Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Rumah Makan


__ADS_3

Part 55


Di ruang kerja Carla


Tok


Tok


Tok


Dengan punggung tangan kanannya. Fasya mengetuk pintu ruang kerja Carla, setelah diberitahu asistennya, kalau Carla sudah menunggu kedatangannya.


"Masuk," terdengar suara wanita dari dalam.


Klik... Fasya menutar handle dan menguakkan pintu setengah lebar, dilihatnya Carla dengan posisi membelakangi sedang menulis sesuatu. Begitu mendengar langkah kaki mendekat, Carla menoleh.


"Fasya!" Mata Carla berbinar bahagia saat mengetahui kalau yang datang adalah Fasya. Karena setelah ribut dengan Saera tadi pagi, Carla sedikit khawatir kalau Saera menahan Fasya.


Senyum terkembang di wajah Carla. Walaupun masih tersisa lebam kecil gara-gara insiden tadi pagi. Carla segera menyambangi Fasya, tanpa rasa malu langsung memeluk dan menautkan bibirnya ke bibir Fasya. Carla memang sudah kehilangan kewarasan karena laki-laki itu.


Seketika Fasya menepis tangan Carla yang melingkar di lehernya, lalu menarik wajah agar menjauh dari wajah Carla, hingga tautan yang Carla lakukan terlepas. Bukan apa Fasya risih karena di ruangan itu ada perawat lain yang sedang meramu obat.


Dengan kerlingan mata, Carla meminta perawat itu keluar dari ruanganya. Perawat pun angkat kaki, keluar meninggalkan Carla dan Fasya.


"Kenapa kamu menolakku?" Tanya Carla menatap bola mata Fasya.


Melihat gelagat Fasya yang tak menyambut tempelan bibirnya. Carla cembrut dengan wajah ditekuk sedemikian rupa. Carla beranggapan kalau Fasya belum seratus persen serius padanya.


"Kita belum halal," jawab Fasya.


"Halal! Kamu masih memikirkan halal haram. Sementara kamu sudah menanam benih di rahimku," ungkap Carla tertawa mengejek.


"Carla! Jangan ungkit itu lagi. Aku minta maaf, waktu itu aku tidak sadar sama sekali," ujar Fasya, karena dia tak mengingat apa-apa, kalau dia sudah melakukan hubungan terlarang itu dengan Carla.


"Jadi menurutmu. Aku menjebakmu. Kamu jahat. Fasya! Hiks, hiks, hiks," hujat Carla seraya memukulkan tangannya ke dada Fasya.


Carla tak terima kalau dia dikatakan menjebak. Walaupun kenyataannya dia telah memasukkan sesuatu di minuman Fasya malam itu. Hingga Fasya setengah sadar.


"Maaf! Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu," ujar Fasya menarik tubuh Carla ke dalam pelukannya. Dia paling tidak tega melihat Carla menangis.


Beberapa menit Fasya membiarkan Carla dalam pelukan. Setelah tak terdengar lagi isak tangis Carla. Fasya mengurai pelukannya, lalu menyentuh kedua pipi Carla dengan kedua ibu jadi. Fasya menyesap sisa air mata Carla. Lalu menautkan bibirnya, Fasya menekuk lehar Carla agar pagutannya lebih dalam. Beberapa saat kedua insan tu menyatu dalam rasa yang sama.


"Jangan menangis lagi ya," ujar Fasya kala tautan berakhir, dia kembali merengkuh Carla dalam dekapan, lalu mencium puncak kepalanya.

__ADS_1


Carla menatap lekad pada wajah laki-laki yang di rindukannya setiap saat. Sejak dia kembali ke Pekanbaru, tak ada laki-laki lain yang ada di hatinya selain Fasya, Fasya dan Fasya. Carla sudah berusaha move on dari Fadya dengan cara mengajak Adra tunangan. Namun, gagal.


"Papa ingin bertemu denganmu," ujar Carla meregangkan pelukan Fasya.


"Papa! Ingin bertemu dengan ku." Fasya menunjuk dirinya.


"Kenapa papa Carla ada di sini. Ingin bertemu lagi," batin Fasya.


Anggukan Carla menjawab pertanyaan Fasya. Ibrahim Carlos papa Carla adalah seorang direktur PT Karya Nusa yang bergerak di bidang Industri perminyakan. Dia baru enam bulan berada di Pekanbaru, setelah nenek Carla meninggal dunia.


Ibrahim Carlos kembali ke kota bertuah ini atas permintaan mendiang ibunyamu, sebelum meninggal dunia. Dan Carla kembali ke Pekanbaru atas permintaan Ibrahim Carlos papanya. Ibrahim Carlos dinobatkan menjadi CEO dua bulan yang lalu, dan untuk sementara bertahan menjelang putri semata wayangnya menikah. Dia terkenal sebagai pimpinan yang sangat disiplin dan disegani oleh para rekan bisnisnya.


"Papa menunggu kita di kantor," ujar Carla lalu mengajak Fasya ke luar lewat jalan samping klinik menuju tempat parkir. Carla meminta Fasya menyetir mobilnya.


