Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Bantuan Bambang


__ADS_3

Part 31


"Alesa! Kamu selesaikan semua laporan, baru boleh keluar dari sini. Saya mau ke kelas," ujar Adra meninggalkan Alesa di ruang kerjanya.


Bambang yang sedang berada di balkon. Dari balik kaca pembatas Bambang melihat Adra ke luar ruangan sambil menenteng tas dan beberapa buah buku. Begitu Adra menjauh dari ruangnya dan masuk lift. Perlahan Bambang menuju ke ruang kerja Adra.


Tok


Tok


Tok


Bambang mengetuk pintu ruangan. Alesa yang berada di dalam menatap kearah daun pintu.


"Alesa! Apa kamu berada di dalam."


Sayup Alesa mendengar namanya dipanggil, dia pun beranjak dan melepaskan laporan di tangannya, memutar handle dan membuka pintu setengah lebar. Tanpa diminta Bambang masuk menyelinap.


"Kenapa kamu ke sini?" Tanya Alesa sambil menjulurkan kepalanya keluar, menatap kiri kanan.


"Apa yang sedang kamu lakukan di ruang pak Adra?" Bambang balik bertanya, dia tidak menjawab pertanyaan Alesa.


Bambang duduk di sofa, mengambil salah satu tugas mahasiswa itu. Setelah membolak balik lembarannya, Bambang menoleh ke arah Alesa.


"Apa maksudnya ini. Kenapa kamu yang mengerjakannya?"


Alesa menarik nafas panjang, sebelum dia menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa. Lalu dia mencerita apa yang terjadi tadi pagi.


"Maafkan aku ya. Jadi gara-gara tadi pagi, kamu mendapat hukuman."


"Yah... Mau bagaimana lagi sudah takdir," ucap Alesa pasrah.


"Aku bantu kamu. Biar cepat selesai," ujar Bambang, dia merasa bersalah dan harus bertanggung jawab.


"Tapi..."


"Tapi kenapa? Kamu tidak usah takut. Pak Adra akan kembali dua jam lagi," ujar Bambang.


"Bagaimana kamu bisa yakin?" Tanya Alesa tak percaya.


"Sekarang pak Adra masuk di kelasku."


"Jadi kamu membolos?"


"Tidak! Sudah titip pesan sama teman. Supaya menyampaikan ke pak Adra, kalau aku minta ijin," ujar Bambang.


"Ayok, kita kerja tugasmu, supaya cepat kelar. Dan kamu bisa meninggalkan ruangan ini."


Bambang mengambil laptop di dalam tas, menekan tombol power, setelah hidup dia mengklik aplikasi QuickBooks. Aplikasi ini biasa Bambang gunakan untuk menghitung laporan keuangan dan penggajian karyawan di perudahaan papanya. Dengan aplikasi QuickBooks mempermudah menghitung angka-angka.


Satu persatu laporan diperiksa Alesa dengan teliti, dia tidak mau Adra menambah hukumannya, gara-gara teledor.


"Ini yang terakhir," ujar Alesa seraya menatap jam dipergelangannya.


"Sudah pukul berapa?" Tanya Bambang.


"Dua belas lewat sepuluh menit," sahut Alesa.


"Oh Tuhan. Jam segini kelas pak Adra sudah selesai," ucap Bambang cemas.


Bergegas Bambang meraih laptop yang belum sempat di matikan, dia pun keluar dari ruang kerja Adra. Baru saja Bambang sampai kembali ke balkon. Adra muncul dari balik lift. Untung Bambang bergerak lebih, jika tidak pasti kepergok Adra.

__ADS_1


"Alhamdulillah, hampir saja Alesa dapat masalah lagi," batin Bambang mengurut dada. Dia tak bisa membayangkan hukuman apa lagi yang akan diberikan Adra, jika tahu Bambang membantu Alesa.


Sebelum turun ke bawa, Bambang sempat mengechat Alesa, kalau dia menunggu di lantai dasar.


Sementara Alesa di ruang Adra, masih fokus menatap satu laporan lagi. Andai tidak ada Bambang yang membantu dia tadi. Pasti besok pun dia masih berada di sini. Saking seriusnya Alesa mengecek angka-angka di laporan terakhir yang dikerjakannya. Membaut dia tak menyadari kalau Adra sudah masuk dan berdiri di belakang Alesa.


"Ah... Akhirnya kelar," ucap Alesa seraya menarik nafas lega.


Alesa meluruskan kakinya di atas sofa, lalu merebahkan kepala ke sandaran lengan sofa. Namun, belum sempat jejak kepalanya, Alesa melihat ada bayangan dibelakangnya.


Alesa menoleh, saat melihat Adra berdiri memperhatikannya. Bersegera Alesa bangkit dan duduk.


"Maaf! Kalau saya kurang sopan," ujar Alesa tersipu malu.


"Nggak apa-apa. Kalau kamu capek lanjutkan saja, atau mau rehat, di dalam bisa," ujar Adra seraya membuka ruang pribadinya. Cepat Alesa menjawab dengan gelengan.


Alesa berdiri seraya merapikan bajunya, lalu meraih tas dan ponselnya. Dia pun berpamitan mau menunaikan shalat zuhur.


"Okay! Habis shalat kembali ke sini. Tugasmu belum selesai," ujar Adra.


Mata Alesa membola, mendengar ucapan Adra. Tugas apalagi yang akan diberikan laki-laki itu padanya, yang tadi saja sudah cukup menguras otak Alesa.


"I-iya pak," jawab Alesa sambil mengangguk.


