
Part 56
Teriakan Saera, mengundang semua mata memperhatikan Fasya dan Calra yang beranjak dari tempat duduk.
"Minumannya. Bang?" Tanya sang pelayan yang kebetulan mengantar jeruk peras pesanan Fasya.
"Buatmu saja," sahut Fadya, seraya mengeluarkan uang lima puluh ribu dan memberikan pada pelayan itu. Kemudian berlalu pergi.
"Saera!" Diana menahan tangan Saera saat melihat Saera ingin beranjak dari duduknya.
"Tante lepaskan. Biar ku kasih pelajaran padanya."
Saera menjadi geram melihat Carla dan Fasya tidak membalas makiannya. Kesan di sini hanya dia yang cari perhatian.
"Saera! Percuma! Semakin kamu memusuhi Carla. Maka suamimu akan semakin jauh." Diana menarik tangan ponakannya menyuruh duduk kembali.
"Jika kamu tidak ingin berpisah dengan suamimu. Ambil hatinya, bukan dengan cara memaki wanita yang mengambilnya. Jika itu kamu lakukan, maka hanya keburukanmu yang dilihatnya," jelas Diana panjang lebar.
Diana sudah mengalaminya sendiri, penyebab dia berpisah dengan suaminya. Karena suaminya tergoda dengan wanita lain. Suami Diana tidak mau meceraikannya. Dengan alasan masih cinta. Tapi tak mau juga menjauhi sipelakor dengan alasan kasihan. Namun, Diana mengambil keputusan mengugat cerai suaminya. Walaupun dengan sidang yang berbelit-belit.
Sementara Fasya tidak memperdulikan ucapan Saera. Dia terus melangkah seraya menarik tangan Carla keluar dari rumah makan itu. Dan Carla juga lagi tidak berniat membuat keributan, makanya dia manut saja dengan Fasya.
"Saera! Tunggu pembalasanku," batin Carla. Dia akan membuat Saera membayar satu persatu kata-kata hujatan yang telah Saera lemparkan untuknya.
"Fasya lepaskan!" Rengek Carla, karena cekalan Fasya terlalu kencang hingga menyakiti tangannya.
"Maaf. Aku hanya tidak ingin kamu tersulit emosi karena ucapan Saera," ujar Fasya seraya merengkuh bahu Carla.
"Tenang. Aku tak akan pernah membuatmu malu di depan umum. Aku bisa tahan emosi. Walaupun di caci maki Saera," ujar Carla, seraya melingkarkan tangannya di pinggang Fasya.
"Ayok! Kita cari tempat makan. Anakmu di dalam perutku sudah kelaparan," ujar Carla manja sambil mengusap perut datarnya.
"Hay anak papa! Maaf ya makan siangmu tertunda," ujar Fasya seraya berjongkok dengan tangan kanannya mengelus perut Carla.
Carla bahagia sekali diperlakukan Fasya begitu dan dia yakin kalau anaknya lahir nanti Fasya pasti menyayanginya. Karena Carla melihat kesungguhan di mata Fasya.
Setelah bicara begitu. Fasya bangkit dari jongkoknya, kemudian membuka pintu mobil untuk Carla, dia pun masuk dan duduk di belakang stir, menekan pedal gas, lalu meluncur meninggalkan rumah makan padang.
Fasya dan Carla menutar haluan ke rumah makan lesehan, memesan nasi uduk. Setelah menyelesaikan makannya, Fasya dan Carla kembali ke kantor Ibrahim Carlos.
Di kantor Ibrahim Carlos
"Hay! Putri papa" Ibrahim merentangkan tangan memeluk Carla putri semata wayangnya. Ibrahim sangat menyayangi putrinya itu.
"Kamu sudah makan siang. Nak?"
"Sudah. Pa!"
__ADS_1
"Pa! Ini Fasya yang Carla ceritakan ke papa semalam," ujar Carla memperkenalkan Fasya pada Ibrahim.
