
Part 72
"Pak Adra!"
Di belakang Alesa, Adra baru keluar dari mobil, sambil membawa beberapa map melangkah menuju ke arah Alesa. Seketika Alesa menghentikan langkahnya menunggu Adra.
"Sini. Aku bantu," ujar Alesa mengambil beberapa map dari tangsn Adra.
"Bang! Aku dulu ya," ujar Alesa mendahui Braye, lalu melangkah beriringan dengan Adra.
"Sial," umpat Brayen kesal.
Selalu gagal untuk mendekati Alesa, ada saja pengganggunya. Brayen menarik nafas dalam, baru kali ini dia dicuekin seorang gadis, biasanya dengan gambang dia menaklukkan para gadis, tak butuh perjuangan berarti, tebar pesona dikit, udah kelepek-kelepek tu cewek.
"Alesa memang beda," batin Brayen, lalu berbelok ke kiri menuju kelasnya.
Sementara Alesa beriringan dengan Adra menyusuri koridor kampus menuju lift, menunggu beberapa detik, begitu lift terbuka Adra dan Alesa masuk lift, lift membawa keduanya ke lantai tiga.
"Al! Kamu ada jadwal kuliah hari ini?" Tanya Adra saat sudah berada di ruangan.
"Ada. Pukul sepuluh," jawab Alesa.
Adra menyerahkan beberapa berkas pada Alesa. Dia meminta Alesa memeriksa dan meneliti hasil laporan dari mahasiswa sementer lima.
"Cocokkan dengan tabel ini," ujar Adra seraya menjelaskan cara kerjanya.
Begitu selesai menjelaskan, Adra ke luar seraya mententang tas kerja dan beberapa buku. Adra pergi menghadiri rapat Koordinasi Pejabat Struktural di Lingkungan kampus , pertemuan dihadiri oleh Rektor, para Pembantu Rektor beserta seluruh pejabat struktural, dan Senat Mahasiswa.
Sepeninggalan Adra. Alesa membuka ransel, mengeluarkan box bekal dan membukanya. Nasi gorengnya walau pun sudah dingin. Tapi masih menggoda selera, Alesa memakan bekal sarapannya. Setelah selesai makan dia baru fokus pada tugas yang diberikan Adra.
Dreet... Dreet... Dreet
Ponsel Alesa bergetar, baru juga Alesa memegang satu laporan, belum sempat dibukanya. Alesa menatap layar ponsel yang menyala tertera mana Bambang.
"Assalamualaikum," sapa Alesa.
"Sa! Kamu di mana?" Tanya Bambang setelah membalas salam Alesa.
"Aku lagi kerja," jawab Alesa, lalu mengucap salam dan mengakhiri panggilannya.
"Sa!"
Panggilan Bambang tak direspon Alesa, karena Alesa sudah memutuskan panggilan telepon. Bambang mencoba menghubungi ulang. Tapi ponsel Alesa non aktif.
"Alesa bekerja? Apa dia tidak kuliah? Kenapa dia menatikan ponselnya?" batin Bambang bertanya-tanya.
__ADS_1
Alesa sengaja mematikan ponselnya, dia hanya ingin profesional dan fokus bekerja. Harus menghasilkan uang sendiri, untuk mengobatan abinya, biaya adik-adiknya dan biaya hidupnya, karena Alesa sudah tidak bisa menghandalkan Fasya lagi.
Jam di layar ponsel Alesa sudah menunjukkan pukul sembilan empat puluh lima, lima belas menit lagi jadwal kuliahnya. Alesa merapikan beberapa berkas laporan yang sudah diselesaikan dan meletak di atas nakas.
"Lumayan. Sudah separoh," ujar Alesa lalu meraih ponsel dan ranselnya.
Sambil keluar ruangan dia mencantolkan ransel di punggung. Alesa berjalan menuju lift, menunggu beberapa detik, lift terbuka. Alesa bergegas masuk.
"Pak! Laporannya selesai kuliah, aku lanjut lagi," ujar Alesa saat masuk lift berpapasan dengan Adra yang keluar. Adra hanya mengangguk.
Begitu lift terbuka, Alesa melangkahkan kaki lebar-lebar menyusuri koridor kampus menuju kelasnya.
"Sa!"
Panggilan seseorang memaksa Alesa menoleh ke belakang. Dua orang laki-laki beriringan menghampirinya. Bambang dan Brayen.
"Maaf! Aku buru-buru mau masuk kelas," ujar Alesa membalikkan tubuh dan berlalu meninggalkan dua laki-laki yang belum sempat mengucapkan sepatah kata pun.
Bambang dan Brayen menatap kepergian Alesa, hingga dia menghilang di balik tikungan.
"Aku jatuh cinta pada Alesa?" Ucap Brayen.
"Apa!"
"Kenapa? Apa kamu menyukainya juga?" Brayen bertanya saat melihat Bambang menatapnya tajam. Sebenarnya dia tahu kalau dari gelagatnya, kalau Bambang menyukai gadis bercadar itu.
"Brayen! Alesa itu gadisku. Tolong jangan kamu usik dia, kamu boleh pacari semua cewek satu kampus ini, kecuali Alesa," ujar Bambang.
"Emang kamu sudah jadian. Belumkan?" Tanya Brayen lagi.
