
Part 12
"Hay! Kamu itu punya mata nggak. Sich," ucap sipemilik Avanza.
"Punya nih," sahut Alesa seraya menunjuk mata.
"Apa benar dia Bsmbang. Tapi kenapa dia tidak mengenaliku. Apa hanya mirip," batin Alesa menatap laki-laki didepannya dari atas ke bawah, ada keraguan
"Kalau punya! Mata tu digunakan kejalan yang benar. Bukannya minta maaf, malah kabur," ujar laki-laki itu lagi.
"Ma-maaf," ujar Alesa menangkupkan kedua tangan di dada. Seraya tersenyum, dia lupa kalau senyumnya terhalang dinding pemisah.
Alesa menunggu respon laki-laki itu, dan berharap laki-laki pemilik avanza itu mengenalinya. Tentu saja senyumnya tak terlihat. Alesa lupa kalau dia sudah memakai niqab.
Sementara laki-laki di depannya berusaha mengingat, laki-laki itu merasa familiar dengan tatapan mata Alesa. Seingatnya tidak punya teman wanita yang menggunakan cadar. Jujur dia tidak bisa mengenali wanita yang berada di balik cadar itu. Namun suaranya pun seperti tidak asing di telinga laki-laki itu.
"Kamu siapa? Kamu seperti tidak asing bagiku. Apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanya pemilik avanza itu seraya menatap intens pada Alesa dari ujung kaki hingga kepala.
"Aku..."
Belum sempat Alesa menjawab pertanyaan laki-laki itu. Tiba-tiba ponsel di saku kemeja pemilik avanza itu berbunyi. Laki-laki itu merogoh saku dan menjauh saat menerima panggilan. Begitu selesai menerima panggilan telepon, laki-laki itu pun beranjak dan masuk ke mobilnya. Tanpa memperdulikan Alesa yang belum selesai bicara padanya.
"Ternyata kekayaan telah membuatnya sombong dan lupa padaku," batin Alesa.
Alesa pun menepis pikirannya tentang laki-laki itu, dia ke sini untuk kuliah bukan untuk memikirkan hal tak penting seperti itu. Namun, tak bisa dia pungkiri, kalau pertemuannya tapi sempat mengusik kisi hatinya.
Alesa meneruskan langkah masuk ke area kampus, karena kampusnya luas, cukup membuat Alesa kelelahan.
Sambil menenteng map yang beri berkas dari Fasya. Alesa bertanya kepada salah seorang mahasiswa yang berpapasan dengannya.
"Kak! permisi. Apakah kakak kenal dengan bapak ini? Di mana kira-kira saya bisa menemuinya?" tanya Alesa seraya menyodorkan sebuah kartu nama.
"Apa kamu mahasiswa baru?" mahasiswa itu balik bertanya.
"I-iya kak." jawab Alesa.
"Kalau kamu mau ketemu bapak itu, tanya saja di ruang sebelah sana," ujar mahasiswa itu menunjuk sebuah gedung berlantai tiga yang terpisah dengan gedung lain.
Setelah mengucapkan terima kasih Alesa menuju gedung yang ditunjuk. Seorang scurity berjaga di balik pintu yang terbuat dari kaca.
"Permisi Pak! Bisakah saya bertemu dengan bapak ini?" Tanya Alesa sambil menyodorkan kartu nama yang tadi diberikan Fasya.
"Silakan! kamu naik saja ke lantai tiga. Lift di sebelah sana," ujar scurity menunjuk ke arah kiri.
Tanpa ragu Alesa menuju lift dan ikut antri di depannya. Ini pertama kali Alesa menginjakkan kakinya di lift, karena di kampungnya jangankan lift tangga eskalator saja tidak ada.
Saat pintu lift terbuka, Alesa ragu melangkahkan kaki mau ikut masuk. Dia hanya menatap dua orang yang tadi sama antri dengannya.
"Apa kamu ingin ke atas juga?" tanya salah satu mahasiswa yang sudah berada di dalam lift. Alesa mengangguk.
"Ayok cepatan masuk," ujar mahasiswa itu lagi, tangannya menekan tombol di samping pintu lift, agar lift tidak tertutup.
