Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Tidur Sekamar


__ADS_3

Part 38


"Alesa!" Fasya terkejut saat memutar handle pintu Alesa terjatuh di depan pintu, karena waktu itu, posisi Alesa sedang bersandar di daun pintu.


"Ma-maaf," ujar Alesa yang terduduk di lantai.


Fasya mengulurkan tangan, membantu Alesa bangun, lalu menutup pintu kembali pintu kamar, menarik tangan Alesa mengajak menjauh, menuju ke ruang tengah.


"Ada apa?" Tanya Fasya dengan suara pelan. Dia tidak ingin Saera terbangun dan menbuat keributan lagi.


"Apa abang lihat ponselku?" tanya Alesa seraya menatap intens pada Fasya. Dia berharap ponselnya ada pada laki-laki itu.


"Ponselmu? Abang tidak ada lihat," ujar Fasya.


"Duh! Apa tertinggal di ruang meting," gumam Alesa seraya menepuk jidatnya.


Wajah Alesa seketika berubah kecewa. Bagaimana tidak, baru dua hari ponsel itu diberikan Fasya padanya. Kini lenyap.


"Apa mungkin tertinggal di mobil," ujar Fasya, kala mengingat kembali seseorang yang mengantar tas Alesa.


Fasya masuk ke ruang kerja, meraih kunci mobil yang tergantung di samping meja kerjanya, lalu menuju pintu utama dan membuka garasi. Alesa mengikutinya dari belakang.


"Gelap. Sa! Ambil senter kecil di ruang kerja," titah Fasya. Sebebar Fasya bisa saja menghidupkan lampu mobil. Tapi dia sengaja melakukan itu.


Alesa masuk, lima menit kemudian kembali lagi membawa senter kecil dan menyerahkannya pada Fasya. Fasya masuk ke mobil, menyenter bawa kursi depan.


"Ah, itu dia," ujar Fasya seraya menundukkan kepala.


"Alhamdulilla," ujar Alesa senang.


"Sini! Kamu yang nyenter," titah Fasya meninta Alesa mendekat.


Fasya menjulurkan tangan dan berpura-pura tak sampai, dia meraih dan menggapai-gapai ponsel Alesa yang tergeletak di bawah kursi. Namun tak berhasil.


"Susah ngambilnya. Sa!"


"Sini. Biar aku yang masuk," ujar Alesa menyerahkan senter kecil kepada Fasya.


Sebenarnya menang itu tujuan Fasya. Membiarkan Alesa mengambil ponselnya dan dia akan pura-pura membantu, dia hanya ingin memperpanjang waktu agar bisa lebih lama dengan Alesa.


Alesa tearap di atas kursi, menjulurkan kepalanya ke bawa kursi, lalu menggapaikan tangannya. Tapi tak sampai, dia belum berhasil meraih benda pipih yang tergeletak indah di bawah deretan kursi itu.


Denyutan terasa di mata Alesa yang sakit, efek kelamaan memandang ke bawa. Alesa menarik diri dan merobah posisi. Kini dia terduduk di kursi seraya mengatur nafas dan membekap matanya yang terasa nyeri.


"Kenapa? Apa terasa sakit?" Tanya Fasya mengambil posisi diduk di samping Alesa, laku merengkuh bahunya, menarik Alesa dalam pelukan.


"Biar Abang yang ambil. Kamu turun dulu ya," ujar Fasya.


Begitu Alesa keluar dan turun dari mobil. Fasya menggeser kursi dan melipat sandarannya ke depan. Kemudian dengan gampang dia meraih ponsel Alesa dan memasukkan ponsel itu ke saku celananya.

__ADS_1


"Kenapa tidak dari tadi Abang lipat tu kursi," Alesa protes pada Fasya. Kalau tidakkan dia tak perlu lama nunduk ke bawa. Fasya menyebalkan.


"Hehe. Maaf Abang lupa," ujar Fasya ngeles.


"Mana ponselnya?" Tanya Alesa.


"Ntar di dalam saja," ucap Fasya, terus melangkah masuk, diikuti Alesa.


