Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Kelas Pertama


__ADS_3

Part 29


"Saya..." Alesa ragu meneruskan ucapannya, sejenak dia menatap ke arah Bambang.


"Pergilah. Pak Adra membutuhkanmu," ujar Bambang mengurai keraguan Alesa.


Alesa mengangangguk bimbang. Namun, dia pun mengikuti langkah Adra menuju trotoar kampus. Sementara Bambang menatap kepergian Alesa, hingga menghilang di balik dinding pemisah, lalu dia beranjak pergi berbaur dengan teman-temannya di kantin kampus.


"Alesa! Kamu sudah sarapan?" Tanya Adra sambil memperlambat langkahnya, kemudian menoleh ke arah Alesa.


"Belum," jawab Alesa menggeleng.


"Yuk kita ke cafe dulu," ajak Adra membelok ke arah cafe. Alesa hanya mengekor dari belakang.


"Hay! Jalannya jangan di belakang. Sini!"


Tiba-tiba Adra meraih tangan Alesa, meminta Alesa mensejajarinya. Alesa memandangi tangan Adra yang menggandeng tangannya.


"Maaf," ucap Adra begitu menyadari, segera melepaskan tangan Alesa.


Adra dan Alesa melewati kantin kampus menuju cafe. Bambang yang sudah berada di kantin melihat Alesa dan Adra menuju ke cafe, spontan berdiri.


"Hay! Kamu mau ke mana?" Tanya salah satu teman Bambang.


"Aku mau ke cafe sebelah, ada perlu sebentar," ujar Bambang, terus melangkah mengikuti Adra dan Alesa diam-diam.


"Kenapa pak Adra mengajak Alesa ke cafe?" Hati Bambang bertanya-tanya.


Adra dan Alesa masuk ke ruang ke cafe. Adra mengajak Alesa ke Vip tempat biasa. Bambang pun memutuskan masuk ke ruang Vip juga, kemudian duduk di meja yang bersebelahan dengan meja Adra yang hanya dibatasi dinding kaca frosted glass.


Bambang menatap bayangan Alesa dan Adra dari balik frosted glass. Entah kenapa saat melihat Adra dan Alesa begitu akrab. Ada rasa aneh di dada Bambang, Bambang semakin ingin tahu apa yang dilakukan Adra dan Alesa di balik frosted glass.


Tiga puluh menit kemudian Adra dan Alesa selesai sarapan. Mereka berdua bergerak dari meja menuju ke pintu. Bagitu keluar dari cafe Adra dan Alesa berpisah, Adra menuju ruang rektorat dan Alesa menuju ruang kelas.


"Alesa!"


Langkah Alesa terhenti, dia membalikkan tubuhnya, mencari orang yang memanggilnya. Bambang keluar dari persembunyian.


"Kamu! Ada apa?" Tanya Alesa heran, tiba-tiba Bambang muncul.


"Apa dari tadi Bambang mengikutuku," batin Alesa.


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Bambang pura-pura tak tahu, kalau dia tadi mengintai Alesa dan Adra.

__ADS_1


"Sudah." Jawab Alesa.


"Oh. Padahal Abang mau ngajak mu sarapan," ujar Bambang lagi.


"Masuk jam berapa?" Tanya Bambang lagi.


"Sembilan tiga puluh," jawab Alesa seraya menatap layar ponselnya, masih ada tiga puluh menit lagi.


"Masih tiga puluh menit. Kita ke taman samping yuk, ada yang mau abang bicarakan," ajak Bambang sudah berabang-abang, seraya beranjak menuju taman.


Di taman masih terlihat sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk di bangku taman, ada yang sedang mengerjakan tugas, ada yang sedang menelepon dan ada yang sekedar duduk-duduk menunggu jadwal masuk.


Bambang mencari bangku yang agak jauh dari keramaian, karena dia ingin bicara serius dengan Alesa.


"Yuk duduk di sini," ujar Bambang meletakkan tas dan ponselnya di samping. Alesa pun medudukkan bokongnya.


Baru saja Bambang ingin bicara. Tiba-tiba perutnya merasa mules, Bambang tak bisa menahannya, ada sesuatu yang mendesak ingin keluar.


"Sa! Kamu tunggu sebentar ya. Aku ke toilet dulu," ujar Bambang berlari, sambil menekan perutnya, meninggalkan tas dan ponselnya.


Sepuluh menit kemudian Bambang muncul, seraya memegang perutnya, wajahnya sedikit memelas. Baru saja Bambang ingin mendudukkan bokongnya, kembali perutnya sakit, dan dia berlari lagi ke toilet.