"Pak lagi!" Adra protes.


"Emang salah ya," ujar Alesa, dia melupakan kesepakatan yang dibuatnya.


"Mau nambah hukuman," ancam Adra.


"Emang aku buat salah lagi. Pak?"


Alesa tampak bingung, kenapa Adra ingin menambah hukumannya, pada hal dia merasa tidak ada berbuat salah.


Pikiran Alesa bercampur aduk, hingga dia tak bisa merespon ucapan Adra. Tiba-tiba ponselnya berdering, dari layar ponsel yang bercahaya tertulis nama Fasya.


"Siapa," tanya Adra.


"Fasya."


"Bilang saja. Ada kuliah tambahan dari saya," ujar Adra menunjuk dirinya.


Alesa menggeser gagang telepon berwarna hijau, menerima panggilan dari Fasya.


"Assalamualaikum." Terdengar suara Fasya menyapa.


"Waalaikumsalam," jawab Alesa.


"Sudah selesai kuliahnya?"


"Hem... "


Alesa ragu ingin menjawab pertanyaan dari Fasya. Sementara Adra memberi kode pada Alesa dengan menunjuk jam di pergelangan dan mengacungkan dua jari.


"Sa! Apa kamu masih dengar suara abang?"


"I-Iya. Bang! Dengan pak Adra masuk jam dua nanti. Tadi pagi pak Adra ada rapat," ujar Alesa berbohong sesuai dengan keinginan Adra.


Mendengar Alesa menuruti permintaanya, Adra mengacungkan jempol dan Alesa pun mengakhiri panggilan teleponnya.


"Setelah shalat lanhsung balik ke sini," titah Adra, kala Alesa ingin beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Begitu berdiri, sejenak Alesa berpikir, dia tidak menjawab iya atau tidak, hanya sekilas menatap ke Adra. Lalu menarik nafas panjang.


"Apa lagi yang diinginkan laki-laki ini. Apa dia akan menanbah hukuman ku lebih berat dari yang tadi," batin Alesa.


"Iya. Pak!" Ujar Alesa lalu pamit ke luar.


Suara azan zuhur berkumandang di musallah kampus, Alesa bergegas mengambil air wudhu dia tidak ingin tertinggal shalat berjamaah.


Setelah selesai shalat, Alesa rehat sebentar. Alesa bersandar di dinding teras musallah, sambil memainkan ponselnya.


Drett.


Notifikasi whatsapp masuk. Alesa menggeser layar ponselnya.


(Sa! Kamu di mana? Apa masih di ruangan pak Adra") Pesan dari Bambang masuk.


(Di musallah. Baru selesai shalat) jawab Alesa.


(Tunggu di situ ya. Aku ke sana) balas Bambang lagi.


Seperlima manit kemudian Bambang sudah tiba di musallah dengan menenteng dua gelas teh es dan dua styrofoam.


Begitu sampai di teras musallah dan menemui Alesa. Bambang mengajak Alesa menjauh dari musallah menuju tanam samping dan duduk santai di bawah pohon.


"Nih untukmu." Bambang menyodorkan gelas teh ke arah Alesa. Alesa meraih gelas yang diberikan Bambang, langsung memasukkan sedotan selang airnya di balik niqab.


Glek... Glek...


"Ah... Segarnya," ujar Alesa.


"Kamu lapar nggak?" Tanya Bambang.


Alesa tidak menjawab pertanyaan Bambang, dia hanya menatap styrofoam yang terbungkus plastik di samping Bambang. Bambang mengambil bungkusan itu dan menyerahkan satu styrofoam pada Alesa.


"Yuk. Makan!" Ajak Bambang sambil membuka bungkusannya.


Alesa menoleh ke arah Bambang, dia menatap isi styrofoam yang berada di tangan Bambang.


"Apaan tu. Mie sagu ya?" Tanya Alesa dia ikut membuka styrofoam di tangannya.


"Kwetiau goreng," sahut Bambang.


"Ayok cepatan di makan. Ntar keburu abangmu datang menjemput," ujar Bambang lagi.


Tadi Bambang bela-belain membeli Kwetiau goreng ini untuk bisa makan bareng Alesa, makanya dia minta di bungkus. Pada hal dia bisa makan di kantin, cuman dia takut kalau abang Alesa yang semalam datang lagi. Makanya dia mengajak Alesa makan di bawah pohon dekat taman.


"Astagfirullah," Alesa baru nyadar kalau tadi dia dipinta Adra kembali keruangannya begitu selesai shalat.


"Kenapa. Sa?"


"Maaf ya. Aku harus kemnali ke ruang pak Adra lagi, karena masih ada kerjaan," ujar Alesa beranjak.


"Bukannya tadi sudah selesai?" tanya Bambang heran.


"Masih ada perkerjaan lain," ujar Alesa lagi, seraya mengembalikan styrofoam kwetiau goreng ditangannya.


"Bawa saja. Nanti kalau lapar kamu bisa makan," Bambang berdiri dia menyerahkan kembali styrofoam ke Alesa.


Setelah mengambil styrofoam di tangan Bambang, Alesa pun pamit. Sementara Bambang kecewa atas kepergian Alesa, dia hanya dapat menatap punggung Alesa, hingga menghilang di belokan.


"Pekerjaan apa lagi yang mau diberikan Adra pada Alesa. Kenapa aku merasa, kalau Adra seperti sengaja menahan Alesa berlama-lama di ruangannya," batin Bambang.

__ADS_1


"Aku harus menyidikinya, pasti ada sesuatu di balik ini," gumam Bambang.


__ADS_2