Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Saera merasa tersisih


__ADS_3

Part 27


Air kopi yang di bawa Alesa tumpah mengotori gaun tidur Saera. Dan gelas jatuh ke lantai, hancur berkeping-keping menjadi bling.


"Auuu panas," ujar Saera memegang gaun tidurnya, menarik ke depan agar tidak menempel dikulit perutnya.


Plak...Satu tamparan mendarat manis di pipi Alesa.


"Dasar tak punya mata!" teriak Saera sambil menjambak jilbab Alesa hingga terhuyung.


"Ma-maaf. Nyah! Saya..."


"Maaf! Maaf." Saera emosi reflek kembali mendorong tubuh Alesa, hingga terjerembab ke lantai.


Emosi Saera meletup-letup melihat istri kedua suaminya itu. Melihat Alesa terjerembab ke lantai, Saera mendekat kemudian menarik baju Alesa memintanya berdiri.


"Dasar pelakor. Apa kau ingin menggoda suamiku dengan memberikan kopi ini padanya. Aku tak akan pernah membiarkan mu rebutnya dariku," maki Saera seraya kembali mendorong tubuh Alesa.


"Auuu, sakit," jeritan kecil keluar dari mulut Alesa, kala dia tak mampu menahan keseimbangan tubuhnya, satu bling menancap di telapak kakinya.


"Rasain! Mampus! Itu balas buat kamu yang sudah mengotori bajuku," ujar Saera lagi sambil mendorong kepala Alesa.


Alesa terduduk di lantai, sambil memegangi kakinya, darah segar mengucur, hingga tetesannya luruh ke lantai. Kepala Alesa berdenyut nyeri, karena Alesa pabio dengan darah.


"Saera! Ada apa ini?" tanya Fasya yang begegas ke ruang tengah saat mendengar keributan.


"Gadis kampung itu menyiram tubuhku dengan kopi panas," jawab Saera sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Apa?" Fasya terkaget, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alesa. Siap memarahinya.


Alesa!" Fasya mengurungkan niatnya, kala melihat Alesa memegang tapak kaki yang mengeluarkan darah. Fasya berjongkok di samping Alesa.


"Kenapa bisa begini. Sakit?" tanya Fasya, Alesa menatap Fasya sejenak lalu menganngguk.


"Abang! lihat kulitku memerah, gara-gara kopi panas yang disiramkan Alesa," adu Saera pada Fasya, dia mencoba mengalihkan perhatian Fasya. Namun, Fasya tak memperdulikan Saera, matanya tertuju pada kaki Alesa.


"Bibik!" teriak Fasya memanggil Sri.


Sri yang baru saja masuk ke kamarnya ingin beristirahat, bergegas lari ke ruang tengah.


"Astagfirullah. Kenapa Non Alesa," ujar Sri ikut berjongkok di samping Alesa.


"Tolong kamu urus nyonya Saera," titah Fasya pada Sri.


"Sakit," rintih Alesa seraya menutup matanya, Alesa mulai limbung, karena darah di kakinya semakin banyak.


Fasya mengangkat tubuh Alesa, dia tidak memperdulikan Saera yang masih menggerutu dan mencoba menghalanginya untuk membantu Alesa.


Melihat Fasya menggendong Alesa, mata Saera membulat menatap seakan biji mata hendak ke luar. Fasya tak perduli Saera marah, baginya kini bagaimana menolong Alesa terlebih dahulu.


Saera menghentakkan kakinya, kesal dan geram pada Fasya, yang lebih memprioritaskan Alesa. Emosi Saera semakin meletup-letup dia bergegas mengikuti langkah Fasya yang membawa Alesa ke kamar.

__ADS_1


Perlahan Fasya meletakkan Alesa ke atas tempat tidur. Wajah Alesa pucat dan penuh keringat.


"Abang! Kenapa Abang lebih perduli dengan dia dari pada aku. Jelas-jelas dia yang salah," maki Saera seraya menarik tangan Fasya meminta Fasya menjauh dari Alesa.


