
Part 75
Empat tahun kemudian.
"Selamat! Semoga berkah ilmunya," Adra menyalami Alesa.
Mata indah Alesa berbinar, tak henti dia mengucap syukur, apa yang dicita-citakan sejak dulu sudah jadi kenyataan. Kini dia sudah berhak menyandang gelar gelar Sarjana Akuntansi (S.Ak ).
"Terima kasih. Selama ini sudah banyak membantu dalam menyelesaikan kuliahku," balas Alesa pada Adra yang selama ini, selalu setia mendampingi Alesa dalam menyelesaikan skripsinya. Tak bisa dibohongi, Adra memang punya andil besar, dalam memberinya dukungan sejak Fasya menceraikannya.
Alesa yang baru menyelesaikan ujian skripsinya sangat bahagia. Terbayang wajah umi, abi dan adik-adiknya. Betapa bangganya mereka saat mengetahui Alesa sudah sarjana.
Harapan Alesa di saat dia wisuda nanti, abi, umi dan adik-adiknya bisa hadir menyaksikan moment bersejarah itu. Alesa akan meminta Roy nanti untuk menjemput keluarganya pada saat wisuda.
"Adra! Ayok kita berangkat nanti ketinggalan pesawat," ujar Roy mengingatkan, saat melihat Adra masih asik ngobrol dengan Alesa.
Adra akan pergi ke Jerman, dia mendapat beasiswa dari kampus untuk melanjutkan S3. Suatu kehormatan bagi Adra, dan dia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Lanjut ke S2. Jangan berhenti di sini," ujar Adra pada Alesa sambil menarik handle pintu mobil.
"Siap Bang," balas Alesa seraya mengangkat tangannya.
"Bang! Kalau pulang sekalian bawa istri ya," teriak Alesa sambil melambaikan tangan. Adra hanya mengacungkan kedua jempolnya. Adra hanya tersenyum menanggapi guyonan Alesa.
Setelah melambaikan tangan ke arah Alesa. Adra menutup kaca mobil. Mobil yang dibawa Roy pun melaju meninggalkan area parkir kampus. Alesa mengiringi kepergian Adra dengan lirikan matanya hingga mobil itu menghilang dari pandangan mata.
Sepeninggalan Adra. Alesa ikut bergabung dengan empat orang temannya yang sama-sama ujian skripsi hari ini. Dengan ke empat temannya, sebagai rasa syukur Alesa ingin mentraktir teman-temannya yang lain.
"Hari ini. Aku mau traktir kalian semua. Yuk ke MP," ujar Alesa mengajak Makita, Cantika dan enam orang temannya lagi.
__ADS_1
"Ayuk! Lest go!" Ujar Makita.
Dua buah mobil sudah stanbay, akan membawa Alesa dan teman-temannya meluncur ke MP. Alesa menyetir sendiri, sejak dia membeli mobil, dia tidak pernah menghandalkan supir. Karena dia ingin mandiri. Pada hal Roy dan Burhan siap mengantarnya dua puluh empat jam.
Sekarang Alesa sudah punya segalanya, perusahaan dengan bisnis yang cemerlang, rumah gedung, mobil mewah, uang apa lagi sudah melempah ruah dalam ATMnya. Bahkan sekarang dia sedang merintis bisnis baru yang dibukanya di kampung halaman, dia berharap bisnis itu akan berkembang dan bisa membuat adik laki-laki tertuanya bisa mandiri.
Selain itu Alesa juga telah merenovasi rumah orang tuanya, hingga layak dihuni. Dan dia juga membuatkan warung makan kecil-kecilan sebagai tempat usaha Asiah untuk berjualan. Asiah tidak lagi bekerja di warung bu Dahli, sambil berjualan dia tetap bisa menjaga suaminya.
Adik pertama Alesa sudah kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Tembilahan. Dia tidak mau kuliah di Pekanbaru. Walaupun sudah ditawari Alesa, alasannya dia tidak bisa meninggalkan Asiah yang harus mencari nafkah dan menjaga Abdurrahman yang sakit-sakitan.
Cita-cita Alesa sudah tercapai, dia sudah meraih gelar Sarjana, tinggal menunggu wisuda. Sudah memberikan yang terbaik untuk umi dan abinya, membiayai sekolah adik-adiknya. Yang jadi pikirannya sekarang adalah tentang Fasya.
Abdurrahman dan Asiah orang tua Alesa, dan Malik sang papa mertua belum tahu kalau Fasya sudah menalaknya. Dan sejak Fasya pergi, hingga sekarang Alesa tidak pernah bertatap muka dengan Fasya. Walaupun mereka tinggal satu kota dan sesekali bisa menghadiri acara yang sama. Namun Alesa dan Fasya selalu menghidar.