Fasya merogoh saku celana mengeluarkan ponsel dan menelepon Roy.


"Roy! Kamu duluan saja ke kantor. Aku masih ada urusan," ujar Fasya lewat panggilan telepon.


"Baik bos!" Jawab Roy, lalu panggilan telepon pun terputus.


Fasya dan Carla sudah berada di dalam mobil, Fasya menekan pedal gas. New Fortuner GR Sport silver milik Carla meluncur mulus membelah jalan raya.


Sepanjang perjalanan Carla merasa sangat bahagia karena sebentar lagi dia dan Fasya akan segera menikah dan setelah itu Carla akan membuat Fasya selalu berada di sampingnya.


"Selamat pagi. Non Carla," sapa Anjaini sekretaris Ibrahim.


"Ada papa?" Tanya Carla.


"Pak Ibrahim sedang ada pertemuan dengan rekan bisnisnya di hotel Permata," jawab Anjaini.


"Sampai jam berapa?" Tanya Carla lagi.


"Tadi kata bapak, jam dua belas," jawab Anjaini, seraya melihat jam di ponselnya.


"Sekitar dua puluh menit lagi," ujar Anjaini.


"Sambil menunggu papa. Kita makan siang dulu yuk," ajak Carla seraya menggamit tangan Fasya.


"Ayok," ujar Fasya.


Fasya dan Carla pun berjalan kembali menuju parkir. Sebenarnya kampung tengah Fasya dari tadi pagi belum di isi apa-apa. Begitu juga dengan Carla, habis dari bikin gaduh di rumah Faysa, Carla pulang sebentar ke rumah, langsung ke klinik, karena tadi pagi ada pasien gawat darurat yang harus dirujuk ke rumah sakit umum.


"Makan di mana?" Tanya Fasya.

__ADS_1


"Rumah makan padang, simpang lampu merah di ujung jalan ini," jawab Carla.


Tangan kanan Fasya meraih handle pintu mobil dan membukanya untuk Carla. Setelah Carla masuk, Fasya menutup pintu, kemudian dia mengeliling, masuk dan duduk di belakang stir. Fasya menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan kantor Ibrahim Carlos.


Hanya butuh lima manit, mobil


New Fortuner GR Sport silver milik Carla memasuki area parkir rumah makan. Setelah menepi dan parkir, Fasya turun diiringi oleh Carla. Mereka berdua melangkah memasuki rumah makan.


Fasya memindai ruangan mencari tempat yang kosong, hanya ada di sudut sebelah kanan, sisanya berisi semua. Fasya menarik sebuah kursi untuk di duduki Carla, kemudian dia pun duduk di samping Carla.


Sepermenit berikutnya, seorang pelayan datang menanyakan mereka mau minum apa. Fasya dan Carla memesan jeruk perasa dingin.


Tanpa di sadari sepasang mata memperhatikan gerak gerik Fasya dan Carla. Sepasang mata itu menatap dengan penuh ke bencian. Sementara Fasya dan Carla yang posisinya membelakangi, tidak tahu jika ada yang mengintainya.


Dari masuk tadi hingga duduk, tangan Carla terus saja menggemit manja, tak sedetik pun dia melepaskan lengan Fasya dan Fasya pun sepertinya tidak keberatan dengan laku Carla.


"Hay! Belum jadi istri sah sudah mesra-mersaan di depan umum." terdengar seseorang menyapa.


Sapaan itu tentu saja mengagetkan Carla dan Fasya yang baru saja mendudukkan bokongnya beberapa menit di kursi. Spontan Carla dan Fasya menoleh ke sumber suara.


"Saera!" Seru Fasya ingin beranjak mendekati. Apa lagi Saera bersama Diana.


"Di sini saja," ucap Carla mencegah, seraya menahan tangan Fasya.


Sejenak Fasya menatap Carla. Lalu menepis halus tangan Carla. Namum, Carla kembali meraih tangan Fasya dan memaksanya duduk.


"Duh! Belum nikah saja udah nurut banget," ujar Saera lagi menyindir Fasya.


Mendengar ucapan Saera, Fasya kembali menepis tangan Carla.


"Jika tidak ingin aku membuat ribut dan rusah, diam dan duduk saja di sini," bisik Carla mengancam.


"Dasar laki-laki bego, sudah tak tahu mana yang pantas di dampingi dengan tidak, sudah lupa dengan istri sahnya," ujar Saera lagi, kali ini Saera tertawa kecil, pasnya menyeringai.


"Saera. Kamu bicara apa! Hah." Fasya tampak kesal, karena malu di dengar pengunjung lain.


"Kenapa? Emang aku salah. Hah!" Suara Saera sedikit meninggi.


"Saera! Sudah! Jangan buat keributan di sini." Diana yang bersama Saera menenangkan keponakannya.


Mendengar ucapan Saera, beberapa pasang mata pengunjung menatap ke arah Carla dan Fasya. Melihat keadaan yang tidak kundusif Fasya meraih tangan Carla dan mengajaknya keluar.


"Hay! Pelakor! Mau ke mana dengan suamiku," teriak Saera.

__ADS_1


__ADS_2