Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Salah Paham


__ADS_3

Part 15


Di kantor Fasya


Setelah menelepon Adra dan memastikan kalau urusan Alesa di kampus sudah selesai. Fasya lalu menghubungi Alesa dan menanyakan apakah dia akan langsung pulang, dan alesa menjawab ingin keliling dan melihat sekitar kampus dulu, dan Fasya berjanji akan menjemputnya setelah makan siang.


Begitu selesai makan siang, Fasya mendadak mendapat telepon kalau rekan bisnis yang akan jadi investor di perusahaannya sudah berada di bandara sultan syarif kasim.


Setelah memerintahkan Roy sang menejer sekaligus asistennya untuk menjemput tuan Viral di bandara, Fasya menelepon Alesa memberitahukan kalau dia tidak bisa menjemput Alesa karena harus menyiapkan berkas-berkas kerjasama bersama sekretarisnya.


Tiga puluh menit kemudian Roy datang bersama tuan Viral dan dua orang asistennya. Fasya menyambut kedatangan Viral di ruang pribadinya. Di sana terjadi perbincangan yang sangat serius.


Sementara Saera yang rencana terbang ke Singapore pukul sembilan pagi delay menjadi pukul tujuh malam. Menunggu jadwal penerbangan yang lumayan lama jedanya, Saera memutuskan pergi ke kantor Fasya.


"Pak Fasya sedang ada tamu dari Bandung," ujar Dea sekretarisnya saat Saera menanyakan keberadaan Fasya.


"Apa metingnya masih lama?" tanya Saera lagi.


"Tidak tahu juga nyonya, karena tuan Viral baru saja datang, selisih lima menit dengan nyonya," ujar Dea lagi menjelaskan.


"Baiklah, jika metingnya sudah selesai, katakan pada Fasya, aku menunggu di ruang kerjanya."


"Baik Nyonya. Akan saya sampaikan."


Saera melangkah meninggalkan ruang sekretaris, dia menuju ruang kerja Fasya, ruang kerja dan ruang pribadi Fasya letaknya bersebelahan. Tak seorang pun boleh masuk ke ruang pribadi Fasya tanpa seizinnya termasuk Saera. Dan Fasya hanya akan membawa orang-orang penting masuk ke ruangan yang dilengkapi peredam suara itu.


Saera mengambil posisi duduk di sofa, perutnya terasa lapar, karena dia memang belum makan siang, tadi alasannya ke kantor Fasya ingin mengajak Fasya makan siang di luar. Namun, kenyataannya sekarang Fasya kedatangan tamu penting. Jangankan mengajaknya makan siang, bertemu dengannya saja tidak bisa.


Saat Fasya mengadakan pertemuan dengan rekan bisnisnya, maka semua masalah keluarga dan pribadi diabaikannya. Itu memang sudah menjadi prinsif bagi Fasya.


Sambil berseluncur ke media sosial, Saera membiarkan bunyi perutnya yang keroncongan, dia berhadap tiga puluh menit lagi meting Fasya selesai.


Tiga puluh menit berlalu, bahkan satu jam pun sudah terlewatkan. Jam di layar ponsel Saera sudah menunjukkan pukul dua tiga puluh. Dari posisi duduk kini Saera sudah merebahkan kepalanya di sofa. Untuk mengusir rasa lapar yang menghentak-hentak Saera memutar musik dan memasang Headset di telinga, tanpa disadari dia pun tertidur dan terbangun saat ponselnya bergetar dan terjatuh ke lantai.


"Astagfirullah! aku ketiduran." dengan cepat Saera meraih ponsel, dan terkejut kala mendapati jam sudah menunjukkan pukul empat tiga puluh.


Saera bangun, dia berdiri merapikan bajunya. Saat dia ingin mengontak Fasya, terdengar getaran di atas meja Fasya.


"Ah, inikan ponsel Fasya, berarti metingnya belum selesai," batin Saera.


Layar ponsel Fasya bercahaya, karena ada panggilan masuk, Saera melirik ingin mengetahui siapa yang menelepon Fasya, di sana tertera nama Alesa. Saera meraih ponsel Fasya, merejik panggilan Alesa, lalu membuka pesan whatsapp dari Alesa yang meminta alamat rumah, Saera tersenyum sinis.

__ADS_1


"Waktunya dimulai Alesa," batin Saera, kemudian mematikan ponsel Fasya. Setelah itu meletakkan kembali ke posisi awal.


"Aman! semoga saja Alesa tersesat dan tak kembali lagi ke rumah," gumam Saera lalu beranjak keluar meninggalkan ruang kerja Fasya.


"Apa pak Fasya masih meting," tanya Saera saat melewati meja Dea.


"Masih Nyonya, mungkin sebentar lagi siap. Tadi baru saja pak Fasya meminta saya mengantarkan berkas-berkar kontrak kerjasama."


"Baiklah kalau begitu, saya tidak bisa menunggunya lagi, tolong jangan katakan pada Fasya, kalau saya ke sini."


"Baik Nyonya."


Dengan lenggoknya yang khas, Saera melangkah meninggalkan kantor Fasya, dia menelepon supir pribadinya untuk mengantarnya kembali ke bandara.


