
Part 102
Perasaan Fasya bercampur Aduk, saat menyerahkan buket bunga itu. Dia berharap Alesa memeluknya penuh kerinduan. Ternyata tidak, jangankan memeluk menerima sodoran tanganya saja, Alesa tidak mau.
"Sudah lama tidak bertemu. Kamu semakin cantik saja." Puji Fasya. Seketika jantung Fasya berdebar hebat.
"Cantik dari mana. Yang kelihatan cuman mata doang." Canda Alesa, sambil tertawa renyah.
Mendengar tawa Alesa, Fasya ikut tertawa. Tapi tawanya kali ini terdengar sumbang, beda dengan Alesa yang terlihat santai, hingga tawanya sangat enak didengar.
"Bunga cantik." ujar Alesa seraya melambai adik bungsunya dan menyerahkan buket bunga itu.
"Kamu suka?"
"Apa?"
"Bunga dari Abang?" Entah kenapa Fasya menjadi sangat gugup dan telapak tangannya berkeringat. Alesa hanya mengaangguk. Fasya bersorak girang.
"Sa! Abang mau kita..."
"Eh. Maaf Bang. Aku tinggal dulu," ujar Alesa seraya menyambut kedatangan Makita dan teman-temannya.
Ada bias kecewa di mata Fasya, kala melihat Alesa menjauh darinya. Padahal Fasya ingin menyampaikan hasratnya, mengajak Alesa rusuk. Nemun belum tersampaikan ke Alesa, Alesa malah tak memperdulikannya. Fasya merasa kalau Alesa sudah tak menginginkannya. Apa lagi melihat Alesa begitu hangat menyambut ke datangan Viral dan putri kecil.
"Hay. Bidadari kecil. Kamu cantik sekali." Alesa menggendong putri Viral yang baru berusia tiga tahu.
"Kata papa. Tante juga cantik," Mecca putri Viral, membingkai wajah Alesa dengan kedua tangan mungilnya.
"Kamu lucu banget." Alesa mencium kedua pipi putri Mecca.
"Papanya mau juga nih," ujar Viral sambil menunjuk pipinya dan tertawa.
"Ih... Papa genit," celetuk Mecca mengundang tawa orang yang melihatnya, termasuk Alesa.
"Ayok sayang. Ikut papa! Tante Alesa mau menyambut tamu yang lain." Viral mengambil Mecca digendongan Alesa.
"Bagaimana bisa putri Viral begitu akrab dengan Alesa," batin Fasya khawatir.
"Apa mereka sudah sering bertemu," batin Fasya lagi.
Fasya melangkah ke arah Alesa. Dia harus menyampaikan maksudnya sebelum keduluan Viral. Namun, belum sempat Fasya mendekat, Alesa dipanggil MC untuk kata sambutan. Fasya hanya mampu menelan salivanya dengan kasar. Alesa begitu sulit digapainya.
Sebelum Alesa memulai bicara, matanya memindai ruangan dari sudut ke sudut dia mencari sosok seseorang yang akan dikenalkannya pada Asiah dan semua tamu undangan. Namun, sosok yang dicarinya belum terlihat.
__ADS_1
"Kenapa dia belum datang," batin Alesa.
Sambil menebar senyum dari balik niqab. Alesa memulai kata sambutannya, dia mengucapkan terima kasih pada para undangan yang berkenan hadir, lalu mengucap terima kasih pada Asiah dan Adik-adiknya, kemudian pada Malik.
"Dan terima kasih juga pada abang sepupu saya, yang sudah banyak memberikan saya pengajaran, hingga saya bisa menjadi mandiri dan sekuat sekarang," ujar Alesa lalu menutup sambutannya dengan salam.
Semua mata para undangan tertuju pada Fasya. Banyak yang berdecak kagum padanya, karena mereka mengira Fasya laki-laki baik yang telah membuat Alesa sesukses sekarang. Namun, bagi Fasya, kata-kata Alesa bagaikan pisau yang menghunjam jauh ke kisi hatinya.
Sebelum menyerahkan kembali mic ke MC, Alesa mempersilahkan para tamu untuk mencicipi hidangan yang telah tersedia. Asiah dan Malik ikut andil dalam melayani para tamu.
Tit... Tit... Tit, terdengar kelakson mobil, tiga buah Fortuner berhenti di depan rumah Alesa. Semua mata memandang ke arah mobil tersebut, termasuk Alesa.
Pintu mobil pertama terbuka, turun lima orang laki-laki, berpakaian adat melayu teluk belanga berwana kuning gading, lengkap dengan songket dan tanjak di kepala.
"Siapa mereka. Sa?" Bisik Asiah bertanya pada Alesa.
"Aku juga tidak tahu. Perasan tidak ada di dalam daftar undangan," jawab Alesa.
Pintu mobil ke dua terbuka, tiga orang wanita setengah baya dan tiga orang gadis keluar dari mobil, berpakaian baju kurung melayu dengan warna senada dengan lima orang laki-laki tadi. Ke enam wanita itu, membawa bingkisan hantaran.
Masih tak mengerti apa yang jadi sebenarnya. Alesa masih melongo menatap mobil ketiga. Jantung Alesa berdebar kencang saat seorang laki-laki tampan dan gagah turun dari mobil. Laki-laki itu memakai jas dengan kemeja warna biru muda, senada dengan warna gaun yang dipakai Alesa.
