Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Hukuman Pertama


__ADS_3

Part 30


Dalam hati sebenarnya, tidak ada niat Adra untuk memberi hukuman pada Alesa. Namun, karena sudah menjadi komitmen awal, maka mau tidak mau, Adra terpaksa memberlakukannya pada Alesa, karena Alesa melanggar peraturan yang sùdah disepakatinya dengan mahasiswa lain, sebelum Alesa masuk.


Dua jam waktu berlalu tak terasa, materi yang diberikan Adra pun usai. Sebelum ke luar kelas, Adra memberikan tugas pada mahasiawa untuk membuat power point materi diskusi yang akan di presentasi semua mahasiswa pada materi minggu-minggu berikutnya.


"Hay! gadis kampung. Kalau nggak niat kuliah, nggak usah ngampus, bikin mood satu kelas down. Gara-gara kamu, kelas jadi nggak kondusif," kecam Cantika kesal dan geram, karena kehadiran Alesa yang telat, membuat wajah Adra yang ganteng jadi tak ramah.


"Hay cantika! Kamu nggak usah ngomong gitu, tadi Alesa telat gara-gara dia sakit perut. Aku yang salah, karena tak berani menyampaikan pesan Alesa ke pak Adra," ujar Makita membela Alesa.


"Hah! Jadi kamu biangnga. Payah kamu," kecam Cantika lagi sambil mendorong bahu Makita.


"Sudah! Aku nggak apa-apa kok," Alesa menengahi teman-teman.


"Nggak apa-apa? Kamu dapat hukuman dari pak Adra, masih bilang tidak apa-apa. Kamu terlalu lemah Alesa, kamu bisa ditindas di kampus ini," ujar Cantika lagi.


Melihat ketulusan Alesa, yang tidak menyalahkan Makita, membuat teman-temannya yang tadi sempat kesal, jadi simpati. Ternyata praduga mereka salah. Begitu juga dengan Cantika yang dari tadi sudah menganggapnya kampungan.


"Maaf ya. Sa! Tadi aku sudah terlanjur kesal sama kamu," ujar Cantika menyodorkan tangannya ke arah Alesa.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan," tutur Alesa seraya merengkuh bahu Cantika, itu artinya Alesa tidak mengambil hati dari perkataan teman-temannya.


"Aku juga maaf ya. Tadi aku menyalahkanmu, karena aku takut dapat hukuman dari pak Arda," ujar Makita ikutan menyodorkan tangannya.


"Tidak apa-apa. Aku paham kok " ucap Alesa seraya memasukkan buku dan pena ke dalam tas. Lalu menjabat tangan Makita.


Kini hati Alesa merasa tenang dan nyaman, kawan-kawan baru sangat baik dan ramah. Walaupun ini hari pertama, Alesa merasa seperti sudah kenal berbulan-bulan dengan kawan kelasnya.


"Kita cari minum yuk. Aku haus," ajak Makita.


"Maaf. Aku harus menemui pak Adra, untuk menerima hukuman," ujar Alesa.


"Apa perlu kami temani?" Tanya Makita bersamaan dengan Cantika.


"Tidak usah, aku tidak ingin nanti kalian jadi terlibat." Tolak Alesa.


"Tapi. Sa! Kami bisa membela kamu di depan pak Adra dan meminta pak Adra membatalkan hukumannya," ujar Cantika dan dibenarkan beberapa temannya yang lain.


Alesa menarik nafas dalam, lalu tersenyum saat mendapat simpati dari teman-teman. Bukan dia tidak mau menerima tawaran Cantika dan yang lainnya. Alesa hanya tidak ingin Adra yang mencapnya mahasiswa yang tidak bertanggung jawab dengan melibatkan teman-teman untuk pembelaan.


Setelah mengucapkan terima kasih pada Makita, Cantika dan teman yang lain, Alesa berpamitan, kepergiannya menumui pak Adra diiringin doa dari teman-teman kelasnya.


"Ya Allah! Lembutkanlah hati pak Adra, agar hukumannya tidak memberatkan Alesa. Aamiin," doa Makita diaminkan oleh yang lain.


Alesa menyusuri koridor kampus menuju lift, menunggu lift terbuka Alesa berdiri di samping pintu lift, sambil membuka aplikasi tiktok di ponselnya.

__ADS_1


"Sa! Tunggu." Terdengar suara seseorang berteriak ke arah Alesa, saat Alesa ingin melangkahkan kaki masuk lift.


Alesa mengurungkan niat dan membiarkan lift tertutup lagi. Bambang sedang berlari kecil ke arahnya.


"Mau ke lantai dasarkan?" Tanya Bambang.


Sudah dua puluh menit Bambang berada di lantai dua, menunggu Alesa keluar.


"Tidak! Aku mau ke lantai tiga," ucap Alesa.


