ketiga dia berada di kota ini.
"Apa iya. Fasya akan menurunkanku di sini," batin Alesa lagi.
Pikiran Alesa menerawang, dengan mengantongi alamat rumah Fasya, sepertinya dia tidak perlu takut dengan ancaman Fasya. Dia bisa pulang menggunakan gojek dan ini kesempatan Alesa untuk jalan-jalan merambah kota ini.
"Hay, bukannya kamu ingin menurunkanku di sini, ini kenapa pintu masih terkunci" tantang Alesa, sambil memegang handle pintu, ucapan Alesa mengusik ketenangan Fasya.
Mendengar ujaran Alesa, Fasya menoleh ke arahnya, menatap Alesa intens, dia tidak merespon ucapan wanita itu. Kala melihat Alesa menetang dan tidak takut dengan ancamannya. Fasya jadi berubah pikiran, dia menggeser bokongnya, hingga mepet ke Alesa.
"Abang mau apa?" Tanya Alesa gugup.
Tiba-tiba tangan Fasya sudah membuka niqab Alesa, kemudian membuangnya ke kursi belakang. Alesa menoleh ke belakang dan dia menggapai-gapaikan tangannya ingin menjangkai niqabnya yang tergeletak di atas kursi. Saat tangannya hampir sampai, Fasya menggeser duduknya kembali ke belakang setir dan menjalankan mobil, hingga Alesa oleng dan niqab yang hampir digapainya terjatuh ke bawah kursi.
Dengan wajah ditekuk, Alesa kembali ke posisi awal, wajahnya cemberut. Fasya melirik dari kaca spion depan, Alesa memonyongkan bibirnya mengejek Fasya, hingga bibir mungil itu berbentuk kerucut. Fasya hanya tertawa kecil menanggapinya.
"Dasar anak kecil," ujar Fasya, kembali melirik Alesa yang masih menampilkan wajah cemberutnya. Entah kenapa Fasya menyukai wajah gemas Alesa.
Merasa kalau Fasya terus memperhatikannya. Alesa menarik sudut jilbabnya, lalu menjadikan niqab dengan cara memberi peniti dari ujung ke ujung.
"Kenapa ditutup? Hanya abang yang lihat, tidak ada laki-laki lain," ujar Fasya keberatan, dia ingin menikmati wajah istri kecilnya itu menjelang sampai ke rumah.
"Tidak boleh." Jawab Alesa.
"Kenapa? Aku suamimu," tegas Fasya.
"Kalau aku bilang tidak boleh. Yah... tidak boleh," bantah Alesa, dia makin jadi sebel sama Fasya yang merasa tak berdosa karena telah membuang niqabnya kebelakang mobil.
Fasya hanya tekekeh, mendengar gerutukan Alesa. Fasya menjadi seperti punya mainan sekarang.
"Macet," gumam Fasya menatap lurus ke depan, beberapa mobil berjejer. Fasya menghentikan mobilnya.
Alesa pun ikut memperhatikan deretan mobil di depan yang tidak bergerak sama sekali.
"Macet. Kenapa bisa macet. Apa ada mobil yang rusak di depan sana?" tanya Alesa polos, jujur dia belum pernah mengalami hal ini.
Fasya mengangkat bahunya menanggapi pertanyaan Alesa, menandakan dia tidak tahu apa-apa. Biasanya Fasya akan kesal berada di mobil, jika jalanan macet. Tapi sekarang tidak, dia malah menikmati.
"Kalau jalanan macet begini. Kapan sampainya?" Gumam Alesa kembali menatap ke depan. Di depan sana puluhan mobil masih berjejer rapi.
"Ntar malam baru sampai atau bisa juga besok pagi," jawab Fasya ngasal seraya menumpukan kepala di sandaran kursi.
__ADS_1
"Apa! Malam, lama sekali. Apa tidak ada jalan lain?" Alesa menatap layar ponselnya, jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima menit.
"Ada! Jalan atas," jawab Fasya lagi sesukanya.
Mendengar jawaban Fasya, spontan Alesa menoleh ke arah Fasya dan malayangkan cubitannya di lengan Fasya.
"Sakit tahu," ujar Fasya menarik tangan Alesa.
Tarikan Fasya yang sepontan, membuat tubuh Alesa oleng dan dia terjatuh dalam pelukan Fasya.
"Mau dipeluk aku," ejek Fasya meledek.
Mata Alesha membulat, untuk saja wajahnya ditutupi jilbab, hingga Fasya tidak bisa melihat, kalau wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Spontan Alesa menarik tubuhnya menjauh dari Fasya, lalu memindahkan pandangannya ke luar jendela. Semakin lama bersama Fasya semakin kesal Alesa dibuatnya. Untung saja macet segara berlalu dan mobil yang membawa Alesa sudah melaju di jalan raya.
Sepuluh menit kemudian, mobil yang dibawa Fasya memasuki pekarangan rumah, setelah memarkir mobil, Fasya ke luar diiringi Alesha.
"Tolong bawa," titah Fasya menyodorkan tas kerja.