Alesa menunggu Bambang dengan cemas, dilihatnya layar ponsel, jam sudah menunjukkan pukul sembilan dua puluh lima menit, lima menit lagi kuliahnya akan dimulai. Waktu terus berjalan, sudah lewat dua menit dari jadwal Alesa, tapi Bambang tak juga muncul.


(Aku lagi di toilet, sakit perut) bohong Alesa membalas chat Makita.


Dengan gelisah Alesa menatap kearah toilet laki-laki, berharap sosok Bambang segera keluar. Dan dia bisa segera pergi dari sini. Dua puluh menit kemudian Bambang tak juga muncul.


"Kalau kutinggal tas dan ponselnya, takut hilang," Alesa Ambigu.


"Bagaimana kalau ku bawa saja. Bambang bisa mencari ke kelasku," batin Alesa.


"Duh! Maaf Sa. Perutku mulas banget, kamu jadi terlambat gara-gara menunggu tasku," ungkap Bambang kala muncul.


"Kalau gitu aku ke kelas dulu ya," ujar Alesa.


"Iya. Nanti habis jam kuliah kita ketemuan di sini ya," ujar Bambang, menjejeri langkah Alesa yang bergegas menuju lift.


Keduanya masuk lift dan berpisah. Bambang keluar di lantai satu, Alesa di lantai dua. Begitu sampai di depan kelas, terdengar suara Adra sudah memulai mata kuliah psykologi.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Alesa mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


"Maaf pak. Saya telat masuk," ujar Alesa berdiri di depan pintu dan menundukkan kepala.


Sejenak Adra menatapnya dari ujung kaki, hingga kepala, dalam hati Adra heran kenapa Alesa bisa terlambat, pada hal tadi pagi dia dan Alesa sarapan bersama.


"Sesuai dengan isi kontrak mahasiswa dan dosen, yang tertera di lembaran kertas yang saya bagikan tadi. Barang siapa yang terlambat lebih lima menit maka bersedia menerima hukuman dari saya," ujar Adra lantang ke arah Alesa.


Mendengar ucapan Adra, Alesa memberanikan diri menatap Adra. Di dalam hati Alesa mengutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya di hari pertama masuk kelas dia terlambat.


"Saya akan menerima hukuman apa pun yang akan bapak barikan," ujar Alesa.


"Silakan masuk dan mengikuti materi saya hari ini, setelah selesai materi nanti, segera keruangan saya," ujar Adra, kemudian melanjutkan materinya.


Alesa mengangguk dan melangkah masuk. Dia duduk di samping Makita, karena tadi Makita memang mengambilkan kursi untuk Alesa. Alesa seperti tak punya muka di depan teman-teman barunya. Beberapa mata mahasiswa yang belum dikenal menatapnya kesal.


"Baru hari pertama sudah telat. Niat kuliah nggak," bisik seorang mahasiswa yang duduk di belakang Alesa.


Mendengar ucapan mahasiswa itu, Alesa hanya diam dan tak menanggapi, karena dia menyadari, kalau ini murni kesalahannya, seharusnya tadi dia tidak ikut bambang, langsung saja ke kelas. Dasar nasibnya lagi tak baik.


"Makita! Kamu tidak kasih tahu sama pak Adra, apa alasan aku telat," bisik Alesa pada Makita.


"Maaf. Sa! Aku tak berani, kayaknya pak Adra tak mau menerima apapun alasan mahasiswa yang telat," Makita menjelaskan pada Alesa.


"Kok gitu."


"Hemmm," tiba-tiba Arda sudah berdiri di samping Alesa.


"Sudah telat, berisik lagi. Kalian berdua boleh keluar dari kelas saya," ujar Adra.


Alesa dan Makita saling berpandangan, mereka berdua tak menduga kalau Adra akan mengusir mereka dari kelas.


"Pak! Yang bikin berisik itu Alesa bukan saya," ujar Makita protes, karena yang mengajaknya bicara Alesa.


Semua mata menatap ke arah Alesa, Alesa samakin gundah, kala beberapa mahasiswa mengecamnya dan menganggapnya membuat kekacauan di kelas, hingga Adra kehilangan mood melanjutkan materi.


"Hay gadis kampung, keluar dari kelas. Pak Adra tidak ingin kamu berada di kelasnya," ujar salah satu mahasiswa yang paling cantik di kelas itu.


"Pak! Saya minta maaf. Ijinkan saya tetap berada di sini dan mengikuti kelas bapak," ujar Alesa seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di dada dengan mata berkaca-kaca.


"Baik. Hukumanmu akan saya tambah menjadi dua point," ujar Adra.

__ADS_1


__ADS_2