Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Apa Alesa Bahagia?


__ADS_3

Part 7


Setelah menyerahkan kartu ATM, Fasya dan Burhan berpamitan, dan akan kembali dua hari lagi.


Sepeninggalan Fasya. Abdurrahman dan istrinya berlonjak girang, harapan untuk kesembuhan Abdurrahman sudah diambang pintu, selain itu masih ada sisa uang untuk mengontrak rumah dan biaya hidup mereka beberapa bulan kedepan.


"Alhamdulillah. Bi! Akhirnya Allah mengabulkan doa umi," ujar Asiah sujud syukur. Walaupun dia akan meninggalkan rumah kenangan ini.


"Panggil Alesa. Mi!" Titah Abdurrahman.


Asiah masuk ke kamar dan meminta Alesa menemui abinya di ruang tamu. Alesa keluar diikuti Asiah.


"Nak! Dua hari lagi kamu akan abi nikahkan dengan nak Fasya," ucap Abdurrahman langsung keintinya.


"Apa Bi! Menikah! Aku tidak mau menikah secepat ini. Bi"


"Fasya! Siapa dia. Bi?" Tanya Alesa.


"Ini satu-satu cara untuk bisa menyelamatkan nyawa abimu. Nak!" Umi Asiah ikut bicara.


"Tapi. Mi! Alesa tidak kenal laki-laki itu," rajuk Alesa.


"Percayalah! Fasya laki-laki kaya yang akan membuat hidupmu lebih nyaman. Dan dia memberikan uang untuk pengobatan abi," jelas umi Asiah lagi.


"Laki-laki kaya. Jadi Abi dan Umi telah menjualku."


Dek... tiba-tiba jantung Andurrahman berhenti sejenak, saat dengar kata-kata Alesa. Sesak di dada Abdurrahman terhentak-hentak, berdenyut nyeri. Abdurrahman memegangi dadanya yang sakit. Dia terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah seperti biasa.


"Abi! Abi kenapa?" Tanya Asih cemas, seraya memegangi bahu Abdurrahman.


"Alesa! Ambil obat abi di kamar," titah Asiah.


Alesa bangkit dan lari kecil ke kamar mengambil obat, kemudian ke dapur mengambil air putih, kembali lagi ke luar menyerahkan obat dan ke air ke Asiah.


Setelah meminum obat, Andurrahman mulai sedikit tenang. Dia menarik nafas panjang lalu menatap Alesa dengan intens.


"Alesa! Abi mohon padamu, sekali ini saja. Kabulkan permintaan Abi. Bukan abi egois. Nak! Tapi semua ini abi lakukan demi adik-adikmu dan demi kamu." Ujar Abdurrahmab terbata-bata.


"Adikmu ada empat orang. Jika abi tiada siapa yang akan membiaya sekolahnya. Umi hanya punya penghasilan dua puluh ribu satu hari. Apa kamu tega melihat adik-adikmu terlantar," ucap Abdurrahman dengan suara lemah dan terisak.


Abdurrahman berharap Alesa mengerti dengan keadaan yang memaksanya harus melakukan ini. Bukan karena dia tak sayang Alesa. Karena sayangnyalah dia ingin Alesa menikah dengan orang kaya yang bisa memenuhi kebutuhannya.


"Benar apa kata abimu. Nak!" Asiah ikut meyakinkan Alesa.


Setelah terjadi perdebatan kecil. Akhirnya Alesa mengalah, dia bersedia menikah. Demi abi dan adik-adiknya. Begitu tidak ada lagi yang dibicarakan Alesa masuk ke kamarnya. Sambil memeluk bantal guling dia menangis.

__ADS_1


Sementara Fasya yang sudah sampai ke hotel. Mandi dan membersihkan diri, mengganti pakaiannya. Setelah naik ketempat tidur, dia baru ingat kalau ponselnya mati dari tadi. Fasya keluar kamar dan meninjam cagher pada resepsionis, karena caghernya tak terbawa dan mau beli, tokopun sudah pada tutup.


