
Part 80.
"Oh. Iya! Kebetulan ketemu kamu. Aku mau mengundangmu untuk hadir ke pesta pernikahanku dan Alesa tiga bulan lagi. Undangan menyusul," ujar Bambang dengan wajah yang sangat meyakinkah.
Tentu saja ucapan Bambang membuat mata Alesa membola. Namun, dia hanya diam saja, membiarkan kebohongan Bambang mengalir begitu saja.
Debar jantung Brayen sesak seakan berhenti berdetak, sejak mengenal Alesa, dia telah menghentikan pertualangannya untuk menburu para gadis cantik. Brayen sangat menyukai kepribadian Alesa.
Mendengar berita tentang pernikahan Bambang dan Alesa, tiba-tiba hati Brayen terasa hampa. Baru kali ini dia merasa bagaimana rasa sakit saat cinta tak bersambut, selama ini dengan mudah dia mempermainkan perasaan para wanita. Apa ini karma buatnya, bahwa cintanya tak semanis takdir yang diharapkannya. Pada hal Brayen sudah yakin seratus persen bisa mendapatkan Alesa.
Separoh hati, Brayen berdiri dan menyalami Bambang, lalu dengan yakin mengucapkan selamat pada Bambang dan Alesa.
"Terima kasih. Jangan lupa datang nanti ya," ujar Alesa menguatkan drama kebohongan Bambang.
"Semoga lancar sampai hari H," ujar Brayen, kemudian beranjak dari duduknya.
Sakit! Tentu saja itu yang dirasakan Brayen, semakin lama dia berada bersama Bambang dan Alesa, kesakitan itu semakin mendera.
"Hay kamu mau ke mana?" Tanya Alesa. Dia melihat roma kecewa di wajah Brayen.
"Maafkan aku Brayen. Aku tak bermaksud membohongimu," batin Alesa dalam Hati.
Selama ini Alesa tak pernah mau melayani keramahan Brayen, karena Alesa juga tahu bagaimana sepak terjang Brayen dalam menaklukkan para gadis, kemudian meninggalkannya setelah hati para gadis patah-patah dan itu tidak akan terjadi pada Alesa
"Aku duluan. Ada urusan." Jawab Brayen suara terdengar geter.
"Hay! Makanlah dulu. Sudah lama kita tak ketemu," ujar Bambang berbasa basi menahan langkah Brayen.
Dengan alasan sudah makan dan ada kerjaan mendesak Brayen pun pergi meninggalka Bambang dan Alesa. Alesa menatap kepergian laki-laki yang berulang kali berusaha mendekatinya.
"Kamu keterlaluan ya. Bohongnya," ujar Alesa tertawa kecil.
"Maaf ya. Aku melakukan ini agar Brayen tidak mengganggumu, karena dia buaya yang harus menjauh darimu." Bambang memberi alasan.
Sebenarnya bukan itu alasan utama Bambang melakukan itu. karena dia menyukai Alesa sejak lama. Namun, Bambang selalu merasa belum pantas untuk menjadi pendamping Alesa, makanya sampai saat ini dia belum mengutarakan isi hatinya. Sejatinya Bambang takut ditolak.
__ADS_1
"Andai kebohongan kita jadi kenyataan. Kamu tidak keberatankan?" Tanya Bambang, kedengarannya bercanda. Namun itu yang sebenarnya ada dihatinya. Bambang harap-harap cemas menunggu Alesa menjawabnya.
"Kamu apaan. Bukannya kita bersahabat selamanya," ungkap Alesa menanggapi pertanyaan Bambang.
Deg... Jantung Bambang seakan berhenti berdetak, ada kecewa membias di wajah Bambang kala mendengar jawaban spontan Alesa.
"Bolehkan sahabat menjadi orang orang spesial di hatimu?" Tanya Bambang lagi seraya menatap intens pada Alesa. Entah dari mana Bambang punya keberanian bicara begitu.
"Aku..."
Alesa tak meneruskan ucapannya, karena dua orang pelanyan datang mengatarkan pesanannya.
"Lupakan saja ucapanku. Sekarang kita makan," ujar Bambang mengajak Alesa makan.
Bambang dan Alesa pun makan tanpa ada yang bicara, tiba-tiba saja terjadi ke kakuan, obrolan yang tadi belum terselesaikan mengusik benak Alesa dan Bambang. Keduanya sibuk berkecamuk dengan pikirannya masing-masing. Dua puluh menit kemudian Bambang dan Alesa pun menyelesaikan makannya.