"Apa kabar papa Malik sekarang," batin Alesa. Dia teringat pada laki-laki mantan mertuanya yang tidak pernah tahu, kalau putranya Fasya telah menalaknya.
Satu persatu orang yang ikut andil dalam kesuksesannya terbayang. Dia juga teringat Saera, madunya yang telah menempanya menjadi kuat, dengan polah dan tingkah Saera yang arogan, mengajari Alesa menjadi orang yang tahan banting sampai saat ini.
"Ayuk turun!" Titah Makita, saat melihat Alesa bergeming. Lamunan Alesa buyar, kala mendengar celetukan Makita.
"Kamu kenapa? Apa kamu punya masalah?" Tanya Makita saat melihat Alesa termenung.
"Tidak apa-apa. Hanya lagi senang saja," jawab Alesa. Seketika Alesa menepis semua bayangan yang mengusik.
Alesa dan teman-temannya turun dari mobil, kemudian beranjak masuk mall, dan naik ke lantai tiga. Begitu sampai ke Solaria, mereka memesan menu masing-masing. Setelah makan bersama teman-temannya. Alesa tidak pulang ke rumahnya, tapi melajukan mobilnya ke kantor. Karena ada yang ingin dibicarakannya dengan Burhan yang selama ini telah jadi orang kepercayaannya.
"Non! Kita dapat tawaran kerjasama dengan perusahaan Nusantara," ujar Burhan, kala Alesa sudah berada di ruangannya. Abraham menyerahkan sebuah map berisi berkas tawaran kerja.
Satu persatu lembaran tawaran kerjasama itu Alesa baca dengan teliti dan seksama. Di situ ada dua perusahan besar yang terlibat dalam kerjasama itu. Dan salah satunya perusahaan Agra milik Carla yang CEOnya Fasya.
__ADS_1
"Apa aku kali ini harus bertatap muka dengan Fasya," gumam Alesa.
Sejak Alesa berpikir, apakah dia akan mengambil tawaran kerjasama ini, dan akan bertemu dengan Fasya. Jika ditolak, maka dia menyia-nyiakan kesempatan besar yang bisa membuat perusahaannya semakin terkenal.
Alesa mengambil ponsel di dalam tas, lalu menggeser layarnya mencari nomor kontak Dea dan Roy dan meminta segera ke ruangannya, lima menit kemudian Dea dan Roy pun datang. Berempat mereka akhirnya mengambil kesepakatan untuk menerima tawaran itu.
"Besok Dea yang temani saya menghadiri pertemuan," ujar Alesa.
Setelah tidak ada lagi yang dibicarakan, Roy, Dea dan Burhan kembali ke ruangannya masing-masing. Alesa kembali membaca tawaran kerjasama itu. Tepat pukul lima sore, Alesa ke luar dari ruang kerjanya, menuju lift dan turun langsung parkir.
Begitu masuk ke dalam mobil, Alesa menekan pedal gas, meluncur meninggalkan kantor, melaju ke jalan raya. Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Alesa sudah memasuki area pekarangan rumahnya. Setelah memarkir mobil, Alesa turun dan langsung masuk ke kamarnya.
"Buket bunga lagi," batin Alesa, saat melihat ada rangkaian bunga mawar di atas meja riasnya.
Alesa meraih buket bunga itu, memeriksa pengirimnya hanya tertulis dari seseorang yang mengagumimu, ini sudah ke empat kalinya. Seraya membawa buket bunga itu, Alesa ke luar menemui Sri.
"Bik! Bunga dari siapa lagi? Siapa yang antar ke sini?" Tanya Alesa seraya menunjukkan buket bunga.
"Bibik tak tahu. Non! Tadi di antar sama ojek online, seperti dari orang yang sama," jawab Sri.
"Ini buat bibik saja," ujar Alesa menyerahkan buket bunga misterius itu.
Setelah menyerahkan bunga itu pada Sri, dia pun kembali ke kamarnya. Sementara Sri masih termagu menatap punggung Alesa yang menghilang di balik pintu kamar.
Alesa yang sudah berada di kamar, meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Lima menit kemudian ritual mandinya terselesaikan. Begitu keluar dari kamar mandi, suara azan magrib pun berkumandang. Alesa mengerjakan shalat, setelah itu makan malam, selesai makan malam kembali ke kamarnya.
Dret... terdengar notifikasi suara pesan whatsapp masuk.
(Selamat malam. Ku harap kamu suka dengan bunga yang ku kirim) pesan dari nomor yang dikenal.
__ADS_1