Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Sakit yang Bertubi-tubi


__ADS_3

Part 16


Di dalam mobil Fasya


Alesa hanya diam mendengar tuduhab Fasya. Dia sedang berusaha menetralkan emosunya agar tak meletup-letup, karena apa yang dituduhkan Fasya tidaklah benar.


"Siapa laki-laki itu?" tanya Fasya penuh penekanan lagi, ada nada marah terbias. Namun pandangannya tetap fokus ke depan.


Dengan sudut mata, alesa melirik Fasya.


"Dasar egois, sudah salah, marah-marah," batin Alesa, seraya menilik wajah Fasya yang datar tak ada tergambar khawatir, membuat Alesa menarik nafas panjang.


Sementara Fasya yang tidak mendapat jawaban dari Alesa, semakin membenarkan praduganya.


"Siapa laki-laki itu?" Fasya mengulangi pertanyaannya, kali ini dia menoleh ke arah Alesa.


Alesa menarik nafas panjang, lalu menelan salivanya dengan kasar. Seharus dia yang marah-marah. Kenapa Fasya tak menjemputnya. Kenapa Fasya tak membalas whatsapp. Kenapa Fasya merijek panggilan teleponnya.


"Bukan siapa-siapa," jawab Alesa sama datarnya dengan Fasya, dia tidak bermaksud membalas tatapan Fasya.


"Bukan siapa-siapa. Tapi kenapa berduan sampai malam!" suara Fasya mulai meninggi.


"Emang salah. Jika laki-laki itu menemani aku sampai suamiku menjemput," ujar Alesa dengan suara serak, ada tangisan di balik ungkapannya.


"Ya. Jelas salah." Tegas Fasya.


Sejenak Alesa menoleh ke arah Fasya. Kembali menarik nafas dan menghembuskan kesembarang arah.


"Apa laki-laki tadi pacarmu?" Tanya Fasya lagi.


"Hanya teman biasa," jawab Alesa lagi, masih dengan suara datar.


"Hanya teman biasa, berarti ada teman luar biasa." cicit Fasya, kini terlihat nada bicaranya lebih tinggi dari tadi.


Fasya menghentikan mobilnya di tepi jalan, lalu menatap ke arah Alesa secara intens. Fasya tidak habis pikir, baru sehari Alesa ke kampus sudah punya teman cowok. Bahkan sampai lupa untuk pulang. Fasya mengenggeleng tak mengerti.


"Ke mana saja seharian ini, dengan laki-laki itu? Pacaran!" ujar Fasya lagi, matanya membulat menatap Alesa.


Hemm... Alesa kembali menarik nafas panjang, dia memilih diam bukan karena dia membenarkan tuduhan Fasya. Dia hanya lagi tidak ingin berdebat, sekarang dia lelah, dia ingin istirahat.

__ADS_1


"Alesa! tatap aku dan jawab pertanyaanku," bentak Fasya saat melihat Alesa hanya diam sambil memainkan jari jemarinya.


Mendengar bentak marah Fasya. Emosi Alesa tersulut, seharusnya Fasya meminta maaf dan menyadari kesalahannya karena telah mengabaikan panggilan telepon dan pesan whatsaap. Namun, kenapa sekarang malah Fasya menyalahkan Alesa.


"Iya! aku pacaran." jawab Alesa dengan suara bergetar, seraya menggigit bibir bawahnya, dia mencoba bertahan agar air matanya tak meleleh.


"Kau!" Fasya melayangkan tangannya ke udara.


"Abang ingin memukulku. Silakan pukul, jika itu membuatmu puas." kecam Alesa, dia meraih tangan Fasya dan memukulkan kewajah.


"Pukul aku. Bang! pukul! jika menurut Abang, aku salah," ujar Alesa diiringi dengan isak tangis.


"Ahhh...." teriak Fasya. Tangannya yang tadi sempat mengudara dipukulnya ke stir mobil, lalu dia menekan pedal gas, dan mobil kembali meluncur, dengan kecepatan lebih tinggi dari tadi.


Dada Alesa terasa sesak, isak tangisnya tak mampu meredam rasa kesal dan marah yang membuncah di hatinya. Fasya benar-benar tak menganggapnya. Sudah jelas dia yang mengabaikan Alesa, dia pula yang marah-marah.


Alesa meraup habis wajah dengan kedua tangannya. Andai dia diberi kuasa, ingin dia berteriak kencang pada Fasya. Namun, kata-kata itu tercekat di tenggorokannya.


"Sabar Alesa! Sabar," batin Alesa menguatkan hatinya.


Andai dia punya uang, andai dia sudah bekerja, andai dia tidak memikirkan penyakit ayahnya, andai dia tidak ingat biaya sekolah adik-adik. Banyak angan yang di benak Alesa. Beribu andai berloncatan.


Perjalanan selanjutnya, hening tanpa ada yang bicara lagi, Alesa membisu, begitu juga dengan Fasya. Fasya memacu mobil dengan kecepatan tinggi, beberapa kendaraan disalipnya tanpa perasaan.


"Hay! Jalan ini bukan punya nenek moyangmu," teriak pengemudi truk yang hampir oleng gara-gara menghindari mobil Fasya yang menggila.


"Dasar tak punya otak," maki yang lain.