__ADS_1
Tidak membuang kesempatan Alesa bergegas masuk. Mahasiswa yang mengajaknya masuk tadi menekan tombol angka tiga. Alesa memperhatikan sambil menyimak. dia tidak boleh memperlihatkan kebodohannya, jika tidak ingin ditertawakan orang sekampus.
Lift berjalan naik membawa mereka dengan hitungan detik lift berhenti. Alesa kembali memperhatikan tombol-tombol dan angka yang berderet di samping pintu lift. Namun, kedua mahasiswa itu tidak melakukan apa-apa. Alesh dengan perasaan cemas menunggu lift terbuka.
Begitu pintu lift terbuka. Dua mahasiswa itu keluar, Alesa pun bergegas keluar dari lift. Dia khawatir jika terlambat lift akan tertutup dan dia terkurung sendiri di dalam. Sementara dia tidak tahu cara membukanya.
"Tadi liftnya terbuka sendiri atau mahasiswa itu menyentuh sesuatu yang terlepas dari pengamatanku," batin Alesa seraya berpikir.
"Eh, kakak! apakah tahu bapak ini di ruangan mana?" Alesa mencegah dua mahasiswa tadi dengan mengajukan pertanyaan, kedua mahasiswa itu menghentikan langkahnya dan Alesa memperlihatkan kartu nama orang yang dicarinya.
Kedua mahasiswa itu saling pandang, lalu menatap ke arah Alesa.
"Yakin adik mau ketemu bapak ini?" salah satu dari mahasiswa itu bukannya menjawab pertanyaan Alesa, tapi malah balik bertanya seraya menunjuk kartu nama di tangan Alesa.
"Hooh." jawab Alesa sambil mengangguk.
"Dari sini jalan lurus, kemudian belok kiri." ujar mahasiswa itu memberikan penjelasan.
"Hati-hati dik, itu dosen paling galak di kampus ini." Ujar salah satu mahasiswa.
"Hah! Yang be..." belum selesai Alesa bicara dua mahasiswa tadi sudah menghilang masuk kesalah satu ruangan.
Alesa beranjak berjalan mengikuti arahan dan benar saja begitu dia belok kiri ada sebuah pintu yang tertutup rapat dan di atas pintu ada plang bertulisan ruang rektorat.
"Bismillahirrahmanirrahim," batin Alesa ragu antara mengetuk dan tidak.
"Ya Allah. Semoga saja prasangka mahasiswa tadi salah," batin Alesa lagi, dia pun mengetuk pintu.
Perlahan Alesa menarik handle pintu dan menguakkan sepertiga daun pintu. Alesa masuk dan melangkah perlahan dengan detak jantung yang berdebar dua kali lebih kencang dari biasanya.
Seorang laki-laki gagah berumur tiga puluhan ke atas sedang duduk menghadap ke layar laptop, sedikit pun dia tidak merubah posisi pandangannya dari layar laptop, saat Alesa sudah berada di depannya.
"Per-permisi pak. Saya ingin menyampaikan titipan dari pak Fasya," ujar Alesa dengan suara bergetar. Terlihat sekali kalau dia gugup.
"Silakan duduk dulu," titah laki-laki itu. Namun tetap tidak menoleh ke arah Alesa.
Sudah sepuluh menit Alesa mendudukkan bokongnya di kursi depan meja kerja laki-laki itu, dengan perasaan yang bercampur aduk, Alesa mulau gelisah menunggu respon Laki-laki itu. Tiga puluh menit sudah dia berada di situ, laki-laki itu masih fokus menatap layar laptop.
"Apa sebaiknya aku pergi saja dari sini," batin Alesa.
Perasaan Alesa menjadi ambigu, tetap bertahan di sini dan tak dianggap sepertinya sangat memalukan, keluar secara diam-diam pasti di nilai tak sopan dan tak beradab. Minta ijin nanti malah dianggap lancang.
"Ya Allah. Aku harus bagaimana," guman Alesa resah.
Di saat keambiguan melanda Alesa, terdengar getar suara ponsel laki-laki itu. Laki-laki itu meraih ponselnya dan menjawab panggilan masuk.
"Adikmu sudah ada diruanganku," ujar laki-laki itu, seraya melirik ke arah Alesa.
