
Part 95
"Pulang," jawab Asiah.
"Bareng saja pulangnya. Abang mau pulang juga," ujar Malik.
"Siapa menunggu Alesa?" Tanya Malik, sambil menjulurkan kepalanya ke dalam ruang rawat.
"Ada Fasya," jawan Asiah, seraya menyingkir dari pintu, memberi jalan pada Malik.
Malik menyeret langkahnya masuk bicara sebentar pada Alesa. Kemudian menoleh pada Fasya yang sedang duduk di sofa dengan jarak tiga meter dari tempat tidur Alesa.
"Papa pulang dulu, sekalian mengantar umi." Fasya dan Alesa hanya mengangguk. Malik berharap Fasya dan Alesa bisa akur dan rujuk kembali.
"Semoga saja mereka berjodoh lagi," batin Malik seraya keluar dari ruang rawat.
Sepersepuluh menit setelah kepergian Malik dan Asiah. Pramusaji datang mengantar makan malam Alesa, setelah meletakkan di atas nakas, pramusaji itu pamit keluar. Fasya beranjak mengambil ransum lalu duduk di tepi ranjang Alesa.
"Sini! Aku bisa makan sendiri." Alesa menolak kala Fasya ingin menyuapinya.
Tidak ingin berdebat, Fasya menyerahkan ransum dan meletakkan air mineral di samping tempat tidur Alesa.
"Abang pergilah makan. Aku tak apa ditinggal sendiri," ujar Alesa sambil menyuap nasinya.
Sebenarnya dari tadi perut Fasya memang sudah keroncongan. Namun dia tak berminat keluar, karena tak tega meninggalkan Alesa sendirian.
"Abang gofood saja, kamu mau dipesankan apa?" Tanya Fasya. Alesa hanya menggeleng.
Seperlima belas menit kemudian Terdengar ketukan di pintu, Fasya berdiri menyeret kakinya ke arah pintu, memutar handle dan menguakkan daun pintu, di depan pintu berdiri seorang laki-laki dan laki-laki itu tersenyum ke arahnya. Ternyata yang datang bukan kurir yang menbawa pesan Fasya.
"Dokter," sapa Alesa saat melihat Anzar yang datang sambil membawa parsel.
Fasya menyingkir memberi jalan, Anzar masuk meletakkan buah tangan yang dibawanya di atas nakas dan langsung menuju ke arah Alesa, menarik kursi kecil dan duduk di samping tempat tidur Alesa.
"Dia siapamu?" Tanya Anzar berbisik, karena kemaren waktu Anzar datang membawa almarhum Andurrahman, Anzar juga menemukan laki-laki itu. Walaupun Anzar berbisik. Namun, terdengar di telinga Fasya.
"Aku! Abang sepupu Alesa," ujar Fasya menjawab pertanyaan Anzar yang ditujukan pada Alesa, seraya mendekat dan menyodorkan tangan ke arah dokter Anzar.
"Sepupu. Enak saja ngaku-ngaku," batin Alesa dalam hati, karena Alesa memang belum tahu kalau Asiah dan Malik saudara angkat.
"Oh sepupu. Aku teman Alesa sejak kecil sekaligus tetangganya." Anzar menanggapi ucapan Fasya sambil menyambut uluran tangan Fasya, dia pun tersenyum ramah.
__ADS_1
"Dokter kok ganteng banget malam ini," puji Alesa, seraya matanya melirik ke Fasya.
Deg... Seketika raut wajah Fasya berubah, mendengar cicitan Alesa. Alesa sengaja melakukan itu, dia tidak mau Fasya beranggapan kalau dia masih mengharapkan Fasya.
"Alesa kenapa juga bicara begitu, sengaja cari perhatian ke dokter itu," batin Fasya tak suka, lalu dia kembali duduk ke sofa.
Baru saja Fasya menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa, terdengar lagi ketukan di daun pintu, kembali Fasya menyerat kakinya, memutar handle dan menguakkan daun pintu setengan lebar. Seorang kurir mengantar pesanannya.
"Sa! Ini tadi ku pesankan kentang goreng dan kwetiau kesukaanmu." Fasya menyodorkan dua box makanan ke arah Alesa.
Tanpa bicara dan ucapan terima kasih, Alesa menerima dan membuka box kwetiau, aromanya sangat menggoda sangat beda dengan ransum yang tadi dimakannya. Alesa menganbil sendok dan mencobanya.
"Hem... Lumayan enak," ujar Alesa.
"Benaran, nyicip dong." Anzar membuka mulutnya. Alesa menyodorkan sendok berisi kwetiau.
"Gimana?" Tanya Alesa. Anzar mengangguk.
Sementara Fasya yang sedang menyantap pesanannya, diam-diam memperhatikan kemesraan Alesa dengan Anzar. Alesa sepertinya sangat kompak dengan Anzar, dia ngobrol tentang masalalu di kampungnya. Melihat semua itu membuat Fasya kehilangan selera makannya.