Selesai makan, Bambang memanggil pelayan agar menghitung yang mereka makan dan meminta belnya. Begitu belnya sudah di tangan, Bambang menuju kasir dan Alesa keluar menuju parkir.
Setelah membayar, Bambang langsung menyusul Alesa yang sudah berdiri di samping mobilnya sambil menerima telepon. Begitu melihat Bambang keluar dari rumah makan dan menuju kearahnya, Alesa menutup teleponnya. Bambang membuka pintu mobil dan menyilakan Alesa masuk, lalu dia duduk di belakang stir.
"Aku..." tiba-tiba secara bersamaan Bambang dan Alesa berucap. Spontan keduanya saling pandang dan tersenyum, tentu saja Bambang tak bisa lihat senyum Alesa yang sebenarnya, karena senyumnya tersimpan di balik niqab.
"Bicaralah dulu..." ujar Bambang.
"Kamu saja duluan," balas Alesa.
"Kamu saja," ujar Bambang lagi.
Hening sejenak
Alesa menoleh kearah Bambang. Dia ragu untuk memulai percakapannya dari mana. Akhirnya Alesa memutuskan diam saja.
"Ada apa? Apa kamu ingin bicara sesuatu?" Tanya Bambang seraya melirik Alesa dari kaca spion depan.
"Tak jadi. Nanti saja, sekarang momentnya sepertinya belum pas," jawab Alesa, lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Mendengar jawaban Alesa, Bambang hanya menarik nafas.
__ADS_1
"Tadi kamu mau bicara apa?" Alesa balik bertanya.
"Aku mau mengajakmu dinner malam ini. Ada sesuatu yang ingin aku omongkan," sahut Bambang.
"Malam nanti. Kenapa tidak sekarang saja diomongkan," ujar Alesa, dia kembali menoleh kearah Bambang.
"Seperti katamu, momentnya kurang pas," balas Bambang menirukan ucapan Alesa. Mendengar kata-kata Bambang Alesa hanya menarik nafas, pandangannya kembali fokus ke layar ponsel, membaca beberapa pesan whatsapp yang masuk.
Hening kembali
Bambang membelokkan mobilnya ke sebelah kiri, masuk ke area parkir kantor Nusa Anugrah. Dia memarkir mobilnya, lalu turun membuka pintu mobil untuk Alesa.
"Nanti pulang. Aku jemput," ujar Bambang seraya menutup pintu mobil, kala Alesa sudah turun.
"Tidak usah. Aku bisa pulang bareng Dea," tolak Alesa.
"Nggak! Kamu tunggu aku jemput," ujar Bambang lagi, dia tak terima alasan apapun dari Alesa, sambil bicara begitu, Bambang masuk ke mobilnya.
Alesa yang baru saja ingin melanjutkan ucapannya. Bambang sudah masuk ke mobilnya, sebelum meluncur, masih sempat membunyikan kelakson ke arah Alesa. Alesa menatap kepergian mobil Bambang hingga menghilang di balik pagar.
"Ah. Apa semua laki-laki sifat egois," batin Alesa, seraya menghempas nafasnya kesal.
Masih dengan pikiran yang terusik kata-kata Bambang, Alesa beranjak masuk ke kantornya. Di depan pintu utama dia disambut ramah dua orang scurity, begitu masuk resepsionis pun menyapa ramah. Alesa hanya mengangguk ramah membalas semua sapaan karyawannya.
Sambil melangkah masuk ke lift, Alesa masik asik menatap layar ponselnya, dia sedang membuka aplikasi shopee, mencari model baju yang akan dipakainya untuk wisuda nanti, hingga tanpa di sadarinya ada seseorang yang mengikutinya masuk lift.
"Serius amat, lagi lihat apa?"
"Kamu Roy, ngagetin saja," ujar Alesa mendelek ke arah Roy yang sudah berdiri di sampingnya. Mendengar ucapan Alesa, Roy pun terkekah.
"Nanti aku ingin bicara sama kamu," ujar Alesa lagi, seraya melangkahkan kaki keluar dari left.
"Bicara sekarang saja. Non," Roy mensejajari langkah Alesa.
Alesa menghentikan langkahnya.
__ADS_1