Tanpa membantah, Alesa meraih tas dari tangan Fasya, lalu melangkah masuk menuju ruang kerja Fasya dan meletakkan tas kerja di atas meja.
"Sayang kamu sudah pulang?" terdengar suara Fasya bertanya pada seseorang. Fasya heran saja, bukannya semalam Saera bilang dua hari lagi baru pulang.
"Iya sayang. Tadi tidak memberitahumu, takut mengganggu pekerjaanmu," sahut Saera.
Alesa yang baru keluar dari ruang kerja Fasya, melirik dengan sudut mata. Dilihatnya Fasya dan Saera saling berpelukan lalu bertaut bibir. Alesa membuang muka lalu beranjak masuk ke kamar.
Dreet... dreet... deringan telepon membangunkan Alesa, dengan tangan kanan diraihnya ponsel yang tergeletak di nakas samping tempat tidur.
"Bambang," gumam Alesa saat melihat kelayar ponsel tertera nama pemanggilnya.
"Angkat, tidak," batin Alesa lagi, penuh kebimbangan.
Sekali lagi panggilan itu masuk. Namun Alesa tetap mengabaikannya. Padahal dia ingin sekali bicara pada laki-laki yang masih memenuhi ruang hatinya.
Alesa bangkit dari tidurnya, menggenggam erat ponselnya, lalu mundar mandir seperti setrikaan. Dia merasa berdosa karena merindukan Bambang, laki-laki yang tidak pantas dirindukannya.
"Alesa! Statusmu sudah jadi istri Fasya. Jadi jangan pernah memikirkan laki-laki lain," batinnya mengingatkan, apa yang dilakukan salah. Dia memutuskan tidak mengangkat panggilan Bambang.
Alesa duduk ditepi ranjang, lalu menatap jam yang ada di layar ponselnya, sudah menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit. Secepat kilat Alesa menyambar handuk dan mandi.
Cukup lima menit ritual mandi Alesa pun selesai, bergegas dia memakai baju, lalu shalat asar. Hampir saja shalatnya kebablasan gara-gara ketiduran. Selesai shalat asar, Alesa kedapur membantu Sri memasak.
"Bik! Kamu istirahat saja. Biar Alesa yang masak untuk makan malamnya." Titah Saera yang tiba-tiba muncul.
"Tapi. Nyah! Biar Sri..."
__ADS_1
"Jangan membantah. Jika tidak mau dipecat," ancam Saera.
"Pergilah ke kamar bibik, dari pada bibik dipecat," bisik Alesa.
Sri menatap Alesa, sebenarnya di kasian melihat nyonya mudanya, terlihat lelah. Namun, dia juga takut dipecat, karena dia butuh uang untuk biaya ibu dan adiknya di kampung.
"Non! Tidak apa-apa kalau bibik tinggal?"
"Tidak!" Jawab Alesa. Sri pun berlalu.
"Aku mau makan rendang malam ini," titah Saera.
"Tapi. Nyah..."
"Tak ada tapi-tapi. Jangan tidur sebelum masak." Ancam Saera, lalu beranjak pergi.
Alesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Masak rendang butuh bumbu yang lengkap dan waktu yang lama. Alesa membuka kalkas, dia menemukan lima potongan daging dan bumbu-bumbunya juga lengkap.
"Duh! Rendangkan pakai santan. Beli santannya di mana," batin Alesa seraya melirik jam yang tergantung manis di ruang tengah, sepuluh menit lagi pukul enam, sudah mau magrib.
Alesa berjalan pelan mengendap ke kamar Sri.
"Bik! Bik!" Alesa mengetuk pintu kamar Sri.
"Iya. Non!"
"Settt," Alesa meletakkan tunjuknya dibibir, agar Sri mengecilkan suaranya.
"Ada apa. Non?" Tanya Sri seraya menarik tangan Alesa agar masuk ke kamarnya.
Alesa duduk di tepi ranjang, lalu menceritakan permintaan dan ancaman Saera.
"Ada-ada saja, cara nyonya Saera membuat Non sengsara," gumam Sri.
"Bibik! Temani aku beli kepala. Aku tak tahu tempatnya di mana."
"Delivery saja. Non!" Usul Sri.
"Emang santan bisa delivery? Ntar kelamaan datangnya. Basi bik."
"Ngapain beli santan. Rendangnya sekalian. Non!" Usul Sri.
Sri sudah biasa delivery makanan, jika nyonya besarnya itu banyak lagu permintaan. Dan uangnya tinggal minta ganti ke Fasya dan Fasya tidak pernah keberatan untuk menganti uang Sri.
"Kalau ketahuan. Ntar aku diusir. Bik!"
"Nggak bakal. Pak Fasya itu sayang sama non. Pasti dia tidak akan membiarkan non diusir nyonya besar," sela Sri.
__ADS_1
Setelah sepakat, Sri pun memesan rendang di resto biasa. Masakannya sudah dijamin enak. Tempatnya pun dekat, dua puluh menit biasanya sudah sampai. Sementara Alesa menunaikan shalat magrib. Sri menunggu pesanan di pintu gerbang.
"Apa nyonya Saera lagi ngidam, malam-malam minta masakkan rendang," gumam Sri.