Fasya melangkah masuk ke kamar Alesa, lalu duduk di tepi ranjang.


"Duduk di sini." Fasya menepuk tempat di sampingnya.


Alesa kembali menadahkan tangannya, meminta ponselnya. Fasya menunjuk saku celana depannya. Dan meminta Alesa mengambil sendiri.


"Bagaimana cara aku mengambil ponsel itu, agar tak menyentuh Fasya," batin Alesa.


Sejenak Alesa berdiam diri, dia ragu merogah saku celana piyama Fasya. Melihat Alesa ragu, Fasya hanya tersenyum.


"Berdiri! Biar aku mudah mengambilnya," ujar Alesa.


Fasya hanya menggelengkan kepalanya, bukannya berdiri, dia malah meluruskan kaki dan berbaring di atas kasur. Alesa maju selangkah, lalu mengulurkan tangannya menyingkap piyama Fasya.


"Jangan salah ambil," ujar Fasya menggoda.


Mendengar ucapan Fasya, seketila Alesa menarik tangan yang belum berhasil menggapai ponselnya.


"Kenapa tak jadi," ujar Fasya kala melihat Alesa ingin menjauh. Namun, tangannya keburu digapai Fasya.


"Abang tidur di sini ya," pinta Fasya seraya menatap wajah Alesa intens.


"Tidur di sini, tapi..."


"Janji cuman numpang tidur." Fasya menyela ucapan Alesa. Dia tahu ke mana arah pembicaraan Alesa.


"Nanti Abang dicari Saera, kalau tahu Abang tidur di sini. Marah lagi."


"Tidak apa-apa dia marah, yang penting Abang tak marah sama kamu," ujar Fasya, menurunkan kepala dari pangkuan Alesa, lalu dia memberi ruang pada Alesa.


Perlahan Alesa merebahkan tubuhnya. Detak jantungnya semakin kencang, kala tangan Fasya memeluk perutnya. Perlahan Alesa mengangkat tangan Fasya dan menjauhkannya. Kemudian Alesa mengambil bantal guling dan meletakkan di tengah-tengah menjadi pembatas antara dia dan Fasya.


Fasya mengambil bantal guling pembatas, dan melemparnya ke lantai. Alesa membulatkan mata menatap Fasya yang tersenyum penuh kemenangan. Alesa turun mengambil kembali bantal guling dan memeluknya dengan posisi membelakangi Fasya.


Tangan Fasya kembali melingkar di atas pinggang Alesa. Membuat nafas Alesa semakin memburu naik turun. Sebenarnya Alesa risih dengan keberadaan Fasya. Namun, dia tak hirau, karena dia terlalu lelah dan mengantuk. Ponsel di saku celana Fasya pun dilupakannya.


Seperlima menit kemudian, terdengar dengkuran kecil Alesa, menandakan kalau dia sudah tidur pulas.


Kamar full ac yang biasanya adem, kini terasa gerah, keringat jagung mengucur di dahi Fasya. Bahkan membasahi piyamanya. Fasya menarik tangannya, lalu menumpukan ke kasur. Fasya menarik tubuh Alesa, dari posisi miring jadi telentang, lalu menatapi wajah Alesa, wajah itu terlihat sangat damai.


Fasya mengangkat kepala Alesa, kemudian membuka jilbabnya dan meletakkan di atas nakas. Fasya merapikan anak rambut Alesa yang berserakan dan menyelipkan di telinganya.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali istriku," guman Fasya tanpa sadar telah mengagumi istri keduanya itu.


Jarum jam di dinding kamar Alesa, menunjukan pukul dua. Itu artinya sudah tiga setengah jam Fasya berada di kamar Alesa. Fasya gelisah di pembaringan, berkali dia merubah posisi tidurnya. Namun, belum juga terlelap. Ada gairah menghentak-hentak yang dia rasakan seperti ingin disalurkan.