"Belum. Tapi aku menyukainya," ujar Bambang mengakui isi hatinya.
Hati Brayen bersorak. Ini kesempatan buatnya untuk menarik perhatian Alesa.
"Baru sekedar suka. Berarti Alesa masih milik bersama," ujar Brayen penuh pengharapan.
"Apa maksudmu?"
Mata Bambang membola, dia tak suka mendengar ucapan Brayen yang mengatakan Alesa masih milik bersama. Tapi ucapan Brayen ada benarnya, karena dia dan Alesa hanya berstatus sahabat.
"Maksudnya. Aku masih punya kesempatan mendapatkan Alesa," cicit Brayen tertawa senang.
"Brayen!" Bambang melotot dan malayangkan tinjunya ke bahu Brayen, secepat kilat Brayen mengelak.
"Kita bersaing sehat. Siapa yang bakal diterima Alesa menjadi pacarnya," ucap Brayen.
__ADS_1
"Okay," balas Bambang, keduanya pun mengadakan kesepakatan.
Brayen sangat percaya diri bisa mendapatkan Alesa dalam satu minggu. Selain pintar dia juga ganteng dan tahu bagaimana strategi menaklukkan para gadis, dengan kegantengan yang dimilikinya, sedikit dipoles perhatian dan uang, banyak cewek yang antri ingin menjadi pacarnya. Bahkan dia bisa gonta ganti pacar dalam satu hari. Dan dia yakin bisa menaklukkan hati Alesa.
Mendapat tantangan Brayen, Bambang meragukan kemampuan dirinya bisa mendapatkan Alesa. Karena dia bukan tipe laki-laki romantis. Dulu kala perberiannya ditolak Alesa, dia sedikit pun tak membujuk Alesa, dia malah merajuk meninggalkan gadis itu dalam rasa bersalah.
Bambang bukan seperti laki-laki lain yang punya cara rayuan maut untuk menaklukkan hati wanita. Dari masih putih abu-abu dia menyukai Alesa, hingga sekarang dia sudah kuliah semester lima, Bambang belum berani mengutarakan isinya hati pada Alesa.
"Ya Tuhan. Lindungi Alesa dari laki-laki hidung belang seperti Brayen," batin Bambang berdoa, seraya melangkah beriringan dengan Brayen menuju kelas.
Sementara Alesa yang sudah berada di kelas, sedang memperhatikan dengan serius penjelasan ibu Mahrita tentang Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku. Dalam melakukan pemeriksaan, auditor berpatokan pada standar auditing yang berlaku.
Satu jam tiga puluh menit, ibu Mahrita mengakhiri materi dan dia memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk membuat catatan keuangan suatu perusahaan. Setelah itu ibu Mahrita ke luar kelas, mahasiswa pun berhamburan ke luar.
"Kantin yuk," ajak Makita.
"Yuk. Aku juga lapar nih," ujar Alesa seraya memasukkan buku dan pena ke dalam tas ranselnya.
Alesa dan Makita keluar kelas, beriringan menyusuri koridor kampus, menuju kantin. Setelah memesan mereka duduk di meja lesehan paling ujung sebelah kiri.
"Sa! Boleh gabung."
Tiba-tiba saja Brayen muncul seperti hantu dan tanpa persetujuan sudah duduk di samping kanan Alesa. Tentu saja Alesa hanya bisa mengangguk. Sekilas Alesa melihat bayangan Bambang, dia pun menoleh ke arah laki-laki itu dan melambaikan tangan.
"Sini!" Ajak Alesa seraya menunjuk tempat kosong di sebelah kirinya. Bambang mengangguk lalu mendekat dan duduk.
Sejenak Bambang melirik Brayen yang duduk di sebelah kanan Alesa. Brayen memang pintar membuat para cewek tertawa dan senang, karena cara bicaranya selalu menarik dengan humor lucunya. Diakui Bambang itulah kelebihan Brayen yang dia tak punya.
"Oh, iya! Kenalkan ini teman Aku," ujar Alesa.
"Makita." Makita menyebut namanya, lalu menerima jabatan tangan Brayen dan Bambang.
"Makita masih singel nih," ujar Alesa lagi menpromosikan.
"Wah. Sama dengan Brayen, dia juga lagi jumblo sekarang dan baru putus dari pacarnya," ujar Bambang spontan punya ide.
Mata Brayen membulat mendengar celetukan Bambang. Bisa-bisanya Bambang bicara begitu, apa ini strategi Bambang untuk menjatuhkannya di mata Alesa.
"Wah. Boleh lah, Makita dan bang Brayen bisa jadi pasangan yang cocok. Cantik dan ganteng. Iya kan?" ucap Alesa tersenyum. Bambang mengacungkan dua jempol.
Wajah Makita mendadak berubah menjadi merah padam. Karena ucapan Alesa. Sesaat menatap Brayen, Makita jadi salah tingkah karena tatapannya beradu pandang. kalau boleh jujur, dia mau jika memang berjodoh dengan Brayen yang ala-ala artis korea itu.
"Dia nih yang jumblo karatan," ujar Brayen membalas ucapan Bambang. Dia berusaha menetralkan keadaan.
"Siapa bilang. Ini pacarku ada di sampingku."
__ADS_1