Sementara Fasya di ruang pribadi sedang menandatangai berkas kontrak kerja dengan Viral. Viral akan menanamkan sahamnya sebesar sepuluh milyar ke perusahaan Fasya. Sebagai pengusaha muda yang baru mulai berkembang, ini merupakan sebuah anugrah terbesar bagi Fasya. Ini benar-benar awal yang cemerlang bagi karir Fasya.


"Terima kasih atas kepercayaannya kepada saya. Mr Viral," ujar Fasya menjabat tangan Viral.


"Terima kasih kembali Mr Fasya, saya percaya pada kenerja anda." Viral membalas jabatan tangan Fasya dengan erat.


Setelah pertemuan berakhir. Viral kembali ke bandara di antar Roy. Sementara Fasya kembali ke ruang kerjanya. Setelah menyimpan berkas kontrak kerja di dalan brangkas, Fasya meraih ponselnya yang dari tadi tergeletak di atas meja, memasukkan ke dalan tas kerja, lalu meraih kunci mobil dan bergegas turun menuju parkir.


Tubuh letih Fasya membuatnya mengatuk, Fasya pun tertidur lengkap dengan pakaian kerjanya, baju, dasi, dan sepatu masih melekat ditubuhnya. Fasya terbangun saat Sri asisten rumah tangganya mengetuk pintu dan mengabarkan kalau makan malamnya sudah siap.


Secepat kilat Fasya menyambar handuk, masuk ke kamar mandi, setelah tidur selama dua jam, staminanya pulih kembali dan ketika air dingin menguyur tubuhnya, dia merasa segar kembali.


Begitu selesai mandi dan berpakaian Fasya ke luar kamar, menuju ruang makan.


"Bik! panggil non Alesa, bilang saya menunggu di meja makan."


"Non Alesa belum pulang. Pak."


"Hah! dari pergi pagi tadi belum ada pulang."


"Iya. Pak!"


"Sekarang sudah jam berapa?"


"Delapan setengah. Pak."


Bergegas Fasya beranjak dari duduknya, dia melepaskan piring yang tadi sudah di pegang. Fasya menyambar kunci mobil di atas nakas.

__ADS_1


"Bik! ambilkan payung," teriak Fasya ternyata di luar hujan turun dengan deras. Sri setengah berlari mengantar payung pada Fasya.


"Pak! di luar dingin, lebih baik bapak pakai jaket."


"Iya! ambil jaketku di balik pintu," titah Fasya lagi. Sri berlari kecil dan kembali lagi dengan jaket di tangannya.


"Bapak hati-hati nyetirnya. Jalanan licin," ujar Sri mengingatkan.


Setelah memakai jaket dan mengembangkan payung. Fasya berjalan dibawah guyuran hujan, menuju garasi mobilnya yang terpisah dari rumah induk.


Tanpa pikir panjang, Fasya meluncur meninggalkan rumah, merambah jalan raya. Untungnya saja jalanan sepi, hingga dia bisa memacu mobil dengan bebes dan dalam kecepatan tinggi.


Dua pukuh menit kemudian di sampai di pintu gerbang kampus di mana tadi pagi dia menurunkan Alesa. Fasya meluncur memasuki area kampus. Kampus terlihat sangat sepi, tak terlihat satu orang yang melintas.


Fasya membuka kaca jendela mobilnya, mencoba mengamati di sekelilingnya, berharap ada sosok yang muncul dan dia bisa bertanya. sedetik, dua detik akhirnya berganti menit, tak ada satupun manusia yang muncul.


"Kenapa tidak ku telepon saja, kenapa baru kepikiran," gumam Fasya seraya menepuk jidatnya, lalu merogoh saku jeansnya.


"Ya Allah! ponselku kan masih di dalam tas kerja," sekali lagi Fasya menepuk jidatnya.


Fasya memutar balik mobilnya, dia harus kembali ke rumah mengambil ponselnya, agar bisa menghubungi Alesa. Perlahan Fasya menjalankan mobil, mata tetap fokus mencari Alesa.


Begitu keluar dari pintu gerbang, Fasya melihat dua sosok bayangan dari jauh, perlahan Fasya menjalankan mobilnya dan mendekat, sambil mengamati sosok bayangan yang terpantul cahaya lampu mobil.


"Alesa!"


Fasya berteriak setelah yakin kalau dua sosok bayangan yang sedang menuju ke mobil yang terparkir di samping halte, salah satunya adalah Alesa.


Alesa menoleh kebelakang, kala namanya dipanggil, saat dia melihat kalau yang memanggilnya Fasya. Alesa segara berlari ke arah Fasya dan spontan memeluk laki-laki itu.


Fasya mendorong tubuh Alesa dengan kasar, hingga pelukannya terurai. Dan memintanya masuk ke dalam mobil. Mobil pun meluncur membawa Alesa pergi.


Mendengar laki-laki yang menjemput, memanggil wanita itu dengan sebutan "Alesa." Pikiran Bambang langsung terkembang. Dia pun mengingat gadis masa abu-abunya dua tahun yang lalu.


"Alesa! Yah.. sinar mata dan suaranya benar milik Alesa," gumam Bambang lirih.


"Aku ingat sekarang. Wanita bercadar itu Alesa." gumam Bambang lagi, rasa bahagia menyergap seluruh dadanya.


Sementara Alesa yang sudah berada di dalam mobil Fasya, cemberut tak bicara sepatah pun.


"Bagus! Pacaran sampai lupa waktu," tuduh Fasya.

__ADS_1


__ADS_2