
Part 20
Pagi-pagi sekali Alesa sudah bangun, setelah melaksanakan shalat subuh, dia mengerjakan pekerjaan rumah sesuai perjanjiannya dengan Saera. Dari menyapu halaman rumah, hingga ke dapur.
"Non! Biar bibik yang ngerjakan," kata Sri saat melihat Alesa membawa skop sampah dan sapu dari jalan samping.
"Nggak apa-apa. Bik! Alesa bisa kok," ujar Alesa seraya meletakkan kembali alat kebersihan itu di balik pintu. Lalu menuju wastafel mencuci tangannya.
"Bik! Pagi ini Alesa mau masak capcay. Ada bahannya nggak?"
"Coba saja lihat dikulkas. Kalau nggak lengkap. Bibik bisa ke depan, pagi-pagi biasanya sudah ada tukang sayur keliling mangkal di persimpangan rumah ini," jelas Sri panjang lebar.
Sejenak Alesa meneliti isi kulkas, wortel, kol, brokoli, daun bawang dan jagung muda, sudah di keluarkan secukupnya. Kemudian udang dan cumi, Alesa sengaja tidak menggunakan daging ayam, karena Fasya alergi ayam.
"Ada yang kurang. Non!"
"Tidak! Ini saja udah cukup. Bik!"
Alesa memasukkan semua bahan keranjang, kemudian mencuci di air mengalir dengan membubuhkan garam. Kata maknya di kampung, garam berfungsi untuk membunuh ulat-ulat yang bertengger di sayur. Selesai dicuci, semua sayur diteriskan.
Sri membantu membersihkan udang dan cumi. Sementara Alesa mengupas bawang putih dan bawang merah, setelah merasa cukup, menyatukan semua bumbu.
"Bik! Tolong blenderkan bumbunya," titah Alesha, karena selama di kampung Alesa tidak pernah menggunakan benda itu.
"Ini udang dan cuminya," ujar Sri menyerahkan ke Alesa, Alesa lalu memberi perasan jeruk dan sedikit garam.
Alesa pandai memasak, karena sering membantu maknya di warung bu Dahlia tempat maknya bekerja. Setiap hari minggu Alesa ikut maknya ke warung bantu-bantu membersihkan sayur dan mencuci piring. Karena terlalu sering melihat maknya masak. Alesa pun jadi bisa memasak resep andalan Asiah. Masakan maknya Alesa menang jadi favorit di kampung Alesa.
"Ini Non!" Sri menyerahkan gelas blender berisi bumbu yang sudah dihaluskan.
Ser... terdengar suara desiran bumbu yang dimasukkan ke dalam kuali. Aroma bumbu yang mengepul wangi dan menggoda siapa saja yang memciumnya. Begitu juga dengan Fasya yang baru saja keluar dari kamar.
"Wangi sekali. Kamu masak apa?" Tanya Fasya berdiri di samping Alesa.
Alesa terkejut mendapatkan tiba-tiba saja Fasya sudah berdiri di sampingnya. Fasya selalu saja membuat Alesa jantungan, Alesa menoleh ke arah Fasya, matanya membulat seketika, kala melihat Fasya sudah rapi dengan setelan kantor.
"Dia ganteng sekali," batin Alesa tertegun.
"Kenapa memandangku begitu. Apa aku terlihat sangat ganteng," ujar Fasya menggoda, seakan tahu jalan pikiran Alesa.
Spontan Alesa mengalihkan pandangannya ke penggorengan. Untungnya dia pakai niqab jika tidak pasti wajah sudah terlihat pias, gara-gara ketahuan mengagumi kegantengan Fasya.
"Apa yang kamu pikirkan. Sa! Ingat Fasya itu suami Saera," batin Alesa lagi.
"Sa! Boleh dicicip nggak tu," ujar Fasya, tiba-tiba tangannya melingkar dipinggang Alesa. Sejak kejadian tadi malam, Fasya jadi terbayang terus bibir seksi Alesa.
"Auuuu! Sakit tau." Alesa menyerang Fasya, dia mencubit lengan Fasya. Fasya meringis sambil mengusap bekas cubitan yang terasa perih.
Pecah tawa Alesa di balik cadar, kala melihat mimik Fasya yang lucu, karena menahan rasa perih dari cubitannya. Pagi ini Alesa meresa senang digoda oleh Fasya, begitu juga dengan Fasya dia terlihat bahagia.
"Masih lama nggak. Abang sudah lapar," ujar Fasya lagi, tangannya masih melingkar dipinggang Alesa.
"Nggak. Ini udah masak," ujar Alesa seraya mematikan kompor.
"Lepas! Malu dilihat bibik," bisik Alesa.