"Saera! Kamu tidak lihat, kalau Alesa terluka," ujar Fasya beranjak mengambil kotak obat di atas lemari.


Alesa yang sudah didudukkan Fasya ditepi ranjang semakin lemas, darah segar di kakinya semakin banyak. Tiba-tiba pandangan Alesa kabur, memburam dan gelap, Alesa tumbang dan tak sadarkan diri.


"Alesa! Alesa!" Fasya semakin kaget saat melihat tubuh Alesa terkulai lemas.


Fasya berusaha menepuk-nepuk pipi Alesa. Namun, Alesa belum sadarkan diri.


"Ini semua gara-gara kamu kan?" bentak Fasya menatap Saera tajam.


Selama dua belas tahun menjadi suami Saera. Rasanya belum pernah Fasya mengajari istrinya menzolami orang lain. Hari ini Fasya sangat kecewe melihat kearoganan Saera.


"Dia pasti pura-pura. Abang tidak usah percaya," sungut Saera.


Saera merampas kotak obat yang sudah berada di tangan Fasya. Tentu saja Fasya melotot marah.


"Saera! Apa-apaan kamu. Sini kotak obat tu," pinta Fasya dengan merampasnya di tangan Saera.


"Kamu tidak lihat kaki Alesa yang berdarah. Masih juga kamu bilang main-main," Fasya membantah ucapan istri pertamanya.


"Itu hanya luka kecil. Bang!" Saera menyela lagi.


"Kamu bisa diam tak," bentak Fasya lagi, dia jadi tak fokus gara-gara sungutan Saera.


Mendengar Fasya membentaknya untuk ke dua kali, Saera terngaga, selama dua belas tahun Fasya tidak pernah bicara kasar padanya, apa lagi membentak dan hari ini dia dapat perlakuan itu gara-gara gadis kampung itu. Tentu Saera tak terima.


"Kenapa abang tak sayang aku lagi?" Ucap Saera seraya menangis.


"Bisakah kau tidak berisik! Biar aku obati dulu luka Alesa," sahut Fasya dengan bentakan lagi.


"Abang jahat! Aku bencin abang!" Teriak Alesa lagi.


Brak, Alesa membanting pintu kamar dan berlari ke kamarnya dengan isakan. Sri menyusul Saera dengan membawa kotak obat. Namun, Sri diusir dari kamar, Sri menjadi sasaran kemarahan Saera.


Sepeninggalan Saera. Fasya fokus ke Alesa, dia mencabut bling yang menancap di tapak kaki Alesa, membersihkan darah dengan Alkhohol. Setelah memberi obat merah, Fasya membungkus kaki Alesa dengan kain kasa.


"Alesa! Alesa! Bangun," ujar Fasya seraya mengusap-usap telapak tangan Alesa. Agar ada aliran hangat.


Perlahan Alesa sadar dari pingsannya, dia bangun dan duduk, lalu menatap kakinya yang sudah terbalut rapi.


"Siapa yang membawaku ke kamar?" Tanya Alesa memindai kamarnya.


"Aku. Ternyata tubuh kecil berat juga," ujar Fasya.


Andai wajah Alesa tidak terturup niqab, pasti pipinya itu memerah, karena menahan malu sudah berada dalam gendongan Fasya.


"Terima kasih. Sudah mengobatiku," ujar Alesa seraya menguap, seakan memperlihatkan kalau dia mengantuk.

__ADS_1


Melihat Alesa menguap berkali-kali. Fasya meminta Alesa istirahat. Sebelum ke luar kamar, Fasya meraih kepala Alesa lalu mencium puncak kepalanya. Alesa merasa senang mendapat perlakuan Fasya.


"Sekarang tidurlah. Jika besok kakinya masih sakit kita ke dokter," ujar Fasya lalu melangkah keluar.


Sepeninggalan Fasya, Alesa mendekap bantal guling dengan erat. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh delapan menit. Alesa memejamkan matanya dan meneruskan tidurnya dengan tenang.