Dulu waktu Carla masih SMA dan berteman akrab dengan Fasya, Ibrahim sedang mengurus proyeknya di Kalimantan dan pulangnya hanya setahun sekali. Sementara Carla di Riau tinggal bersama nenek dan adik Ibrahim. Makanya Ibrahim tak mengenal Fasya.
"Jadi ini laki-laki yang akan menjadi pendampingmu?"
"Iya. Pa!"
"Apa dia punya perusahaan?" Tanya Ibrahim seraya menatap Fasya dari atas hingga bawah.
"Dia CEO di perusahaannya. Pa!" Jawab Carla.
Carla tak tahu saja kalau perusahaan yang di pegang Fasya sekarang sahamnya tinggal tiga puluh persen, sementara tujuh puluh persennya sudah berpindah tangan ke Saera beberapa jam yang lalu.
"Hem, lumayan ganteng," gumam Ibrahim.
"Kapan kamu akan melamar putriku?" Tanya Ibrahim, seraya menepuk pundak Fasya. Pertanyaan dan tepukan sama-sama mengejutkan.
Sejenak Fasya terdiam, dia tidak pernah membayangkan akan ada acara lamaran. Yang ada di benak cuman menikahi Carla di depan penghulu, itu pun nikah siri, seperti yang dikatakan Saera. Setelah itu selesai, tak ada acara lamaran dan resepsi.
"Besok. Pa!" Jawab Carla.
Mendengar jawaban Carla, membuat Fasya kaget, dia menatap ke arah Carla. Lalu menelan salivanya kasar.
"Iyakan sayang. Tadi kamu bilang padaku, kalau akan melamarku besok." ujar Saera lagi memberikan penguatan.
Ibrahim tersenyum bahagia, sudah lama dia menanti kabar baik ini, di usia Carla yang sudah hampir menginjak tiga puluh tujuh, tentu ini merupakan hal yang sangat di nanti.
"Baiklah. Papa akan buat resepsi pernikahanmu dan Fasya semeriah mungkin," ujar Ibrahim seraya kembali memeluk putri kesayanganya.
"Dan kamu siapkan berkas-berkas, besok asisten saya akan mendaftarkan pernikahan kalian ke kantor kua," ujar Ibrahim lagi.
Penuturan Ibrahim membuat Fasya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak mungkin mengatakan pada Ibrahim, kalau hanya akan menikahi Carla secara siri. Pastinya Ibrahim akan marah besar.
"Bagaimana ini," batin Fasya dalam hati, pikirannya jadi camuh.
"Carla! Putriku satu-satu. Jadi jangan pernah membuatnya sedih, karena aku bisa melakukan apa saja demi dia," ujar Ibrahim lagi penuh penekanan. Seraya merengkuh bahu calon menantunya.
"I-iya. Pa! Aku akan menjaga Carla dengan baik sesuai harapan papa." Fasya memberi keyakinan pada Ibrahim
Setelah perbincangan itu berakhir. Ibrahim kembali ke hotel Permata, melanjutkan pertemuannya. Sementara Fasya dan Carla kembali ke parkir.
"Carla! Apa papamu tahu. Kalau aku ini sudah menikah?" Tanya Fasya begitu mereka berada di dalam mobil.
"Tidak! Jangan sampai papa tahu kalau kamu suaminya Saera. Bisa-bisa papa tak merestui pernikahan kita," ujar Carla.
Tarikan nafas Fasya terlihat sangat berat masalahnya akan semakin rumit. Apa lagi Ibrahim menginginkan resepsi pernikahan dia dan Carla diadakan besar-besaran. Sudah pasti Ibrahim akan mengundang rekan bisnisnya. Sudah pastilah ada yang mengenali Fasya.
__ADS_1
"Carla! Kamu harus bujuk papa. Agar resepsi kita diadakan sederhana saja. Karena aku pun hanya akan menikahi mu secara siri." pinta Fasya.