"Adik? Apa itu Fasya? Jadi Fasya menganggapku adik, bukan istri," batin Alesha berprasangka kalau yang menelepon laki-laki itu adalah Fasya.
Setelah memutuskan panggilan telepon, laki-laki itu baru merobah posisi duduknya, kini dia menghadap ke Alesa. Deg... Jantung Alesha kembali berdetak kencang saat mata laki-laki menatapnya. Untungnya Alesa menggunakan niqab kalau tidak pasti terlihat kalau dia salah tingkah.
__ADS_1
Sambil menarik napas panjang, Alesa mencoba mengatur detak jamtungnya yang tadi hampir berantakan. Begitu merasa yakin kalau nafasnya sudah bisa dinetralkan. Alesa menyodorkan map ke arah laki-laki itu.
"Sampaikan pada abangmu, kalau kamu diterima di kampus ini dan bisa melakukan daftar ulang besok secara online." ujar laki-laki itu seraya membuka map yang sudah berada di tangannya
"Baik pak. Terima kasih."
"Jangan panggil pak. Saya jadi kedengaran tua."
"Saya harus panggil apa?" Tanya Alesa.
"Panggil. Abang!"
"Baik Bang..."
"Arda! Panggil bang Adra."
"Baik Bang Adra. Kalau begitu saya permisi."
"Kenapa buru-buru? Bisakah kamu membantu saya untuk menghitung angka-angka ini. Di sini saya lihat nilai matematikamu sangat memuaskan." ujar Adra menatapi satu persatu nilai yang tertera di surat tanda tamat belajar Alesa.
"Dan kamu juga mau mengambil akuntankan?"
"I-iya."
"Anggap saja tes masuk ke universitas ini," celetok Arda.
"Baiklah. Saya akan mengerjakan semampu saya." ujar Alesa, dia akan menunjukkan hasil terbaik pada Adra. Karena dulu waktu di SMA dia paling jaga masalah hitung menghitung seperti ini. Alesa akan membuktikan pada Adra kalau dia layak menjadi mahasiswa di kampus ini.
Adra meminta Alesa pindah duduk di posisinya dan menyerahkan laptonya. Alesa tentu dengan senang hati membantu Adra yang notabene pasti orang penting di kampus ini, di mana dia menimba ilmu nanti.
Setelah menyerahkan laptop dan berkasnya pada Alesa. Adra meminta Alesa mengerjakan semua tugasnya sampai Adra kembali lagi setelah meting. Setelah memberikan sedikit arahan pada Alesa, Adra keluar dari ruangannya.
"Apa dia seorang rektor? Kenapa mengerjakan laporan keuangan? Apa ini laporan keuangan kampus," batin Alesa.
Sejenak Alesa membaca kop yang tertara di atas laporan itu tertulis PT. Agrobisnis. Alesa pun menebak kalau laporan ini merupakan laporan perusahaan.
Agrobisnis! Bukannga ini perusahaan suaminya. Tadi pagi Alesa sempat membaca ID Crad Fasya waktu dia masuk ke ruangan kerja Fasya, saat Fasya meminta dia mengambil tas.
"Jadi Adra selain orang penting di kampus ini, dia juga akutan manejemen di perusahaan yang sama dengan Fasya," batin Alesa lagi.
Alesa melirik jam di layar ponselnya menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit. Itu artinya sudah tiga jam Alesa berada di ruangan Adra, laporan yang dikerjakannya pun sudah rampung. Alesa mengalihkan pandangannya pada foto yang tertata rapi di meja kerja Arda. Foto berbingkai hati itu terlihat sangat smart dengan senyuman manis menghiasi bibir Adra.
"Masih muda, tampan, baik dan mapan, sungguh laki-laki sempurna yang diidolakan para wanita." tanpa sadar Alesa memuji Adra
Alesa tersenyum membayangkan wajah Adra, tanpa disadarinya seorang wanita masuk dan terheran-heran saat melihat Alesa senyum-senyum sendiri.
"Siapa kamu!" wanita itu menggeprak meja kerja Adra. Tentu saja Alesa sangat terkejut.
"A-aku..."
Bersambung
__ADS_1