Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Pendirian Alesa


__ADS_3

Part 68


"Awas kamu Saera! Aku akan membuat perhitungan," cicit Fasya marah.


Mata Fasya melotot saat melihat dua orang yang bertubuh kekar dan bertato berdiri di depan pintu utama dan tiga orang lainnya mengeluarkan barang-barang miliknya. Bagaimana bisa orang-orang asing ini dengan seenaknya mengacak-acak rumahnya.


"Hay! Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian mengeluarkan semua barang-barang Fasya?" Beberapa pertanyaan dilontarkan Carla. Suaranya terdengar sangat nyaring, hingga teriakan Carla sampai ketelinga Fasya riuh dan heboh.


"Carla," batin Fasya bergegas melangkah, saat mendengar suara istri ke tiganya.


Saat melihat Fasya dan Roy datang. Carla berlari ke luar, seraya menggerutu tak jelas. Intinya dia sangat marah pada orang-orang yang datang tanpa permisi.


"Sayang apa yang terjadi?" Ekspresi wajah Carla yang terkejut, berkerut tak karuan, kala melihat wajah laki-laki yang teramat dicintainya itu babak belur dan ada tetesan darah yang mulai mengering di sudut bibir. Carla tertegun dan meniliknya beberapa detik. Siapa gerangan yang tega membuat wajah setampan Fasya menjadi hancur berkecai.


Fasya tidak menjawab pertanyaan wanita yang menjadi pasal dia kehilangan semua harta bendanya. Andai dia tidak berkawin dengan Carla pasti ini tak terjadi. Tapi mau macam mana lagi sumua sudah terjadi. Ibarat nasi sudah jadi bubur, dinikmati saja lagi.


Fasya terdiam menatapi wajah Carla yang sedikit cemas padanya. Ada rasa kesal, ada juga rasa kasihan melihat Carla baru satu hari berada di rumahnya, malah menyaksikan kerusuhan hebat. Terjadi kekacaun yang didalangi oleh istri pertamanya. Semoga saja tidak berpengaruh pada janin dalam kandungannya.


"Siapa yang melakukan ini padamu. Biar ku hajar dia." Tanya Carla lagi geram seraya mengepal tinjunya marah. Padahal pertanyaan pertama saja belum Fasya jawab.


Lagi-lagi Fasya hanya diam, dia menarik tubuh Carla dan merengkuh dalam pelukan. Kini Saera telah meninggalkannya dengan mengambil semua miliknya, setelah tiga belas tahun bersama. Walaupun Fasya tak bisa sepenuhnya mencintai Saera. Tapi lambat laun rasa cinta itu mulai tumbuh, dan kini Saera memaksanya untuk mengikis rasa yang susah payah dipupuknya.


"Maafkan aku atas kekacauan ini," ujar Fasya mengurai pelukannya. Lalu memegang kedua pipi Carla.


"Apa yang terjadi. Katakan padaku," ujar Carla, masih penasaran.


"Saera telah mengambil dan mengusai perusahaan dan rumah ini," jawab Fasya, membuat Carla terkejut, hingga wajahnya ditekuk sedemikian rupa.


"Apa! Jadi kamu sekarang...?"


Wajah Carla menegang mendengar pengakuan Fasya, dia tidak meneruskan ucapannya. Bagaimana Fasya bisa menghidupi dia dan anaknya jika Fasya bangkrut. Carla menarik nafas panjang, lalu menelan salivanya dengan kasar.


"Iya! aku sekarang bangkrut, semua hartaku diambil Saera, sedangkan perusahaan dan rumah papa dikuasai wanita itu," ujar Fasya seraya menunjuk Alesa yang sedang berdiri di samping Roy.


Tatapan sinis Carla berpindah pada Alesa, lalu dia beranjak berjalan ke arah Alesa. Alesa seketika menatap tajam ke arah Fasya, dia terkejut mendengar tudingan Fasya yang jelas-jelas salah. Dia tidak pernah meminta pada Malik untuk mengusai seluruh hartanya.


"Kamu! Istri durhaka! Membuat stres Fasya. Apa kamu bekerjasama dengan Saera. Hah," caci maki Carla, seraya menuding telunjuknya ke arah Alesa.

__ADS_1


"Jangan pernahkan salahkan. Non Alesa," ujar Roy seraya menghalang langkah Carla agar tak semakin dekat.


Perbuatan Roy membuat Carla marah, dia menatap tajam pada Roy, seharusnya Roy membela dia dan Fasya, bukan malah membela Alesa. Carla menepis kasar tangan Roy, lalu mendorongnya dengan kasar, Roy yang tidak menyangka dapat serangan mendadak, tentu saja tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, hingga terjerembab ke tanah. Kesempatan itu digunakan Carla menyerang Alesa.


Tap... Alesa menangkap tangan Carla yang melayang di udara ingin menjambaknya. Dia tak akan membiarkan wanita bernama Carla itu menyakitinya. Carla memberontak dan berusaha menarik tangannya agar terlepas dari cekalan Alesa. Namun, Alesa malah menangkap tangan Carla yang satu lagi dan menguncinya, sehingga Carla tak berdaya.


"Lepaskan!" teriak Carla.


"Jangan macam-macam padaku. Aku bisa mematahkan tanganmu," bisik Alesa.


