Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Kamu Sudah Jadi Istriku


__ADS_3

Part 8


Dekapan Alesa sangat erat memeluk Asiah, seakan dia tidak ingin Asiah meninggalkannya. Perlahan Asiah menguraikan pelukan, lalu membingkai wajah putrinya dengan kedua tangan. Dia tersenyum dibalik kegeteran hatinya.


Rasa sedih yang Alesa alami, lebih yang dirasakan Asiah. Ibu mana yang tega melihat putrinya menangis. Perih yang dirasakan Asiah, kala melihat tetesan bening di mata Alesa, bagai duri-duri menusuk-nusuk hatunya. Andai Asiah punya kuasa pasti dia sudah menukar dirinya menggantikan Alesa.


"Sayang! Jangan menangis lagi, Tersenyumlah, hari ini umi ingin melihat senyummu yang paling manis," ujar Asiah seraya menghapus air mata putrinya dengan tangan gemetar.


Alesa menarik nafas panjang. Pada hal semalam dia sudah mengikhlaskan pernikahan ini. Namun, tak bisa dipungkiri dia tetap bersedih dan air matanya masih saja mengalir tanpa jeda. Alesa belum siap berpisah dari abi, umi dan adik-adiknya.


"Alesa! Kamu harus ikhlas demi kesehatan abi dan biaya sekolah adik-adikmu," batin Alesa menguatkan hatinya.


"Sayang maafkan Umi. Umi belum bisa jadi ibu yang baik untukmu," ujar Asiah lagi. Dia kembali merengkuh putrinya dalam pelukan, kali ini kedua wanita itu menangis terisak.


Mendengar tangisan Asiah, hati Alesa terenyuh perih, delapan belas tahun bersama Asiah, dia belum pernah melihat uminya menangis. Seberat apapun masalah yang menimpanya. Ini adalah yang pertama kalinya.


"Umi sudah jadi ibu yang paling baik untuk aku." Ujar Alesa mengurai pelukan Asiah, lalu dia menyesap air mata Asiah dengan kedua ibu jarinya.


"Umi jangan menangis lagi. Aku akan nurut sama umi," Alesa kembali memeluk Asiah. Bahkan tangisannya kali ini semakin deras.


"Maafkan aku mi. Jika umi kecewa dengan keadaan ku sekarang. Aku janji tidak akan memupuskan harapan abi untuk sembuh dan harapan adik-adik untuk sekolah."


Alesa mengurai pelukannya, lalu menyesap air mata dengan telapak tangannya, dia tersenyum di sela air mata itu. Lalu menyeka air mata uminya.


"Terima kasih ya sayang. Pengobatan abi tergantung padamu." Ujar Asiah lagi.


"Iya Mi! Semoga setelah menjalani operasi nanti abi sehat kembali."


"Aamiin."


Nona Eka yang tadi hanya terpaku melihat drama antara ibu dan anak, keluar dan kembali lagi dengan dua gelas air putih di tangan.


"Minumlah. Biar terasa lega," ujar Eka.


"Terima kasih," Asiah dan Alesa menerima gelas yang di sodorkan Eka.


"Sekarang umi ingin melihat putri umi yang cantik ini tersenyum," ucap Asiah seraya mencubit pipi Alesa.


Senyum Alesa pun terkembang di wajahnya. Sebagai seorang anak dia akan berusaha membuat kedua orang tuanya bahagia dengan pernikahannya. Mulai sekarang dia menyakinkan hatinya bahwa pernikahannya adalah yang terbaik. Toh... Laki-laki yang dipilih Abdurrahman untuknya berkecukupan, ganteng dan mapan.


Tidak ada yang kurang di diri Fasya, dia terlihat laki-laki baik dan sopan. Hanya usia saja yang terpaut dua puluh tahun tua Fasya dari Alesha.


"Syukuri saja Alesa. Fasya sudah menjamin pengobatan abi hingga sehat dan biaya sekolah adik-adikmu," batin Alesa.


Melihat putrinya tersenyum, Asiah sedikit lega. Walaupun dia tahu senyum Alesa belum semanis biasanya. Yah.. paling tidak di mendung di mata Alesha sudah berkurang. Setelah memastikan keadaan Alesa baik saja. Asiah pun keluar kamar.


Sepeninggalan Asiah, tinggal Alesa dan nona Eka.


"Apa pernikahan non Alesa atas perjodohan?" Tanya Eka menyelidik. Alesa hanya mengangguk.


"Apa non Alesa tidak mencintai abang Fasya?"

__ADS_1


"Gimana mau cinta. Aku sama Fasya baru ketemu dan langsung menikah."


"Kamu beruntung. Non! Abang Fasya ganteng sekali. Aku saja naksir padanya," ucap Eka jujur seraya membayangkan wajah Fasya yang mirip Ari wiboyo artis lawas Indonesia itu.


"Semoga saja setelah menikah nanti. Kami bisa saling mencintai," ujar Alesha.


"So swety. Romantis sekali," ucap Eka lebay.


"Ah...Lebaymu," ujar Alesa, kemudian meminta Eka membelakanginya, saat Alesha mengganti baju dengan gaun pengantinnya. Walaupun wujudnya Eka seorang wanita. Namun aslinya laki-laki.


"Awas ya, kalau ngintip matanya bintitan," ujar Alesha mengancam.


"Iya, iya. Emang Eka jeruk makan jeruk," ucap Eka cemberut seraya memonyongkan bibirnya hingga berbentuk kerucut.