Jam menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit. Fasya menghidupkan ponsel, menggulir layarnya, mencari nomor kontak Saera. Lalu menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau, memanggil nomor kontak Saera.


Sementara Saera yang sudah tertidur pulus, pasalnya dia kesal pada Fasya yang pergi menghilang tanpa kabar. Sebelum tidur tadi Saera sudah mematikan ponselnya, agar tidak ada panggilan masuk, yang mengganggu tidurnya. Dan dia memastikan kalau besok Fasya akan menyembah-nyembah padanya meminta maaf.


"Ya Allah. Pasti Saera marah padaku," gumam Fasya dalam hati.


Sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Fasya meraup habis wajah dengan kedua tangannya. Perlahan dihembuskan nafasnya, dia berharap rasa sesak di dadanya berkurang.


Malam semakin larut. Fasya belum bisa memejamkan mata. Dia gelisah, sudah lebih sepuluh kali dia memindahkan posisi tidurnya. Namun, belum jua bisa terlelap.


"Bos belum tidur?" tanya Burhan, saat dia masuk, dilihatnya Fasya menatap ke langit-langit kamar dengan tatapan kosong dan tak menyadari dia masuk.


"Pak bos kenapa?" Burhan kembali bertanya. kala Fasya tidak menggubris pertanyaannya.


Fasya tersentak sadar dari lamumannya, kala Burhan menyentuh bahunya. Fasya mengalihkan pandangannya kearah Burhan.


"Tidurlah bos, istirahat! Pak bos harus terlihat fres pas acara nikahan nanti," ujar Burhan seraya membaringkan tubuhnya. Dalam hitungan detik Burhan sudah mengeluarkan ciri khas dengkurannya.


Fasya yang tidak bisa memejamkan mata, pikirannya menerawang tembus ke langit ke tujuh. Denting jam berbunyi tiga kali, itu tandanya malam sudah mulai beranjak subuh. Baru Fasya hanyut, ngantuknya tak terbendung, dia pun terlelap dalam balutan mimpi yang tak sampai dan asa yang tak usai.


****


Hari yang ditunggu pun tiba. Fasya dan Burhan sedang menuju kekediaman Abdurrahman. Keluarga Alesa pun sudah menunggu kedatangan Fasya. Fasya terlihat sangat gagah dengan setelan baju teluk belaga berwarna putih dan songkok hitam menghias kepalanya.


Alesa terlihat sangat anggun dengan baju selayar warna putih. Jilbab dan niqab warna senada. Lirikan mata Fasya tidak bisa menembus dan membayangkan wajah Asela yang sebenarnya.


"Apa rupanya sangat jelek, hingga seluruh tubuhnya harus dibalut dan ditutupi yang terlihat hanya bola matanya," batin Fasya.


Asela gadis remaja cantik, putih dan memiliki lesung pipi yang tertutup niqab, sangatlah manis jika dia tersenyum. Alesa baru saja menamatkan sekolah menengah. Usianya pun sekarang baru delapan belas lebih.


Begitu prosesi ijab qabul selesai, Fasya di bawa ke kamar penganten untuk mengganti bajunya dengan pakaian adat melayu berwarna kuning gading.


Seperdua menit kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar, Fasya yang baru selesai melapas baju teluk belanga, meraih handle pintu dan membukanya.


"Boleh Umi masuk?" Tanya Asiah pada Fasya dengan menyebut panggilan umi untuk dirinya, karena Fasya sudah resmi jadi menantunya.


"Silakan. Umi."


Umi Asiah masuk diiringi satu orang wanita cantik yang sedang menenteng paperbag. Fasya menatap Asiah dan wanita itu secara bergantian.


"Ini nona Eka, dia akan membantumu memakai baju," ujar Umi lalu beranjak keluar kamar.


Melihat Umi meninggalkannya hanya berdua dengan nona Eka, membuat hati Fasya berdebar tak menentu. Tatapan Fasya tak lepas pada nona Eka yang sedang membongkar isi paperbag yang dibawanya.