Pejero hitam itu terus meluncur membelah jalanan. Fasya tak memperdulikan teriak-teriakan pengemudi lain. Dia terlanjur emosi, karena tak bisa melampiaskan ke Alesa, akhirnya dia kebut-kabutan.


"Ahhhgggh,"


Citttt... Alesh berteriak kencang, disambut dengan dencitan pijakan rem yang mendadak. Seekor kucing melompat dan lari terbirit-birit.


"Sial!" maki Fasya dalam hati, hampir saja dia menggilasnya. Untuk si kucing lebih gesit, kalau tidak remuk tulang belulangnya.


Uuek... Tiba-tiba Alesa mual, perutnya terasa melilit, perih dan menghentak-hentak. Pasti efek masuk angin kerena kelamaan di halte waktu hujan tadi, ditambah dengan perut lapar yang belum di isi, dan mobil yang dibawa Fasya secara ugal-ugal.


"Tahan Alesa, kamu pasti kuat. Jangan muntah!" batin Alesa menguatkan dirinya.

__ADS_1


Sementara Fasya sama sekali tak memperdulikan Alesa. Dia terus mengebut, hingga sepersepuluh menit kemudian memasuki pekarangan rumahnya. Begitu memarkir mobil, Fasya turun, membuka pintu mobil, menyeret Alesa dengan kasar.


"Masuk!" ujar Fasya mendorong tubuh Alesa hingga tersungkur di lantai kamar.


"Tak ada jatah makan malam untukmu hari ini," ujar Fasya lagi.


"Renungi kesalahan yang sudah kamu lakukan, berpakaian syar'i, tapi kelakuan murahan." Fasya menudingkan telunjukkan ke kepala Fasya


Setelah bicara seperti itu, Fasya keluar dari kamar Alesa, lalu mengunci pintu dari luar. Kemudian Fasya masuk ke kamarnya. Dia sudah tidak berminat mengulang makan malamnya yang tadi tertunda. Hari ini dia benar-benar leleh, Fasya merebahkan tubuhnya dan tertidur.


Sementara Alesa begitu Fasya ke luar dari kamarnya, dia langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi, memuntahkan seluruh isi perutnya. Rasa mual dan pusing menjadi satu, dengan sisa tenaga yang ada dia berusaha menggapai tepi wastafel, agar tidak ambruk dan luruh di lantai kamar mandi.


Setelah mencuci muka dan berkumur-kumur, Alesa menyusur dinding dan melengkah pelan menuju tempat tidur. Setelah melepas niqabnya, dia berbaring dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Rasa mules masuh menggigit-gigit perutnya. Alesh menggapai botol air mineral yang masih berisi seperempat, dengan tangan gemetar Alesa membuka tutup botol, lalu menenggak habis isinya.


Denyut di kepalanya semakin terasa nyeri, Alesa memejamkan mata, berusaha menenangkan diri. Namun, rasa perih diperut semakin memberontak, hingga Alesa merengkuh seperti udang masak, menahan rasa perih itu, akibat lapar, seperempat botol air mineral yang ditenggaknya tadi, tak mengurangi rasa sakitnya.


Beberapa kali Alesa merubah posisi baringnya. Namun, tak jua mau terlelap, perih di perut dan pusing di kepala semakin menghentak-hentak. Saking tidak tahannya merasa sakit, Alesa menggigil.


"Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus mengisi perutku" gumam Alesa, lalu dia bangkit dari tidurnya.


Alesa menggapai tas ransel yang tergantung di balik pintu. Seingat dia semalam diperjalanan, saat menuju Pekanbaru, Fasya memberinya beberapa cemilan, dan masih ada roti tersisa.


"Alhamdulillah." gumam Alesa bersyukur.


Alesha mengeluarkan isi ranselnya, ada dua bungkus roti sisir rasa coklat, sebungkus kacang garuda dan satu botol teh pucuk. Sejenak Alesa menatap dua bungkus roti itu, lalu membuka salah satunya.


Uek... Rasa mual tiba-tiba menyerang lagi, kala potongan roti lolos masuk ketenggorokan. Namun, tak bertahan lama. Dengan sisa tenaga yang ada, Alesa kembali berlari ke kamar mandi ngeluarkan isi perutnya.


Keringat dingin mengucur di dahi Alesa, tapak kaki dan tangan terasa dingin. Dengan bertumpu pada tepi wastafel, Alesa berusaha menggapai gagang pintu. Kakinya terserok-serok untuk mencapai tempat tidur.


Alesha melemparkan tubuhnya ketempat tidur, telentang tak berdaya, rasa pusing masih bergelayut manja di kepalanya, begitu juga rasa perih dan mulas melilit-lilit.


Rasa dingin yang tadi di tapak kaki dan tangan, kini menyergap keseluruh tubuh, Alesa menarik selimut hingga leher, kedua tangan memeluk perut, Alesa merengkuk di dalam selimut.


"Ya Allah. Kenapa dingin sekali," batin Alesa, semakin merapatkan selimut, bibirnya terasa bergetar.


Dalam keheningan malam, di dalam kamar full AC, keringat mengucur di seluruh tubuh Alesa. Rasa sakit kian menghentak-hentak, terdengar sayup suara rintihan Alesa yang semakin hilang ditelan gelapnya malam. Alesa tak kuat lagi menahan rasa sakit, dia pingsan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2