
Part 87
Mendengar ucapan Viral. Alesa sudah tak punya alasan lagi untuk menolak, dia hanya bisa mengiyakan dan mengangguk. Viral dan Alesa keluar ruang meting, berjalan beriringan menyusuri koridor perkantoran menuju lift.
Begitu lift terbuka, Viral menyilahkan Alesa masuk duluan, beberapa detik kemudian lift membawa mereka turun dan pada saat lift terbuka di lantai dasar, Viral kembali menyilakan Alesa keluar duluan. Kemudian mereka berjalan menuju parkir.
"Silakan. Non!" Viral membuka pintu depan untuk Alesa, lalu dia memutar, membuka pintu, masuk dan duduk di belakang stir, di samping Alesa.
"Apa pak Viral tahu kalau ibu pak Bambang meninggal?" Tanya Alesa saat mobil meluncur meninggalkan kantor.
"Tahu! Semalam sore dikabari oleh sekretaris Bambang. Kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawab Alesa.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Viral memasuki area rumah sakit. Viral memarkir mobil, lalu turun dan membuka pintu untuk Alesa. Alesa mengucapkan terima kasih pada Viral karena sudah mau mengantarnya.
Secara beriringan Viral dan Alesa menyusuri koridor rumah sakit. Sesekali Viral melirik gadis di sampingnya yang fokus menandang ke depan. Dulu waktu pertama bertemu Alesa, dia tak pernah perduli dengan wanita itu, bahkan Alesa terkesan kampungan di matanya. Apa lagi saat mendengar Carla mencerca.
Viral menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Hari ini Alesa menunjukkan kemampuannya yang sangat luar biasa. Semua orang pasti tak pernah menduga, dari penampilan yang sangat sederhana, ternyata ada berlian yang tersimpan di balik itu. Alesa mengagumkan semua orang.
Dari kejauhan Alesa melihat sosok Fasya dan Asiah sedang duduk di kursi tunggu, sambil mengobrol serius. Begitu melihat Alesa dan Viral datang, Fasya menghentikan obrolannya, dia menatap Alesa dan Viral secara bergantian.
"Dari mana Alesa. Kenapa bisa berbaringan dengan Viral," batin Fasya bertanya-tanya.
Fasya menarik nafas panjang, saat menyadari kalau Alesa sama sekali tak memandang ke arahnya. Bahkan Alesa terkesan cuek.
"Kenapa Fasya ke sini lagi. Apa yang sedang dibicarakannya pada umi," batin Alesa.
"Sa! Kamu sudah pulang?" Tanya Asiah seraya berdiri. Alesa mengenalkan Asiah pada Viral.
Viral menjabat tangan Asiah, dan memperkenal diri sebagai rekan bisnis Alesa. Kemudian pandangan Viral beralih ke arah Fasya.
"Pak Fasya! Apa kabar?" Tanya Viral pada Fasya seraya menjabat tangannya. Fasya sudah mengabari Viral kalau dia dan istrinya mengundurkan dan tidak bisa melanjutkan kerjasama dengan alasan yang tak bisa dijekaskan.
"Alhamdulillah baik," jawab Fasya lalu mengajak Viral masuk ke ruang rawat Abdurrahman.
Sengaja Fasya menarik Viral masuk dan menjauh dari Asiah dan Alesa. Dia takut kalau Viral bertanya sesuatu tentang Carla di depan Asiah, karena bagaimana pun juga di mata Asiah dia tetap menantu yang baik.
__ADS_1
"Pak Fasya! Kenapa bisa ada di sini?" Tanya Viral saat masuk ruang rawat.
"Kebetulan saya tadi menjenguk teman, tanpa sengaja ketemu orang tua Alesa. Makanya saya ke sini, setelah mengetahui kalau yang dirawat abinya Alesa," jawab Fasya berbohong.
"Oh. Begitu, di mana kenal dengan keluarga Alesa?" Tanya Viral lagi.
"Dula saya pernah main ke kampung Alesa," jawab Fasya.
Fasya berharap ini pertanyaan terakhir Viral tentang Alesa padanya. Setelah beberapa menit Viral berdiri samping tempat tidur Abdurrahman dan menanyakan sesuatu pada suster jaga. Viral memutar tubuhnya keluar dan kembali menemui Alesa dan ibunya. Begitu juga dengan Fasya.
"Ibu! Sa! Saya pamit dulu," ujar Viral seraya menyalami Asiah dan memberikan sebuah amplop berisi cek tiga puluh juta.
"Terima kasih atas kunjungannya pak," ujar Alesa seraya menangkupkan kedua tangan di dada.
"Umi! Saya mengantar pak Viral dulu." Fasya ikut pamit pada Asiah.
Sepeninggalan Fasya. Alesa masuk ke ruang rawat abinya. Duduk di kursi samping tempat tidur Abdurrahman, dan seperti biasa, Alesa meraih tangan Abdurrahman dan mengajak abinya mengobrol.