Seketika, Fasya memutar tubuh Alesa agar menghadap ke arahnya. Alesa menunduk malu dan tangan Fasya membuka niqab yang menutupi wajah istrinya. Sejenak Fasya menikmati wajah polos itu, hentakan gejolak memaksanya kembali memagut bibir itu. Alesa menolak tubuh Fasya hingga pagutan terurai.
"Abang makan saja duluan. Aku mau mandi," Alesa menyambar niqabnya yang berada di tangan Fasya, lalu pergi meninggalkan Fasya.
Alesa bergegas menuju kamar, jika dia lama-lama berada di dekat Fasya, dia khawatir tidak bisa menguasai perasaanya. Dan itu sangat tidak menguntunkan.
__ADS_1
"Ya Allah! Kuatkan pendirianku," batin Alesa seraya bersandar di balik pintu. Alesa meraup habis wajahnya, mengurut dada perlahan, lalu beranjak ke kamar mandi.
Sementara wajah Fasya terbias kecewa kala Alesa memilih meninggalkannya. Fasya mendudukkan bokongnya ke kursi, lalu mengambil sendok menyicipi masakan Alesa. Apakah rasanya seenak wanginya.
"Hemmm, enak," batin Fasya.
Baru satu suap Fasya menyantap sarapannya. Dea sang sekretaris menelepon dan mengabarkan kalau rekan bisnisnya yang dari Jogjakarta sudah berada di bandara Sultan Syarif Kasim dan sedang menuju ke kantornya.
"Bik! Tolong masukkan dalam box, buat dua ya."
"Baik. Pak!" Sri mengambil dua box bekal, lalu mengisinya dengan nasi lengkap dengan lauknya.
"Masukkan ke mobil saya," titah Fasya pada Sri.
Saat Sri mengantar box nasi ke mobil. Fasya melangkah menuju kamar Alesa.
Tok
Tok
Tok
"Alesa! Apa kamu sudah siap?"
"I-iya," sahut Alesa dari dalam, seperdetik kemudian, pintu kamarnya terkuak.
Begitu Alesa ke luar, Fasya menarik tangannya, membawa ke luar menuju mobil. Alesa hanya mengikut tanpa protes, walaupun sebenarnya perutnya lapar ingin sarapan. Tapi tak apa, dia bisa sarapan nanti di kampus.
Alesa duduk manis di samping Fasya. Kali ini dia mengingat dan mencatat semua jalan yang dilaluinya di memo ponsel, dia tidak ingin bodoh lagi seperti semalam. Jangan sampai terjadi dua kali, itu sangat memalukan.
Fasya yang fokus menyetir sesekali mencuri pandang lewat kaca spioan depan. Dia mengamati semua yang dilakukan istri kecilnya itu, dan Fasya juga tahu kalau Alesa sedang membuat denah perjalanan dari rumah menuju kampus.
"Kamu lucu sekali Alesa. Menggemaskan," batin Fasya.
Setelah menghentikan mobil. Fasya merogoh dompet, mengeluarkan dua lembar ratusan dan satu lembar kartu mana. Di kartu itu tertera alamat rumah dan kantor Fasya.
"Kalau urusan sudah selesai. Kabari Abang, biar nanti dijemput sama asisten," ujar Fasya sebelum Alesa turun. Alesa hanya mengangguk, sebelum keluar mobil, dia menyodorkan tangan menyalami dan mencium punggung tangan Fasya.
Begitu Alesa keluar. Fasya membunyi kelakson, lalu meluncur meninggalkan Alesa. Alesa menatap kepergian Fasya, hingga mobilnya menghilang dari pandangan.
"Alesa!"
Baru saja Alesa ingin beranjak. Ada seseorang memanggilnya, Alesa menoleh kebelakang mencari sumber suara. Seorang laki-laki mendekat ke arahnya.
"Pak Adra," sapa Alesha.
"Kenapa berdiri di sini?"
"Lagi nunggu teman. Pak!" Jawab Alesa berbohong.
"Semalam sudah sepakat memanggil saya Abang. Sekarang kok pak lagi."
"Hemmmm. Sepakatnya kalau lagi berduakan, kalau ditempat umum tetap. Pak," ujar Alesa, dia tidak mau mahasiswa lain salah paham padanya,
Adra hanya tersenyum mendengar penuturan Alesa, lalu dia mengajak Alesa mengikutinya.
"Ke mana. Pak!"
"Ikut saja. Nanti kamu tahu."
"Tapi Saya..."
__ADS_1
"Tidak ada tapi ini perintah," titah Adra.
"Ke mana?" Ulang Alesa.
"Temani saya sarapan."