Selesai makan kwetiau Anzar mengambil apel yang tadi dibawanya, meraih pisau di atas nakas, mengupas dan memotong kecil- kecil lalu memberikannya pada Alesa. Lagi-lagi hari Fasya terasa perih melihatnya.
Dua orang perawat masuk sambil mendorong troli yang berisi peralatan medis. Saatnya ganti perban.
"Malam dokter Anzar dan non Alesa," sapa dua perawat itu.
"Aduh dokter Anzar, makin ke sini makin ganteng saja," ujar salah satu perawat yang merupakan teman sekampus Anzar waktu kuliah dulu.
Mendengar celotehan para suster itu, Anzar hanya menanggapinya dengan senyuman. Anzar sudah biasa dipuji-puji begitu jadi tak terbawa perasaan. Tapi Fasya yang mendengar para cewek memuji Anzar merasa tak nyaman, Fasya menatap dirinya.
"Apa Anzar lebih ganteng dari aku," batin Fasya, dulu setiap cewek selalu memberinya pujian. Kenapa sekarang dia malah kalah dengan Anzar. Fasya menelan salivanya kasar, saat mengetahui dua suster cantik itu hanya meliriknya sekilas.
"Tahan ya, sedikit sakit," ujar suster sambil membuka perban di dahi Alesa.
"Non! Boleh jilbab dan niqabnya di buka?"
Sebelum mengiyakan, Alesa memandang ke arah Anzar dan Fasya dengan isyarat mata dia meminta kedua laki-laki itu ke luar. Anzar dan Fasya serentak beranjak dan menyeret kakinya menuju ke pintu.
"Dokter masih lama di Pekanbaru?" Tanya Fasya, kala mereka sudah duduk di kursi tunggu luar.
"Besok saya kembali ke Tembilahan," jawab dokter Anzar.
__ADS_1
"Oh," hanya itu yang keluar dari mulut Fasya, dia merasa senang mendengar Anzar besok sudah tidak ada di Pekanbaru.
Sepersepuluh menit kemudian dua orang suster kembali mendorong teolinya keluar, sempat sebentar berbasa basi dengan Anzar, kemudian sang suster pergi ke kamar pasien lain. Fasya dan Anzar kembali masuk.
"Hay! Kamu mau ke mana?" Tanya Anzar saat melihat Alesa turun dari tempat tidurnya.
"Mau ke kamar kecil," jawab Alesa seraya bersiri.
"Biar abang bantu," ujar dokter Anzar.
"Aku saja. Aku abangnya," ujar Fasya, segera meraih tangan Alesa.
Sekilas Alesa menatap Intens kearah Fasya, lalu dia menarik tangannya.
"Aku bisa sendiri," ujar Alesa sambil mendorong tiang infus, lalu masuk ke kamar mandi.
Fasya memandang kearah Anzar lalu mendengus kesal, dan membuang muka. Entah apa yang ada dipikiran Fasya. Fasya beranjak ke sofa sementara Anzar masih berdiri menatap ke arah pintu kamar kecil. Kala melihat handle pintu di putar dari dalam, Anzar bergegas mendekat. Begitu Alesa keluar dari pintu toilet, Anzar membantunya mendorong tiang infus.
"Ceritakan padaku. Kenapa kamu bisa terluka begini?" Tanya Anzar saat Alesa sudah berada di tempat tidur.
Alesa menceritakan kronologis kejadiannya, dari awal mengunjungi makam abinya, hingga didatangi seorang wanita tak waras. Dia ngakunya sangat dendam sama Asiah, sampai wanita itu menyeret dan mendorong Alesa, hingga terjatuh dan terbentur.
"Siapa wanita itu. Apa kamu mengenalnya?"
"Dia ngaku ibunya Saera," ujar Alesa melantangkan suaranya menyebut nama Saera, agar Fasya mendengar.
"Anema! Jadi Anema yang melakukan semua ini. Anak sama ibu sama saja," batin Fasya, mengenang wanita setengah baya mantan mertuanya itu.
"Sa! Kamu harus lapor ke pihak berwajib, ini tidak bisa dibiarkan," saran Anzar geram.
"Abang tenang, semua sudah diurus sama papa Malik."
"Oh syukurlah kalau begitu," ucap Anzar.
"Jadi papa tahu masalah ini," batin Fasya, lalu beranjak ke luar.
Melihat Fasya keluar ruangan, Alesa mengalihkan pembicaraan dan meminta Anzar tidak membahas tentang Anema lagi. Anzar pun setuju.
Di teras luar dan sedikit menjauh, Fasya menelepon Malik menanyakan tentang kebenaran cerita Alesa. Malik mengiyakan dan meminta Fasya tidak ikut campur masalah Anema dan Asiah.
"Apa maksud papa, aku tidak boleh ikut campur?"
__ADS_1