"Apa! Siri! Tidak. Aku mau kamu menikahiku secara resmi," ujar Carla seraya masuk ke dalan mobil.
Tatapan Carla menukik kearah Fasya, dia tak pernah menduga kalau Fasya hanya berniat menikah siri dengannya. Carla menarik nafas dalam, lalu menghembuskan dengan kesal.
"Tapi Carla...."
"Tidak! Titik! Kamu harus menikahiku secara resmi. Jika nikah siri status anakku sama saja tak punya papa. Tak diakui negara," cicit Carla menatap ke arah Fasya.
"Kamu tahu kan. Kalau aku sudah beristri dan jika kita nikah resmi dan tercatat. Aku harus mengantongi surat ijin dari Saera," jelas Fasya.
Fasya berusaha menjelaskan pada Carla, jika mereka menikah resmi urusannya terlalu ribet. Makanya dia meminta Carla mau menikah siri. Agar urusannya lebih gampang.
"Dan jika aku memberikan berkas itu di sertai dengan surat ijin dari Saera. Otomatis papa Ibrahim akan tahu statusku," lanjut Fasya.
"Kamu tidak usah khawatir. Aku bisa mengatasinya. Tapi aku mau kita menikah resmi, karena aku butuh surat nikah asli untuk mengambil alih semua aset nenek yang diserahkan ke adik papa," ungkap Carla.
Beberpa perumahan dan kost-kostan dikelola oleh adik Ibrahim, lima puluh persen dihibahkan nenek Carla padanya. Dan aset itu bisa Carla kelola sendiri, apabila dia sudah mengantongi surat nikah. Jika tidak selamanya akan tetap di kelola adik papanya.
"Kamu harus bisa bujuk Saera agar dia menandatangani surat ijin itu," rengek Carla sambil bergayut manja. Karena jika tidak, gagal semua rencananya.
"Okay. Aku akan usahakan secepatnya dapat surat ijin itu. Dan kamu harus bujuk papa untuk tidak mengadakan resepsi kita. Cukup syukuran saja," ujar Fasya memberi pilihan.
"Jika tidak! Aku tidak janji. kita akan menikah," ujar Fasya penuh penekanan.
Mendengar penuturan Fasya. Carla terdiam, kemudian menyetujui untuk membujuk Ibrahim agar tidak mengadakan acara resepsi pernikahannya dengan Fasya.
"Baik. Besok kita bicara lagi. Sekarang ku antar ke kantormu," ujar Carla.
Setelah mengantar Fasya ke kantornya. Carla kembali ke klinik.
*****
Suasana kantor sudah terlihat lengang, karena semua karyawan sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Hari ini bagi Fasya sangat melelahkan.
Pukul lima tepat Fasya dan Roy secara berbarengan ke luar dari ruang kerja. Masuk lift turun ke lantai dasar, menuju tempat parkir.
"Langsung pulang ke rumah atau ngabar lagi?" Tanya Roy seraya membuka pintu dan masuk.
"Pulang!"
"Ceih.... ceih yang sudah berbaikan, langsung pengen pulang." ejek Fasya.
Dengan kedua tangan Fasya meraup habis wajahnya. Ada resah yang tak bisa terungkapkan. Dia tak yakin kalau Saera sekarang mau berbaikan, tadi malam baru mengibarkan bendara damai dan mengikrar janji memulai dari awal lagi. Nyatanya Fasya menggores luka baru di hati Saera, dengan menyodorkan permintaan untuk menikahi Carla, wanita yang telah membuat Saera mendiamkannya selama dua bulan.
Masalah demi masalah tak pernah habis mendera kehidupan Fasya. Belum selesai masalah satu datang lagi masalah baru, kepala Fasya rasanya sudah mau pecah memikirkan masalahnya dengan Saera dan Alesa, kini ditambah lagi oleh Carla.
__ADS_1
"Kenapa bos?" Tanya Roy saat melihat Fasya menghela nafas panjang.