"Umi! Makan siang dulu. Nih aku beli tiga bungkus nasi padang," Fasya datang membawa keresek asoy. Asiah menerima pemberian Fasya.
"Alesa mana. Mi?" Tanya Fasya saat tak menemukan sosok wanita itu.
Mendengar ucapan Asiah, Fasya meletakkan keresek asoy berisi bungkusan nasi padang di kursi tunggu, lalu dia masuk mendekati Alesa.
"Sa! Makan dulu yuk," Fasya menyentuh bahu Alesa.
Alesa menoleh dan mendongakkan kepala ke arah Fasya. Mata Alesa menatap tajam pada laki-laki yang berdiri di sampingnya. Perlahan Alesa menepis tangan Fasya yang bertengger di bahunya, lalu dia berdiri, kemudian mengalihkan padangan pada Abinya.
"Bi! Alesa keluar dulu. Nanti Alesa ke sini lagi menemani abi," ujar Alesa lalu beranjak diikuti Fasya.
"Kamu kenapa masih berada di sini?" Tanya Alesa menghentikan langkahnya menoleh ke Fasya.
"Emang kenapa kalau aku di sini. Hah!"
"Kita sudah tak punya hubungan apa-apa. Jadi menurutku lebih baik abang pulang saja," ujar Alesa lagi.
"Terserah aku," ujar Fasya, kemudian berlalu melewati Alesa menemui Asiah.
__ADS_1
Hemm. Alesa menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Fasya benar-benar membuatnya kesal, Alesa tahu kalau Fasya mengambil kesempatan, untuk menunjukkan pada Asiah, kalau dia menantu yang baik dan bertanggung jawab.
"Sangat menyebalkan," batin Alesa.
Mata Alesa menatap punggung Fasya yang keluar dari ruang rawat, hingga menghilang dari balik pintu. Alesa juga kemudian menyeret kakinya keluar.
"Sa! Ayok kita makan dulu." Asiah meminta Alesa duduk di sampingnya.
"Aku masih kenyang. Mi! Tadi sudah makan dengan pak Viral sebelum ke rumah sakit," ujar Alesa berbohong.
Walaupun dia merasa lapar, Alesa memutuskan untuk tidak menerima apa pun pemberian Fasya, termasuk nasi bungkus ini. Setelah bicara itu kepada Asiah, Alesa kembali masuk ruang rawat dan duduk di samping tempat tidur abinya.
Lama Alesa menatapi wajah Abdurrahman yang terlihat garis tua dan lelah. Wajah yang dulu selalu segar dan tampan, kini sudah berubah kendur dengan kerut-kerut penderitaan yang di alaminya. Abdurrahman sosok pekerja keras, dia melakukan apa saja untuk mencukupi kebutuhan istri dan kelima anaknya.
"Abi! Bangun bi. Aku merindukan nasihat-nasihat abi, aku ingin mendengar petuah-petuah abi," bisik Alesa di telinga Abdurrahman.
Abdurrahman yang dalam keadaan koma, sayup mendengar suara putri sulungnya. Tapi dia tak mampu merespon atau menggerakkan tubuhnya sedikitpun, walaupun Abdurrahman sudah mencobanya.
"Sa! Abi juga rindu padamu. Nak!" Suara hati Abdurrahman, membuat dua butir kristal bening meluncur di sudut netranya.
"Abi! Abi mendengar suaraku," ujar Alesa.
"Umi! Umi!" Alesa berlari kecil keluar menemui Asiah.
Asiah yang baru menyelesaikan makan dan sedang mencuci tangan terkejut, saat mendengar suara Alesa.
"Ada apa. Sa?" Tanya Asiah cemas, dia takut sesuatu terjadi pada suaminya.
"Abi. Mi! Ayok umi masuk," Alesa tidak menjawab pertanyaan Asiah.
Alesa menarik tangan uminya dan mengajak masuk. Asiah dan Alesa duduk di samping tempat tidur Abdurrahman. Fasya yang merasa penasaran ikut masuk ke ruang rawat.
"Abi! Ini aku dan umi," ujar Alesa, dia meraih tangan Abdurrahman dan menciumi punggungnya.
Abdurrahman kembali mengalirkan air mata. Hatinya sedih karena tak bisa membelai putri kesayangannya. Asiah dan Alesa ikut menangis haru, saat melihat air mata Abdurrahman berlinang. Fasya yang menyadari hal itu, segera memanggil dokter.
"Alhamdulillah, perkembangan baik dari pasien," ujar dakter, seraya meminta Asiah dan Alesa keluar dulu, agar dia bisa memeriksa keadaan Abdurrahman.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya Asiah saat dokter selesai memeriksa keadaan Abdurrahman.