"Dokter Ridwan," guman Asiah tak percaya.
"Apa dia calon mantu Umi?" Asiah berbisik lagi. Alesa hanya mengangguk.
"Ayok dijemput masuk tuan dan puan, pak cik dan mak cik," ujar Asiah senyumnya merekah bahagia.
Asiah yang sama sekali tak menduga, kalau akan ada acara lamaran. Mata Asiah memindai mencari sosok Alesa. Alesa sudah membuatnya jantungan, karena Alesa sama sekali tak memberi tahu tentang kedatangan orang tua Ridwan beserta rombongan.
"Aku harus minta penjelasan padanya," batin Asiah setelah meminta Sri menjamu rombongan. Asiah pamit sebentar.
Sementara Alesa yang juga setengah mati kaget. Menarik tangan Ridwan membawanya menjauh dari rombongan.
"Jangan pegang-pegang. Kita belum nikah," bisik Ridwa bercanda.
"Sini. Aku ingin bicara sebentar." Alesa tak perduli dengan candaan Fasya, karena dia pun hanya menarik dan mencubit lengan jas Ridwan.
"Hay! Kamu mau menculikku?" Ridwan gelak lagi, sambil mengikuti Alesa ke jalan samping.
"Dokter! Apa maksudnya ini?" Tanya Alesa berbisik.
"Lamaran," jawab Ridwan singkat.
__ADS_1
"Lamaran? Bukannya hanya pura-pura. Kenapa seserius ini?" Tanya Alesa lagi bingung.
Seet... Ridwan meletakkan tunjuk di bibirnya, dia meminta Alesa berhenti bicara.
"Tak usah dipikirkan. Yang penting malam ini kita resmi tunangan, urusan berikutnya kita pikirkan nanti," jawab Ridwan.
Sejenak Alesa menatap ke wajah Ridwan. Seharusnya dia berterima kasih pada laki-laki itu, karena telah membantunya, hingga dia tak perlu rujuk pada Fasya seperti harapan Asiah.
"Ayok kita masuk. Nanti dicari mereka." Ridwan meraih tangan Alesa.
"Maaf nak Ridwan. Umi mau pinjam Alesanya sebentar." Tiba-tiba Asiah muncul.
"I-iya. Mi!" Jawab Ridwan gugup, karena ketahun Asiah, dia sedang memegang tangan Alesa.
"Nak Ridwa masuk saja dulu, tunggu di dalam," ujar Asiah. Ridwan hanya menggangguk, kemudian berlalu.
Dengan ekor matanya Asiah menatap punggung Ridwan, hingga menghilang dari balik pintu. Asiah tak pernah menduga, kalau calon mantunya itu dokter Ridwan yang dikenalnya waktu Abdurrahman masuk rumah sakit dan kala Alesa dirawat, dokter itu juga yang rutin mengunjunginya.
Sementara Alesa sejak keluar dari rumah sakit, hubungannya dengan Ridwan semakin akrab. Ridwan setiap hari menanyakan kesehatan Alesa lewat whansapp dan beberapa kali mengajak Alesa dinner. Dan setiap Alesa pulang dari Bandung, Ridwan selalu menyempatkan diri menjemputnya di bandara Sultan Syarik Kasim.
"Kenapa kamu tidak kasih tahu umi, kalau malam ini mau lamaran?"
"Aku..."
Alesa tidak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Malik memanggilnya dan Asiah. Malik menanyakan pada Asiah, siapa yang akan menerima seserahan dari keluarga laki-laki.
Dari seserahan adat Melayu Riau berupa cincin, tepak sirih, bunga rampai, hingga barang pengiring lainnya. Sementara isi dari tepak sirih yang perlu dipersiapkan yaitu kapur sirih, satu buah pinang, gambir, daun sirih, kacip, dan tembakau.
"Saya minta bantuan Abang. Bisakan?" Asiah penuh harap pada Malik.
Malik menarik nafas, berpikir sejenak, walaupun semua ini tak sesuai dengan harapan Malik, Malik berharap Alesa kembali ke Fasya. Dengan berat hati Malik mengangguk. Dia akan melakukan apa pun untuk adik angkatnya itu.
Malik lalu menggamit tangan Asiah kembali menemui rombongan. Sementara hati Fasya shock. Namun dia berusaha tegar.
"Aku harus menerima takdir ini. Walau sangat menyakitkan." Fasya menggenggam lukanya dalam pasrah.
"Sesakit inikah kehilangan orang yang dicintai," batin Fasya.
Sekelebat bayangan Saera melintas dibenaknya. Sepertinya alam sudah mengerjakan tugasnya, mengirim karma untuk menyadarkan Fasya. Kalau dicampakkan itu, sakitnya berlipat-lipat.
"Bos! Kenapa? Tanya Roy saat melihat Fasya meraup habis wajah dengan kedua tangannya.
"Tidak apa-apa! Yuk kita ke sana," ujar Fasya mengajak Roy ikut duduk di dalam rombongan Alesa.
__ADS_1
Roy tahu kalau Fasya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Roy tahu betul karakter sahabat sekaligus atasannya itu. Roy pun ikut duduk di belakang Fasya.
"Mohon maaf bapak ibu, pak cik mak cik, tuan dan puan. acara lamaran ini kita lanjutkan. Ada yang ingin saya sampaikan prihal Alesa putri saya." Asiah menatap Alesa sejenak.