"Sarapan. Astagfirullah!" Gumam Alesa seraya menepuk jidatnya. Dia lupa mengambil box nasinya di mobil Fasya.
"Hay! Ayok," ajak Adra lagi, kala melihat Alesa bergeming.
Sebenarnya Alesa ingin menolak ajakan Adra, tapi dia merasa tidak nyaman. Akhirnya Alesa mengiringi langkah Adra dia berjalan bersisian dengan dosen muda nan rupawan, sekaligus asisten dekan di kampus ini.
Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya. Ada yang menatap iri, karena dia bisa jalan bersisian dengan Adra. Ada juga yang menatap sinis. Tapi Alesa tidak mau ambil pusing, niat dia hanya ingin memenuhi undangan Adra untuk menemaninya sarapan, tak ada niat lain.
"Silakan. Pak," seorang pelayan cafe mengantar Adra ke ruang VIP.
"Ayok sini," ajak Adra, kala melihat Alesa ragu-ragu.
Suasana cafenya berbeda dengan di luar, terlihat lebih adem dan dan nyaman. Ruangannya di tata sangat romantis, ada lampion berwarna warni, dan aroma khas tercium dari pengharum ruangan.
Seumur hidup baru kali ini Alesa duduk di tempat senyaman dan romantis ini. Ruangan tertutup dengan dua lilin yang menyala dan hidangan juga sudah tersedia dengan alat pemanas, hingga menu yang ada tetap terlihat mengepul.
Alesa memperhatikan menu yang ada, sayur bening, sambal terasi, udang goreng dan ikan gurami asam manis. Dan alat makan hanya piring dan disisinya ada sepasang sumpit.
"Menu kampung, tapi yang disiapkan sumpit," batin Alesa.
Beda dengan Adra yang pernah tinggal di Cina, tentu tak menjadi aneh, menu apa saja bisa diambilnya menggunakan sumpit. Jangankan ikan, sop saja dia bisa makam dengan menggunakan sumpit. Dan pelayan cafe sudah tahu tentang hal itu, makanya mereka hanya menyiapkan sumpit.
"Aku mana bisa menggunakan alat itu," batin Alesa seraya melirik ke tempat sendok, tidak ada satupun alat yang dicarinya.
"Makanlah!" Ujar Adra kala melihat Alesa hanya menatapnya.
"Atau mau disuapin," canda Adra. Alesa mengeleng.
"Hemmm, saya tidak bisa makan pakai sumpit seperti Abang. Bolehkan saya makannya pakai tangan?"
Kepolosan Alesa tidak membuatnya malu untuk mengakui kekurangannya. Adra tersenyum menanggapi pengakuan Alesa, lalu dia mengangguk dan memanggil pelayan meminta gobokan cuci tangan.
Seorang pelayan datang membawa gobokan cuci tangan dan sepasang sedok garfu untuk pilihan. Namun, Alesa tetap makan dengan tangan.
Sekilas Adra melirik ke arah Alesa, dia pikir Alesa akan membuka niqabnya saat menyuap nasi. Ternyata tidak, Alesa hanya menyingkap sedikit niqabnya dengan tangan kiri, kala tangan kanan menyuap.
"Ini enak sekali," ujar Alesa memasukkan cubitan ikan gurami masak asam manis.
"Makan saja jika kamu suka."
"Abang mau," tawar Alesa, karena dari tadi Adra tidak mengambil ikan, mungkin agak susah jika menggunakan sumpit.
Alesa menyodorkan tangannya yang berisi cubitan ikan gurami ke arah Adra, sejenak Adra menatap tangan Alesa, lalu membuka mulutnya. Alesa yang menyadari kelancangannya jadi ragu. Adra malah menarik tangannya dan memasukkan kemulut.
"Maaf," ujar Alesa merasa salah, tidak seharusnya dia melakukan ini. Makan bersama dan menyuapi laki-laki yang bukan mahramnya
"Ya Allah. Ampuni Alesa," gumamnya dalam hati. Lalu menundukkan pandangannya.
"Kenapa?" Tanya Adra saat melihat Alesa diam.
"Maaf. Bang! Seharusnya aku tidak berada di sini," ucap Alesa.
Adra mengerti ke arah mana pembicaraan Alesa. Dia pun meminta maaf karena telah mengajak Alesa makan bersama tanpa meminta ijin pada walinya. Adra pun meminta Alesa menghabiskan makannya.
"Besok aku akan meminta ijin pada abangmu Fasya , jika mengajakmu makan lagi," ujar Adra.
__ADS_1
"Hemmm... Aku sebenarnya..."
"Yuk kita keluar, bukannya sebentar lagi kuliah umum." Adra menyela ucapan Alesa.