"Jangan Fasya. Ingat janjimu," batin Fasya saat tangannya ingin menyentuh sesuatu yang membukit di dada Alesa. Fasys memalingkan wajahnya dari pemandangan indah itu, kemudian membenamkan di bawah bantal. Fasya berusaha keras melawan hentakkan gairah yang bergejolak dan memejamkan matanya dengan paksa sambil beristigfar.


****


Alesa terbangun saat mendengar suara tahrim, perlahan dia membuka mata, saat merasakan bantal guling yang biasa dipeluknya terasa hangat. Alesa terpekik kecil, begitu menyadari kalau Fasya yang berada dalam pelukannya. Lebih terkejut lagi saat mendapati jilbabnya terbuka.


"Siapa yang membuka jilbabku," batin Alesa, seraya meraba kepalanya.


Alesa mengingat kembali apa yang terjadi sebelum dia tertidur. Bulu kudungnya merinding kala mengingat, kalau dia semalaman memeluk tubuh Fasya.


"Ya Allah. Apa Fasya sudah..." gumam Alesa.


Secepat kilat Alesa bangun, meraba seluruh tubuhnya, masih lengkap dengan pakaiannya. Kemudian turun dari tempat tidur, berdiri di depan cermin, menatap wajah dan leher jenjangnya.


"Syukurlah, masih aman," batinnya lagi, seraya masuk ke kamar mandi, membersihkan diri, berwudhu dan menunaikan shalat subuh.


Fasya yang terbangun kala mendengar pekikan kecil Alesa. Memicingkan matanya melihat gelagat Alesa yang begitu cemas saat memeriksa kesempurnaan dirinya, apakah dia sudah ternoda.


"Alesa! Alesa! Kamu itu menggemaskan," batin Fasya, memperhatikan Alesa mengerjakan shalat subuh.


Hati Fasya bergetar kala menyaksikan Alesa dengan khusuk melakukan shalat subuh. Dua belas tahun Saera menjadi istrinya, belum pernah melihatnya shalat, selain shalat hari raya idul Fitri dan idul Adha. Bahkan Fasya sendiri pun shalatnya masik bolong-bolong.


Fasya kembali memejamkan matanya, pura-pura tidur kala Alesa telah siap melaksanakan shalat. Membuka dan meletakkan mukena di dalam lemari.


Sejenak Alesa berdiri memandang ke arah Fasya, yang posisi tidurnya sudah berubah, Alesa mendekat dan duduk di tepi ranjang. Perlahan Alesa mendorong tubuh Fasya, hingga kini posisinya telentang.


Alesa menatap saku celana Fasya yang mengencang, ternyata ponselnya masih ada di situ. Tangan Alesa terangkat dan mulai menyusup di dalam saku celana Fasya.


Alesa menarik benda pipih yang terjepit, Namun, tak berhasil, karena tiba-tiba saja Fasya merubah posisinya miring kearah Alesa.


Alesa menarik nafas panjang, dia harus bisa mengambil ponselnya, tanpa harus membangunkan Fasya. Alesa kembali mendorong tubuh Fasya.


Begitu posisi Fasya telentang, Alesa menyangga tubuh Fasya dan dengan cepat memasukkan tangannya ke dalam saku piyama Fasya.


"Alesa! Kamu mau apa?" Apa kamu ingin menodaiku?" Alesa terkejut kala mendengar ucapan Fasya, belum sempat dia menegang ponselnya dengan sempurna, dia pun menarik kembali tangannya.


"Kenapa? Teruskan saja," Fasya menggoda Alesa.


Wajah Alesa merah merona, dia jadi salah tingkah.


"Aku hanya ingin mengambil ponselku," protes Alesa.


"Emang ponselmu di mana?" Tanya Fasya pura-pura lupa.


"Di situ." Alesa menunjuk paha Fasya dengan bibirnya, hingga berbentuk kerucut.

__ADS_1


"Apa? Siapa yang meletak ponselmu di situ. Adoh! Jangan-jangan benda pusakaku kena radiasi," ujar Fasya, seraya memegang selangkangannya. Kemudian menyingkap celananya berlagak seperti orang yang sedang memeriksa.


"Hah!" Alesa menutup kedua matanya.


__ADS_2