*****


Sementara Saera yang berlari ke kamar, karena sakit hati gara-gara Fasya membela Alesa, menelungkup dia atas tempat tidur, dia menangis sesenggukan.


"Alesa telah membuat Fasya membentakku, tunggu saja pembalasanku Alesa," batin Saera dalam isaknya.


Dari kamar Alesa, Fasya menuju ruang kerja, dia menyelesaikan power point yang akan dipresentasikannya besok hingga jam dua dini dan tertidur di meja kerjanya.


Jam lima subuh saat Saera terbangun, dia meraba tempat tidur, kala tidak menemukan sosok Fasya di sisinya. Saera membalikkan tubuhnya, memindai seisi kamar, lalu bangkit menuju kamar mandi dan menguakkan pintunya.


"Tidak ada," batin Saera kembali menutup pintu kamar mandi


Tiba-tiba ada sesuatu yang menusuk-nusuk hatinya, perih bagai disayat sembilu, saat mengingat kejadian tadi malam. Sakit hati Saera semakin menjadi. Fasya sudah mengabaikannya.


"Apa Fasya tidur di kamar gadis kampung itu. Kurang ajar," maki Saera, dia bergegas menuju kamar Alesa.


"Alesa! Alesa!" Teriak Saera seraya menggedor pintu kamar Alesa.


Alesa yang baru menyelesaikan shalat subuh, tentu terkejut saat mendengar gedoran keras. Dengan cepat disambarnya niqab di atas tempat tidur dan memakainya. Dengan tertatih menuju ke pintu, lalu memutar handle pintu dan menguakkannya.


Tangan Saera melayang di udara ingin menghajar Alesa. Untung Fasya terbangun saat mendengar teriakan Saera dan bergegas ke luar dan begitu mendapati Saera menggedor pintu kamar Alesa. Fasya bergegas mendekat.


"Saera! Ada apa subuh sudah bikin ribut?" Fasya mencekal tangan Saera dengan kuat.


"Ada apa! Abang tanya ada apa!" Teriak Saera sambil menarik tangannya, hingga pegangan Fasya terlepas.


Spontan Saera mendorong tubuh Fasya, agar menjauh dari pintu. Lalu masuk ke kamar Alesa, menarik niqab Alesa hingga terlepas.


Ser.. saat melihat wajah cantik yang tersembunyi di balik niqab. Saera terkesima menyaksikan kalau madu kecilnya itu sangat sempurna, kulit mulus, hidung mancung dan bibis tipis sangat seksi.


"Aku kan sudah bilang padamu. Jangan menggoda suamiku," maki Saera seraya mencengkram dagu Alesa. Alesa meringis.


Tidak sampai di situ, Saera menarik mukena yang dipakai Alesa hingga terlepas. Secepat kilat Saera menarik rambut Alesa. Kemudian mendorong tubuh Alesa ke dinding.


Kembali tangan Saera melayang ke udara ingin hinggap di pipi Alesa, lagi-lagi Fasya menyelamatkan Alesa. Fasya mencekal lengan Saera.


"Saera! Sadar!" Ujar Fasya memegang kedua tangan Saera.


Mata Saera membulat menatap Fasya, yang dua kali sudah menggagalkan rencananya untuk menghajar Alesa. Saera memberontak, dia menggapai apa saja kemudian melemparkan ke arah Fasya dan Alesa.


Plak... tiba-tiba satu tamparan Fasya melayang di pipi Saera. Saera mundur beberapa langkah.


"Abang menamparku," ujar Saera seraya memegang pipinya yang terasa hangat, tanpa diminta air mata Saera meleleh.


Sakit! Tentu sakit, sakit sekali malah. Dua belas tahun menjadi istri Fasya, tidak pernah secuilpun Fasya menyakitinya. Dan hari ini gara-gara gadis kampungan itu Fasya berubah seratus persen.

__ADS_1


"Saera! Maafkan Abang. Abang..." belum selesai Fasya bicara. Saera memdorongnya.


Brak... tubuh Fasya terpelanting mengenai tepi pondasi pintu.


__ADS_2