"Lantai tiga, ngapain ke sana?"


Alesa menatap Bambang, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Bambang. Niat hati ingin bicara jujur, kalau dia menemui Adra untuk menjalankan hukuman karena telat, gara-gara menunggu tas dan ponsel Bambang tadi pagi. Namun, Alesa mengurungkannya, dia tak mau Bambang jadi merasa bersalah.


"Aku mau menemui pak Adra, masalah tugas mata kuliah tadi," jawab Alesa berbohong.


Hari ini sudah dua kali Alesa berbohong, ada rasa tak nyaman bergelayut di hatinya. Mungkin inilah yang dikatakan para ahli bijak, kebohongan akan ditutupi oleh kebohongan lain.


"Ya Allah! Maafkan aku. Aku janji ini terakhir bohong," batin Alesa.


"Sa! Aku temani ya." Bambang mengajukan diri.


"Tidak usah. Biar aku sendiri saja, tak enak nanti pak Adra bisa salah paham," ujar Alesa, lalu masuk ke lift yang sudah terbuka.


Bambang pun ikut nyelip masuk ke lift. Begitu lift naik ke lantai tiga dan pintunya terbuka, Bambang ikut keluar.


"Tidak usah, aku tidak tahu berapa lama di ruangan pak Adra." Tolak Alesa.


"Tidak apa-apa. Jika aku bosan kelamaan, aku bisa turun kebawah," ujar Bambang lagi.


"Baiklah," ucap Alesa lalu melangkah ke ruang rektorat.


Tok


Tok


Tok


"Masuk."


Tangan Alesa bergerak menggapai handle pintu, memutar dan menguakkan daun pintu. Alesa melangkah pelan menghampiri Adra yang sedang fokus menatap layar laptopnya.


"Duduk," titah Adra saat melihat Alesa hanya berdiri.


Alesa menarik kursi di depan meja Adra, lalu mendudukkan bokongnya. Sekarang dia berhadapan dengan Adra. Setelah Alesa duduk, Adra meraih ponsel dan menggeser layarnya.

__ADS_1


"Hallo Vira. Tolong kamu bawa laporan mahasiswa yang tadi saya serahkan ke kamu." Terdengar Adra memerintah seseorang, lalu menutup panggilannya.


Tok


Tok


Tok


Lima menit kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu Adra.


"Masuk," titah Adra.


Handle pintu diputur dari luar, perlahan daun pintu bergerak. Alesa menatap kearah pintu, ingin mengetahui siapa yang datang. Dua detik kemudian seorang wanita cantik bergaun warna silver dan hijab senada masuk.


Sejenak wanita itu menatap Alesa, dia merasa asing karena tidak pernah melihat wanita bercadar itu berada di ruang Adra.


"Siapa dia," batinnya masih menatap ke arah Alesa.


"Vira! Kok berdiri di situ," sapa Adra saat melihat Vira sedang intens menatap Alesa.


Alesa merasa risih, saat tatapan wanita itu terus meniliknya, seperti menaruh curiga. Sapaan Adra pada Vira membuat ketegangan Alesa berkurang


"I-iya Pak! Ini laporannya," ujar Vira pikirannya tentang Alesa ambyar seketika. Vira beranjak mendekati ke meja Adra.


"Letakkan di meja itu." Fasya menunjuk meja sofa.


Vira membalikkan tubuhnya yang tadi terlanjur sudah melewat Alesa. Lalu meletakkan tumpukan tugas mahasiswa itu di atas meja.


"Apa itu semua?"


"Tidak! Masih ada tugas kelas satra A," jawab Vira.


"Apa pak Adra menginginkan semua?" Tanya Vira, matanya kembali menatap Alesa.


"Tidak! Cukup itu saja dulu," ujar Adra.


"Baik. Pak! Apa bapak ingin saya bantu, untuk mengoreksi laporan-laporan ini?" Tanya Vira, dia berharap bisa tetap berada di ruang kerja Adra, agar Adra tidak berduaan dengan gadis bercadar itu.


"Tidak! Saya akan meminta bantuan Alesa untuk merekapnya," sahut Adra, membuat Vira sekali lagi menatap ke arah Alesa. Lalu berpamitan pada Adra, keluar menuju ruang kerjanya.


"Nah! Itu tugas kamu. Baca satu persatu tugas mahasiswa itu, contreng dan kasih tanda, jika kamu mendapat tulisan atau hitungan yang salah," ujar Adra.


"Semua pak?" Tanya Alesa.


Adra mengangguk sambil tersenyum. Sementara Alesa melotot melihat tumpukan laporan itu, dua hari belum tentu kelar Alesa membaca dan memeriksanya.

__ADS_1


"OMG," Batin Alesa menepuk jidatnya.


__ADS_2