Mendengar ucapan Eka, Alesha tertawa. "Dasar tak sadar diri," guman Alesha. Begitu baju sudah terpasanga, lalu memakai jilbab dan niqabnya.


"Buka dulu niqab Non Alesa!" titah Eka.


"Untuk apa?"


"Kan mau di make up."


"Hah! nggak! Untuk apa di make up."


"Biar tambah cantik."


"Nggak!" ujar Alesa tetap kekeh tidak mau di meka up.


"Kenapa laki-laki itu mau menikah denganku. Apa dia mencintaiku? Bukannya dia tidak pernah melihat wajahku?" Beberapa pertanyaan berloncatan di kepala Alesha.


Bayangan Bambang seketika berkelibat. Alesha mendambakan laki-laki itu yang akan menjadi imamnya. Sudah lama Alesha menaruh hati pada abang kelasnya itu.


Tok


Tok


Tok


Lamunan Alesha buyar karena ketukan berulang di pintu. Alesa beranjak dari duduknya, bergerak menuju pintu, tangannya memutar dan menarik handle pintu, menguakkan setengah lebar daun pintu, lalu menjulurkan kepalanya.


"Abi!"


Abdurrahman menatap Alesa yang sudah memakai gaun pengantin, dan saat pandangannya beralih kewajah Alesha yang masih menggunakan niqab. Abdurrahman tersenyum bangga melihat pendirian putrinya yang tetap istoqamah dengan pilihannya.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Abdurrahman.


"Belum pak! Non Alesha belum di meka up," Eka yang menjawab pertanyaan Abdurrahman.


"Buat apa juga di meka up. Eka! Begini saja Alesha sudah cantik." puji Abdurrahman, dia tidak akan memaksa Alesha untuk masalah make up.


"I-iya pak." ujar Eka lagi.

__ADS_1


"Kalau sudah siap keluarlah, para tamu sudah mulai berdatangan," ujar Abdurrahman seraya berlalu dari kamar Alesha.


"Sekarang kamu boleh keluar dan bawa alat-alat make up mu," ujar Alesha mendorong tubuh Eka. Separoh hati wanita jadi-jadian itu keluar kamar Alesha.


Sepeninggalan Abdurrahman dan Eka, Alesa menatap dirinya di cermin. Satu tahun yang lalu saat Bambang menamatkan SMA dan sebelum meninggakkan kota Tembilahan. Bambang mengajak Alesa makan bakso dan pada saat itu Alesa sempat menanyakan gadis seperti apa yang disukai Bambang.


"Aku menyukai gadis yang menutup sempurna auratnya dari pandangan laki-laki," ujar Bambang kala itu.


Sejak kejadian itu, Alesha merubah penampilan dengan menggunakan baju yang lebih syar'i, dan berjilbab, setahun kemudian, tepatnya sebulan sebelum dia menamatkan SMA, dia pun memutuskan memakai niqab.


Tok


Tok


Tok


Ketukan di daun pintu untuk kedua kalinya, membuyarkan lamunan Alesha tentang Bambang, laki-laki yang jadi idolanya. Alesa beranjak dari duduknya, mendekat ke pintu, menggapai dan menarik handle pintu, lalu menguakkan daun pintu setengah lebar.


"Sayang! apa kamu sudah siap?" Asiah menanyai putrinya.


"Sudah. Mi,"


"Ayok keluar para tamu sudah berdatangan."


Dengan bergandengan tangan, Asiah membawa putrinya ke keluar. Asiah membimbing Alesa dan menyandingkannya dengan Fasya, seorang ustad membaca shawat atas nabi, lalu kedua mempelai di dudukkan disinggasanya.


Beberapa mata menatap Alesa dan Fasya. Walaupun usia Fasya terpaut dua puluh tahun. Namun Fasya terlihat lebih muda dari umurnya.


"Kenapa mendadak sekali Alesa menikah?"Tanya beberapa tetangga.


"Sebenarnya pernikahan Alesa sudah direncanakan waktu Alesa masih di SMA. Jadi menurut saya tidak dadakan," jawab umi Asiah setiap kali ada yang bertanya.


"Oh.. begitu," hanya itu yang keluar dari mulut-mulut tetangga yang kepo.


"Bagaimana bisa Alesa mendapat suami orang kaya. Jangan-jangan Alesa dijadikan istri kedua lagi."


Beberapa gumaman tetangga, membuat hati Asiah tak nyaman. Dia berharap tak ada seorang pun tetangga yang tahu kalau Alesa hanya nikah siri dan menjadi istri kedua Fasya.


"Kalau istri kedua juga tidak apa-apa. Yang penting dapat suami kaya. Iyakan Asiah," celetuk tetangga sebelah kiri Asiah. Asiah tidak menanggapi omongan para tetangga, dia hanya tersenyum kemudian pergi menghindar.


Beberapa acara adat setempat pun dilaksanakan, dilanjutkan dengan serah terima dan beberapa acara lain, acara diakhiri dengan pembacaan doa. Setelah itu MC mempersilahkan tamu untuk menyicipi hidangan yang sudah tersedia.


Tiga jam setelah acara ijab qabul, Fasya meminta Alesa ikut bersamanya, meninggalkan rumah orang tua dan adik-adiknya.


"Sekarang?" Tanya Alesa menatap Fasya dengan rasa tak percaya.


"Iya!" Ucap Fasya tegas sambil mengangguk.


"Ihhhs" desis Alesa sambil menggenggam jemarinya kesal.


"Jangan membatah, kamu sudah jadi istriku," bisik Fasya di telinga Alesa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2