"Lepaskan! Sakit!" Teriak Carla lagi, tak perduli dengan ancaman Alesa.


"Tidak akan," bisik Alesa lagi semakin mengencangkan pegangannya.


"Fasya! Surah Alesa melepaskanku," ujar Carla meminta bantuan pada Fasya.


Teriakan Carla menyadarkan Fasya, yang dari tadi tertegun melihat aksi istri kedua dan ke tiganya saling serang. Fasya bergerak maju dan melerai.


"Alesa! Lepaskan Carla," titah Fasya.


Tatapan Alesa menukik ke arah Fasya, hingga Fasya menghentikan gerakan tangannya. Tatapan Alesa kemudian beralih ke Roy. Roy yang tidak ingin melihat Alesa bermasalah dengan Fasya, segera memberi isyarat dengan bahasa tubuhnya, agar Alesa melepaskan Carla.


Cekalan tangan Alesa semakin mencekik tangan Carla, hingga terdengar ringisan dari mulut Carla yang comel, lalu dengan kasar Alesa melepaskan cekalannya dan mendorong Carla ke arah Fasya.


"Ups... Pergi sana," ujar Alesa sambil mengusap-usap tangannya.


Tubuh Carla yang tak seimbang, terhuyung, untung saja Fasya dengan sigap menyanggahnya, kalau tidak sudah tentu Carla akan terjerembab ke lantai teras. Tak tahulah nasibnya bagaimana.


"Aduh," teriak Carla seraya memegang perutnya. Dia sengaja melakukan itu untuk menarik simpati Fasya.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Fasya.


Tangan kanan Fasya memegang pinggang Carla, sementara tangan kirinya ikut mengelus perut Carla yang masih datar. Mendapat perlakuan begitu, Carla tersenyum sinis penuh kemenangan ke arah Alesa.


"Sungguh memuakkan," batin Alesa.


"Tak usah di ambil hati. Non!" Bisik Roy di telinga Alesa.

__ADS_1


Suasana hati Alesa bergemuruh kecewa, walaupun berkali-kali dia berusaha menepis yang dia tak punya rasa pada Fasya. Tapi nyatanya dia selalu saja merasa tersakiti, kala Fasya acuhkan dirinya. Alesa hanya diam seraya menatap Fasya yang menggamit tangan Carla, memapahnya menuju ke mobil.


"Bik. Tolong kemas barang-barang Carla," teriak Fasya pada Sri yang ikut sedih saat melihat Alesa diperlakukan tidak adil oleh Fasya.


"Dan kamu! Aku tak akan pernah memaafkan jika terjadi apa-apa dengan kandungan Carla," kecam Fasya.


Wajah Fasya menegang menahan marah, dia tak menyangka Alesa punya keberanian itu, hingga Carla dengan mudah dilumpuhkannya. Sementara di depan Saera, Alesa terlihat lemah, selalu menurut dan tak pernah membangkang.


"Roy! Kita pergi dari sini. Malas aku melihat muka pecundang ini," ujar Fasya lagi, kata-kata pecundang ditujukannya ke Alesa, seraya meraih gagang travelbag yang berisi barang-barang Carla.


"Pak! Nasib saya bagaimana?" Tanya Sri.


"Aku sudah tidak memerlukan kamu lagi. Kamu boleh pulang kampung."


Fasya merogoh saku celananya, mengambil dompet dan mengeluarkan uang ratusan sepuluh lembar, lalu menyerahkan ke Sri.


"Ini setengah gajimu, cukuplah untuk ongkos pulang kampung," ujar Fasya lalu memasukkan kembali dompet ke saku celananya.


Setelah memberikan setengah gaji Sri, Fasya menoleh ke arah Alesa. Andai dia tidak ingat papanya Malik, sudah ditalaknya Alesa seperti Saera. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Fasya beranjak menuju ke mobil. Roy dan Alesa mengikuti langkah Fasya.


Melihat Alesa menuju ke mobilnya, Fasya mengurungkan niat masuk ke mobil. Dia berdiri di tepi bibir pintu menatap Alesa dengan tatapan tajam, kemudian berujar.


"Kamu sudah tidak butuh aku lagi. Sekarang kamu boleh pergi sesukamu," ujar Fasya.


"Tapi Aku istri. Jadi aku ikut ke mana suamiku pergi," ujar Alesa berdiri di depan Fasya.


"Istri? Aku mau menganggapmu istri. Jika kamu mau menyerahkan rumah dan perusahaan papa padaku."


Sudah Alesa duga, Fasya akan meminta apa yang diserahkan Malik padanya. Sejatinya Alesa mau saja menyerahkan pemberian Malik pada Fasya, hanya saja Alesa ingat janjinya pada Malik, kalau dia akan menjaga amanah itu sampai titik penghabisan.


"Maaf. Aku sudah janji sama papa Malik akan menjaga pemberiannya," ujar Alesa.


"Oh! Itu artinya kamu lebih mementingkan harta itu dariku. Dasar licik! Pasti kamu sudah mempengaruhi papakan?"


Dahi Fasya berkerut, ternyata Alesa tidak sebodoh, seperti yang dipikirkannya. Semua orang jika berhubungan dengan masalah harta pasti pintar, begitu juga dengan Alesa.


"Kalau begitu, mulai hari ini kamu bukan istriku lagi. Pergi sana."

__ADS_1


__ADS_2