__ADS_1


"Andai saja nona ini yang jadi istri keduaku. Pasti akan jauh berbeda suasana hati ini, dari pada menikahi Alesa yang nggak jelas wajah dan postur tubuhnya," gumam Fasya seraya menghembus nafas kasar.


"Ayok sini mendekat, biar saya ganti pakaian Abang."


"Astagfirullah," Fasya terlonjak kaget dan beristigfar, kala mendengar suara asli nona Eka. Cantik-cantik tapi suaranya bariton. Ternyata nona Eka wanita jadi-jadian.


Ihhhh... Merinding bulu kuduk Fasya saat terbayang ucapannya barusan yang ingin menikah dengan nona Eka. Tak bisa disembunyikan dia tersenyum sendiri mengingatnya.


"Dasar pikiran kotor, dengan wanita jadian pun tertarik." batin Fasya lagi.


"Sini! aku bisa pakai sendiri." Fasya mengambil baju di tangan nona Eka, tak sudi dia di sentuh sama wanita kawe itu.


"Biar Eka saja yang pasangkan. Abang!" ujar Eka seraya menggenggam erat baju ditangannya, hingga terjadi tarik menarik.


Srett... Bajunya sobek.


Seketika mata Nona Eka membulat, secara bergantian dia menatap baju dan Fasya. Fasya menangkupkan kedua tangan di dadanya, dengan gerakan menunduk dia memelas dan meminta maaf, tak terbayang olehnya jika laki-laki kemayu ini mengamuk, maka satu kampung akan heboh.


"Abang tidak usah khawatir, masih ada baju yang lain," ujar nona Eka, ekspresi wajahnya biasa saja, bahkan kini dia tersenyum manis kepada Fasya.


"Kalau tidak mau kupeluk, nurut ya," bisik nona Eka mengancam di telinga Fasya.


Fasya hanya terdiam menurut dengan nona Eka. Dia tak sudi mendapat pelukan bidadari neraka itu, jangankan dipeluk benaran, membayangkannya saja sudah mengerikan.


Sementara Alesa di kamar sebelah masih bermalas-malasan dengan posisi rebahan. Umi Asiah yang baru masuk ke kamarnya hanya giling-giling kepala.


"Sayang! kamu kok belum ganti baju?" tanya umi Asiah pada putrinya.


Alesa memindahkan pandangan ke uminya. Kemudian dia bangkit dari tidurnya duduk di tepi ranjang. kala melihat nona Eka masuk ke kamar dengan mententeng baju adat melayu warna kuning gading.


Sejenak Alesa menatap gaun di tangan nona Eka. Andai gaun ini dipakai untuk pernikahannya dengan Bambang laki-laki yang dicintainya. Pasti Alesa berlonjak girang.


"Sini! Umi yang pasangkan gaun pengantinmu," ujar Asiah seraya menarik tangan putrinya agar turun dari tempat tidur.


"Biar aku saja. Aku bisa pakai sendiri," ujar Alesa.


Sejatinya Asiah tahu bagaimana perasaan Alesa sekarang. Dari sinar mata Alesa tampak bias keberatan dengan pernikahan ini. Sebagai seorang ibu. Andai bukan karena untuk pengobatan suami, Asiahpun tidak akan mau Alesa dinikahkan secepat ini.


Pilihan yang sulit bagi Asiah, dia sangat mencintai suaminya dan rela melakukan apa saja untuk kesembuhan Abdurrahman. Termasuk harus rela melepaskan putri kesayangannya walaupun dengan berat hati. Dia pun melakukan ini agar Alesa bahagia dan tidak hidup dalam kekurangan lagi.


"Alesa! apa kamu bahagia. Nak?"


"Alesa bahagia. Umi," ujar Alesa dia menghambur dalam pelukan Asiah dan menangis.


"Ya Allah. Alesa bilang bahagia. Tapi dia menangis, maafkan abi dan umi. Nak," batin Asiah mengusap punggung Alesa dan mencium puncak kepalanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2